040310 Inkonsistensi atau Skenario sang Penguasa?

Munculnya isu pola penagihan SMS berbasis interkoneksi tidak bisa dilepaskan dari ulah penguasa pasar seluler saat ini, Telkomsel.

Anak usaha Telkom ini pada awal tahun lalu disinyalir membuat aduan ke Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) berkaitan dengan kembali maraknya penawaran SMS gratis yang dilakukan oleh Indosat, XL, Three, dan Axis.

Sang penguasa merasa jaringannya terbebani karena banyak SMS sampah masuk ke pelanggan dan tidak mendapatkan apa-apa karena pola penagihan berbasis Sender Keep All (SKA).

Akhirnya, regulator meminta surat Dirjen Postel yang juga Ketua BRTI pada akhir 2008 diterapkan yakni tidak boleh lagi ada SMS gratis dan aturan komunikasi penawaran diatur oleh Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI).

Setelah dilakukan rapat pada 13 Februari 2010, disepakatilah pola SMS tetap berbasis SKA dan jika ada komunikasi pemasaran yang melanggar etika, pelaku harus meminta maaf ke anggota ATSI dengan surat tembusan ke regulator.

Tak dinyana, pada libur panjang Februari lalu, Telkomsel melakukan  aksi gerilya dengan menawarkan SMS gratis ke pelanggan prabayar melalui informasi yang disampaikan langsung ke ponsel pelanggan (SMS Blast). Sontak ini menjadi pertanyaan di kalangan pelaku usaha, karena Ketua Umum ATSI adalah Direktur Utama Telkomsel, Sarwoto Atmosutarno.

“Telkomsel kecewa karena pola berbasis interkoneksi ditolak oleh anggota ATSI lainnya dan  dijadikan bagian  keputusan rapat dengan regulator. Aksi pekan lalu bagian dari memancing regulator mendiskusikan masalah pola penagihan. Jika melihat perkembangannya, sepertinya regulator terpancing atau memang ingin dipancing,” ungkap seorang eksekutif operator yang enggan disebutkan namanya kepada Koran Jakarta, Rabu (3/3).

Menanggapi hal itu, Deputi Sekretaris Perusahaan Telkomsel Aulia Ersyah Marinto menegaskan, penawaran SMS gratis dilakukan  semata-mata untuk meningkatkan loyalitas pelanggan. “Kami harus mendengarkan dan memenuhi harapan pelanggan setia,” katanya.

Aulia membantah, jika pemberian SMS gratis memicu munculnya isu perubahan pola penagihan jasa pesan singkat dari SKA berbasis interkoneksi. “Agar dapat di pahami bahwa ini merupakan domain yang terpisah. Sekali lagi ini ditegaskan  sebagai upaya menjaga  hubungan  dengan pelanggan,” kilahnya.

Sedangkan Anggota Komite BRTI Nonot Harsono membantah keras lembaganya “masuk angin” dengan  mengecam keras perilaku yang dipertontonkan  oleh Telkomsel. “Isu darimana pula kami bisa di-drive oleh operator?.  Saya tegaskan, Telkomsel seperti mau enak sendiri saja. Jika ada sesuatu yang merugikan, lapor ke regulator. Jika menguntungkan, serasa hidup di dunianya sendiri saja. Lantas, kami ini dipandang sebagai apa oleh operator itu,” kecamnya.

Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Johnny Swandi  Sjam menyarankan, jika masalahnya hanya pelanggaran teknis, BRTI harus bisa memposisikan diri sebagai pelindung semua pemain. “Bola ada di BRTI. Lembaga ini masih bisa menjaga integritas atau tidak,” tegasnya.

Group Head Vas Marketing Indosat  Teguh Prasetya mengaku heran dengan terlalu masuknya regulator ke urusan teknis karena mekanisme  demand dan supply sudah berjalan baik di sektor telekomunikasi. “Adanya persaingan  akan memunculkan industri yang kompetitif dan tentunya market oriented sehingga dalam hal ini tentunya yang diuntungkan adalah konsumen sekaligus juga  perusahaan bisa menjaga  profitabilitasnya,” katanya.

Direktur Layanan Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi menambahkan, industri sebenarnya bisa saling menyepakati term terbaik tanpa pemerintah melakukan pengaturan. “Kita ini untuk beberapa hal bisa self regulated kok,” katanya.

Senada dengan Rakhmat, Direktur Utama Mobile-8 Telecom Merza Fachys juga merasa BRTI terlalu masuk ke sesuatu hal yang operasional. “Akhirnya karena ingin mengatur semuanya, kebijakan diubah. Ini kan tidak elok,” sesalnya.

Secara terpisah, Praktisi Telematika Suryatin Setiawan menilai perang harga dalam industri dengan pemain yang banyak sulit sekali dihindari. “Perang harga selain mempersulit peluang hidup dan tumbuh operator kecil juga berdampak erosi dari nalai total perusahaan dan bisnis operator besar. Perang harga hanya efektif dilakukan oleh operator besar,” katanya.

Sementara Praktisi Telematika lainnya, Bayu Samudiyo meminta ketegasan dari BRTI menegakkan aturan. “Di level regulasi sudah well controlled. Masalahnya di eksekusi itu banyak yang bandel. Nah, sekarang regulatornya mau bertindak sebagai wasit atau malah ikut gendangnya pemain,” tandasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s