010310 Tim Khusus Harus Dibekali Wewenang

JAKARTA—Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) mendorong Tim Khusus yang ditugaskan  untuk mengevaluasi sejumlah insiden pesawat agar dibekali dengan wewenang yang kuat sehingga  bisa memberikan rekomendasi yang menjangkau regulator dan  operator.

“Langkah yang dilakukan Menteri Perhubungan (Menhub) itu sesuatu yang maju dalam membenahi angkutan udara. Tetapi jika Tim tersebut tidak bisa menjangkau hingga internal Ditjen Hubungan Udara (Hubud), sama saja dengan macan ompong,” kata Ketua Umum MTI Danang Parikesit kepada Koran Jakarta, Minggu (28/2).

Menurutnya, evaluasi harus dimulai dari akar masalah yakni Ditjen Hubud karena selama ini ada sistem yang salah dan harus diperbaiki. “Sistem ini sudah mengakar dan harus diperbaiki agar aspek keselamatan bisa ditingkatkan,” katanya.

Masih menurutnya, kunci dari kesuksesan rekomendasi Tim Evaluasi terletak pada kepemimpinan Menhub Freddy Numberi nantinya. “Konsistensi tergantung Pak Menteri. Tetapi masalah keselamatan ini harus segera dibenahi karena menyangkut konsumen dan ekonomi Indonesia,” tegasnya.

Sebelumnya, Kementrian Perhubungan membentuk Tim Evaluasi  untuk lebih meningkatkan pengawasan terhadap kelaikan terbang pesawat udara maskapai nasional.
Fokus Evaluasi  kepada insiden berulang dengan penyebab yang diduga sama.

Tim khusus  dipimpin Direktur Kelaikan Udara dan Pengawasan Pesawat Udara (DKUPPU) Yurlis Hasibuan tersebut nantinya akan dibantu sejumlah anggota Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Tim akan melakukan pemeriksaan lebih spesifik dari pada pemeriksaan rutin (ramp check) terhadap sejumlah maskapai nasional.

Maskapai Batavia Air rencananya  dijadikan sebagai salah satu contoh obyek yang akan mendapatkan evaluasi menyeluruh dan intensif tersebut. Tiga insiden beruntun dialami oleh tiga pesawat yang dioperasikan maskapai ini.

Secara terpisah, Direktur Operasional Batavia Air Capt. Noer Effendi mengakui, telah dipanggil oleh Kemenhub terkait pemeriksaan terhadap maskapainya. “Pemanggilan dilakukan minggu lalu dan sudah dilakukan surveillance oleh regulator,” ungkapnya.

Noer mengaku, tidak keberatan diperiksa oleh Tim Evaluasi dan mendukung kerja tim dengan memberikan pasokan data. “Ada beberapa temuan dari Tim Evaluasi dan langsung kita tindak lanjuti,” katanya.

Perhatikan Kepadatan
Secara terpisah, Direktur Angkutan Udara Ditjen Hubud, Tri S Sunoko menegaskan, dalam memproses izin rute penerbangan pihaknya selalu memperhatikan keseimbangan rute dengan dengan tingkat kepadatan.

“Kami selalu memperhatikan aspek bisnis dan tingkat kompetisi. Tidak main kasih izin rute saja,” tegasnya.

Tri dimintai tanggapannya atas permintaan MTI kepada  regulator  dalam memberikan lisensi bagi satu perusahaan harus juga menyertakan kewajiban komitmen untuk melayani rute perintis layaknya di industri telekomunikasi adanya kewajiban membangun jaringan melalui program Universal Service Obligation (USO) sehingga konsolidasi dan ekspansi terjadis secara natural.

Tri menegaskan, karakter bisnis dari jasa penerbangan berbeda dengan telekomunikasi sehingga tidak ideal diterapkan sistem kewajiban melayani area perintis kepada operator layaknya di sektor telekomunikasi.

“Karakter dan perilaku pengguna jasanya berbeda. Di telekomunikasi jasanya dipakai terus sehingga ada kesinambungan, sementara transportasi itu derived market alias hanya jasa turunan bagi pelanggan mencapai tujuan,”jelasnya.

Namun, dikatakannya, untuk pengembangan area perintis, pemerintah wajib mengadakan sebagai langkah menumbukan perekonomian daerah setempat.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s