270110 Telkom Akuisisi AdMedika

JAKARTA–PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) berencana  mengakuisisi 75 persen saham  PT Administrasi Medika (AdMedika)melalui anak perusahaannya PT Multimedia Nusantara atau METRA guna memperkuat transformasi menuju bisnis Telekomunikasi, Informasi Services, Media, dan Edutainment (TIME).

Perjanjian Jual Beli Bersyarat atau Conditional Sales Purchase Agreement (CSPA)  perusahaan PMA yang bergerak di bidang Electronic Health Care Network itu dilakukan di Bandung (25/1).

CSPA ditandatangani oleh Direktur Utama Metra, Alex J. Sinaga dan Pemegang Saham AdMedika yang diwakili oleh Sofian Sutantio, Ravi Varna Kanason, dan Shia Kok Fat, serta disaksikan oleh Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah dan Direktur IT & Supply Telkom Indra M. Utoyo.

Nilai dari transaksi ini diperkirakan mencapai 100-150 miliar rupiah. Pendanaan diambil dari belanja modal Telkom 2010 senilai 2 miliar dollar AS. Pada tahun ini Telkom menyiapkan dana sebesar satu triliun hanya untuk aktifitas akuisisi.

Admedika sendiri  didirikan 8 Januari 2002 dan menjadi pemimpin pasar untuk layanan e-Health.

Saat ini perusahaan itu memiliki 1,2 juta anggota dengan jumlah pelanggan mencapai 26 perusahaan asuransi, dan 717 rumah sakit, klinik, puskesmas, dan lain-lain.

AdMedika sendiri merupakan pionir dalam mengaplikasikan online claim processing system dan menjadi Third Party Administrator (TPA) yang menjembatani kepentingan anggota, asuransi dan jasa kesehatan.

Komposisi kepemilikan perusahaan ini adalah PT Swadayanusa Kencana Raharja (38%),   Sofian Susantio (38%),  Ravi Varna Kanason (19%), dan  Shia Kok Fat (5%).

Rinaldi menjelaskan, aksi korporasi ini dilakukan Telkom  untuk mewujudkan InSure Net (Indonesia Insurance Shared Service Platform) sebagai cikal bakal program e-Health Nasional.

”Akuisisi ini merupakan akuisisi strategis untuk Telkom terkait dengan inisiatif InSure Net khususnya untuk sektor asuransi, dimulai dari infrastruktur IT untuk mendukung e-Health dan seluruh asuransi e-Claim Nasional,” jelasnya.

InSure Net adalah sebuah platform kolaborasi dan transaksi secara online  untuk meningkatkan efektifitas, produktivitas, dan mutu pelayanan institusi asuransi.

Selain itu, InSureNet bertujuan untuk merealisasikan sinergi diantara perusahaan asuransi BUMN dan penyedia layanan kesehatan.

Untuk saat ini kelima asuransi BUMN yang terlibat antara lain Taspen, Jamsostek, Askes, Jasa Raharja, dan Asabri. InSureNet tersebut akan dikembangkan bertahap di mana saat ini masih dalam tahap pengembangan data kepesertaan bersama.

“Akuisisi ini juga untuk  memperkuat portofolio bisnis Information (IT Services) sebagai wujud menuju transformasi menjadi perusahaan TIME,” katanya.

Dijelaskan, dalam rangka pengembangan portofolio bisnis TIME, perseroan  mendorong Metra menjadi perusahaan multimedia terdepan yang fokus di bisnis adjancent industry.

Akuisisi AdMedika merupakan rangkaian akuisisi yang dilakukan Metra setelah sebelumnya dalam tahun 2008 menyelesaikan akuisisi 80 persen  saham PT Sigma Cipta Caraka, sebuah perusahaan IT terkemuka di Indonesia.

Pada tahun 2009, Metra  juga telah menyelesaikan akuisisi 49 persen saham Infomedia milik Elnusa  dalam rangka pengendalian penuh Infomedia oleh  Telkom grup  sehingga pengembangan bisnis Infomedia di bisnis Call Center & Directory Services dan Business Process Outsourcing (BPO) dapat lebih maksimal.

Metra  juga telah membentuk anak usaha PT Metranet  yang fokus dalam pengembangan portal bisnis dengan brand name Mojopia.

Alex menambahkan,  akuisisi ini dapat dipandang sebagai wujud nyata dukungan Telkom untuk mendorong pengembangan bisnis BPO layanan kesehatan (E-Health) di Indonesia melalui penyelenggaraan layanan kesehatan yang terintegrasi, efisien dan memberikan nilai tambah bagi pelanggan, industri jasa pelayanan kesehatan dan industri asuransi.

Menurut Alex,  industri BPO E-Health di Indonesia diperkirakan mempunyai 10 juta anggota di mana AdMedika mempunyai market share 12 persen  atau 1,2 juta anggota.

Alex mengharapkan,  langkah akuisisi ini  mampu memberikan sinergi value yang optimal bagi induk usaha  dengan mengoptimalkan sinergi bersama Sigma dalam integrasi services, Infomedia dalam layanan anggota melalui Contact Center Outsourcing, Finnet  sebagai E-payment gateway, dan Mojopia dalam memberikan layanan one stop online healthcare service portal.

VP  Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia,  mengharapkan jika AdMedika terealisasi dibeli  dapat mempercepat ekspansi bisnisnya sehingga mampu memberikan nilai yang signifikan bagi Telkom grup dalam  lima tahun ke depan.

Berdasarkan catatan, pada tahun lalu Telkom juga melakukan CSPA dengan Indonesian Tower melalui anak usaha Mitratel. Sayangnya, aksi jual-beli itu gagal dan Telkom memilih berkonsentrasi men-spin off 10 ribu menara milik Telkomsel ke Mitratel.[Dni]

260110 Menuju UU TIK di Era Konvergensi

Indonesia kini berada di masa techno-economy  menuju era konvergensi. Ada dua kelompok besar konvergensi yang berdampak  sangat besar, yaitu konvergensi layanan yang merupakan tuntutan perubahan sosial dan gaya hidup serta konvergensi jaringan yang merupakan tuntutan dinamika industri layanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

Konvergensi Layanan menuntut adanya konvergensi perangkat terminal yang akan menuntut terjadinya konvergensi platform karena masing-masing layanan memiliki platform-nya sendiri yang harus disatukan di dalam satu terminal pengguna.

Di era konvergensi, setiap terminal pengguna dituntut untuk bisa digunakan meng-akses layanan telekomunikasi, internet, broadcasting, dan content distribution lainnya. Para pengguna akan berkomunikasi, melakukan transaksi elektronik, mencari dan menikmati hiburan melalui satu terminal tunggal yang konvergen.

Perubahan gaya hidup sebagai akibat dari konvergensi layanan perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh. Semakin maraknya proses jual-beli online dan upload-download kekayaan intelektual, akan selalu dibarengi dengan kejahatan online atau cyber-crime. Situasi ini menuntut negara untuk segera membuat payung hukum yang menegaskan bahwa apa yang berlaku di dunianyata berlaku pula di dunia maya.

Konvergensi jaringan, dimana struktur vertikal akan berubah menjadi horisontal, akan melahirkan masalah-masalah sosial dan teknikal yang harus diatur dengan baik agar bisa mendatangkan manfaat yang besar bagi negara.

Jaringan dengan faktanya yang multi-platform, dimiliki dan dijalankan oleh multi-operator dalam kerangka bisnis yang berkompetisi liberal, akan sangat memerlukan adanya sebuah lembaga pengatur yang tidak over-regulated namun selalu siap untuk membantu menyelesaikan perselisihan-perselisihan yang timbul.

Konvergensi jaringan tidak hanya akan terjadi di Indonesia. Yang namanya cyber-space (dunia maya) adalah satu kesatuan jaringan global borderless dimana semua orang di seluruh dunia bisa berinteraksi untuk saling berhubungan, saling tukar-menukar, saling mempengaruhi diantara mereka sendiri.

Keadaan ini tentu akan membawa dampak sosial yang bisa positif bagi kepentingan bangsa, namun bisa pula negatif yang bisa mengancam keamanan nasional. Distribusi konten dan/atau broadcasting perlu diselaraskan dengan kepentingan nasional dalam membentuk karakter bangsa yang religius dan menghormati kemanusiaan. Konten yang disebar-luaskan harus sesuai dengan moral, norma dan tata nilai bangsa.

Konvergensi layanan dan jaringan yang merupakan era baru sosio-tekno-economi, tentu membuka peluang baru bagi bangsa Indonesia untuk mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari siklus teknologi TIK ini di semua lini dalam rantai-nilai yang ada, yaitu sektor industri manufacturing perangkat TIK, sektor penyelenggaan TIK, industri produksi konten domestik, dan penyediaan fasilitas pendukungnya.

Hal ini akan bersinggungan dengan kepentingan negara-negara maju di tengah era perdagangan bebas yang akan menyulitkan Indonesia untuk bisa mencapai pertumbuhan, membuka lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan. Indonesia bisa keluar dari himpitan ini apabila ada undang-undang yang memayungi industri TIK nasional dalam kerangka  kemitraan global berdasar sikap saling menghagai menuju kebahagiaan bersama.

Trend layanan yang semakin dinamis dengan layanan fixed dan mobile menuntut tersedianya sumber daya TIK terbatas (frekuensi, nomor/alamat, dan orbit satelit) yang tertata kelola rapih dan efisien. Perlu penegasan bahwa sumber daya TIK yang terbatas ini harus dikelola secara terpusat untuk menjamin kerapihan dan efisiensi penggunaannya.

Pertanyaan besar yang harus dijawab adalah apakah pengaturan yang ada telah mampu melindungi atau menyeimbangkan kepentingan semua stake holder (masyarakat, industri dan pemerintah). Sudah saatnya hal mendasar ini dibereskan secepatnya sebelum era konvergensi mulai eksplosif.

Penulis adalah Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Nonot Harsono

260110 Tarif Batas Atas Pesawat Dipastikan Naik

JAKARTA— Regulator penerbangan  menegaskan  tarif batas atas kelas ekonomi  angkutan udara untuk  rute regional akan naik  sebesar 100 persen.

Kebijakan yang akan dilakukan sebagai pengganti Keputusan Menteri Perhubungan (KM) No 2 Tahun 2002 tentang Tarif Penumpang Angkutan Udara Niaga Berjadwal dalam Negeri Kelas Ekonomi  tersebut akan diterapkan dalam waktu dekat ini.

Direktur Jenderal Perhubungan  Kementerian Perhubungan Herry Bakti Singayudha Gumay mengatakan, pihaknya akan mengumpulkan para stake holder bisnis angkutan udara pada Kamis (28/1) besok untuk sosialisasi.

“Penerapannya menunggu pak menteri (Menhub Freddy Numberi) menandatanganinya. Biasanya dua minggu setelah sosialisasi, ” ungkapnya di Jakarta, Senin (25/1).

Dijelaskannya kenaikan tarif akan berbeda pada tiga layanan yangdiberikan maskapai kepada penumpang. Dalam aturan baru tersebut nantinya untuk kelas ekonomi ada tiga layanan yaitu layanan minimal (no frill), layanan menengah (middle services) dan layanan penuh (full services).

“Layanan full services kenaikannya 100 persen, layanan menengah 90 persen dan no frill 80 persen,” ujar Herry.

Menurut Herry, kenaikan sebesar itu  karena pada saat aturan lama dibuat yaitu KM No 9 Tahun 2002 sudah tidak cocok lagi dengan dunia penerbangan saat ini. Sebagai contohnya, pada saat aturan itu dibuat yaitu tahun 2002, harga bahan bakar pesawat sebesar  2.700 rupiah per liter, sekarang harganya telah  8.000 rupiah per liter.

Jika aturan ini diterapkan,  pada saat peak season, maskapai bisa menaikkan tarif maksimal sesuai dengan kenaikan tarif batas atas tersebut. Kenaikan sebesar itu sudah termasuk harga bahan bakar pesawat, sehingga nantinya dalam tarif pesawat sudah tidak dicantumkan lagi fuel surcharge atau selisih harga avtur.

Masing-masing maskapai juga dibebaskan untuk memberikan jenis layanan kepada penumpangnya. Pemerintah akan memberikan izin layanan tersebut berdasarkan rute yang diusulkan maskapai.

Transportasi Antar-moda
Pada kesempatan lain, Country Director Frost & Sullivan Indonesia Eugene van de Weerd mengungkapkan, transportasi antar-moda belum banyak dikembangkan, dalam hubungannya dengan peran strategis  pembangunan ekonomi di Indonesia.

Menurut dia, sebagai pulau terbesar dalam pembangunan ekonomi, Jawa dan Sumatera telah menjadi pusat pembangunan transportasi darat dengan investasi terbesar. Transportasi darat masih dominan untuk transportasi penumpang dan barang. Hal tersebut dikarenakan intrastruktur rel kereta api yang masih terbatas untuk menangani volume yang sama seperti transportasi darat.

“Padahal jika dilihat, dengan koneksi door-to-door, jaringan rel kereta api dipertimbangkan akan dapat memiliki peran strategis dibandingkan dengan metode transport lainnya.” katanya.

Dikatakannya, efek dari berkurangnya fasilitas antarmoda  berpengaruh pada jaringan angkutan. Sebagai hasilnya, mobilisasi dari node-to-node menjadi tidak efisien, biaya transportasi menjadi tinggi dan externalities antar-moda, berpengaruh dalam mempengaruhi daya beli konsumen.

“Kebutuhan akan transportasi antar-moda di Indonesia dapat dilihat mempunyai 2 perspektif, yaitu untuk meningkatkan kompetisi dalam menghadapi perdagangan pasar global, dan berfungsi sebagai perantara dari integrasi bangsa” ujarnya.

Consultant Automotive & Transportation, Frost & Sullivan Indonesia Mario Montino mengatakan, transportasi antar-moda harus dapat menjadi jawaban bagi permintaan transportasi ekonomi global. Transportasi antar-moda harus dapat membuat Indonesia, sebagai negara dengan produksi berbiaya rendah, untuk berinteraksi dengan pasar internasional dalam biaya yang rendah.

Menurutnya dalam sistem transportasi antar-moda, pasar dapat dikelompokkan berdasar pada perbandingan keuntungan dari setiap model transport. Dalam keadaan tertentu, apa yang dibutuhkan Indonesia adalah fokus pada pembangunan sistem transportasi antar moda untuk antar pulau, dan pembangunan infrastruktur transportasi di tiap pulau.

“Semenjak laut menjadi tempat yang ideal untuk transportasi angkutan antar pulau, model lain seperti kereta api, jalan darat dan udara juga harus terhubung secara baik dan cukup efisien untuk mendukung dan menyediakan model transportasi laut yang sudah ada,” katanya.[dni]

260110 Ponsel Android : Tsunami Baru di Era Konvergensi

Pada awal tahun macan ini Google akhirnya meluncurkan secara resmi ponsel android besutannya dengan merek Nexus One. Terlepas dari penjualan yang belum menggembirakan dari ponsel itu setelah dilepas ke pasar, hanya terjual 20 ribu unit, namun banyak kalangan menilai inilah tandanya dimulai tsunami baru di era konvergensi dari sisi perangkat.

Android adalah sebuah platform terbuka untuk smartphone dari open handset alliance berbasis pada  Linux dan Java. Pengguna  android dapat mengunduh dan meng-install aplikasi via  toko online  android .

Ponsel jenis ini menggunakan layar sentuh dan  multitasking yang memungkinkan aplikasi untuk berjalan di latar belakang sehingga pengguna dapat diberitahu tentang pesan masuk dan aktivitas. Platform ini adalah pesaing terberat dari I-phone besutan Apple dan BlackBerry milik Research in Motion (RIM).

Google adalah pengembang utama dari platform ini, setelah membeli  Android  Inc pada  2005. Debut  android terjadi pada akhir tahun 2007.  Berdasarkan riset yang dilakukan ComScore,  android ditempatkan sebagai  operating system paling berbahaya di 2010.

Lembaga survei lainnya Admob mengemukakan, kalau penjualan ponsel android mencapai pangsa pasar 27 persen dari semua tayangan iklan ponsel mobile bulan lalu. Dibandingkan iPhone yang 55 persen tentunya hasil tersebut sangatlah kecil, tapi diprediksi ini akan terus melaju kencang.

Di Indonesia, Telkomsel merupakan operator pertama yang meluncurkan ponsel android bekerjasama dengan HTC pada Juni 2009. Rencananya Indosat dan XL juga akan menggarap pasar android. Kedua operator akan meluncurkannya pada kuartal pertama 2010.

Sebelumnya, beberapa vendor global seperti  Motorola, Sony Ericsson, Samsung dan LG telah meluncurkan produk berbasis android. Sedangkan merek lokal, baru Imo yang terdengar menggarap  ponsel berbasis platform ini. Pada tahun ini diperkirakan ada 18 ponsel lagi yang meluncur dengan berbasis android.

Penyeimbang Hidup
GM  Direct Sales XL Handono Warih mengibaratkan,  ponsel android sebagai  ‘penyeimbang hidup’. Berbeda dengan Blackberry yang diibaratkan sebagai ‘sekertaris’.

“Tak selamanya orang bekerja terus, ada kalanya membutuhkan informasi dan hiburan, dan android memberikan sesuatu yang ‘segar. Fitur-fitur yang ada di Android mendukung semuanya baik kerja maupun informasi dan hiburan, inilah yang disebut penyeimbang hidup. Jika Rim tidak berinovasi, BlackBerry bisa ditinggal masyarakat,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Penggiat id-android@googlegroups.com Lucky Sebastian optimistis,  android akan berkembang  di Indonesia. “Sekarang masih tahap edukasi. Kendalanya hanya ada di masalah koneksi  karena toko online Android belum terkoneksi di Indonesia,” ungkapnya.

Praktisi telematika Raherman Rahanan menyakini,  dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan android akan menggilas BlackBerry.

Menurutnya,  BlackBerry tidak akan menjadi ponsel pintar masa depan yang bersaing karena yang digemari sebenarnya bukanlah apda layanan tetapi langganan ala all you can eat yang ditawarkan.

Namun, dibalik itu perangkat besutan RIM  ini memiliki kelemahan berupa eksklusif kontrak dan control yang tersentral oleh perusahaan asal Kanada itu. “Konsep ini tidak cocok dengan pendekatan “Open Clouds Computing” dimana access to the contains dapat dilakukan di sebarang titik akes yang independent,” katanya.

Dicontohkannya,  akses regional konten dengan BlackBerry  membutuhkan pipa Internet Protocol (IP) dari Local, ke gateway RIM dan balik lagi ke Regional access. “Ini mengakibatkan data access mengalami delay yang panjang. Dengan concept open clouds computing, regional contains dapat di akses secara langsung dan tak harus akses ke central control seperti RIM,” katanya.

Kendala Bandwitdh
Secara terpisah, Chief Marketing Officer Indosat, Guntur Siboro mengungkapkan, kendala yang akan dihadapi operator mengembangkan android adalah konsumsi bandwitdh yang besar.

“Android itu memindahkan lingkungan komputer ke dalam ponsel. Itu membutuhkan bandwtidh yang besar. Diperkirakan sistem operasi Android membutuhkan akses internet tanpa batas dengan kuota pemakaian sedikitnya 2 GB per bulan,” jelasnya.

Warih menjelaskan, untuk masalah kendala bandwitdh,  XL akan menawarkan program ekslusif dua layanan Internet yaitu volume-based Internet dan Internet unlimited.

Untuk yang berbasis volume, XL menawarkan kecepatan hingga 3,6 Mbps dan bisa dinikmati oleh pelanggan prabayar maupun pascabayar. Sementara untuk Internet unlimited, XL memberi kecepatan hingga 256 Kbps dan hanya bisa dipakai oleh pengguna starter pack khusus unlimited.

Sementara menurut  Lucky kunci sukses pemasaran android terletak pada  strategi operator.  Android yang dipasarkan oleh Telkomsel seolah tenggelam karena minimnya sosialisasi dari Telkomsel.

“Perlu diketahui di dunia, iPhone dan Android itu bertarung, dan Telkomsel  lebih memfokuskan pada iPhone ketimbang android, hal yang jarang terjadi di dunia,” jelasnya.

Belum Gilas
Pada kesempatan lain, pegiat komunitas BlackBerry Abul A’la Alamaujudy menyakini  android dan BlackBerry memiliki  fungsi dan segmen berbeda. BlackBerry kuat di sisi messaging  dengan dukungan teknologi push dan kompresi data yang belum ada kompetitornya. Sedangkan android, kuat disisi browsing dan Google environment.

”Jadi kalau pengguna seluruh hidupnya bergantung kepada Google, okelah memakai android. Buat saya Android lebih ‘memangsa’ pasar iPhone,” katanya.

Senada dengan Abul, Praktisi telematika Faizal Adiputra menegaskan, android tidak akan mampu berbicara banyak pada 2010. ” Android bukan buat pelanggan biasa. Hanya mereka yang suka ”oprek’ suka android,” tegasnya.

Menurut Faizal,  bagi pengguna awam pindah platform dari  Symbian ke BlackBerry hal yang mudah, tetapi  jika ke  android akan susah.
Faizal mengatakan, BlackBerry justru akan tambah lebih kuat jika program pengembangan aplikasinya melalui BlackBerry Application World berhasil pada tahun ini. ”RIM telah membuat task force khusus untuk mendorong aplikasi. Jika ini berhasil, penggunanya tak akan lari ke android,” tegasnya.[dni]