100210 Pelindo II Janji Naikkan Kualitas Layanan

JAKARTA—PT Pelindo II berjanji menaikkan kualitas layanannya bagi pengguna jasa untuk menjamin lancarnya arus barang masuk ke Indonesia.

“Kami akan melakukan segala usaha untuk melayani pengguna jasa. Salah satunya dengan menurunkan Ship Waiting Time (SWT) dari satu jam menjadi kurang di bawah itu,” ungkap Humas Pelindo II Eddy Haristiani kepada Koran Jakarta, Selasa (9/2).

Selain itu, lanjutnya, perseroan berencana menambah fasilitas di pelabuhan cabangnya seperti Teluk Bayur, Lampung, dan Pontianak. “Kita berencana menganggarkan dana sebesar 1,2 triliun rupiah untuk meningkatkan fasilitas di cabang-cabang itu,” katanya.

Namun, Eddy mengingatkan, dalam menyukseskan program pengoperasian pelabuhan selama 24 jam, 7 hari untuk menyambut Asean-China Free Trade Area (ACFTA) tergantung dengan kinerja instansi lainnya. “Kami memang beroperasi 24 jam, tetapi depo di luar itu kan tidak. Ini harus dimengerti oleh pengguna,” katanya.

Sebelumnya,  Komite Tetap Perhubungan Laut Kadin menilai pelabuhan lokal  belum siap hadapi perdagangan bebas. Ketidaksiapan itu terlihat dari masih sering tersendatnya arus barang keluar masuk pelabuhan, terbatasnya lapangan penumpukan dan minimnya investasi peningkatkan infrastruktur di pelabuhan.

Padahal, kerja sama perdagangan bebas seperti antara Asean—China telah memperbesar arus barang yang masuk di pelabuhan. Saat ini, pemerintah menyiapkan 25 pelabuhan terbuka di Indonesia untuk menghadapi membanjirnya produk-produk impor setelah kerjasama perdagangan bebas  ACFTA  dimulai awal tahun ini.

Klarifikasi THC
Secara terpisah, Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro mendukung rencana Kementrian Perhubungan untuk menuntaskan perumusan  tarif terminal handling charge (THC) terbaru sebagai bagian dari upaya memangkas biaya tinggi di sektor logistik, khususnya terkait dengan jasa kepelabuhanan.

“Tetapi harus jelas dulu apa yang akan dirumuskan yaitu tentang komponen THC dan kenapa THC itu tidak diperkenakan masuk menjadi biaya angkut (ocean freight),” katanya.

Ditegaskannya, selama ini THC tidak pernah menjadi pemasukan bagi Negara atau dari pelayaran. “Belum lagi penentuan surcharge menggunakan mata uang asing. Itu kan pelarian devisa. Di luar negeri semua memakai mata uang asing,” katanya.

Sebelumnya, Kemenhub  mengatakan instansinya dalam waktu dekat akan membahas rumusan THC terhadap jasa pelayanan bongkar muat di pelabuhan itu dengan pihak terkait, yakni kalangan pelayaran dan pemakai jasa kepelabuhanan.

Dua hal utama  akan menjadi materi pembahasan.Pertama, mengenai komponen THC yang terdiri dari CHC dan surcharge. Kedua, penggunaan mata uang untuk pembayaran.

Tujuan utama dari revisi adalah penurunan tarif THC, sehingga strategi apa pun yang diambil diharapkan nantinya akan memuaskan bagi pihak-pihak terkait.

Sesuai dengan Kepmenhub No. PR.302/3/18-PHB 2008 perihal pelaksanaan THC, CHC, dan surcharge di Pelabuhan, ditetapkan THC di Tanjung Priok untuk peti kemas 20 kaki dengan kondisi full container load (FCL) ditetapkan 95 dollar AS per boks dengan rincian CHC 83 dollar AS ditambah surcharge 12 dollar AS.

Adapun THC untuk peti kemas 40 kaki ditetapkan 145 dollar AS per boks yang terdiri dari CHC 124 dollar AS dan surcharge 21 dollar AS. Pelaku di sektor logistik meminta pemerintah untuk menurunkan tarif tersebut, karena dinilai masih terlalu tinggi.

1 Komentar

  1. Ada usulan baru tentang tarif…
    akan tetapi belum juga terjadi keputusan/kesepakatan bersama…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s