230110 Kementrian BUMN Selidiki Kartel Semen

JAKARTA—Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berjanji akan menyelidiki dugaan kartel semen yang diumumkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk mendukung terciptanya persaingan sehat di industri tersebut.

“Saya belum tahu tentang adanya dugaan kartel semen tersebut. Pada saat pertemuan KPPU dengan Presiden beberapa waktu lalu hal ini belum diungkap. Kalau benar ada sinyalemen itu, saya akan tugaskan deputi terkait menyelidiki,” ungkap Menteri  BUMN  Mustafa Abubakar di Jakarta, Jumat (22/1).

Ditegaskannya, jika telah mendapatkan informasi yang lengkap dan terbukti ada BUMN di bidang semen yang terlibat, nantinya akan ditentukan sikap sebagai pembina. ”Kami memiliki komitmen bisnis harus berlangsung secara sehat dan sesuai aturan permainan. Tetapi untuk bergerak lebih maju sikapnya, baiknya tunggu penyelidikan,” katanya.

Sebelumnya, juru bicara  KPPU A.Junaidi mengatakan,  akan melanjutkan kasus dugaan kartel semen yang dilakukan delapan perusahaan semen ke tahap pemeriksaan pendahuluan.

Kedelapan perusahaan yang menjadi terlapor dalam kasus tersebut yaitu PT Semen Andalas Indonesia, PT Semen Padang, PT Semen Baturaja, PT Indocement Tunggal Prakarsa, PT Holcim Indonesia Tbk, PT Semen Gresik Tbk, PT Semen Tonasa dan Semen Gresik, dan PT Semen Bosowa Maros. Para pelaku usaha itu  diduga melanggar pasal 11 Nomor 5 tahun 1999 tentang anti persaingan tidak sehat.

Pasal 11 UU Nomor 5 Tahun 1999 tersebut berbunyi: “Pelaku usaha dilarang membuat perjanjian, dengan pelaku usaha pesaingnya, yang bermaksud untuk mempengaruhi harga dengan mengatur produksi dan atau pemasaran suatu barang dan atau jasa, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.”

Menurut Djunaidi dugaan adanya pengaturan produksi untuk menentukan harga tersebut muncul dengan melihat data kapasitas terpasang produksi semen yang terpasang dikaitkan dengan volume penjualan, konsumsi, dan permintaan yang tidak terpenuhi.

Ia mencontohkan pada tahun 2008, total kapasitas terpasang produksi sebesar 56.862.000 ton, penjualan sebesar 35.404.386 ton, sedangkan konsumsinya sekitar 38.807..741 ton, sehingga kebutuhan yang tidak terpenuhi sebanyak 2.683.355. Artinya terjadi over demand 2.683.355 ton. Padahal di satu sisi terjadi idle capacity sebanyak 21.457.614 ton karena kapasitas produksi terpasang lebih besar penjualan.

Junaidi, juga menunjukan sejumlah kejanggalan. Pasalnya, terdapat tren dimana ketika harga batubara turun ternyata harga jual semen malah naik. Padahal batubara merupakan komponen utama yang mempengaruhi harga semen. komponen bahan bakar rata-rata berpengaruh sebesar  30-40 persen bagi harga semen.

Faktor lainnya, jika dilihat dari tren harga eceran, para produsen tersebut kerap kali menaikkan harga secara serempak dengan nilai yang sama. Contohnya pada tahun 2008, Indocement menaikan harga  7.500 rupiah , ternyata Holcim dan Semen Gresik juga menaikkan dengan besaran yang sama.

Junaidi menegaskan, pada tahun ini lembaganya memang akan memfokuskan pada perkara strategis yang menyangkut kebutuhan pokok rakyat.

”Dalam penanganan perkara strategis yang menyangkut kebutuhan pokok rakyat, KPPU mendukung prioritas penegakan hukum dengan memberi ruang penelitian dan kajian dengan pendekatan Structure – Conduct – Performance (SCP) yang lebih besar, sehingga pendekatan analisa ekonomi akan menjadi lebih dominan dan perkara inisiatif akan meningkat,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s