210110 Akal-akalan Mengejar Target

Tingginya target yang dipasang oleh operator guna mengejar  pelanggan baru membuat banyak terjadi praktik-praktik nakal di lapangan oleh mitra penjual produknya.
Entah ada tindakan atau tidak terhadap praktik-praktik tesebut. Satu hal yang jelas, dari praktik yang tidak sehat itu, operator tetap saja diuntungkan dari sisi pendapatan.
Beberapa akal-akalan yang diungkap oleh Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) adalah diborongnya kartu perdana oleh tim sukses idola acara reality show di stasiun televisi untuk mendukung jagoannya.
Berikutnya,  diaktifkannya kartu oleh kios menjelang habisnya masa berlaku dan diborongnya kartu oleh penyedia konten (Content Provider/CP) yang menjadi rekanan dari operator.
Anggota Komite BRTI Nonot Harsono mengungkapkan, dari investigasi di lapangan ditemukan satu  tim sukses audisi dangdut yang mengikuti reality show. Caranya,  artu perdana berisi pulsa  lima ribu rupiah sudah diaktivasi di level distributor, lalu di-kulak oleh pengecer dengan harga 800 atau 1000 rupiah.

“Tim sukses perlu  mendongkrak perolehan SMS karena aturan satu nomor untuk satu dukungan, maka membeli banyak nomor kartu perdana dengan harga murah merupakan cara menaikkan dukungan,” ungkapnya kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Contoh lainnya adalah CP membeli kontennya sendiri. CP  bisa mendapatkan pendapatan tambahan  dengan cara CP membeli Content-nya sendiri. Ilustrasinya satu kartu berisi pulsa 5000 rupiah. Investasi untuk membeli per kartu secara kulakan sekita  800 atau 1000 rupiah.

Jika harga satu  SMS premium adalah   1000 rupiah maka satu kartu bisa mengirim lima SMS.  Biasanya  bagi hasil operator dan  CP adalah 60:40. Ini membuat pendapatan dari setiap kartu adalah lima ribu rupiah. CP akan mendapatkan keuntugan 2 ribu rupiah dan operator tiga ribu rupiah.  Selisih bagi CP dengan praktik seperti ini adalah 1.200 rupiah.  Seandainya CP membeli seribu nomor baru maka keuntungannya sekitar  1.2 juta rupiah dan operator kebagian  tiga juta rupiah.
Praktisi telematika Bayu Samudiyo mengungkapkan, praktik nakal lainnya adalah  kartu perdana diborong oleh pemain server. Pulsa awal dari kartu perdana yang akan habis masa berlakunya  di jual murah dan ditampung di server untuk dijual lagi. “Entah bagaimana caranya   waktu expire bisa “dimainin” di server. Sedangkan soal CP borong kartu perdana itu sudah isu lama. Ibarat buang angin di kerumunan massa, tercium tapi tidak jelas datangnya darimana,” katanya.
Ketika hal ini dikonfirmasi ke beberapa operator, banyak yang menjawab tidak tahu atau berjanji akan memeriksa dulu kondisi di lapangan.
Namun, Group Head Of Corporate Communication Indosat Adita Irawati mengakui, harga pasar dari kartu perdana prabayar memang naik turun tergantung  ketersediaan  di pasar.  “Kadang-kadang kartu yang masa berlaku sudah dekat, dijual lebih murah,” katanya.
Adita menegaskan, pihaknya   tidak bisa mengontrol setiap transaksi kartu perdana  di lapagan  karena yang berlaku adalah mekanisme pasar bebas. “Tak mungkin kita tentukan siapa yang boleh membeli atau tidak,” tegasnya.

Sedangkan GM Corporate Communication XL Febriati Nadira mengungkapkan, hingga  saat ini  belum menemukan hitungan tertentu sehingga sampai pada kesimpulan lebih murah untuk beli kartu perdana daripada membeli voucher isi ulang.
“Kami benar-benar  memperhatikan stok pasar dengan ketat, yang tentunya mempengaruhi jumlah supplai ke pasar,” katanya.
Namun Ira mengakui banyak mendapatkan informasi dari mitra dealernya tentang aktifitas tim sukses idola reality show memborong kartu perdana.  “Tetapi hingga saat ini belum ada bukti kuat utk mengatakan bahwa hal tersebut benar-benar terjadi,” kilahnya.
Anggota Komite BRTI lainnya, Heru Sutadi mengatakan, praktik nakal itu bisa ditekan jika implementasi registrasi prabayar dijalankan dengan disiplin. “Selama ini ada yang tidak benar dengan proses registrasi. Dimasukkan nomor secara acak untuk identitas, masih diaktifkan oleh operator. Coba semuanya disiplin, tentu tidak ada yang nakal,” katanya.[dni]

210110 Pemain Mobile Advertising Butuh Investasi Besar

JAKARTA—Para pemain aplikasi yang ingin mengembangkan mobile advertising membutuhkan investasi besar dan komitmen jangka panjang agar bisa membangun ekosistem jasa tersebut.
Mobile advertising adalah aplikasi yang memungkinkan ponsel menjadi media beriklan. Di Indonesia pemain jasa ini Telkomsel dan Indosat. Sedangkan pengembang aplikasi adalah Go Mobile melalui Mobile Advantage (MAD)
“Suatu saat Mobile Advertising akan besar di Indonesia. Tetapi tidak dalam waktu dekat. Karena itu para pemainnya dituntut komitmen dalam berinvestasi,” tegas Wadirut Bakrie Telecom Bidang Pemasaran Erik Meijer kepada Koran Jakarta, Rabu (20/1).
Menurut Erik, jika ditilik dari sisi jangkauan massa, jasa tersebut memiliki banyak sisi positif. Hal itu bisa dilihat dari besarnya jumlah pelanggan seluler, bersifat personal, massa bisa dipertanggungjawabkan, dan interaktif.
Kendalanya selama ini belum ada regulasi yang jelas untuk jasa ini. Jika mengacu pada kenyamanan pelanggan ini harus dijalankan dengan izin pengguna. “Nah, ini yang membuat operator ragu mengembangkan layanan ini karena khawatir pelanggan terganggu. Kunci sukses sebenarnya ada di pengiklan, jika mereka melihat ini sebagai kesempatan besar, operator dan pengembang aplikasi tentu akan lebih semangat,” katanya.
Erik menyarankan, mulai saat ini pengembang aplikasi, operator, dan pengiklan bekerjasama untuk membahas tentang biaya akses, pembagian pendapatan, dan kebijakan terhadap pelanggan.
Sementara Presiden Direktur Go Mobile Bobby Arthawan optimistis mampu menggaet sejuta pelanggan untuk menggunakan layanannya pada tahun ini.
Saat ini layanan MAD baru tersedia untuk ponsel dengan sistem operasi Symbian. Diharapkan, pada pertengahan 2010, Go Mobile akan mampu melayani lebih dari 75 persen platform sistem operasi yang sudah ada di Indonesia
“Kami mencoba untuk mengaplikasikan teknologi teranyar di dunia agar pemasar (marketer) bisa mendapatkan nilai tambah lebih dari investasinya. Selain itu berita yang disajikan juga dibuat relevan dengan segmen pelanggan,” ujarnya.
Dijelaskannya, pengguna yang menjadi pelanggan MAD akan mendapatkan layanan informasi berita seperti laiknya running text yang berjalan di ponsel. Untuk iklan, ponsel pengguna akan menampilkan video-video iklan setiap melakukan panggilan. Untuk informasi yang dihadirkan, GoMobile memiliki redaksi tersendiri dan kemungkinan akan menggaet kantor-kantor media massa di masa mendatang.
Untuk mendapatkan layanan ini, sementara pelanggan bisa mengaksesnya melalui sms yang disediakan operator telekomunikasi yang bekerjasama dengan GoMobile.
MAD menggunakan teknologi biometrik yang merupakan teknologi untuk verifikasi pengguna di mana data base dari pengguna Go Mobile bisa dibilang unik karena tak ada replikasi. Saat ini di dunia, teknologi biometrik untuk pemasaran hanya digunakan oleh gomobile. Dengan teknologi biometrik broadcast berubah menjadi One Cast.[dni]

210110 Tarif Pesawat Naik 5 %

JAKARTA—Kementrian Perhubungan   berencana menaikkan tarif batas atas
angkutan   udara untuk rute   domestik sebesar 5 persen tak lama lagi.

“Ada rencana menaikkan tarif batas atas sebesar lima persen. Tidak begitu besar,” ungkap  Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry
Bhakti S Gumay, di Jakarta, Rabu  (20/1).

Dikatakannya, kenaikan tarif tersebut dimuat dalam rancangan revisi Keputusan
Menteri Perhubungan (KM) No 9 tahun 2002 tentang Tarif Penumpang
Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri.

Dalam draft revisi yang dinyatakan sudah final, pemerintah akan menetapkan tarif batas atas berdasarkan pada tingkat pelayanan maskapai. Ada tiga klasifikasi layanan pesawat yaitu layanan maksimum (full service), menengah (medium services) dan minimum (no
frill).

Kategorisasi ini sesuai Pasal 97 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan. Tarif batas atas untuk maskapai full service 100 persen, medium 90
persen, dan no frill 85 persen.

Sebagai contohnya, tarif batas atas maskapai berlayanan maksimum rute Jakarta-Surabaya sebesar  1 juta rupiah, maka kategori menengah paling tinggi memasang tarif  900 ribu rupiah dan kategori minimum  850 ribu rupiah.

“Sebelum draft final tersebut ditandatangani, akan terlebih dahulu disosialisasikan ke INACA dan operator maskapai, kami menargetkan akhir bulan ini akan draft tersebut akan ditandatangani,” katanya.

Sebelumnya Menteri Perhubungan Freddy Numberi mengatakan akan
menyosialisasikan KM tersebut pada April mendatang. “Jadi kemungkinan KM tersebut akan berlaku pada semester dua tahun ini,” katanya.

Juru bicara Sriwijaya Air, Ruth Hanna Simatupang menyatakan, kebijakan pemerintah memberlakukan peraturan yang baru yaitu kenaikan 5 persen harus dilaksanakan oleh operator. “Mungkin itu yang terbaik bagi pemerintah agar semuanya bisa berjalan,” kata
Hanna.

Menurut Hanna,  kenaikan sebesar 5 persen membuat  maskapai kemungkinan bakal menurunkan margin keuntungannya, karena selama ini perusahaan penerbangan terus dihimpit dengan ongkos produksi.

Biaya-biaya penerbangan sejak Keputusan Menteri Perhubungan (KM) No 9 2002 tentang Tarif Penumpang Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri hingga saat ini telah mengalami kenaikan berkali-kali.
Sebagai contoh, pada saat KM tersebut dibuat pada tahun 2002, harga avtur masih Rp 2.700/liter, saat ini harganya berkisar Rp 8.000/liter. “Belum lagi biaya sewa pesawat yang sekarang dikenakan pajak sebesar 20 persen,” ujarnya.

Disebutkannya, keuntungan maskapai dalam setahunnya tidak besar. Menurutnya dalah satu tahun, momen yang menguntungkan bagi maskapai hanya ada sekitar empat bulan saja, yaitu saat liburan sekolah, Lebaran dan Natal. Selain itu penumpang pesawat sepi, sehingga maskapai merugi. “Margin yang didapatkan cuma 5 persen,” tandasnya.

Sementara Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Angkutan Udara Nasional (Inaca) Tengku Burhanuddin meminta dalam menaikkan tarif batas atas itu
pemerintah harus mempertimbangkan beberapa komponen tarif.

Komponen tersebut antara lain harga avtur dalam negeri, kurs Dollar, dan indeks
biaya hidup.

Menurutnya, kenaikan harga-harga komponen sejak KM No 9 tahun 2002
tersebut dibuat harus menjadi perhitungan dari revisi.  Dia memberikan contoh upah minimum provinsi (UMP) sejak 2002 lalu hingga 2009 saja telah naik berkali-kali.[dni]