260110 Ponsel China Gerus Merek Terkenal

JAKARTA—Penjualan ponsel merek China secara signifikan mulai menggerus merek-merek terkenal. Saat ini penjualan ponsel China telah berbanding sama dengan dengan keluaran merek terkenal di sentra-sentra ponsel.

“Jika berjalan ke sentra-sentra ponsel, perbandingan penjualan ponsel China dan merek terkenal  sudah 50:50. Kunci dari adanya peningkatan penjualan adalah segmen pasar yang disasar kalangan menengah bawah. Hal itu bisa dilihat dari harga ponsel di bawah satu juta rupiah dengan design QWERTY,” ungkap Presiden Komisaris PT TiPhone Mobile Indonesia Hengky Setiawan di Jakarta, akhir pekan lalu

Dijelaskanya, implementasi dari Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) tidak memberikan pengaruh bagi pemilik merek China karena selama ini Bea Masuk sudah 0 persen. “Kami hanya membayar PPN dan PPh. Itu hal yang lumrah,” katanya.

Menurutnya, ada dua kunci agar produk China bisa bertahan, yakni branding dan service center. “Kedua hal itu harus dijaga, jika tidak akan ada seleksi alam yang menggusur para pemain. Bagi yang berkarakter “kapal selam” alias muncul-hilang, itu umurnya tidak lama,” jelasnya.

Dia optimistis, pada tahun ini penjualan ponsel China akan semakin menggurita, apalagi dukungan dari operator besar terlihat sangat konsisten. “Dua operator yang sangat mendukung penjualan ponsel China yaitu Telkom grup dan XL. Ini karena keduanya menyadari segmen pasar yang digarap sama dengan ponsel China,”jelasnya.

Diungkapkannya, salah satu bentuk kerjasama yang dijalin dengan Telkom Grup adalah melalui  TiPhone T68 yang menggabungkan  layanan GSM Telkomsel dan CDMA Flexi.

“Kami  menargetkan penjualan hingga 20.000 unit yang disiapkan, dengan target maksimal mencapai 50.000 unit yang difokuskan pada penjualan di wilayah Jabotabek dan Jawa,” ungkapnya.

Optimisme target ini, dikatakan Hengki, selain didukung dengan produk berkualitas, TiPhone juga memiliki jaringan distribusi yang cukup luas, sekira 500 outlet di 128 kota, yang termasuk dalam jaringan retail Telesindo. Telesindo sendiri saat ini tercatat sebagai distributor terbesar produk kartu seluler Telkomsel dan Telkom.

“Bagi Telesindo, kehadiran TiPhone cukup penting untuk memperkuat posisi Telesindo sebagai One Stop Shopping di Industri telekomunikasi,” lanjut Hengki.

Diungkapkannya, pada 2009 telah menjual merek Tiphone dalam jumlahsekitar 30 ribu unit. “Pada tahun ini  diharapkan penjualan naik tiga kali lipat.  Target saya mengantar  TiPhone di tangga posisi lima besar ponsel China di Indonesia, selain Nexian, HT Mobile, dan Micxon,” jelasnya.[dni]

260110 KPPU Wajar Awasi Tender BUMN Telekomunikasi

JAKARTA—Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dinilai wajar untuk mengawasi tender  pengadaan barang dan jasa yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor telekomunikasi untuk menghindari terjadinya praktik persaingan tidak sehat.

“Saya rasa wajar jika KPPU masuk mengawasi tender yang dilakukan oleh BUMN telekomunikasi. Apalagi jika aroma persekongkolan dibalut dengan spesifikasi teknologi itu banyak terjadi di tender operator,” tegas Direktur Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala kepada Koran Jakarta, Senin (25/1).

Menurutnya, operator jangan merasa takut dengan adanya KPPU masuk mengawasi tender karena merupakan  bagian dari mencegah terjadinya biaya ekonomi tinggi di tingkat hulu.

“Pengadaan barang itu adalah hulu layanan. Jika di hulu saja sudah ada yang salah, bisa berpengaruh ke harga jual ke pelanggan. Nanti, pelanggan yang disuruh menanggung biaya ekonomi tinggi itu,” tegasnya.

Sebelumnya,  juru bicara KPPU A.Junaidi mengungkapkan, sektor telekomunikasi menjadi salah satu perhatian lembaganya  karena biasanya untuk pengadaan barang dan jasa selalu dibungkus dengan spesifikasi tertentu yang menguntungkan rekanan dari pejabat pengadaan barang.

Menurut Junaidi, pejabat yang mengkondisikan dam memfasilitasi persekongkolan sudah tidak lagi menjalankan tugas publiknya. Maka, secara de facto telah menjadikan posisi pejabat publik tersebut sebagai pelaku usaha yang melaksanakan kegiatan ekonomi.

Di industri telekomunikasi saat ini sedang dihebohkan dengan tender billing system untuk  Operating System Software, Billing Software System (OSS,BSS) senilai 1,2 triliun rupiah yang  digelar anak usaha Telkom yaitu Telkomsel.

Tender diikuti oleh Convergys, Amdocs, Comverse, Oracle, dan Orga. Dua peserta (Amdocs dan Convergys) disebut-sebut diberikan  keistimewaan dalam    pelaksanaan  Prove of concept (POC)  karena  selama ini menangani  billing eksisting dari Telkomsel.

Keanehan lain dari tender yang akan diumumkan pemenangnya pada akhir bulan ini adalah rencana digunakan dua vendor yakni masing-masing untuk On Line Charging System (OCS) dan System Control Point (SCP). Padahal, sistem yang ideal adalah OCS dan SCP  berasal dari satu vendor  agar  mendapatkan performa lebih bagus dengan harga murah.

Pada kesempatan lain, praktisi telematika Raherman Rahanan mengungkapkan, peserta tender Telkomsel tidak kuat di dua aplikasi yang ditenderkan. ”Siapapun yang akan menjadi pemenang, saya rasa hanya akan jadi main vendor, setelah itu di subkan pekerjaan pada yang lain,” katanya..

Menurutnya, meskipun nanti dari berbeda vendor bisa dilakukan integrasi akan rentan muncul biaya tak terduga yang membuat Total Customer Ownership (TCO) tidak kompetitif. “Biaya bisa membengkak  saat implementasi di interface.  Belum lagi  masalah flexibilitas untuk sistem charging, karena interfacenya bisa saja proprietary, bukan yang standar,” tegasnya. [dni]

260110 Telkom Siapkan US$ 200 Juta Bagi Flexi

Jakarta—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menyiapkan dana 200 juta dollar AS untuk unit usaha Fixed Wireless Access (FWA) Flexi agar mampu meraih 18 juta pelanggan pada tahun ini. Pada tahun lalu Flexi memperoleh 15,7 juta pelanggan.

“Flexi telah dimandirikan sebagai unit usaha. Dana lumayan besar digelontorkan agar bisa menjaga posisi sebagai pemimpin di pasar FWA,” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Senin (25/1).

Executive General Manager Divisi Telkom Flexi, Triana Mulyatsa mengungkapkan, guna mencapai target yang ditetapkan, Flexi tidak lagi bicara basic telephony (Suara dan SMS), tetapi mulai menggarap beragam konten agar pelanggan merasakan produk itu tidak hanya sebagai alat bicara.

“Konten  anyar yang dikeluarkan pada awal tahun macan ini diantaranya  Flexi ngROOMpi, Flexi Mobile Games, dan Hape Flexi Chatting,” ungkapnya.

Flexi ngROOMpi merupakan alternatif bagi pengguna flexi untuk  bicara sekaligus dengan banyak orang tanpa menggunakan cara yang berbelit-belit. hanya 49 rupiah per  menit.

Deputy General Manager Bidang Commerce Divisi Telkom Flexi Judi Achmadi menambahkan,  untuk  Flexi Mobile Games disediakan berbagai macam games  yang dapat dibeli melalui SMS  dengan  format: REG GAME kirim ke 3477 untuk berlangganan dan untuk membeli games satuan ketik GAME [Kode Game] kirim ke 3477 dengan biaya pengiriman SMSreguler/ normal saja.

Sementara, untuk Hape Flexi Chatting  dikemas sesuai keinginan anak-anak muda yang ingin mengekspresikan dirinya dalam situs jejearing sosial  dengan desain hape yang keren dan biaya yang hemat.  Ponsel Flexi Chatting menawarkan layanan IM, Facebook dan Twitter sepuasnya gratis selama satu bulan pertama (empat minggu).

Hape Flexi Chatting memiliki 3 model untuk menyesuaikan kebutuhan Pelanggan Flexi, mulai dari kelas Low End hingga Mid End. Untuk model Mid End, hape Flexi Chatting dilengkapi dengan Camera, FM Radio, Multimedia dan browser Opera Mini untuk mengakses situs social networking lainnya seperti Facebook dan Twitter serta dapat digunakan sebagai modem phone.

Secara terpisah, juru bicara Axis Anita Avianty mengungkapkan, jangkauan layanan  3G dan GSM-nya telah hadir  di seluruh  Sumatera mulai pekan lalu.

”Peluncuran layanan di Aceh dan Sumatera Selatan membuat Axis menyediakan akses bagi lebih dari 65 persen populasi Indonesia,” katanya.

AXIS pertama kali meluncurkan layanannya pada Februari 2008 dan saat ini telah melayani lebih dari enam juta pelanggan di Indonesia. Dalam waktu kurang dari dua tahun beroperasi, perusahaan telah membangun lebih dari 4.200 BTS secara nasional dengan rata-rata lebih dari 140 BTS dibangun setiap bulannya.[dni]