200110 Hubungan Industrial Karyawan BUMN Belum Kondusif

JAKARTA—Hubungan industrial karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan manajemennya dinilai belum kondusif sehingga berpotensi menurunkan produktivitas dari perseroan.

Juru bicara Federasi Serikat Pekerja BUMN Wartono Purwanto mengungkapkan, selama ini hubungan antara manajemen dengan karyawannya di BUMN sangat mengenaskan sehingga terjadi penurunan produktifitas bekerja.

”Beberapa BUMN sedang bermasalah dengan karyawannya. Misalnya Merpati, Garuda, Angkasa Pura I, Telkom, dan di beberapa  industri strategis lainnya,” ungkap pria yang juga menjadi Ketua Umum Serikat Karyawan (Sekar) Telkom itu di Jakarta, Selasa (19/1).

Diungkapkannya, di Garuda dan Merpati sedang terjadi restrukturisasi karyawan besar-besaran yang membuat pekerja tidak kondusif melaksanakan kegiatannya. Sedangkan di Telkom masalah pembahasan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tidak selesai diskusinya hingga saat ini.

”Awalnya pembahasan tentang PKB di Telkom berjalan mulus. Belakangan ini kembali mandek kalau tidak mau dikatakan terjadi deadlock Selain itu di Telkom juga sedang ribut masalah Bantuan Peningkatan Kesejahteraan (BPK) yang tidak dikeluarkan bagi karyawan yang mengambil pensiun dini,” ungkapnya.

Selanjutnya diungkapkannya, manajemen BUMN juga bersikap represif dalam menerima masukan dari karyawan terutama jika menyoroti masalah pengelolaan perusahaan. ”Tekanan itu ada bagi karyawan yang ingin memberi masukan bagi perusahaannya,” katanya.

Dikatakannya, untuk mengatasi hubungan yang belum harmonis tersebut, para karyawan BUMN telah bertemu dengan Menakertrans Muhaimin Iskandar sebagai pembina serikat karyawan.

”Bapak Menteri menyetujui perlunya hubungan yang lebih kondusif antara karyawan dengan manajemen. Beliau pun menyadari hubungan industrial di BUMN itu khas sehingga akan berkoordinasi dengan kementrian BUMN. Kami pun sepakat pembina dari keduanya yakni Menneg BUMN dan Menakertrans harus terlebih dulu menunjukkan komitmen membangun hubungan industrial yang baik, sehingga bisa dicontoh elemen yang dibinanya,” jelasnya.

Sementara, Vice President Public and Marketing Communication Telkom  Eddy Kurnia menegaskan,  perusahaan sama sekali tak berniat mengabaikan BPK. Jika para pensiunan ingin mengambil seperti  yang sudah ditawarkan yakni  sebesar 1,4 kali lipat, maka kapan pun uang  itu bisa dicairkan.

Hanya saja, lanjut Eddy, hingga saat ini belum tercapai kesepakatan antara perusahaan dengan Sekar tentang besaran nilai BPK yang mengacu pada azas uniformula sebagaimana disepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) III Telkom-Sekar pasal 35 ayat 4.

Dalam proses perundingan, Sekar mengajukan usulan agar BPK dibayarkan kembali dengan besaran 2 kali Tunjangan Hari Tua (THT) sementara perusahaan sesuai dengan semangat perubahan yang telah dinyatakan dalam PKB III mengajukan proposal BPK model baru dengan besaran setara 1,4 kali THT. [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s