020310 Cloud Computing : Memaksimalkan Internet Sebagai Mesin Uang

Istilah Cloud Computing (Komputasi Awan) mulai bergaung keras di ranah teknologi informasi (TI) Indonesia sejak tahun lalu. Jika dulunya Cloud Computing identik dengan aksi dari vendor software, sekarang operator telekomunikasi pun melihat ini sebagai lahan yang basah digarap untuk menghasilkan uang.

Cloud computing  adalah pemanfaatan teknologi internet untuk menyediakan sumber komputing.

Secara sederhana, inovasi ini merupakan  mekanisme yang memungkinkan kita “menyewa” sumber daya teknologi informasi (software, processing power, storage, dan lainnya) melalui internet, memanfaatkan sesuai kebutuhan, dan membayar secukupnya pula. Kata-kata “Cloud” sendiri merujuk kepada simbol awan yang di dunia TI digunakan untuk menggambarkan jaringan internet (internet cloud).

Sebuah layanan di internet masuk dalam kategori cloud computing jika  bersifat “On Demand” alias  pengguna dapat berlangganan hanya yang dia butuhkan  dan membayar hanya untuk yang digunakan saja.

Berikutnya,  layanan bersifat elastis  di mana pengguna bisa menambah atau mengurangi jenis dan kapasitas layanan yang dia inginkan kapan saja dan sistem selalu bisa mengakomodasi perubahan tersebut dan layanan sepenuhnya dikelola oleh penyedia/provider, yang dibutuhkan oleh pengguna hanyalah komputer personal/notebook ditambah koneksi internet.

Dari sisi jenis layanan  Cloud Computing, terbagi dalam 3 jenis layanan, yaitu  Software as a Service (SaaS), Platform as a Service (PaaS) dan Infrastructure as a Service (IaaS). Sementara dari sifat jangkauan layanan, terbagi menjadi Public Cloud, Private Cloud dan Hybrid Cloud.

Di Indonesia pemain yang cukup serius bermain di  Cloud Computing adalah Telkom dan Indosat  melalui berbagai anak usaha yang mereka miliki.  Telkom saat ini sudah menawarkan dua layanan aplikasi berbasis Software as a Service.  Anak usaha Telkom,  Sigma Cipta Caraka, telah menawarkan layanan aplikasi core banking bagi bank kecil-menengah.

Selain itu juga ada  kerjasama dengan IBM Indonesia dan mitra bisnisnya, PT Codephile, dimana Telkom menawarkan layanan e-Office on Demand untuk kebutuhan kolaborasi/korespondensi di dalam suatu perusahaan atau organisasi. Sedangkan Indosat bergerilya di “awan” melalui Indosat Mega Media (IM2) dan Lintasarta.

Booming

Managed Service Business Development Manager Cisco System Indonesia Andreas Surya Nugraha memperkirakan, cloud computing akan booming di Indonesia dua tahun ke depan, sedangkan untuk tahun ini baru tahap pada pengadaan disaster recovery.

Menurut  Praktisi Telematika Mochamad James Falahuddin saat ini Indonesia dalam tahap edukasi pasar untuk cloud computing. “Soalnya mengubah paradigma ‘beli’ jadi ‘sewa’ ternyata butuh trik dan usaha yang luar biasa,” katanya.

Direktur Utama Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto mengatakan, cloud computing mengubah paradigma perusahaan dalam memandang investasi TIK. “Belanja modal diubah menjadi biaya operasional dengan besaran yang lebih efisien akibat adanya cloud computing,” jelasnya.

Menurut Indar, sektor paling berpeluang berkembang dengan hadirnya cloud computing adalah pengembang konten karena  entry barrier untuk memulai telah diselesaikan oleh teknologi ini. “Ini membuat para kreator bebas berkereasi karena semuanya sudah disediakan secara virtual. Penyedia jasa internet pun diuntungkan dengan adanya trafik di pipanya,” jelasnya.

Staf Bidang Teknologi Nasional PT Microsoft Indonesia Tony Seno Hartono mengatakan jika cloud computing bisa dilaksanakan dengan sempurna  akan meningkatkan produktivitas ekonomi dan pemerintah. “Banyak biaya yang bisa dihemat. Selain itu kegiatan ekspor-impor pun bisa didorong karena pengusaha memiliki akses informasi,” tuturnya.

Kendala

Tony mengkhawatirkan  terkendala keterbatasan kapasitas bandwitdh karena tidak meratanya sebaran infrastruktur broadband di area nusantara akan menjadi kendala dari Cloud Computing nantinya

Diungkapkannnya, untuk mendukung hadirnya cloud computing tentunya diperlukan infrastruktur broadband sebagai pipa penghantar   dan kapasitas bandwitdh yang besar. “Masalahnya, di Indonesia infrastruktur broadband di kawasan timur dan barat sangat timpang. Ini harus didorong oleh pemerintah untuk dibenahi, misalnya menstimulus operator membangun tulang punggung jaringan di kawasan timur,” katanya.

Menurut James, tingkat kematangan pengguna internet, yang masih menjadikan internet   sebagai media hiburan membuat cloud computing belum dilirik pengguna ritel. Selain itu,  tingginya investasi yang dibutuhkan menyediakan layanan cloud  karena harus merupakan kombinasi antara infrastruktur jaringan, hardware dan software sekaligus juga dianggap  sebagai  kendala merakyatnya layanan itu saat ini.

Model Bisnis

Sedangkan Indar mengungkapkan, harus secepatnya dicari model bisnis yang ideal dalam menjalankan cloud computing agar operator tidak hanya sebagai penyedia pipa jaringan.  “Kalau hanya mengandalkan menjual pipa, bisa-bisa kita menderita karena harus terus menerus menyediakan bandwitdh yang besar. Secara bertahap tentunya operator akan menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Hal itu bisa dimulai dengan ikut menggarap platform services,” jelasnya.

Andreas mengakui, pemikiran  ekosistem dan partnership untuk cloud computing harus dirembuk bersama antarpemain. Beberapa kemungkinan diantaranya operator menggandeng pemain software lokal.  “Sekarang banyak penyedia software lokal yang bagus. Mereka bingung menjualnya. Operator bisa menampung itu,” katanya.

Selain itu, lanjutnya,  platform untuk menuju Telco 2.0 harus dibangun. Platform itu membuat  operator bisa memanfaatkan asetnya berupa  hubungan dengan pelanggan guna mendapatkan pendapatan. Langkah ini sudah dimulai Telkomsel dengan menawarkan Mobile Advertising.

“Operator akan berubah dengan tidak lagi menjual jasa tradisionalnya berupa suara dan SMS jika cloud computing sudah merajalela. Tetapi operator jangan takut. Banyak potensi aset dari operator yang bisa digarap seperti basis pelanggan yang besar dan kekuatan infrastrukturnya,” katanya

Tony pun mengakui  saat ini industri TIK sedang mencari model bisnis yang ideal untuk bisa mendapatkan keuntungan dari cloud computing. Microsoft sendiri sedang meraba melalui cara memberikan gratis software office 2010 melalui inovasi ini.

“Ini hal yang baru, aksesnya diberikan gratis, tetapi nanti akan ada slot iklan di aplikasi itu. Pola lainnya kami bekerjasama dengan Yahoo untuk menjadi mitra search engine,” katanya.

James mengungkapkan, model bisnis yang terjadi saat ini adalah adanya revenue sharing antara software provider dengan penyelenggara internet dan data center.  “Tetapi  kalau nanti sudah ada penyelengara internet dan data center  yang  menyediakan infrastruktur secara tangguh, model bisnis bisa berubah, karena akan ada yang dominan dan ingin menguasai. [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s