040310-Operasional Indonesia Ferry Diharapkan Tidak Terpengaruh Kisruh Manajemen

JAKARTA–Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan meminta seluruh kantor-kantor cabang PT ASDP Indonesia Ferry di seluruh wilayah tidak terpengaruh oleh kekisruhan di tingkat pusat yang berujung pada pemberhentian seluruh jajaran direksi BUMN tersebut oleh dewan komisaris.

Dirjen Perhubungan Darat Suroyo Alimoeso mengharapkan,   seluruh kegiatan operasional pelayanan baik di pelabuhan penyeberangan maupun pada aktivitas pelayaran penyeberangan yang dikelola perusahaan tersebut dapat berjalan normal seperti biasa.

”Dewan komisaris mungkin menganggap jajaran direksi yang diberhentikan ini tidak bisa bekerja optimal dalam mengemban amanat, tetapi saya harapkan kawan-kawan di tingkat cabang jangan terpengaruh. Apapun yang terjadi di pusat, jangan sampai membuat pelayanan publik terganggu, apalagi berhenti,” ungkapnya  di Jakarta, Rabu (3/5).

”Kalau ada masalah, lekas dikoordinasikan kepada dewan komisaris. Kalau menyangkut masalah teknis di lapangan, bisa dikoordinasikan kepada Dirjen Perhubungan Darat, melalui Direktur Lalu Lintas ASDP,” lanjutnya.

Suroyo menambahkan, sebelum mengambil keputusan untuk memberhentikan jajaran direksi, dirinya meyakini bahwa dewan komisaris PT ASDP Indonesia Ferry telah menyiapkan dan memperhitungkan langkah-langkah antisipasi agar roda manajemen tetap dapat berjalan normal agar aktivitas pelayanan penyeberangan tidak terganggu.

Untuk diketahui, Dewan Komisaris PT ASDP Indonesia Ferry secara resmi memberhentikan sementara direktur utama perusahaan tersebut, Bambang Soerjanto, dan direktur keuangannya, Made Sukarna, pada 2 Maret 2010.

Sementara empat direksi lainnya memilih untuk mengundurkan diri secara sukarela. Mereka adalah Direktur Operasi Pambudi Husodo, Direktur SDM Bonar Manurung, Direktur Usaha Johan Iskandar,dan  Direktur Usaha Pelabuhan Ultra Amiruddin. Saat ini manajemen Indonesia Ferry telah diambilalih oleh Dewan Komisaris , setelah terjadi kekosongan manajemen.

Pemberhentian sementara merupakan opsi pertama yang ditawarkan dewan komisaris perusahaan. Alasannya, jajaran direksi tidak mampu menjalankan manajemen secara efektif sehingga membuat kinerja perusahaan terpuruk. Opsi keduanya adalah melakukan pengunduran diri secara sukarela.

”Saya dan Pak Made memilih untuk tidak mengundurkan diri, dan menerima untuk diberhentikan sementara oleh dewan komisaris yang mengatakan saya telah gagal dan membuat perusahaan terpuruk. Itu tuduhan mereka, silakan saja. Tetapi jika melihat kinerja perusahaan antara 2008 dan 2009, fakta finansial tidak berbicara seperti itu. Ada peningkatan dari sisi pendapatan yang terjadi selama kami berada di sana,” ungkap mantan Dirut PT ASDP Indonesia Ferry Bambang Soerjanto.

”Saya tidak akan ngotot untuk tetap pegang posisi ini. Sejak awal dilantik jadi dirut, saya sudah siap untuk dipecat kapan pun. Jadi, saat ini tidak masalah buat saya, juga saya tidak akan ngotot buat membela diri. Sedangkan menyampaikan kinerja perusahaan dalam RUPS adalah mekanisme sesuai aturan main perusahaan yang akan kita jalani untuk memberikan klarifikasi,” katanya.

Bambang menambahkan, dirinya menghormati kebijakan dan alasan yang diambil dewan komisaris sebagai dasar pemberhentian dirinya. ”Itu hak dan kewenangan dewan komisaris, karena itu saya tidak membantah atau memprotes keputusan ini. Untuk selanjutnya, kami berdua menunggu sikap Menteri Negara BUMN sebagai pemegang saham, yang memiliki hak penuh untuk mengangkat dan memberhentikan direksi BUMN. Kapan pun RUPS digelar, saya siap,” ujarnya.

Bambang mengungkapkan,  masalah internal yang menyebabkan kinerja BUMN ini tersendat adalah rencana pembelian tujuh unit kapal yang gagal dilakukan sepanjang 2009 lalu menyebabkan pendapatan berkurang  110
miliar rupiah.

Selain itu berlarut-larutnya waktu docking kapal dan penurunan subsidi berpengaruh terhadap penurunan sebesar  50 miliar rupiah. Hal itu memicu  pendapatan Indonesia Ferry pada 2009, hanya terealisasi sebesar
883,672 miliar rupiah . Padahal pada 2008 ,  pendapatan perseroan melambung hingga  1,105 triliun rupiah.

Laba bersih 2009 pun terjun dari  103 miliar rupiah  pada 2008 menjadi  76 miliar rupiah. Padahal, bila tidak ada permasalahan tersebut, potensi laba bersih bisa mencapai  104 miliar rupiah.

Dijelaskannya,   kegagalan pembelian tujuh  unit kapal karena dirinya tidak ingin   membeli kapal asal China, “Saya menginginkan untuk membeli kapal yang mumpuni, karenanya harus melalui berbagai proses, seperti menunjuk broker ship, port captain dan maritim lawyer. Hal ini agar kapal benar-benar feasibel untuk dioperasikan,” tandasnya.

Akan tetapi proses tersebut hingga saat ini tidak selesai-selesai, dan berujung  empat orang direktur lainnya tidak menyetujui pembelian kapal tersebut. “Saya tidak tahu kenapa tidak setuju, padahal komisaris sudah setuju dan uang pun tinggal diambil dari kas perusahaan. Ada uang sebesar  300 miliar rupiah siap dibelanjakan,” katanya sambil menambahkan     empat direktur tersebut  mengambil langkah mengundurkan diri.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s