200109 Sektor Telekomunikasi Pembelanja Iklan Terbesar

JAKARTA—Sektor telekomunikasi menjadi pembelanja iklan terbesar dengan nilai 3,8 triliun rupiah atau tujuh persen dari total biaya iklan  tahun lalu sebesar  48,5 triliun rupiah.

Belanja dari sektor telekomunikasi sebenarnya mengalami penurunan sebesar 11 persen ketimbang 2008 yang mencapai 4,371 triliun rupiah. Sedangkan posisi kedua untuk pembelanja iklan pada tahun lalu adalah pemerintahan dan partai politik yang mengeluarkan biaya sebesar 3,642 triliun rupiah. Angka itu meningkat 64 persen ketimbang 2008 yang mencapai 2,216 triliun.

”Secara total belanja iklan pada tahun lalu mengalami peningkatan sebesar 16 persen dibandingkan tahun lalu.  Namun, peningkatan belanja iklan itu lebih rendah ketimbang peningkatan tahun 2008, dibandingkan 2007 yang sebesar 19 persen. Pendorong naiknya belanja iklan pada 2009 itu adalah iklan partai politik,” ungkap  Senior Manager Business Development Nielsen Media Indonesia Maika Randini di Jakarta, Selasa (19/1).

Dijelaskannya, Nielsen melakukan survei pada 103 koran, 165 judul majalah dan tabloid, serta 24 stasiun televisi. Survei tidak termasuk iklan baris dan tidak menghitung diskon dan promo.

Produk telekomunikasi yang mengeluarkan biaya iklan terbesar pada tahun lalu adalah operator seluler Axis (Rp 374 miliar), XL (Rp 357 miliar), Three (Rp 307 miliar),  Telkomsel (Rp 301 miliar), Indosat (Rp 284 miliar), dan  Esia (Rp 239 miliar).

Dari sektor politik yang paling besar mengeluarkan belanja iklan adalah para kandidat presiden (Rp 308 miliar) dan Partai Golkar (Rp 303 miliar).

Media yang mendominasi penyerapan belanja iklan pada tahun lalu adalah  televisi sebesar 62 persen  atau  mencapai  29 triliun rupiah.  Penerima iklan kedua terbesar  adalah  koran  16 triliun rupiah (34 persen) dan disusul majalah dan tabloid sebanyak satu  triliun rupiah  ( 4 persen).

Secara terpisah, Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E. Marinto mengatakan, besarnya kontribusi operator telekomunikasi dalam belanja iklan merupakan hal yang wajar karena ada 11 operator yang bersaing memperebutkan pelanggan.

Sedangkan Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Bidang Pemasaran Erik Meijer mengungkapkan, adanya penurunan belanja iklan pada tahun lalu karena belanja operator cenderung stagnan dipicu oleh krisis ekonomi.

“Ada krisis sekalipun industri telekomunikasi tetap akan agresif beriklan karena sektor ini banyak terjadi inovasi yang membutuhkan komunikasi ke publik agar pelanggan bisa diraih,” jelasnya.

Sementara Chief Marketing Officer Axis Johan Buse menilai,  perhitungan belanja iklan yang dilakukan Nielsen tidak  tidak apple to apple. “Perhitungannya secara gross rate. Selain itu, kami. menggunakan satu merek, ada operator yang mengkomunikasikan banyak merek. Kalau dihitung, bisa jadi mereka lebih besar,” katanya.

Johan menjelaskan, sebagai pemain baru, hal yang wajar agresif beriklan karena perlu memperkenalkan diri ke pasar.

Proyeksi 2010
Berkaitan dengan proyeksi belanja iklan pada tahun ini, Maika memprediksi, pertumbuhan akan lebih besar ketimbang tahun ini karena adanya kegiatan Piala Dunia 2010 di Afrika dan kemungkinan kembali bersinarnya sektor telekomunikasi.

“Jika melihat pola belanja iklan pada 2002 dan 2006 saat ada piala dunia memang ada kenaikan. Pada 2002 mengalami kenaikan sebesar 32 persen dan 2006 terjadi kenaikan 17 persen.,” katanya.

Melihat tren seperti itu, jelasnya, kemungkinan pertumbuhan akan ada tetapi tidak akan lebih dari pertumbuhan tahun 2009. ”Saya belum berani prediksi angka pastinya. Tetapi lebih besar dari 16 persen,” katanya.

Dijelaskannya, sesuai tren tahunan akan ada penurunan belanja iklan di kuartal pertama, namun setelah itu akan terjadi kenaikan.. Meski ada momen Pilkada pada tahun ini, namun diperkirakan efeknya tidak sesignifikan Piala Dunia 2010.

Dengan adanya momen Piala Dunia, menurutnya, iklan-iklan beberapa produk akan meningkat, seperti rokok dan minuman. “Karena biasanya, produk-produk itu yang banyak beriklan di Piala Dunia,” ujarnya.

Menurut dia, media televisi akan menikmati berkah banjir iklan akibat adanya  ajang internasional itu, ketimbang koran dan majalah. ”Tetapi saya yakin koran akan menikmati kenaikan belanja iklan  pada tahun ini karena pengiklan mulai paham memilih media yang tepat sesuai kebutuhannya,” jelasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s