150210 Tarif Internasional Diserahkan ke Pasar

JAKARTA—Kementrian Perhubungan (Kemenhub) menyerahkan tarif tiket internasional melalui mekanisme pasar dan tidak diatur layaknya tarif domestik yang sedang digodok melalui revisi tarif batas atas.

“Untuk tarif rute internasional tidak diatur. Diserahkan ke mekanisme pasar. Kami biarkan maskapai melihat peta persaingannya dan menentukan harga terbaik. Persaingan di rute internasional itu sudah keras,” ungkap Direktur Jenderal Perhubungan Udara
Kementerian Perhubungan Herry Bakti Singayudha Gumay di Jakarta, akhir pekan lalu.

Direktur Angkutan Udara Kemenhub Tri S Sunoko mengungkapkan, berdasarkan data selama 2009, Garuda Indonesia menguasai 44.74 persen pangsa pasar rute internasional dari total 4.958.556 penumpang yang diangkut selama periode itu.

Posisi nomor dua dipegang oleh Indonesia Air Asia dengan 1,987.771 penumpang (40,09%), dan Lion Air yang mengangkut 383.589 penumpang.

Berkaitan dengan revisi tarif batas atas untuk rute domestik, Hery menegaskan, akan memberikan  sanksi keras berupa pencabutan izin rute kepada maskapai yang melanggar tarif batas atas.

Menurut Herry, dalam persaingan yang sangat ketat, tarif berlaku sangat dipengaruhi oleh situasi pasar berupa kondisi permintaan dan penawaran, tingkat kompetisi pasar, perilaku pesaing, tingkat efisiensi pasar, jenis pelayanan yang diberikan, dan kiat bisnis dari pelaku usaha.

“Semakin banyak pesaing maka harga tiket akan semakin rendah sampai pada batas minimum profit. Pada rute penerbangan yang banyak dilayani, harga cenderung stabil pada harga moderat yakni sekitar 70 persen batas atas,” jelasnya.

Selanjutnya diungkapkan, dalam revisi tarif batas atas nantinya juga akan diberikan pembedaan untuk pesawat jet dengan propeller.

Untuk propeller, yang biasanya melakukan penerbangan di daerah terpencil dan kapasitas penumpangnya lebih sedikit, maka akan dikenakan batas tarif lebih besar. Sedangkan untuk mesin jet, karena kapasitas angkutnya cukup besar, maka batas tarifnya lebih
rendah.

Regulator juga tetap akan memantau harga bahan bakar pesawat (avtur). Bila harga avtur sudah melonjak tinggi yang menyebabkan maskapai mengalami kesulitan, maka akan ada kebijakan baru. “Misalnya kembali memisahkan fuel surcharge dengan tarif,”
tandasnya.

Kemenhub juga merilis kriteria maskapai penerbangan yang memberikan
Pelayanan berdasarkan  maksimum, menengah, dan minimum untuk menggunakan tarif batas atas hasil revisi nantinya.

Maskapai yang boleh mengenakan tarif batas atas sampai 100 persen adalah yang memberikan full meal alias makanan dan minuman di atas pesawat, memberikan jasa handling atau angkutan untuk barang dan penumpang, menyediakan bagasi gratis untuk penumpangnya dengan bobot tertentu, serta menyediakan jarak minimum 32″ antara kursi di dalam pesawat.

Untuk yang menengah, sebagian dari pelayanan itu dihilangkan sehingga maskapai bisa mengutip hingga 90 persen dari batas atas. Sementara untuk yang no frill atau minimum semua itu dihilangkan, maskapai bisa mengutip 85 persen dari batas atas. Revisi dari tarif batas atas untuk rute domestik ini diperkirakan akan selesai pada Maret nanti.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s