200109 XL Lunasi Obligasi Lebih Awal

JAKARTA–  PT XL Axiata Tbk (XL)  melakukan pelunasan lebih awal terhadap seluruh obligasi dalam mata uang dollar AS  senilai  59,432 juta dollar AS  pada tanggal 18 Januari 2010.

Obligasi ini diterbitkan oleh Excelcomindo Finance Company B.V. dan dijamin oleh XL, dengan suku bunga 7,125 persen per tahun dan jatuh tempo tahun 2013 .

“Dilakukannya pelunasan lebih awal ini membuat  tidak ada lagi obligasi yang masih beredar,” ungkap Direktur Keuangan XL Willem L. Timmermans, melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa (19/1).

Willem menjelaskan,  pelunasan lebih awal atas obligasi membuat risiko perseroan  atas hutang dalam bentuk  dollar AS telah berkurang.

Diungkapkannya, pelunasan lebih awal atas Obligasi ini didanai dengan kombinasi antara arus kas internal dengan hutang Rupiah dari PT Bank Sumitomo Mitsui Indonesia (BSMI). “Kami harap hal ini selanjutnya akan semakin memperkuat neraca kami. Penebusan Obligasi ini merupakan kelanjutan dari strategi XL untuk mengurangi hutang dalam mata uang Dollar AS,” tukasnya.

Pada tahun lalu, XL juga  melakukan pelunasan yang signifikan atas hutang dalam bentuk dollar AS  dengan menggunakan dana hasil dari proses right issue  senilai  2,8 triliun yang prosesnya telah diselesaikan pada bulan Desember 2009. Pelunasan kala itu juga membetot dana  arus kas internal.[Dni]

200110 Hubungan Industrial Karyawan BUMN Belum Kondusif

JAKARTA—Hubungan industrial karyawan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan manajemennya dinilai belum kondusif sehingga berpotensi menurunkan produktivitas dari perseroan.

Juru bicara Federasi Serikat Pekerja BUMN Wartono Purwanto mengungkapkan, selama ini hubungan antara manajemen dengan karyawannya di BUMN sangat mengenaskan sehingga terjadi penurunan produktifitas bekerja.

”Beberapa BUMN sedang bermasalah dengan karyawannya. Misalnya Merpati, Garuda, Angkasa Pura I, Telkom, dan di beberapa  industri strategis lainnya,” ungkap pria yang juga menjadi Ketua Umum Serikat Karyawan (Sekar) Telkom itu di Jakarta, Selasa (19/1).

Diungkapkannya, di Garuda dan Merpati sedang terjadi restrukturisasi karyawan besar-besaran yang membuat pekerja tidak kondusif melaksanakan kegiatannya. Sedangkan di Telkom masalah pembahasan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) tidak selesai diskusinya hingga saat ini.

”Awalnya pembahasan tentang PKB di Telkom berjalan mulus. Belakangan ini kembali mandek kalau tidak mau dikatakan terjadi deadlock Selain itu di Telkom juga sedang ribut masalah Bantuan Peningkatan Kesejahteraan (BPK) yang tidak dikeluarkan bagi karyawan yang mengambil pensiun dini,” ungkapnya.

Selanjutnya diungkapkannya, manajemen BUMN juga bersikap represif dalam menerima masukan dari karyawan terutama jika menyoroti masalah pengelolaan perusahaan. ”Tekanan itu ada bagi karyawan yang ingin memberi masukan bagi perusahaannya,” katanya.

Dikatakannya, untuk mengatasi hubungan yang belum harmonis tersebut, para karyawan BUMN telah bertemu dengan Menakertrans Muhaimin Iskandar sebagai pembina serikat karyawan.

”Bapak Menteri menyetujui perlunya hubungan yang lebih kondusif antara karyawan dengan manajemen. Beliau pun menyadari hubungan industrial di BUMN itu khas sehingga akan berkoordinasi dengan kementrian BUMN. Kami pun sepakat pembina dari keduanya yakni Menneg BUMN dan Menakertrans harus terlebih dulu menunjukkan komitmen membangun hubungan industrial yang baik, sehingga bisa dicontoh elemen yang dibinanya,” jelasnya.

Sementara, Vice President Public and Marketing Communication Telkom  Eddy Kurnia menegaskan,  perusahaan sama sekali tak berniat mengabaikan BPK. Jika para pensiunan ingin mengambil seperti  yang sudah ditawarkan yakni  sebesar 1,4 kali lipat, maka kapan pun uang  itu bisa dicairkan.

Hanya saja, lanjut Eddy, hingga saat ini belum tercapai kesepakatan antara perusahaan dengan Sekar tentang besaran nilai BPK yang mengacu pada azas uniformula sebagaimana disepakati dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) III Telkom-Sekar pasal 35 ayat 4.

Dalam proses perundingan, Sekar mengajukan usulan agar BPK dibayarkan kembali dengan besaran 2 kali Tunjangan Hari Tua (THT) sementara perusahaan sesuai dengan semangat perubahan yang telah dinyatakan dalam PKB III mengajukan proposal BPK model baru dengan besaran setara 1,4 kali THT. [dni]

190110 XL Ikut Garap Android

JAKARTA—PT XL Axiata Tbk (XL) mengikuti jejak dua pesaingnya, Telkomsel dan Indosat, menggarap  layanan akses data khusus untuk ponsel berbasis Android.

Telkomsel merupakan operator pertama yang meluncurkan ponsel Android bekerjasama dengan HTC pada Juni 2009. Ponsel yang berjalan dengan sistem open source ini sejak dua tahun  lalu telah digeber oleh beberapa vendor global seperti   Motorola, Sony Ericsson, Samsung dan LG.

Terakhir Google sendiri mengeluarkan ponsel dengan merek Nexus One. Sedangkan Indosat berencana menggarap Android mulai Februari atau Maret nanti.

“Sekarang sedang ada kajian dengan sejumlah vendor.   Kemungkinan kuartal pertama atau awal kuartal kedua tahun ini Android kami luncurkan,” ujar GM Direct Sales XL, Handono Warih, di Jakarta, Senin (18/1).

Guna membuktikan serius menggarap pasar Android, XL   menggandeng komunitas id-Android (id-android@googlegroups.com) agar bisa memahami lebih spesifik apa saja yang diinginkan para peminat Android.

Dijelaskannya, XL akan menawarkan program ekslusif dua layanan Internet yaitu volume-based Internet dan Internet unlimited.

Untuk yang berbasis volume, XL menawarkan kecepatan hingga 3,6 Mbps dan bisa dinikmati oleh pelanggan prabayar maupun pascabayar. Sementara untuk Internet unlimited, XL memberi kecepatan hingga 256 Kbps dan hanya bisa dipakai oleh pengguna starter pack khusus unlimited.

Sementara itu, Axis masih setia menggarap pasar BlackBerry dengan  meluncurkan  varian Bold 9700 atau Onyx. ”Kami menawarkan  garansi 2 tahun dan perlindungan asuransi selama 1 tahun untuk kehilangan sebagian dan keseluruhan.  Selain itu juga ada paket berlangganan Mail Package untuk email dan BlackBerry messaging, Friends Package untuk situs jejaring sosial dan instant messaging, serta Unlimited Package untuk akses tanpa batas dengan tarif mulai tiga ribu rupiah per hari,” ungkap juru bicara Axis Anita Avianty.[dni]

200109 Sektor Telekomunikasi Pembelanja Iklan Terbesar

JAKARTA—Sektor telekomunikasi menjadi pembelanja iklan terbesar dengan nilai 3,8 triliun rupiah atau tujuh persen dari total biaya iklan  tahun lalu sebesar  48,5 triliun rupiah.

Belanja dari sektor telekomunikasi sebenarnya mengalami penurunan sebesar 11 persen ketimbang 2008 yang mencapai 4,371 triliun rupiah. Sedangkan posisi kedua untuk pembelanja iklan pada tahun lalu adalah pemerintahan dan partai politik yang mengeluarkan biaya sebesar 3,642 triliun rupiah. Angka itu meningkat 64 persen ketimbang 2008 yang mencapai 2,216 triliun.

”Secara total belanja iklan pada tahun lalu mengalami peningkatan sebesar 16 persen dibandingkan tahun lalu.  Namun, peningkatan belanja iklan itu lebih rendah ketimbang peningkatan tahun 2008, dibandingkan 2007 yang sebesar 19 persen. Pendorong naiknya belanja iklan pada 2009 itu adalah iklan partai politik,” ungkap  Senior Manager Business Development Nielsen Media Indonesia Maika Randini di Jakarta, Selasa (19/1).

Dijelaskannya, Nielsen melakukan survei pada 103 koran, 165 judul majalah dan tabloid, serta 24 stasiun televisi. Survei tidak termasuk iklan baris dan tidak menghitung diskon dan promo.

Produk telekomunikasi yang mengeluarkan biaya iklan terbesar pada tahun lalu adalah operator seluler Axis (Rp 374 miliar), XL (Rp 357 miliar), Three (Rp 307 miliar),  Telkomsel (Rp 301 miliar), Indosat (Rp 284 miliar), dan  Esia (Rp 239 miliar).

Dari sektor politik yang paling besar mengeluarkan belanja iklan adalah para kandidat presiden (Rp 308 miliar) dan Partai Golkar (Rp 303 miliar).

Media yang mendominasi penyerapan belanja iklan pada tahun lalu adalah  televisi sebesar 62 persen  atau  mencapai  29 triliun rupiah.  Penerima iklan kedua terbesar  adalah  koran  16 triliun rupiah (34 persen) dan disusul majalah dan tabloid sebanyak satu  triliun rupiah  ( 4 persen).

Secara terpisah, Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E. Marinto mengatakan, besarnya kontribusi operator telekomunikasi dalam belanja iklan merupakan hal yang wajar karena ada 11 operator yang bersaing memperebutkan pelanggan.

Sedangkan Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Bidang Pemasaran Erik Meijer mengungkapkan, adanya penurunan belanja iklan pada tahun lalu karena belanja operator cenderung stagnan dipicu oleh krisis ekonomi.

“Ada krisis sekalipun industri telekomunikasi tetap akan agresif beriklan karena sektor ini banyak terjadi inovasi yang membutuhkan komunikasi ke publik agar pelanggan bisa diraih,” jelasnya.

Sementara Chief Marketing Officer Axis Johan Buse menilai,  perhitungan belanja iklan yang dilakukan Nielsen tidak  tidak apple to apple. “Perhitungannya secara gross rate. Selain itu, kami. menggunakan satu merek, ada operator yang mengkomunikasikan banyak merek. Kalau dihitung, bisa jadi mereka lebih besar,” katanya.

Johan menjelaskan, sebagai pemain baru, hal yang wajar agresif beriklan karena perlu memperkenalkan diri ke pasar.

Proyeksi 2010
Berkaitan dengan proyeksi belanja iklan pada tahun ini, Maika memprediksi, pertumbuhan akan lebih besar ketimbang tahun ini karena adanya kegiatan Piala Dunia 2010 di Afrika dan kemungkinan kembali bersinarnya sektor telekomunikasi.

“Jika melihat pola belanja iklan pada 2002 dan 2006 saat ada piala dunia memang ada kenaikan. Pada 2002 mengalami kenaikan sebesar 32 persen dan 2006 terjadi kenaikan 17 persen.,” katanya.

Melihat tren seperti itu, jelasnya, kemungkinan pertumbuhan akan ada tetapi tidak akan lebih dari pertumbuhan tahun 2009. ”Saya belum berani prediksi angka pastinya. Tetapi lebih besar dari 16 persen,” katanya.

Dijelaskannya, sesuai tren tahunan akan ada penurunan belanja iklan di kuartal pertama, namun setelah itu akan terjadi kenaikan.. Meski ada momen Pilkada pada tahun ini, namun diperkirakan efeknya tidak sesignifikan Piala Dunia 2010.

Dengan adanya momen Piala Dunia, menurutnya, iklan-iklan beberapa produk akan meningkat, seperti rokok dan minuman. “Karena biasanya, produk-produk itu yang banyak beriklan di Piala Dunia,” ujarnya.

Menurut dia, media televisi akan menikmati berkah banjir iklan akibat adanya  ajang internasional itu, ketimbang koran dan majalah. ”Tetapi saya yakin koran akan menikmati kenaikan belanja iklan  pada tahun ini karena pengiklan mulai paham memilih media yang tepat sesuai kebutuhannya,” jelasnya.[dni]

190110 Pendapatan Musik Digital Telkomsel Naik 70%


JAKARTA—Telkomsel memperkirakan pendapatan dari jasa musik digital pada tahun ini akan mencapai 1,6-1,7 triliun rupiah atau naik sekitar 70 persen dibandingkan tahun lalu sebesar satu triliun rupiah.

Jasa musik digital yang dimiliki anak usaha Telkom itu adalah Ring Back Tone (RBT) dan full track download (menjual satu lagu utuh).

”Saya optimistis akan ada kenaikan karena secara jaringan kita sudah siap mengantarkan beragam konten musik digital,” ungkap Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno  di Jakarta, Senin (18/1).
Tak hanya itu, lanjutnya, perseroan pun mendorong industri kreatif untuk membuat beragam konten musik. Salah satunya adalah   Langit Musik yang merupakan toko musik digital. Toko tersebut   dipasok oleh 48 mitra perusahaan label rekaman dan penyedia  konten seperti Sony Music, Warner Music, Aquarius, Indosemar, Trinity, dan Nagaswara.

“Layanan musik digital ini bisa diunduh pelanggan Telkomsel lewat user menu browser *616# yang ada di ponsel. Pelanggan akan dipotong pulsa lima ribu rupiah   untuk setiap lagu yang diunduh,” katanya.

Jika anak usaha seluler Telkom agresif menggarap konten musik, maka unit Fixed Wireless Access (FWA) Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu, Flexi, aktif membidik pasar komunitas.

Executive General Manager Divisi Telkom Flexi Triana Mulyatsa mengungkapkan, salah satu komunitas yang dibidik adalah padar pekerja yang tergabung dalam  Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI).

”Kami mengeluarkan produk Flexi-SPSI. Di  dalamnya berisikan konten dan aplikasi meliputi informasi ketenagakerjaan seperti   informasi upah minimum, penyelesaian perselisihan, Jamsosteknas hingga TKI,” katanya.

Triana mengharapkan, dalam jangka waktu  dua tahun akan ada  2 juta pelanggan baru dari komunitas pekerja yang bernaung di SPSI berhasil digaet Flexi. SPSI sendiri memiliki anggota sebanyak lima juta tenaga kerja.

Berdasarkan catatan, pada tahun lalu Flexi memiliki  15,7 juta pelanggan dengan cakupan layanan 320 kota. Tahun ini ditargetkan akan ada penambahan pelanggan baru sebesar 1,5-1,8 juta pelanggan.[dni]

190110 Operator Kaji Pentarifan Internet

JAKARTA—Operator telekomunikasi mulai mengaji pentarifan internet agar menguntungkan bagi pelanggan dan penyelenggara.

”Tarif internet sekarang tidak manusiawi. Konsep yang ada sekarang   membuat  satu pihak   diuntungkan, tetapi yang lainnya merasa dirugikan,” ungkap Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro di Jakarta, Senin (18/1).

Guntur mengakui, saat ini Indosat sedang menginisiasi  alternatif baru dalam berlangganan internet berupa pembayaran  berdasarkan alamat   Uniform Resource Locator (URL) situs yang biasa diakses pelanggan.

”Sekarang ini hanya beberapa situs yang sering diakses oleh pelanggan. Kalau begitu kenapa tidak bayar sesuai yang digunakan. Ini tentu menguntungkan bagi pelanggan. Operator pun bisa berhemat dalam belanja bandwitdh. Konsep ini sedang kita kaji implementasnya secara teknis,” katanya.
Untuk saat ini, lanjutnya, Indosat  baru merilis tarif   untuk akses broadband lewat prabayar IM3 dan Mentari dengan biaya  0,3 rupiah  per kbps.

Pada kesempatan lain, operator seluler berbasis teknologi Code Division Multiple Access (CDMA), Smart Telecom, semakin serius menggeber pelanggan untuk jasa internetnya.

Bekerja sama dengan Bank Mandiri, Smart mengeluarkan promo “Smart Netbook Mandiri Power Buy” mulai tanggal 7 Januari 2010 sampai dengan 31 Januari 2010 dan berlaku khusus untuk pemegang kartu kredit Mandiri. Bank Mandiri sendiri berharap dari kegiatan tersebut akan ada transaksi senilai tiga miliar rupiah.

Chief Sales Officer Smart Telecom Charles Sitorus mengungkapkan, pembeli cukup  membayar  275 ribu rupiah untuk mendapatkan Smart Netbook dengan paket paskabayar dan bonus Gratis Unlimited Internet selama 12 bulan.

Dijelaskannya, netbook dari Smart memiliki ukuran yang kecil (layar 10.1 inchi), ringan dan sudah memiliki modem CDMA 1x EVDO Rev. A di dalamnya. Hal ini memungkinkan pelanggan Smart yang menggunakan Netbook tersebut langsung terkoneksi dengan internet.[dni]

190110 Implementasi ACFTA : Pintu Masuk Mengguritanya Produk dari Tirai Bambu

Tahun macan ini merupakan era dimulainya liberalisasi perdagangan  internasional bagi Indonesia  yang ikut menandatangani Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA).

Perjanjian yang memangkas habis bea masuk bagi produk-produk dari negara-negara Asean atau China yang ingin masuk ke Indonesia itu dipercaya akan mengubah jalannya perekonomian negeri ini dalam beberapa tahun ke depan.

Sektor telekomunikasi pun tak luput dari implementasi ACFTA yang harusnya mulai berjalan sejak Januari ini. Perangkat telekomunikasi dari negeri Tirai Bambu diperkirakan akan merajalela masuk ke Indonesia baik di tingkat hilir melalui  Consumer Premise Equipment (CPE) atau di hulu yang menajdi backbone dari jaringan operator.

Kementrian Komunikasi dan Informatika mengungkapkan sejak 22 Desember 2009 hingga 13 Januari 2010, setidaknya  telah mengeluarkan 20 sertifikasi untuk perangkat telekomunikasi. Dari jumlah tersebut 18 diantaranya merupakan buatan Republik Rakyat China. Sedangkan sisanya produk buatan Thailand dan Spanyol.

Penyedia perangkat telekomunikasi dan solusi jaringan dari China yang berkibar di Indonesia adalah Huawei dan  ZTE Corp. Pada tahun lalu, Huawei   banyak memenangkan tender dari Telkom grup untuk pengadaan perangkat.

Huawei berhasil memenangkan tender Palapa Ring, High Speed Packet Access (HSPA+), bahkan rencananya Telkomsel akan mengganti perangkat di Jakarta dan Jawa Tengah dari Nokia Siemens Network (NSN) ke Huawei. Di XL,  35 persen  dari total elemen jaringannya juga menggunakan perangkat dari Huawei.

Sedangkan ZTE Corp telah berancang-ancang pendapatannya di Indonesia tumbuh sebesar 30 persen pada 2010. “Indonesia adalah salah satu negara terbesar di Asia Pasifik. Pasar telekomunikasi di negara ini terus tumbuh walau sekarang masih berada di bawah India dan China,” ungkap President of Asia Pasific Region ZTE Corp, Cuiyi di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, optimisme  tak bisa dilepaskan dari masih tingginya pengembangan infrastruktur, populasi penduduk yang besar, dan banyaknya pemain.

“Inilah yang membuat pada tahun ini Indonesia mampu berkontribusi sebesar 30 persen bagi pendapatan dari kawasan Asia Pasifik,” ujarnya tanpa mengungkap pendapatan untuk kawasan Asia Pasifik.

Berdasarkan catatan,  pada paruh pertama tahun ini secara global ZTE mencatat keuntungan kurang dari  6,247 miliar dollar AS.
Barat Tak Gentar

Lantas bagaimana reaksi pesaing dari belahan benua barat?

VP Marketing and Communications Ericsson Indonesia Hardyana Syintawati mengaku tak gentar dengan ancaman dari pendekar negeri Panda itu. “Ericsson telah hadir di Indonesia lebih dari 100 tahun. Itu sudah merupakan bukti komitmen dari perusahaan kami sebagai yang terdepan di sektor ini. Masalah ada kompetisi itu justru sehat bagi industri,” tegasnya.

Saat ini Ericsson adalah pemimpin pasar untuk  pemasok solusi telekomunikasi di Indonesiaa.  Perusahaan ini menyediakan  solusi radio, core network, transmisi, dan intelligent network nagi operator.

Hardyana memperkirakan, belanja operator seluler pada tahun ini akan dihabiskan untuk mengembangkan evolusi teknologi data dari  GSM/WCDMA/HSPA yakni   Long Term Evolution (LTE).

”Komunikasi data akan terus berkembang dan diperlukan oleh banyak orang, sambungan internet akan semakin menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat. Di samping itu, pelanggan juga akan semakin kritis terhadap layanan yang dipakai, ini tentu menuntut operator meningkatkan kualitas jaringannya,” katanya.

Head, Customer Marketing & Communication Regional Marketing Asia Pacific NSN, Harith Menon juga  mengaku tidak khawatir dengan sepak terjang vendor dari China. “Jika pada tahun lalu ada beberapa tender yang mereka menangkan, itu hanya kemenangan di satu pertempuran. Masih banyak perperangan lainnya karena di industri ini yang penting inovasi dalam jangka panjang,” katanya.

Perkuat Lokal

Pada kesempatan lain, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengingatkan, ACFTA juga menjadi ancaman serius bagi perangkat lokal yang sedang dihidupkan lagi dari alam kuburnya. Salah satunya melalui pemilihan standar Wimax yang pro industri lokal.

“Harus ada kebijakan mendasar dari pemerintah yang mendorong manufaktur lokal. Jika ini tidak dilakukan, bisa-bisa perangkat lokal kembali ke alam kubur,” katanya.

Menurut dia,   kebijakan yang dapat membantu produk lokal yaitu di antaranya dalam bentuk kerja antara vendor China dan dalam negeri. “Produk dari China yang dijual ke Indonesia perlu memiliki konten lokal sehingga Indonesia tidak hanya sebagai konsumen tetapi juga produsen,” katanya.

Ketua Umum  Asosiasi Telepon Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno menambahkan, pemerintah harus lebih berperan dalam membuat kebijakan pasar agar tercipta siklus di mana operator dapat menggulirkan kembali belanjanya ke industri dalam negeri.”Operator tidak dapat membantu industri lokal sendirian, meskipun 20 persen dari belanja modal khususnya di bidang jasa sudah diisi tenaga lokal,” ujarnya

Ketua Komite Tetap telekomunikasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Johnny Swandi Sjam mengungkapkan, produk asal China sudah masuk ke Indonesia sejak lama, baik dalam hal perangkat telekomunikasi maupun handset asal negara tersebut yang umumnya berharga sangat murah. “Pasar mereka sudah melebihi 50 persen di Indonesia. Adanya ACFTA tentu akan semakin membesar,” katanya.

Sementara Direktur Jaringan XL Dian Siswarini mengatakan, operator memilih perangkat berdasarkan  kualitas yang bagus dan harga murah (value for money). “Kami tidak melihat negara asal vendor. Asalkan memenuhi spesifikasi, tentu dipertimbangkan,” tegasnya.

Sedangkan juru bicara Kemenkominfo Gatot S Dewo Broto menegaskan, perangkat dari negara manapun harus memenuhi sertifikasi. “Ini untuk menjaga kualitas produk karena nantinya akan digunakan oleh masyarakat. Jangan sampai masyarakat dirugikan karena produk yang digunakan tidak sesuai dengan standar Indonesia,” tegasnya.[dni]

190110 Dari Israel Hingga Makelar

Bisnis perangkat telekomunikasi tidak hanya dihebohkan tentang inovasi teknologi, tetapi juga negara asal dari datangnya produk.

Adalah Menkominfo Tifatul Sembiring yang mempersoalkan tentang perlunya rasa sensitifitas dalam memilih satu perangkat oleh operator. “Jika negara asalnya tidak memiliki hubungan dagang atau menindas bangsa lain, rasanya tidak elok kalau dipilih sebagai mitra,” tukas mantan Presiden PKS itu di Jakarta, pada Desember tahun lalu.

Negara yang dimaksud oleh Tifatul adalah Israel yang menjadi musuh bersama umat muslim. Regulasi yang dijadikan dasar adalah  Pasal 21 UU No 36/99 tentang Telekomunikasi, khususnya    yang berbunyi   penyelenggara telekomunikasi dilarang melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan gangguan ketertiban umum, melanggar kesusilaan, dan menggangu keamanan.

Munculnya nama Israel tentu tak bisa dilepaskan dari tender Operating System Software, Billing Software System (OSS,BSS) senilai 1,2 triliun rupiah yang sedang digelar Telkomsel.

Dalam tender tersebut, dua nama perusahaan asal Israel yakni Amdocs dan Convergys ikut serta. Kabar beredar mengatakan, Telkomsel memberikan keistimewaan kepada dua perusahaan ini.Hal itu bisa dilihat dari   pelaksanaan  Prove of concept (POC) yang waktunya  sengaja dibuat sangat ketat. Hal ini membuat dua perusahaan asal  Israel itu diuntungkan karena   selama ini menangani  billing eksisting dari Telkomsel.

Keanehan lain dari tender yang akan diumumkan pemenangnya pada akhir bulan ini adalah rencana digunakan dua vendor yakni masing-masing untuk On Line Charging System (OCS) dan System Control Point (SCP). Padahal, sistem yang ideal adalah OCS dan SCP  berasal dari satu vendor  agar  mendapatkan performa lebih bagus dengan harga murah. Kabarnya ini untuk mengakomodir kepentingan pihak-pihak tertentu yang selama ini menjadi agen tak resmi alias makelar dari perusahaan-perusahaan asal Israel.

Praktisi telematika Raherman Rahanan mengungkapkan, vendor yang memiliki kompetensi kuat untuk OCS  adalah Huawei, Nokia Siemens Network (NSN), dan Ericsson. Sedangkan vendor dari Israel yang ikut tender  lebih  ke arah Business Support System (BSS).  “Ada kemungkinan Convergys dan Amdocs mengikuti tender sebagai “Main Vendor”. Mereka tentu akan introduce lini produk untuk BSS . Sementara untuk komponen OCS  menggunakan pihak ketiga,” katanya.

Terlepas dari kontroversi tender, Raherman menegaskan, operator di Indonesia memang harus memperbaharui sistem billing jika ingin  mengambil pasar layanan data  yang sekarang belum optimal digarap.

Pegiat telematika Barata Wisnu Wardhana mengungkapkan,  perangkat telekomunikasi dari negara zionis itu sudah lama masuk Indonesia dan menguasai 30 persen pangsa pasar. Masuknya perangkat tersebut  dengan mengubah negara asal perangkat (country of origin) melalui kantor cabang  yang memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia  atau menggandeng perusahaan lokal sebagai perantara.

Ditegaskannya, jika pemerintah memaksakan diri atas nama agama untuk menolak produk telekomunikasi dari Israel, maka layanan dari operator akan terpengaruh karena perangkatnya digunakan untuk “otak” dari jaringan. “Itulah sebaiknya Menkominfo baiknya berbicara teknologi netral, ketimbang membawa sentimen agama dalam urusan teknis,” tegasnya

Menurut Barata, ketimbang meributkan isu Israel, pemerintah lebih baik membereskan masalah tender perangkat yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telekomunikasi.

“Tender di BUMN telekomunikasi itu banyak yang tertutup. Munculnya isu perangkat dari Israel itu tak bisa dilepaskan dari ketidakpuasan dari cara manajemen BUMN itu mengelola tender. Jika pengadaan perangkat menimbulkan ekonomi biaya tinggi, tentu yang rugi pelanggannya,” katanya.

Sedangkan Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno ketika dikonfirmasi mengatakan, munculnya isu tak sedap karena adanya pihak-pihak yang tak puas karena tidak lolos tender. ”Itu suara-suara mereka yang kalah. Saya tidak mau ribut-ribut. Lihat saja nanti pemenangnya,” ketusnya. [dni]