140110 Pemerintah Tetapkan 5 Bandara Sambut Open Sky

JAKARTA–Pemerintah menetapkan  lima bandar udara internasional di
Indonesia telah siap memasuki era baru liberalisasi penerbangan atau Open Sky pada  pada 2015 mendatang.
Lima bandara internasional tersebut adalah Soekarno Hatta (Jakarta),  Kualanamu (Medan), Juanda (Surabaya), Ngurah Rai (Denpasar) dan Hasanuddin  (Makassar).

Direktur Angkutan Udara Departemen Perhubungan, Tri S Sunoko menyebutkan
Bandara Kualanamu saat ini sedang dalam pembangunan sebagai bandara yang
cukup besar. Diperkirakan bandara ini akan dioperasikan pada awal semester
dua 2010.

“Bandara itu telah disiapkan untuk menjadi bandara dengan penerbangan
unlimited (tanpa batas) baik di dalam negeri maupun internasional. Kalau
bisa ya 24 jam terus beroperasi,” kata Tri di Jakarta, Rabu (13/1).

Sementara bandara-bandara lain, meskipun telah berstatus bandara  internasional dan melayani penerbangan ke luar negeri, jelasnya, tetap bisa  melayani penerbangan internasional, tetapi frekuensinya dibatasi.

Sriwijaya Air
Pada kesempatan lain,  maskapai Sriwijaya Air akan mendatangkan tiga unit pesawat jenis Boeing 737-300 untuk membuka rute ke wilayah Timur indonesia

“Kemungkinan pertengahan bulan depan tiga pesawat tersebut akan didatangkan, selain untuk membuka rute ke wilayah Timur Indonesia , tiga pesawat tersebut juga digunakan untuk penebalan rute,” ujar Juru Bicara Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang.

Menurut Ruth, rute-rute di wilayah timur tersebut antara lain Sorong dan Jayapura. “Kami optimistis bahwa penerbangan ke wilayah timur tersebut akan mendongkrak pendapatan Sriwijaya Air.”

Saat ini, kata Ruth, Sriwijaya Air mempunyai 24 pesawat, dengan bertambahnya tiga pesawat pada pertengahan bulan depan maka semuanya akan berjumlah 27 pesawat.

“Tapi tiga pesawat tersebut masih leasing (pinjam), rencananya hingga akhir tahun ini (2010), pesawat yang kami miliki akan berjumlah 34 pesawat,” unkapnya.

Ruth mengatakan, pesawat yang dimiliki maskapai Sriwijaya Air hingga saat ini berjumlah tujuh pesawat, sedangkan sisanya leasing. “Jadi saya kira Sriwijaya sudah siap untuk menghadapi persyaratan pesawat yang dimaksud dalam UU Penerbangan,” katanya.

Berdasarkan UU Penerbangan, pemerintah memberi ultimatum bagi seluruh maskapai penerbangan untuk memiliki 10 pesawat hingga Desember 2012. Dimana lima diantara pesawat tersebut harus berstatus hak milik.

Di tempat terpisah, Senior Manager Corporate Secretary Group Head Cardig Akbar Masmardi mengatakan, seiring dengan semakin banyaknya rute penerbangan yang dilayani Cardig Air maka maskapai yang fokus berusaha di bidang flight carrier atau pesawat kargo tersebut berencana menambah jumlah armadanya.

“Tahun depan kami berencana menambah dua pesawat. Pada 2015 rencananya kami sudah mengoperasikan hingga 20 pesawat,” ungkapnya.

Meskipun ada tiga maskapai lain dalam bisnis pesawat kargo, yaitu Trimg, RPX dan Megantara, tapi Akbar optimis Cardig bisa memenangkan persaingan, karena Cardig satu-satunya pesawat kargo berjadwal di Indonesia. Sementara yang lain hanya penerbangan carter.

Namun, halangan Cardig dalam mengembangkan bisnisnya tahun ini yaitu persaingan dengan maskapai angkutan penumpang, yang juga mengangkut barang di bagasi pesawatnya.

“Belly cargo, maskapai umum seperti itu sudah bisa menutupi biaya operasionalnya dari penumpang, jadi mereka bisa saja menekan harga untuk memenuhi barang di bagasinya,” jelas Akbar.[dni]

140109 BlackBerry akan Digilas Android

JAKARTA—Perangkat BlackBerry dinilai akan digilas oleh ponsel berbasis Android tak lama lagi karena dianggap menguntungkan operator dan pelanggan. Diperkirakan Android akan merajalela di Indonesia dalam waktu tiga hingga enam bulan ke depan.

“Era ponsel Android akan melanda dunia dan Indonesia tak lama lagi. Ponsel pintar seperti BlackBerry akan digilas oleh produk ini,” ungkap Praktisi Telematika Raherman Rahanan kepada Koran Jakarta, Rabu (13/1).

Dijelaskannya, BlackBerry tidak akan menjadi ponsel pintar masa depan yang bersaing karena yang digemari sebenarnya bukanlah layanan tetapi langganan ala all you can eat yang ditawarkan.

Namun, dibalik itu perangkat besutan Research In Motion (RIM) ini memiliki kelemahan berupa eksklusif kontrak dan kontrol yang tersentral oleh perusahaan asal Kanada itu. “Konsep ini tidak cocok dengan pendekatan “Open Clouds Computing” dimana access to the contains dapat dilakukan di sebarang titik akes yang independent,” katanya.

Dicontohkannya,  akses regional konten dengan BlackBerry  membutuhkan pipa Internet Protocol (IP) dari Local, ke gateway RIM dan balik lagi ke Regional access. “Ini mengakibatkan data access mengalami delay yang panjang. Dengan concept open clouds computing, regional contains dapat di akses secara langsung dan tak harus akses ke central control seperti RIM,” katanya.

Raherman menyarankan, regulator  tak perlu lagi  melakukan pengaturan begitu mendetail terhadap BlackBerry karena  pasar akan bersaing sendiri. “Sebentar lagi operator sudah mulai bisa mengimplementasikan features di Online Charging System (OCS) untuk data charging di jaringannya. Hal ini akan membuat  fleksibilitas untuk bundling seperti all you can eat yang ditawarkan RIM bias dilakukan.  Inilah yang saya katakana pemicu  smartphone di luar BlackBerry  menggeser posisi perangkat RIM tersebut,” jelasnya.

Selanjutnya Raherman menyarankan, untuk mencegah masuknya smartphone illegal regulator menstandardisasi Identity Management yang dapat diterima. Hal ini karena  semakin banyak ponsel dengan  IMEI palsu dari China yang masuk ke Indonesia.  “Jika ini tidak dilakukan  akan menyulitkan operator untuk melakukan bundling, diskon berbasis perangkat ala BlackBerry,” jelasnya.[dni]

140110 Produk Israel Telah Masuk Ke Telekomunikasi Indonesia

JAKARTA–Sebanyak 30 persen dari perangkat telekomunikasi di Indonesia ternyata berasal dari negara zionis Israel. Padahal, penggunaan ini bertentangan dengan UU No 36/99 tentang Telekomunikasi, khususnya Pasal 21 yang berbunyi penyelenggara telekomunikasi dilarang melakukan kegiatan yang dapat menimbulkan gangguan ketertiban umum, melanggar kesusilaan, dan menggangu keamanan.

Penggunaan produk Israel dianggap melanggar karena negara zionis itu menurut Kementrian Komunikasi dan Informatika tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia sehingga masuk dalam kategori gangguan keamanan.

“Dari riset di lapangan sudah ada 30 persen produk Israel yang masuk ke Indonesia. Riset terbaru membuktikan dua pemain VSAT masuk yakni Shiron dan Gilat melalui mitra Telkomsel untuk program telepon di desa tertinggal,” ungkap pegiat telematika Barata Wisnu Wardhana kepada Koran Jakarta, Rabu (13/1).

Berdasarkan penelusuran Koran Jakarta, Shiron Satellite Communications berkantor di 23 Hasivim Street, Petach Tikva , Israel. Sedangkan Gilat Satellite Networks Ltd di 21 Yegia Kapayim Street Kiryat Arye Petah Tikva, Israel.

Berdasarkan catatan, Telkomsel membutuhkan 6000 perangkat penerima sinyal satelit VSAT berbasis IP yang disediakan AJN Solusindo, Tangara Mitrakom, Patrakom, Telkom Divisi Enterprise, Konsorsium Aprotech, dan Transnetwork Asia. Pengadaan perangkat VSAT menyerap 30 persen dari total alokasi biaya produksi telepon pedesaan senilai 600 miliar rupiah.

Sebelumnya, penggunaan produk Israel diributkan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring untuk perangkat Operating System Software, Billing Software System (OSS,BSS) Telkomsel yang akan menggunakan milik perusahaan Israel, Amdocs. Telkomsel akhirnya menggugurkan perusahaan itu dari tender senilai 1,2 triliun rupiah. Tetapi satu perusahaan yang masih berafiliasi ke Israel yakni Convergys sedang bersaing dengan perusahaan asal Jerman, Orga, dalam tender.

Amdocs sendiri sudah diklarifikasi oleh Kedubes Amerika Serikat sebagai perusahaan yang berasal dari negeri Paman Sam. Perusahaan asal Israel lainnya yang diramaikan adalah Alvarion yang menggandeng PT Abhimata Cipta Abadi untuk perangkat Wimax di spectrum 3,3 GHz. Kabar terakhir mengatakan Abhimata akhirnya membatalakan kerjasama dengan Alvarion.

Barata meminta, pemerintah untuk bersikap realistis dengan adanya produk asal Israel yang masuk ke Indonesia karena pada dasarnya produk dari bangsa Yahudi telah menggurita di dunia. “Seperti Amdocs. Itu sudah jelas punya Israel dari designnya. Kalau pencatatan perusahaan bias saja di AS. Nah, kalau sudah begini bagaimana?” katanya.

Menurut Barata, jika pemerintah memaksakan diri atas nama agama untuk menolak produk telekomunikasi dari Israel, maka layanan dari operator akan terpengaruh karena perangkatnya digunakan untuk “otak” dari jaringan. “Itulah sebaiknya Menkominfo baiknya berbicara teknologi netral, ketimbang membawa sentiment agama dalam urusan teknis,” tegasnya.[dni]

140110 Medioker Tetap Menggeliat

Pada akhir tahun lalu diperkirakan pemain teknologi  Code Division Multiple Access (CDMA) memiliki pangsa pasar sekitar 26 persen di jasa nirkabel. Pemain CDMA ini memiliki dua lisensi yakni Fixed Wireless Access (FWA) dan seluler.

Operator yang bermain adalah Indosat StarOne, Smart Telecom, Mobile-8, Sampoerna Telekomunikasi, Bakrie Telecom, dan Telkom Flexi. Telkom Flexi telah mencanangkan  ada 1,5-1,8 juta pelanggan baru. Sedangkan Bakrie Telecom melalui Esia berharap ada sekitar 3,5 juta pelanggan baru.

Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengaku optimistis pelanggan esia diprediksi naik lebih dari 30 persen  tahun ini. “Itu lebih  daripada kenaikan pasar secara  total,” katanya kepada Koran Jakarta, Rabu (13/1).

Erik menjelaskan, kekuatan dari  CDMA ada di kualitas tinggi dengan biaya investasi yang ringan. “Bisa dipakai untuk  suara maupun data. Kebutuhan untuk suara masih sangat besar, maka esia  tetap fokus ke suara. Tapi untuk data juga digarap melalui  Wimode dan berbagai aplikasi berguna di hape-hape esia,” jelasnya.

Direktur Layanan Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Juanedi mengungkapkan, untuk menghadapi persaingan yang makin keras perseroan terbuka untuk melakukan konsolidasi jaringan dengan sesama pengusung teknologi CDMA. “Itu bisa saja terjadi untuk mendorong ekspansi. Tetapi semua masih dalam kajian,” katanya.

Chief Marketing Indosat  Guntur S. Siboro menyakini, teknologi  CDMA akan tetap bertumbuh tapi selalu akan lebih kecil dari pertumbuhan GSM.

”Pelanggan tidak terlalu peduli dengan teknologi itu  CDMA atau GSM. Pelanggan itu mempertimbangkan  tarif atau harga, ketersediaan handset yang bervariasi dan kemungkinan roaming. Masing-masing teknologi akan menempati segmen yang bisa berbeda dan  saling melengkapi.,” katanya.

Guntur menjelaskan, teknologi  CDMA akan tetap hidup selama di proteksi dengan regulasi sebagai FWA karena  lebih murah dari GSM untuk jasa suaranya.  “Sedangkan untuk akses data akan terbatas pengembangan ke high speed Evolution data only  karena  kanalnya terbatas,” tegasnya.

Presiden Direktur Smart Telecom Sutikno Widjaja menegaskan, masalah pembayaran Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) frekuensi harus menjadi perhatian  regulator bagi teknologi CDMA. “Kami memiliki 6 kanal, tetapi disuruh bayar ratusan miliar rupiah.. Ini tidak adil. Jadi masalah ini harus diselesaikan. Apalagi Smart dipaksa pindah ke spectrum 1.900 Mhz yang membuat kita memiliki upaya yang lebih keras untuk ekspansi,” katanya.

Head of Core Product and Branding Smart Telecom  Smart Ruby Hermanto mengungkapkan, jasa data akan menjadi perhatian dari perseroan tahun ini.

Hal itu dibuktikan dengan  membidik 32 kota di Indonesia  dilayani teknologi  Evolution Data Only (EVDO) Rev B pada akhir tahun nanti.

EVDO Rev B merupakan pengembangan dari jaringan EVDO Rev A yang menawarkan kecepatan maksimum 9,3 Mbps untuk mengunduh data (download) dan 5,4 Mbps untuk mengunggah (upload).

Sedangkan EVDO Rev A  menawarkan  kecepatan maksimum  3,8 Mbps untuk download dan 1,8 untuk upload. Saat ini EVDO Rev B telah dikomersialkan di sebagian Bali oleh Smart pada Minggu (10/1). Rencananya hingga kuartal pertama 2010, seluruh area Bali akan terjangkau oleh Rev B.

Smart mengklaim Rev B miliknya bisa menghadirkan kecepatan maksimum 9,3 Mbps untuk download  dan 5,4 Mbps untuk upload.  Rencananya kemampuan itu akan ditingkat menjadi 14,7 Mbps untuk download.

Division Head of Device Technology and Special Project Tom Alamas Dinharsa mengungkapkan, konsolidasi dengan Mobile-8 pun sedang digarap dengan menyiapkan satu ponsel untuk segmen bawah yang dilabeli dengan nama SmartFren. “Ponsel ini pada kuartal pertama akan dilepas. Walaupun untuk segmen bawah, tetapi memiliki kemampuan akses data,” ungkapnya.[dni]

140110 Proyeksi 2010: Menyambut Era Konsolidasi

Pada tahun macan ini nilai investasi di sektor telekomunikasi diperkirakan mencapai 2,2 miliar dollar AS atau kurang lebih sama dengan 2009. Pada tahun ini pasar diperkirakan tumbuh sebesar 10-11 persen dengan jumlah pelanggan baru yang diperebutkan oleh 11 operator telekomunikasi sekitar 35 juta pelanggan.

Telkomsel merupakan pemilik belanja modal terbesar  untuk kategori seluler dengan nilai sekitar 13 triliun rupiah. Operator lainnya yang telah mengeluarkan ancar-ancar nilai belanja modal adalah PT XL Axiata Tbk (XL) yakni sekitar 450 juta dollar AS dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) sebesar 200 juta dollar AS.

Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) memperkirakan pada tahun ini industri seluler akan memasuki era transformasi dari penggunaan basic service seperti SMS dan suara kearah konvergensi teknologi informasi dan komunikasi, dimana telepon seluler akan digabungkan dengan layanan internet, video, dan produk-produk digital  yang lain.

“Transformasi ini akan memperkuat fondasi bisnis para pemain ke depan yaitu seluler berbasis layanan mobile broadband,” ujar Ketua Umum ATSI Sarwoto Atmosutarno di Jakarta, belum lama ini.

Dijelaskannya, untuk mencapai transformasi tersebut diperlukan adanya efisiensi guna menekan biaya operasional yang dapat dicapai dengan melakukan konsolidasi di tiga sektor. Ketiga sector itu adalah konsolidasi di bidang jaringan, platform services, dan entitas.

Berdasarkan catatan, di bidang jaringan konsolidasi di sector jaringan bisa berupa pemakiaan infrastruktur yang aktif atau non aktif secara bersama oleh operator. Skema ini sudah dijalankan oleh pelaku usaha seperti menara bersama atau roaming domestic yang dilakukan oleh XL dengan Axis pada Januari nanti. Penggunaan jaringan pada titik akses juga telah dilakukan oleh Mobile-8 dengan Indosat Mega Media (IM2) untuk menyelenggarakan akses broadband Truf di beberapa wilayah di Indonesia.

Sedangkan untuk  penggabungan entitas atau merger badan usaha sudah terjadi ketika Mobile-8 terbentuk dimana ada tiga operator bergabung menjadi satu mengusung nama Mobile-8 kala pembentukan. Salah satu operator yang bergabung itu adalah Komselindo.

Pada tahun lalu aksi setengah merger juga terjadi antara Smart Telecom dengan Mobile-8 dimana grup usaha Sinar Mas membeli sebagian kepemilikan saham dari operator Fren tersebut.

Hal yang belum terjadi adalah konsolidasi di tingkat platform services. Misalnya, pemanfaatan database dari Ring Back Tone (RBT) satu operator bisa dimanfaatkan oleh operator lainnya.

Sarwoto menegaskan, konsolidasi memang dibutuhkan oleh industri telekomunikasi karena jumlah operator di Indonesia sudah kebanyakan. “Kue yang diperebutkan semakin terbatas. Jika tidak terjadi konsolidasi bisa terjadi inefisiensi karena biaya untuk mengakuisisi pelanggan makin tinggi,” tegasnya.

Sarwoto memperkirakan, pada tahun ini akan kembali terjadi konsolidasi entitas di antara pelaku usaha. “Bakal ada satu operator lagi yang akan merger,” katanya.

Sebelumnya beredar kabar Telkom akan membeli satu operator. Operator yang disebut-sebut akan dibeli adalah Bakrie Telecom.
Direktur Layanan Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi menambahkan, konsolidasi memang sudah dibutuhkan saat ini. “Sudah saatnya kata konsolidasi tidak dilihat dari penggabungan entitas.Ini harus diperhatikan oleh regulator dengan menyediakan regulasi yang kondusif,” tuturnya.

Berkaitan dengan isu akan adanya pembelian saham Bakrie Telecom oleh Telkom, Rakhmat membantah keras, “Belum ada pembicaraan soal itu”.

Group Head Vas Marketing Indosat Teguh Prasetya menilai konsolidasi dalam industri sudah menjadi sesuatu yang bersifat alami, dalam arti eksistensi operator akan sangat ditentukan oleh mekanisme pasar dan industri, sehingga dengan sendirinya akan terjadi penyesuaian berupa konsolidasi sehingga tercipta keseimbangan dalam pasar dan industri.

Sedangkan Direktur Utama Mobile-8 Merza Fachys mengatakan peran pemerintah dalam konsolidasi ini sangat penting dalam memerankan  sebagai fasilitator dan sekaligus wasit yang adil. ”Apapun yang akan terjadi dan bermigrasi dalam landskap  industri telekomunikasi Indonesia ini, tidak boleh ada satupun stakeholder yang dirugikan apalagi sampai mati akibat konsolidasi,” tegasnya.

Akan Diatur
Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan, regulator sedang  menyiapkan aturan merger untuk mengantisipasi konsolidasi antaroperator yang mulai marak pada tahun ini.

“Sedang disiapkan regulasinya dalam bentuk Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo). Isinya mengacu pada UU Anti Persaingan Tidak Sehat,” ungkapnya.

Dijelaskannya, tujuan dikeluarkannya regulasi tersebut untuk menjaga persaingan tetap sehat di industri karena setelah aksi merger biasanya akan membuat salah satu operator menjadi lebih dominan di pasar.

“Jika mengacu pada laporan keuangan 2008, di pasar itu masih yang dominan Telkom dan Indosat,” katanya.

Heru menegaskan, sebagai wasit di industri telekomunikasi, hal yang akan diperhatikan adalah masalah penggunaan sumber daya terbatas seperti penomoran, kode akses, dan frekuensi, serta hak atau kewajiban bagi satu entitas setelah terjadinya merger.

“Masalah ini harus diatur. Jangan sampai merger itu malah memperdagangkan aset negara,” ketusnya.

Sedangkan untuk pemanfaatan jaringan rencananya juga akan dipertegas walau sudah ada  aturan generic  yakni KM No 20/2001 dan Fundamental Technical Plan (FTP). “Banyak desakan soal roaming domestic itu diatur. Ini juga akan diperinci nantinya. Bagi operator yang sudah menjalankan tidak ada masalah. Tetapi jika sudah ada regulasi baru, harus menyesuaikan,” katanya.

Pada kesempatan lain, praktisi telematika Ventura Elisawati menilai masalah konsolidasi entitas tidak perlu diatur atau dikontrol oleh regulator telekomunikasi karena itu sifatnya transaksi atau kesepakatan bisnis. “Regulator itu hanya perlu memperhatikan level kualitas layanan setelah adanya konsolidasi. Sebaiknya ini diantisipasi dalam Undang-undang konvergensi yang lagi dirancang regulator,” tegasnya.[dni]

130110 Sriwijaya Targetkan Angkut 8 Juta Penumpang

JAKARTA—Maskapai swasta nasional, Sriwijaya Air (Sriwijaya), menargetkan mengangkut 7-8 juta penumpang pada tahun ini atau meningkat sekitar 66 persen ketimbang tahun lalu yang berhasil membawa 4,8 juta penumpang.

”Kami memang menaikkan target jumlah penumpang yang diangkut karena pada tahun ini perseroan akan kedatangan sejumlah armada tambahan. Sedangkan untuk tingkat isian (load factor) diharapkan sama dengan tahun lalu yakni sekitar 89 persen,” ungkap Senior Manager Corporate Communication Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang kala mengunjungi kantor Koran Jakarta, Selasa (12/1).

Diungkapkannya, saat ini perseroan memiliki 24 pesawat berbadan lebar yang melayani 35 rute penerbangan. Sebanyak tujuh pesawat merupakan milik sendiri, sedangkan sisanya sewa. Pada tahun ini direncanakan akan datang enam pesawat baru.

”Tiga pesawat jenis Boeing 737-300 akan datang sebentar lagi. Setelah itu akan menyusul Boeing 737-800,” ungkapnya.

Dijelaskannya, penambahan armada merupakan strategi untuk memenuhi dua target perseroan yakni menaikkan citra dan untuk memenuhi tujuan-tujuan baru yang akan dibuka. ”Pada semester pertama 2010 kami akan membuka rute ke Perth, Australia. Sedangkan untuk domestik yang dibidik salah satunya ke Luwuk,” katanya.

Diharapkannya, adanya armada baru akan membuat Sriwijaya memperkuat posisinya sebagai maskapai yang ingin melayani masyarakat kelas menengah atas karena memiliki pesawat seusia Anak Baru Gede (ABG). ”Usia armada kami tidak ada lagi yang tua. Semuanya sudah segar. Ini untuk memenuhi aspek keselamatan yang menjadi kunci sukses perusahaan penerbangan,” tegasnya.

Berkaitan dengan naiknya harga minyak mentah belakangan ini, Hanna mengungkapkan, kemungkinan perseroan akan menaikkan biaya tambahan bahan bakar (Fuel Surcharge) sebesar 2-5 persen. ”Idealnya memang harus dinaikkan karena harga minyak mengalami kenaikan. Tetapi kami tidak mau gegabah karena harus berkoordinasi dengan regulator. Isu fuel surcharge ini lumayan sensitif,” katanya.

Sebelumnya, beberapa  maskapai lokal berharap dapat meningkatkan rata-rata  load factor) pada tahun ini  seiring membaiknya kondisi perekonomian dan naiknya daya beli masyarakat.

PT Indonesia AirAsia menargetkan load factor akan mencapai 76 persen setelah mengangkut  3,5 juta orang pada 2009.  Mandala Airlines  memperkirakan pada 2010  rata-rata load factor perseroan akan  mencapai 86 persen.

Sedangkan  Lion Air  menargetkan rata-rata load factor sepanjang 2010 menjadi 88 persen. Angka ini naik sedikit dibandingkan perkiraan rata-rata load factor tahun ini sebesar 85 persen.[dni]

130110 Investasi industri telekomunikasi Capai US$ 2,2 miliar

JAKARTA—Investasi di sektor telekomunikasi tahun ini diperkirakan akan mencapai 2,2 miliar dollar AS atau sama dengan tahun lalu.

“Sedangkan perkiraan pertumbuhan pasar sekitar 10-11 persen. Diperkirakan ada 35 juta pelanggan baru yang akan diperebutkan oleh 11 operator,” ungkap Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno, di Jakarta, Selasa (12/1).

Dijelaskannya, pada tahun ini  industri telekomunikasi selular akan memasuki era transformasi dari penggunaan basic service seperti SMS dan voice ke arah konvergensi teknologi informasi dan komunikasi, di mana telepon selular akan digabungkan dengan layanan internet, video, dan produk-produk digital yang lain. Transformasi ini akan memperkuat fondasi bisnis ke depan, yaitu bisnis layanan selular berbasis layanan mobile broadband.

“Untuk mencapai transformasi tersebut diperlukan adanya efisiensi guna menekan biaya operasional yang dapat dicapai dengan melakukan konsolidasi di tiga  sektor yakni konsolidasi jaringan, konsolidasi platform services, dan konsolidasi entitas,” jelasnya.

Ditegaskannya, konsolidasi memang dibutuhkan oleh industri telekomunikasi karena jumlah operator di Indonesia sudah kebanyakan. “Kue yang diperebutkan semakin terbatas. Jika tidak terjadi konsolidasi bisa terjadi inefisiensi karena biaya untuk mengakuisisi pelanggan makin tinggi,” tegasnya.

Berkaitan dengan pentarifan selama 2010, Sarwoto memperkirakan, untuk tarif ritel suara tidak akan terjadi banyak perubahan dengan tahun lalu. “Tarif ritel itu diatur oleh mekanisme pasar dan biasanya yang dimainkan oleh operator untuk panggilan ke sesama pelanggan,” katanya.

Sedangkan untuk tarif lintas operator, jelasnya, selama tidak dikeluarkan regulasi oleh pemerintah yang memotong biaya interkoneksi layaknya dua tahun lalu, maka tidak akan terjadi perubahan. “Pemerintah kabarnya meminta operator menurunkan tarif sebesar 10 persen. Itu harus jelas dulu. Baiknya pemerintah mengatur biaya interkoneksi saja. Masalah mekanisme pasar jangan diatur terlalu ketat,” tegasnya.

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menjelaskan, sebenarnya pada 2009 bisa dilakukan penurunan biaya interkoneksi sebesar 10 persen, tetapi itu tidak dilakukan oleh regulator. “Jika menilik laporan keuangan operator, permintaan menurunkan itu bisa dilakukan, tetapi itu tidak dijalankan. Hal ini karena regulator ingin memberikan ruang 10 persen itu bagi operator untuk berinvestasi di  kualitas layanan,” katanya.[dni]

130110 Telkomsel Raih Pendapatan Rp 40 Triliun

JAKARTA—Pemimpin pasar seluler nasional, Telkomsel, berhasil meraup pendapatan sebesar 40 triliun rupiah pada 2009 atau naik sekitar 10 persen dibanding perolehan tahun sebelumnya.

“Angka itu sebulum konsolidasi. Kami harapkan setelah konsolidasi tidak mengalami perubahan banyak,” ungkap Direktur Keuangan Telkomsel Triwahyusari kepada Koran Jakarta, Selasa (12/1).

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menambahkan, prestasi yang lumayan mengkilap  di tengah krisis ekonomi dan perang tarif ditopang oleh penambahan  sebesar 17 juta pelanggan baru selama 2009.

“Hingga akhir tahun lalu Telkomsel berhasil memiliki 82 juta pelanggan. Tahun ini kami menargetkan mendapatkan 18 juta pelanggan baru agar mempunyai 100 juta pelanggan pada akhir 2010,” katanya.

Dijelaskannya, produk kartu prabayar simPATI memberikan kontribusi tertinggi bagi total pelanggan  yakni 59 juta pelanggan, disusul Kartu As sebanyak 21 juta pelanggan, dan layanan paskabayar kartuHALO dengan 2 juta pelanggan. Sedangkan untuk Average Revenue Per Users (ARPU) campuran dari ketiga produk itu sekitar 40 ribu rupiah..

Sedangkan untuk  trafik komunikasi pelanggan pada tahun 2009 secara keseluruhan mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008. Trafik SMS meningkat 21 persen dari 107 miliar SMS menjadi 129 miliar SMS di tahun 2009. Sementara trafik layanan suara atau Minute of Usage (MoU) Telkomsel melonjak 203 persen menjadi 273 miliar menit dari sebelumnya 90 miliar menit di tahun 2008.

Adapun pemanfaatan layanan data juga mengalami peningkatan sebesar 178 persen menjadi 9.125 tera bytes dibandingkan tahun 2008 yang hanya 3.284 tera bytes. “Sementara Revenue Per Minute (RPM) Telkomsel mampu berada di atas 200 rupiah atau di atas dua kompetitor terdekat,” katanya.

Berkaitan dengan pengembangan jaringan selama tahun lalu, Sarwoto mengungkapkan, anak usaha Telkom  telah membangun sekitar 3.500  Base Transceiver Station (BTS) sehingga kini berjumlah sekitar 30.500 BTS yang menjangkau lebih dari 95 persen wilayah populasi Indonesia. “Hingga akhir tahun nanti akan ada 35 ribu BTS,” katanya.

Proyeksi 2010
Selanjutnya Sarwoto mengharapkan, pada tahun ini perseroan mampu meraih pertumbuhan pendapatan sama dengan tahun lalu. “Kita mengincar sama dengan tahun lalu. Sekitar 10 persen,” katanya.

Dijelaskannya, untuk mencapai target tersebut perseroan akan menggenjot pendapatan dari layanan baru (New Services) terutama dari digital bisnis seperti mobile broadband.

“Saat ini kami memiliki 1,6 juta pelanggan mobile broadband atau naik  700 persen dari 200 ribu pelanggan pada 2008. Jasa ini baru berkontribusi bagi total pendapatan sebesar 5 persen, kita harapkan pada 2010 bisa naik menjadi 10 persen,” katanya.

Sedangkan dari sisi kualitas layanan, perseroan akan menanamkan investasi sebesar 1,2 triliun rupiah untuk perangkat Operating System Software, Billing Software System (OSS,BSS). Saat ini perseroan sedang melakukan tender Dua perusahaan sedang ditimbang untuk dipilih yakni Convergys dan Orga.

“Secara total pada 2010 ini belanja modal sebesar 13 triliun rupiah. Pemenuhannya melalui kas internal, hutang ke perbankan, fasilitas kredit ekspor, atau vendor financing,” jelasnya.

Tri menambahkan, sebagian dari belanja modal 2010 telah didapat sebesar 650 juta dollar AS setelah perseroan pada 30 Desember 2009 menandatangani kesepakatan dengan beberapa lembaga keuangan.

Tercatat, Telkomsel menandatangani kesepakatan dengan Bank Of China untuk hutang sebesar 100 juta dollar AS, Sinosure (US$ 250 juta), dan Export Credit Agency (US$ 300 juta). “Sebentar lagi kami juga akan mencapai kesepakatan dengan lembaga keuangan dari Finlandia, Finvera untuk kredit senilai 250 juta dollar AS,” katanya.[dni]