160110 Bank dan Operator Harus Bersinergi Kembangkan Uang Digital

JAKARTA—Dunia perbankan dan operator telekomunikasi harus menjalankan sinergi dalam mengembangkan uang digital  untuk mewujudkan less cash society di Indonesia.

Uang digital adalah  layanan yang  memungkinkan ponsel  berfungsi layaknya dompet penyimpanan uang  yang bisa digunakan  bertransaksi dengan cara yang mudah, cepat, dan aman.

Layanan ini berbeda dengan SMS Banking atau Mobile Banking dimana ponsel hanya jadi semacam pengganti alat Electronic Device Capture (EDC) atau Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Bahkan juga bukan pulsa yang menjadi pengganti uang.

Dalam dompet digital, setiap transaksi yang dilakukan akan langsung mengurangi saldo yang tersimpan dalam rekening ponsel. Sedangkan untuk proses kliringnya diselesaikan melalui back office bank rekanan operator. Sederhananya, cara kerja dari dompet digital ini mirip dengan kartu bermain di arena video game, dimana pelanggan diwajibkan mengisi saldo di kartu terlebih dulu, baru   bisa bermain.

Di Indonesia ada dua industri yang getol mengembangkan e-money sejak dua tahun lalu yakni perbankan dan operator seluler. Di perbankan nama Flazz (BCA) dan e-Toll (Bank Mandiri) pantas dikedepankan. Sedangkan di jasa seluler yang muncul adalah T-Cash (Telkomsel) dan Dompetku (Indosat).

”Bisnis ini memang baru di Indonesia. Di luar negeri ada berbagai model bisnis dijalankan pemain. Ada yang bank menjadi lead atau operator yang dijadikan leader. Tetapi intinya harus ada aliansi. Tidak bisa jalan sendiri-sendiri,” ungkap Director Technology & Operation Bank Mandiri Sasmita di Jakarta, Jumat (15/1).

Dijelaskannya, dunia perbankan memiliki keunggulan pada bisnis keuangan, sedangkan operator telekomunikasi memiliki basis pelanggan yang besar. ”Jika beraliansi tentunya akan lebih baik bagi less cash society,” katanya.

Dikatakannya, Bank Mandiri sendiri saat ini tengah mengembangkan pembayaran akses jalan tol untuk jalur luar kota, setelah pada tahun lalu diimplementasikan di dalam kota. Sedangkan untuk merchant baru digelar kerjasama dengan Indomaret. Saat ini pengguna digital money di bank ini sekitar 300 ribu nasabah.

”Untuk pembayaran tol   dalam kota itu frekuensinya besar, tetapi nominalnya kecil. Sebaliknya untuk tol luar kota. Karena itu kita ingin garap semuanya mulai bulan depan,” katanya.

Hal lain yang disorotnya adalah kemauan dari semua pemain untuk membuka keterhubungan perangkat (Interoperability) di merchant-merchant. ”Walaupun investasi untuk penyediaan perangkat itu sekitar 300 dollar AS, tetapi jika satu pemain mau dibuka alatnya dan dipakai ramai-ramai tentu akan meningkatkan penetrasi,” katanya.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno mengakui, untuk menghadapi perubahan lanskap bisnis di masa depan, sektor uang digital salah satu yang serius digarap operator.

”Ini tidak hanya efektif untuk meningkatkan produktifitas pendapatan dari pelanggan. Tetapi bisa memajukan perekonomian dan membuat orang-orang  yang belum tersentuh perbankan menjadi bankable,” katanya.

Chief Marketing Officer  Indosat Guntur S Siboro mengatakan, jasa dompet digital masih mencari bentuknya di Indonesia sehingga memiliki  tantangan dalam  mendorong  pelanggan menggunakannya, memperluas mitra merchant, dan mempermudah pelanggan mengisi kembali uangnya di fitur tersebut.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s