060310 Pfizer Indonesia Sesalkan Penyebutan Nama Obat

JAKARTA— PT Pfizer Indonesia menyesalkan penyebutan nama obat oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) karena bertentangan dengan kode etik farmasi.

“Nama obat yang disebut adalah jenis obat keras dan harus melalui resep dokter. Jika dipublikasikan seperti itu, bisa saja masyarakat membeli bebas. Ini berbahaya,” ungkap Public Affairs & Communications Director PT Pfizer Indonesia Chrisma A. ALbandjar, kepada Koran Jakarta, Jumat (5/3).

Sebelumnya,   KPPU dalam keterangan resminya berkaitan dengan penyelidikan   kasus kartel  obat kelas amplodipine yang  dilakukan  PT Pfizer Indonesia (PF) dan PT Dexa Medica (DM) menyebut nama  merek obat Norvask (PF) dan Tensivask ( DM), serta obat amdixal  keluaran Sandoz dan  Divask dari Kalbe farma.

Dijelaskannya, merek-merek obat itu biasanya dikeluarkan oleh dokter dengan melihat kondisi dari pasien.  Obat ini biasanya digunakan untuk penyakit hipertensi. “Jadi, obat ini sangat personal, tidak bisa sembarangan begitu disebut. Kalau ada yang pesan saja, bisa bahaya,” katanya.

Selanjutnya Chrisma pun menepis tudingan dari KPPU yang menyebutkan perusahaannya melakukan kartel untuk obat  amplodipine. “kami selalu patuh dengan perundangan maupun kode etik hukum yang berlaku. Hari Senin (8/3) kami akan memenuhi panggilan KPPU untuk mengklarifikasi semua tudingan,” katanya.

Dijelaskannya, Pfizer adalah perusahaan pertama yang mematenkan obat tersebut, setelah itu generiknya banyak bermunculan di pasar. “Pemain untuk kategori obat ini banyak. Ada puluhan merek. Jadi, monopolinya darimana,” katanya.

Berkaitan dengan tudingan harga obat tidak turun meskipun zat aktif amlodipine yang merupakan kandungan generik, mengalami penurunan harga dari range 120 ribu menjadi 90 ribu beberapa tahun lalu, Chrisma menjelaskan, itu bagian dari strategi harga untuk memenangkan persaingan.
“Nanti kita akan beberkan semua pada KPPU,” katanya.

Untuk diketahui, KPPU tengah menyelidiki dugaan kartel oleh dua perusahaan farmasi  karena  melanggar  Pasal 5 UU anti persaingan tidak sehat soal penetapan harga, isu  kartel yang tercantum pada Pasal 11, dan

Penyalahgunaan Posisi Dominan yang tercantum pada Pasal 25. Ini merupakan perkara inisiatif keenam yang dtangani oleh lembaga tersebut.

Kasus ini diselidiki  dalam tahap pemeriksaan pendahuluan dengan perkara nomor 17/KPPU-I/2010   yang dimulai pada 18 Februari 2010 dan akan berakhir pada 5 April 2010. Majelis Komisi   dalam perkara ini antara lain A. R. Siregar selaku ketua, Erwin Syahril, dan Didik Akhmadi.

Perkara itu berawal dari monitoring yang dilakukan oleh lembaganya mengingat industri farmasi merupakan sektor yang strategis bagi perekonomian nasional ditinjau dari potensi pengembangan pasar domestik.

Kinerja industri farmasi ditandai dengan fenomena konsentrasi industri dan tingginya beberapa harga untuk jenis obat-obatan tertentu di Indonesia secara relatif dibandingkan dengan harga produk sejenis di beberapa negara lain.

Hal tersebut merupakan indikasi awal dari potensi persaingan usaha tidak sehat dalam industri yang bersangkutan. Kegiatan monitoring terhadap industri farmasi yang dilakukan KPPU, khususnya dilakukan terhadap kelas terapi dengan trend setelah habisnya masa paten obat originator.

Hasil monitoring menunjukkan  untuk  obat kelas amplodipine yang terdiri dari merk obat NV dan TS dengan konsentrasi pasar PT PF 55,8 persen dan PT DM 30 persen dengan rasio konsentrasi (CR4) sebesar 93 persen dan Hirschman-Herfindahl Index (HHI) sebesar 4.050 yang melebihi standar batas konsentrasi pasar kompetitif.  “Sebagai perbandingan, dalam aturan merger, jika ada merger yang mengakibatkan konsentrasi pasar di atas 1800 HHI berpotensi besar untuk ditolak atau dibatalkan,” jelasnya.

Produk Amlodipine merupakan obat obatan yang mengandung dihydropyridine derivative calcium-channel blockers yang digunakan secara spesifik untuk jenis penyakit yang terkait dengan kardiovascular dan habis masa patennya pada tahun 2007.

Untuk kelas Amlodipine dengan dua merk utama yaitu NV dan TS, harganya jauh melebihi harga obat generik nya. Merk NV dijual dengan harga 2.39 kali lipat dari harga obat generiknya (atau 239 persen diatas harga obat generik yang merupakan substitusinya). Merk TS dijual dengan harga 2.13 x dari harga generik atau 213 persen. Dengan demikian, ada dua indikasi yaitu pangsa pasar yang sangat tinggi berikut excess harga dibanding harga generik yang begitu besar.

Pada periode 2008-2009, zat aktif amlodipine yang merupakan kandungan generik, mengalami penurunan harga dari range 120 ribu menjadi 90 ribu. Tapi, penurunan tersebut tidak diikuti dengan penurunan harga baik originator maupun branded generik. Bahkan dua merk yaitu NV dan TS malah tercatat mengalami kenaikan harga.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s