010310 BRTI Kaji SMS Berbasis Interkoneksi

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengaji penagihan jasa SMS berbasis interkoneksi untuk menyehatkan iklim kompetisi.

Selama ini penagihan SMS berbasis Sender Keep All (SKA) dimana  keuntungan  diambil semuanya oleh operator pengirim. Sedangkan jika berbasis interkonseki  memungkinkan revenue sharing antara operator pengirim dan penerima.

“Penerapan interkoneksi merupakan satu-satunya jalan keluar menghentikan kenakalan dari operator yang masih menjalankan promo SMS gratis yang dibalut dengan komunikasi iklan merugikan konsumen,” tegas Anggota Komite BRTI Nonot Harsono kepada Koran Jakarta, Minggu (28/2).

Diungkapkannya, pasca rapat antara Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) dan regulator pertengahan Februari lalu telah disepakati penawaran SMS gratis lintas operator dihentikan dan penarikan biaya SMS tetap berbasis SKA. ATSI juga  membuat kode etik pemasaran terkait SMS gratis yang mengatur materi iklan dan sanksi bagi pelanggar.

Dalam kode etik itu diatur tentang materi iklan dan sanksi bagi pelanggar. Sanksi yang diberikan adalah menghentikan materi iklan dan mengirimkan permintaan maaf ke operator dengan surat tembusan ke BRTI. Namun, di lapangan pada 26 Februari lalu ditemukenali Telkomsel menawarkan 50 SMS gratis lintas operator bagi pelanggannya.

“Ini tidak bisa ditolerir lagi. Dulu, Telkomsel yang mengadukan keberatan dengan penawaran SMS gratis, sekarang mereka yang melakukannya. Kalau tidak dicari solusi yang komprehensif, regulator bisa capek memediasi kelakuan ugal-ugalan oleh operator yang hanya mencari keuntungan,” ketusnya.

Menurutnya, penerapan SMS berbasis interkoneksi bisa dilakukan karena payung hukumnya sudah ada yakni PM No 8/2006 tentang interkoneksi. Sayangnya, implementasinya ditunda melalui Surat Dirjen Postel  pada 5 Februari 2008 (Surat 09/djpt.3/kominfo/2008).

Isi surat itu pada butir d menyebutkan: untuk layanan sms, masih tetap dimungkinkan menggunakan sender keep all (SKA). Hal ini dimaksudkan untuk mencegah timbulnya investasi baru yang akan menimbulkan biaya tambahan. Diharapkan penurunan biaya elemen jaringan pada layanan sms tercermin pada tarif retailnya. Surat ini muncul karena operator berkilah SMS adalah bagian dari layanan Value Added Services (VAS).

“Surat itu terbit karena semangatnya waktu itu penurunan tarif suara. Sekarang waktu yang tepat memberlakukan interkoneksi di SMS karena pasar sudah berubah. Apalagi SMS tidak bisa lagi dipandang  sebagai VAS tetapi kebutuhan utama bagi pelanggan dan alat kompetisi oleh operator,” tegasnya.

Nonot memperkirakan, jika SMS berbasis interkoneksi maka tarif ritelnya tidak akan lebih dari 100 rupiah, bahkan bisa lebih murah jika operator melakukan subsidi. “Pola SKA sangat tidak berimbang karena komunikasi berbentuk asimetris tidak bisa diakomodir dalam bentuk revenue,” katanya.

Kecam Telkomsel
Berkaitan dengan aksi yang dilakukan oleh Telkomsel pada 26 Februari lalu, Nonot mengecam keras perilaku yang ditontonkan  oleh operator tersebut. “Telkomsel seperti mau enak sendiri saja. Jika ada sesuatu yang merugikan, lapor ke regulator. Jika menguntungkan, serasa hidup di dunianya sendiri saja. Lantas, kami ini dipandang sebagai apa oleh operator itu,” kecamnya.

Menanggapi hal itu, Deputi Sekretaris Perusahaan Telkomsel Aulia Ersyah Marinto menegaskan, penawaran SMS gratis dilakukan  semata-mata untuk meningkatkan loyalitas pelanggan. “Kami harus mendengarkan dan memenuhi harapan pelanggan setia,” katanya.

Aulia membantah, jika pemberian SMS gratis memicu munculnya isu perubahan pola penagihan jasa pesan singkat dari SKA berbasis interkoneksi. “Agar dapat di pahami bahwa ini merupakan domain yang terpisah. Sekali lagi ini ditegaskan  sebagai upaya menjaga  hubungan  dengan pelanggan,” kilahnya.

Sementara Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengaku tidak keberatan jika muncul pembahasan SMS berbasis interkoneksi. “Kami ini terserah regualtor saja. Nanti aturannya kita patuhi. Tetapi dengan syarat semua pemain harus mengikuti,” tegasnya.[dni]

010310 Telkom Beli Admedika Rp 128,25 Miliar

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akhirnya membeli  75 persen saham PT Administrasi Medika (AdMedika) senilai 128,25 miliar rupiah melalui  anak usahanya  PT Multimedia Nusantara atau Metra guna mewujudkan pembentukan    Indonesia Insurance Shared Service Platform (InSureNet)

InSureNet adalah sebuah platform layanan  untuk sektor asuransi, dimulai dari infrastruktur Teknologi Informasi (TI) untuk mendukung e-Health dan seluruh asuransi e-Claim Nasional.

“Penandatanganan akta Jual Beli telah dilakukan pada 25 Februari 2010  antara Metra dengan pemilik AdMedika,” ungkap VP Public Relations and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia di Jakarta, Minggu (28/2).

Dikatakannya, terealisasinya aksi korporasi ini membuat  Telkom melalui Metra berhak melakukan kendali secara penuh terhadap AdMedika.

AdMedika sendiri  perusahaan PMA yang bergerak di bidang Electronic Health Care Network yang merupakan third party administrator (TPA) dalam mengkombinasikan aplikasi proses klaim dan layanan data online antara pemegang polis dengan layanan administrasi asuransi kesehatan.

Jenis layanan yang diberikan oleh AdMedika adalah menyediakan kartu kepesertaan elektronik, pengelolaan data klaim secara online, verifikasi klaim, melakukan monitoring pengiriman tagihan dari penyedia layanan kesehatan, monitoring kasus rawat inap yang dilakukan oleh ahli dan tenaga medis dan paramedis yang profesional.

AdMedika yang didirikan 8 Januari 2002 merupakan market leader untuk layanan TPA dengan memiliki 1,2 juta pemegang polis,  memiliki client lebih dari 30 perusahaan asuransi dan 717 rumah sakit, klinik, puskesmas dll.

Sebelumnya, pembelian AdMedika  diperkirakan mencapai 100-150 miliar rupiah dengan  pendanaan diambil dari belanja modal Telkom 2010 senilai 2 miliar dollar AS. Sedangkan  untuk akusisi, tahun ini Telkom menyiapkan dana sebesar satu triliun rupiah.

Pada tahun 2009, Metra  juga telah menyelesaikan akuisisi 49 persen saham Infomedia milik Elnusa  dalam rangka pengendalian penuh Infomedia oleh  Telkom grup  sehingga pengembangan bisnis Infomedia di bisnis Call Center & Directory Services dan Business Process Outsourcing (BPO) dapat lebih maksimal.

Metra  juga telah membentuk anak usaha PT Metranet  yang fokus dalam pengembangan portal bisnis dengan brand name Mojopia.

Berdasarkan catatan, pada tahun lalu Telkom juga melakukan CSPA dengan Indonesian Tower melalui anak usaha Mitratel. Sayangnya, aksi jual-beli itu gagal dan Telkom memilih berkonsentrasi men-spin off 10 ribu menara milik Telkomsel ke Mitratel

Direktur Utama Metra Alex Sinaga  mengatakan,  akuisisi ini dapat dipandang sebagai wujud nyata dukungan Telkom untuk mendorong pengembangan bisnis BPO layanan kesehatan (E-Health) di Indonesia melalui penyelenggaraan layanan kesehatan yang terintegrasi, efisien dan memberikan nilai tambah bagi pelanggan, industri jasa pelayanan kesehatan dan industri asuransi.

Menurut Alex,  industri BPO E-Health di Indonesia diperkirakan mempunyai 10 juta anggota di mana AdMedika mempunyai market share 12 persen  atau 1,2 juta anggota.

Alex mengharapkan,  langkah akuisisi ini  mampu memberikan sinergi value yang optimal bagi induk usaha  dengan mengoptimalkan sinergi bersama Sigma dalam integrasi services, Infomedia dalam layanan anggota melalui Contact Center Outsourcing, Finnet  sebagai E-payment gateway, dan Mojopia dalam memberikan layanan one stop online healthcare service portal.[Dni]