260110 KPPU Wajar Awasi Tender BUMN Telekomunikasi

JAKARTA—Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dinilai wajar untuk mengawasi tender  pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor telekomunikasi untuk menghindari terjadinya praktik persaingan tidak sehat.

“Saya rasa wajar jika KPPU masuk mengawasi tender yang dilakukan oleh BUMN telekomunikasi. Apalagi jika aroma persekongkolan dibalut dengan spesifikasi teknologi itu banyak terjadi di tender operator,” tegas Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala kepada Koran Jakarta, Senin (25/1).

Menurutnya, operator jangan merasa takut dengan adanya KPPU masuk mengawasi tender karena merupakan  bagian dari mencegah terjadinya biaya ekonomi tinggi di tingkat hulu.

“Pengadaan barang itu adalah hulu layanan. Jika di hulu saja sudah ada yang salah, bisa berpengaruh ke harga jual ke pelanggan. Nanti, pelanggan yang disuruh menanggung biaya ekonomi tinggi itu,” tegasnya.

Sebelumnya,  juru bicara KPPU A.Junaidi mengungkapkan, sektor telekomunikasi menjadi salah satu perhatian lembaganya  karena biasanya untuk pengadaan barang dan jasa selalu dibungkus dengan spesifikasi tertentu yang menguntungkan rekanan dari pejabat pengadaan barang.

Menurut Junaidi, pejabat yang mengkondisikan dam memfasilitasi persekongkolan sudah tidak lagi menjalankan tugas publiknya. Maka, secara de facto telah menjadikan posisi pejabat publik tersebut sebagai pelaku usaha yang melaksanakan kegiatan ekonomi.

Di industri telekomunikasi saat ini sedang dihebohkan dengan tender billing system untuk  Operating System Software, Billing Software System (OSS,BSS) senilai 1,2 triliun rupiah yang  digelar anak usaha Telkom yaitu Telkomsel.

Tender diikuti oleh Convergys, Amdocs, Comverse, Oracle, dan Orga. Dua peserta (Amdocs dan Convergys) disebut-sebut diberikan  keistimewaan dalam    pelaksanaan  Prove of concept (POC)  karena  selama ini menangani  billing eksisting dari Telkomsel.

Keanehan lain dari tender yang akan diumumkan pemenangnya pada akhir bulan ini adalah rencana digunakan dua vendor yakni masing-masing untuk On Line Charging System (OCS) dan System Control Point (SCP). Padahal, sistem yang ideal adalah OCS dan SCP  berasal dari satu vendor  agar  mendapatkan performa lebih bagus dengan harga murah.

Pada kesempatan lain, praktisi telematika Raherman Rahanan mengungkapkan, peserta tender Telkomsel tidak kuat di dua aplikasi yang ditenderkan. ”Siapapun yang akan menjadi pemenang, saya rasa hanya akan jadi main vendor, setelah itu di subkan pekerjaan pada yang lain,” katanya..

Menurutnya, meskipun nanti dari berbeda vendor bisa dilakukan integrasi akan rentan muncul biaya tak terduga yang membuat Total Customer Ownership (TCO) tidak kompetitif. “Biaya bisa membengkak  saat implementasi di interface.  Belum lagi  masalah flexibilitas untuk sistem charging, karena interfacenya bisa saja proprietary, bukan yang standar,” tegasnya. [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s