290110 Kinerja Indosat Belum Menggembirakan

JAKARTA—PT Indosat Tbk (Indosat) mengisyaratkan kinerja selama tahun lalu tidak begitu menggembirakan karena tekanan kondisi ekonomi makro dan belum selesainya pembenahan fondasi perseroan.

“Tahun lalu memang menantang bagi kinerja perseroan. Kami belum bisa memberikan paparan kinerja secara menyeluruh karena harus menunggu dari induk usaha, Qatar Telecom (Qtel),” ungkap Direktur Keuangan Indosat Peter Wladyslaw Kuncewicz   seusai mengikuti Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di Jakarta, Kamis (28/1).

Direktur Utama Indosat Harry Sasongko Tirtojondro meminta,  melihat kinerja satu manajemen yang baru diangkat tidak bisa secara instan. ”Ada kondisi pasar dan pondasi yang diletakkan oleh manajemen sebelumnya. Jadi, harus objektif,” tutur Pria yang menjadi dirut sejak Juni 2009.

Diungkapkannya, untuk jumlah pelanggan hingga akhir 2009, Indosat berhasil meraih 33,1 juta pelanggan. Sayangnya untuk kinerja keuangan lainnya tidak begitu menggembirakan.

Ketika diminta komentarnya tentang kinerja Indosat hingga kuartal tiga 2009 yang tidak begitu menggembirakan, khususnya untuk jasa seluler, Harry kembali mengingatkan, sejak menjabat Juni 2009, banyak hal-hal fundamental harus dilakukan untuk membenahi perseroan.

Jika menilik kinerja Indosat secara umum pada sembilan pertama 2009, pendapatan usaha    mencapai 13,4 triliun rupiah atau  turun sebesar 1,8 persen  dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan untuk seluler yang berkontribusi mencapai 75 persen bagi total pendapatan mencatat omzet sekitar 10,01 triliun rupiah atau hanya tumbuh single digit.

Angka itu tergolong rendah dibandingkan industri kala itu dengan membandingkan kinerja Telkomsel dan XL Axiata yang berhasil mempertahankan pertumbuhan pendapatan dobel digit.

Bahkan hingga finis di 2009, pendapatan XL Axiata    mencapai 13,8 triliun rupiah atau naik 14 persen ketimbang periode sama tahun sebelumnya yakni sekitar 12,2 triliun rupiah dengan 31,4 juta pelanggan.

Sedangkan Telkomsel    pada tahun lalu berhasil meraup pendapatan sebesar 40 triliun rupiah pada 2009 atau naik sekitar 10 persen dibanding perolehan tahun sebelumnya dengan jumlah 82 juta pelanggan.

Pendapatan Indosat di seluler pun dipastikan tertekan hingga akhir tahun 2009 karena adanya lonjakan 4,4 juta pelanggan baru yang diklaim selama kuartal empat 2009, dimana tentunya produktifitas pelanggan  belum tercipta mengingat kartu baru diaktifkan, sedangkan Average Revenue Per Users (ARPU) menurun karena banyaknya program bonus.

Hasil RUPSLB.
Berkaitan dengan hasil dari RUPSLB, Harry mengungkapkan, para pemegang saham menyepakati mengganti satu direksi dan dua komisaris.

Direktur Indosat, Kaizad Bomi Herjee yang sebelumnya merupakan perwakilan dari Singapore Technologies Telemedia (STT) digantikan oleh Wakil dari Qtel, Laszlo Imre Barta. Eksekutif ini merupakan warga Bulgaria yang juga Direktur Pemasaran Grameenphone, Bangladesh.

Sementara dua komisaris Indosat yang diganti adalah Michael Latimer dan  Setyanto P Santosa. Keduanya digantikan oleh Alexander Rusli dan Chris Kanter. Alex merupakan mantan staf khusus Menteri BUMN yang juga komisaris PT Krakatau Steel.. Sedangkan Chris aktif di Kadin.

”Masuknya Lazlo sebagai upaya dari pemegang saham untuk meningkatkan kinerja di sektor seluler,” kata Harry.

Harry pun optimistis, untuk kinerja 2010 perseroan akan lebih baik ketimbang tahun lalu. ”Kami yakin akan tumbuh di atas rata-rata industri,” katanya.

Berdasarkan catatan, pada tahun ini diperkirakan akan ada 35 juta pelanggan seluler baru dengan pertumbuhan pendapatan industri sekitar 10 persen.

Sementara Anggota Komite Penyelamat Kekayaan Negara (KPKN) Marwan Batubara mempertanyakan langkah dari pemegang saham mayoritas Indosat yang memilih jumlah komisaris hingga 10 orang, sedangkan direksi yang diawasi lima orang.

”Ini ada apa?. Sepertinya ada sesuatu. Bahkan sosok yangs seharusnya tidak menunjukkan performa bagus seperti Dirut, tidak diganti, ” katanya.

Marwan pun mempertanyakan, daya tawar dari pemerintah Indonesia yang masih memiliki saham sebesar 14,9 persen tetapi terkesan lemah dalam RUPSLB yang telah dua kali dilakukan oleh Qtel. ”Kementrian BUMN itu seperti tidak peduli dengan Indosat,” sesalnya.[dni]

1 Komentar

  1. kasian emang kalo liat kinerja indosat,… hutang nya per Des 2009 sudah Rp 25Triliun…. kurs dollar terbang ke Rp 13rb bisa SOS tuh.. .entah nyangkut kemana saja itu hutang… BTS nya kalah dari XL, blm lagi masalah Revenue/Employee yg kalah jauh dari kompetitornya.. maklum lah… ibaratnya indosat itu anak yg lahir dari “KELUARGA yg BERMASALAH”.. beda dibanding TSEL, XL, AXIS dll yg lebih rendah kolesterolnya.. lahir dari keluarga baek-baek pula…

    menarik.. apakah indosat yg dulu bisa survive dgn Transformasi SLI 001 menjadi Cellular company bisa survive juga dgn HUTANG yg segede gunung dan masalah inefisiensi nya tsb… ditambah Manajemen Qatar yg lebih mengandalkan konsultan???


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s