060110 Garuda Masih kaji Terbang ke Timika

JAKARTA–Garuda Indonesia masih mengaji dulu kemungkinan untuk melayani rute Timika walau telah dikirimi surat dari otoritas Bandara Mozez Kilangin, Timika.

“Kami ingin memastikan dulu ketersediaan bahan bakar sebelum menerbangi rute tersebut,” tegas.  juru bicara Garuda, Pujobroto.

Pujo mengakui,  pihaknya telah menerimasurat dari Kepala Bandara Timika yang menyatakan bahwa Bandara Timika akan melayani kembali pengisian bahan bakar avtur untuk pesawat Garuda.

“Namun demikian Garuda akan melakukan pengkajian dan evaluasi dahulu menyangkut pelayanan penerbangannya ke Timika, mengingat masih perlu dilaksanakannya penyelesaian aspek administratif, dan pasokan bahan bakar yang disediakan hanya sebanyak 9000 liter perhari,” katanya.

Dijelaskannya, sesuai dengan ketentuan IATA Operational Safety Audit (IOSA) atau  sertifikasi keselamatan penerbangan internasionalyang dikeluarkan oleh Asosiasi Perusahaan PenerbanganInternasional (IATA)  yang menjadi acuan Garuda dalam melaksanakan kegiatan penerbangannya, mensyaratkan bahwa selain bahan bakar yang diperlukan untuk menerbangi suatu rute tertentu(satu kota tujuan ke kota tujuan lain).Garuda juga harus memastikan tersedianya “reserve fuel” (bahanbakar cadangan) yang harus diangkut, yang diperlukan apabilapesawat sampai harus melakukan “holding” (berputar dahulu sebelummelakukan pendaratan), atau apabila pesawat sampai harusmengalihkan tempat pendaratannya (diversion).

Kebutuhan bahan bakar yang cukup juga sangat diperlukan berkaitandengan kondisi cuaca di berbagai daerah atau kota tujuan yang sering tidak menentu saat ini, dimana hal tersebut sangatmemerlukan kepastian tersedianya bahan bakar (avtur) yang cukup.

060110 Regulator Siapkan Aturan Merger

JAKARTA–Regulator telekomunikasi menyiapkan aturan merger untuk mengantisipasi konsolidasi antaroperator yang mulai marak pada tahun ini.

“Sedang disiapkan regulasinya dalam bentuk Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo). Isinya mengacu pada UU Anti Persaingan Tidak Sehat,” ungkap Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi di Jakarta, Selasa (5/12).

Dijelaskannya, tujuan dikeluarkannya regulasi tersebut untuk menjaga persaingan tetap sehat di industri karena setelah aksi merger biasanya akan membuat salah satu operator menjadi lebih dominan di pasar.

“Jika mengacu pada laporan keuangan 2008, di pasar itu masih yang dominan Telkom dan Indosat,” katanya.

Heru menegaskan, sebagai wasit di industri telekomunikasi, hal yang akan diperhatikan adalah masalah penggunaan sumber daya terbatas seperti penomoran, kode akses, dan frekuensi.

“Masalah ini harus diatur. Jangan sampai merger itu malah memperdagangkan aset negara,” ketusnya.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno mendukung langkah dibuatnya regulasi merger oleh pemerintah.

“Sebenarnya untuk regulasi merger sebagai entitas itu sudah banyak aturan, misalnya dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) atau UU Perseroan. Dari departemen teknis memang diharapkan masalah pengelolaan sumber daya terbatas itu. Misalnya masalah hak dan kewajiban kepada negara setelah adanya merger,” tuturnya.

Menurut Sarwoto, jumlah operator di Indonesia memang terlalu banyak sehingga membuat kompetisi menjadi tidak sehat. “Konsolidasi adalah salah satu upaya untuk membangkitkan kembali industri ini,” tegasnya.

Aksi Telkom
Berkaitan dengan rencana Telkom untuk mengakuisisi satu operator pada tahun ini, Heru mengingatkan, operator itu untuk seluruh lini jasa yang dimilikinya telah menguasai pangsa pasar di atas 50 persen. “Ini tentu akan mengubah kompetisi. Apalagi jika benar isu Telkom membeli Bakrie Telecom. Itu akan membuat di jasa telepon tetap Telkom menjadi dominan,” katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengisyaratkan akan melakukan aksi pembelian salah satu operator pada tahun ini.

Pada tahun lalu disebut-sebut Telkom akan membeli Bakrie Telecom. Namun, isu ini dibantah keras oleh kedua belah pihak.[Dni]

060110 Dephub Pertimbangkan Sanksi untuk Pengelola Bandara Mozes Kilangin

JAKARTA—Departemen Perhubungan (Dephub) mempertimbangkan untuk memberikan sanksi bagi pengelola Bandara  Mozes Kilangin karena menolak memberikan avtur bagi Garuda Indonesia pada Minggu (3/1) lalu.

“Sanksi pasti ada kita berikan. Tetapi tidak bisa semena-mena diberikan sanksi.. Harus dievaluasi dulu,” ungkap  Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan,  Herry Bakti S. Gumay di Jakarta, Selasa (5/1).

Herry menegaskan,  keputusan Airfast Aviation Facilities Company (AVCO) menghentikan secara mendadak pasokan avtur ke Garuda pada 3 Januari 2010 lalu, tidak dapat dibenarkan karena menyangkut keselamatan penerbangan.

“Saya sangat sayangkan kalau tidak dikasih avtur secara mendadak. Apalagi penghentian avtur itu karena alasan insiden yang terjadi sebelumnya antara Garuda dan Presdir PT Freeport,” tutur dia.

Menurut Herry,  sebagai bandara umum, Moses Kilangin harus menghitung kebutuhan minimal bahan bakar. Termasuk kemungkinan adanya penerbangan ekstra.

“Operator bandara harus mencari cara untuk memenuhi pasokan bahan bakar,” katanya.

Jika pasokan tak cukup, lanjutnya, AVCO sebagai pengelola bandara bisa mengundang perusahaan minyak lain. Sehingga pelayanan penerbangan umum  tidak terganggu. “Bisa saja mengundang PT Pertamina, Petronas, atau Shell Indonesia,” ujarnya.

Diungkapkannya, Bandara Mozes Kilangin telah mengajukan notices to airmen (Notam) ke Ditjen Perhubungan Udara tentang keterbatasan avtur di bandara itu yang hanya ditetapkan sebesar 9.000 liter per hari.

”Keluarnya pemberitahuan ini kami harapkan  Garuda membuka penerbangan kembali ke Timika karena  AVCO  selaku pengelola bandara menjamin pasokan avtur,” katanya.

Diharapkannya,  pihak Garuda harus membuat rencana penerbangan pesawat (fleet planning) sesuai dengan pasokan avtur yang tersedia di Bandara Mozes Kilangin.

“Sekarang Garuda sebagai operator bisa membuat fleet planning bagaimana terbang ke Timika, termasuk menyesuaikan ketersedian avtur untuk holding,” ujar dia.

Sebelumnya, VP Corporate Communication Garuda Pujobroto menyatakan pihaknya berencana menutup rute penerbangan ke Timika, Papua, jika maskapai pelat merah itu kembali tidak diperbolehkan mengisi bahan bakar di Bandara Mozes Kilangin.

Dia mengatakan pihaknya mendapat surat pemberitahuan tertanggal 3 Januari 2009 dari pengelola bandara setempat yang isinya mengatakan maskapai pelat merah itu tidak diperkenankan mengisi avtur di Bandara Mozes Kilangin.

“Isi surat intinya adalah mulai 3 Januari 2009 pesawat saudara, artinya Garuda Indonesia, tidak diperkenankan mengisi bahan bakar di Mozes Kilangin. Tapi, hari ini  ada surat lagi yang menyatakan kami boleh mengisi avtur di sana,” jelasnya.

Dia menuturkan Garuda harus mengisi avtur di Bandara Mozes Kilangin karena rute yang ditempuh cukup jauh, yakni Jakarta-Denpasar-Timika.

Untuk diketahui, pesawat Garuda GA 652 rute Jakarta-Denpasar-Timika-Jayapura melakukan pengalihan rute (divert), dengan melakukan penerbangan Jakarta-Denpasar-Jayapura-Timika, karena cuaca buruk.

Saat mendarat di Jayapura, rombongan Presdir Freeport Armando Ahler pemegang tiket GA 653 ingin menaiki pesawat GA 652 ke Timika. Pujobroto mengatakan hal itu tidak dimungkinkan karena setiap pesawat mempunyai manifest yang berbeda. Hal inilah yang diduga menjadi pemicu Garuda Indonesia tidak diperbolehkan mengisi avtur di Bandara Mozes Kilangin, yang dimiliki oleh PT Freeport Indonesia.[dni]

060110 Wings Operasikan ATR 72 seri 210.

JAKARTA—Maskapai swasta, Lion Air, melalui anak usahanya  Wings Air  akan  mengoperasikan pesawat baling-baling ATR 72 seri 210  mulai Rabu (5/1).

“Tiga pesawat telah siap dioperasikan dari 30 pesawat yang dipesan. Pesanan akan selesai hingga 2012. Dananya pembelian dari kas internal dan BNP Paribas,” ungkap Direktur Utama Lion Air Rusdi Kirana, di Jakarta Selasa (5/1).

Dijelaskannya, tiga pesawat ATR tersebut  akan dioperasikan melayani rute-rute di Indonesia bagian timur.  Rute yang akan dilalui di Sulawesi, Maluku dan Papua dengan pusat  di Manado.  \

”Adanya pesawat nernadan kecil ini (narrow body) membuat  Wings
mampu melayani rute-rute antar kabupaten terpencil,” tuturnya.

Kota-kota kabupaten dengan bandara perintis akan menjadi sasaran  dari Wings. Tahun ini rencananya  akan melayani Kabupaten Mamuju, Saumlaki, Nabire,  Ternate, sorong, Kaimana, Fakfak dan kota-kota lainnya. “Nantinya Wings  akan dijadikan feeder bagi penerbangan Lion Air,” ujarnya.

Selanjutnya diungkapkan, pertengahan tahun ini, Wings juga merencanakan untuk mengoperasikan pesawat  propeller tersebut ke Indonesia bagian barat seperti kabupaten-kabupaten di
Sumatera dan Kalimantan.

Berkaitan dengan rencana penambahan pesawat berbadan lebar bagi Lion Air,  Rusdi mengungkapkan, perseroan  juga
berencana untuk menambah pesawat jenis tersebut dengan mengaji kemungkinan menggunakan jenis  Boeing 777 series atau Airbus A330.

“Saat ini kami sedang mengevaluasi pesawat mana yang paling tepat.
Rencananya akhir semester tahun ini sduah bisa didatangkan,” tandasnya.

Rencananya, Lion akan memesan 10 unit pesawat wide body tersebut untuk kepentingan  ekspansi ke luar negeri. Setelah sukses menerbangi Jakarta – Jeddah, Lion  berencana membuka rute ke Asia timur dan Australia.[dni]