270210 Indonesia Butuh “Grid Server”

JAKARTA—Indonesia membutuhkan “Grid Server” agar menjadi pusat informasi sehingga trafik yang datang dan keluar dari wilayah nusantara menjadi berimbang.

Grid server semacam pusat server untuk semua hal, baik data center, content center, atau data perusahaan.

“Singapura dan Malaysia sudah membangun Grid Server dengan dukungan serat optik nasionalnya. Kedua perusahaan ini berambisi menjadi tempat berkumpulnya data (hub) regional. Indonesia sebagai pasar terbesar di Asia Tenggara harusnya tidak boleh ketinggalan,” tegas Angota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono kepada Koran Jakarta, Kamis (24/2).

Menurut Nonot, jika negeri ini memiliki infrastruktur tersebut maka operator dari luar negeri akan lebih tertarik untuk bekerjasama dengan Indonesia karena semua informasi bisa diakses melalui Grid Server. “Investor dari luar negeri itu butuh banyak informasi tentang Indonesia mulai  seni budaya,  pariwisata, national digital library, dan lainnya. Ini tentu membuat  trafik akses dari luar negerimenigkat sehingga ada devisa yang masuk,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, keberadaan infrastruktur tersebut akan membuat  trafik domestik  naik, industri konten semarak,  dan akses terasa cepat karena pusat server berada di dalam negeri. “Lebih besar dari itu, Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri dan dihargai orang asing,” tandasnya.

Dikatakannya, investasi dari membangun  Grid Server tidaklah mahal karena bisa dicicil server farm-nya. “Sayangnya banyak pemimpin operator belum tertarik dengan bisnis ini. Jika diserahkan ke vendor server, mereka tidak mau karena inginnya manage data saja Padahal ini adalah bisnis masa depan, sepertinya butuh insentif dari negara layaknya Palapa Ring,” ketusnya.

Secara terpisah, GM Pemasaran Aplikanusa Lintasarta, M. Ma’ruf mengakui bisnis data center akan tumbuh di Indonesia, bahkan lebih besar dari  nilai pasar  regional karena di nusantara masih banyak perusahaan yang menempatkan data center satu lokasi dengan Disaster Recovery Center (DRC). “Harusnya itu dipisah. Karena itu kami melihat potensinya masih besar,” katanya.

Anak usaha dari Indosat ini pun berani menargetkan layanan data center akan berkontribusi sebesar 5 persen dari total pendapatan pada tahun ini. Pada tahun lalu Lintasarta berhasil meraup omzet satu triliun rupiah dan diperkirakan akan tumbuh sebesar 20 persen pada tahun ini.

“Banyak segmen yang akan digarap, salah satunya segmen multi finance melalui solusi Business Continuity Plan (BCP),” jelasnya.

Sebelumnya, lembaga konsultan Frost & Sullivan mengungkapkan pendapatan dari pengelolan data center dan hosting di Asia Pasific akan  tumbuh 14,7 persen atau mencapai 9,18 miliar dollar AS pada akhir tahun nanti. Sedangkan pada 2011 diharapkan terjadi pertumbuhan sebesar 16.4 persen.

Tumbunya jasa data center   di Asia Pasifik  selama hampir satu dekade ini sejalan dengan peningkatan bisnis dan pelanggan internet.  Pemain besar data center di kawasan regional adalah Jepang, Australia, Singapura, Hong Kong dan diikuti oleh Cina, India dan Malaysia.  Jepang adalah negara terbesar dengan   memiliki nilai pasar lebih dari 71 persen (US$5.7 milyar) dari total pendapatan tahun lalu.

Kebanyakan dari pertumbuhan di banyak negara ini dipicu oleh kuatnya permintaan domestik, dan didukung oleh para pembuat kebijakan melalui e-governance dan e-readiness. Singapura dan Hong Kong berlanjut menjadi pusat fasilitas utama  di kawasan regional.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s