281209 Izin Prinsip Internux Terancam Dicabut

JAKARTA–Izin prinsip penyelenggara Broadband Wireless Accsess (BWA) yang dimiliki  PT Internux terancam dicabut oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) karena belum membayar kewajiban up front fee dan Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) frekuensi pada negara.

Untuk diketahui, hingga tanggal jatuh tempo  17 November 2009 dan kemudian memasuki tahap perpanjangan pertama yaitu 20 November 2009 negara telah menerima kewajiban pembayaran BHP frekuensi radio dari para pemenang tender BWA non konsorsium yaitu  PT Telkom, PT Indosat Mega Media dan PT First Media.

Kemudian setelah tanggal 20 November 2009, PT. Berca Hardayaperkasa dan PT. Jasnita Telekomindo menyusul memenuhi kewajiban.  Khusus untuk PT. Jasnita Telekomindo telah memenuhi pembayaran BHP
frekuensi radio beserta denda, sedangkan PT. Berca Hardayaperkasa baru memenuhi kewajiban pembayaran BHP frekuensi radio.

Hutang Internux kepada negara yang memenangkan zona Jabotabek di tender BWA tersebut hanya dari upfront fee sebesar 110,033 miliar rupiah.

“Saat ini hanya Internux yang belum melakukan pembayaran sama sekali. Sedangkan untuk Berca kami masih mengejar pembayaran denda 2 persen dari total kewajibannya karena telat melakukan pembayaran,” ungkap Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S Dewo Broto di Jakarta, Minggu (27/12).

Diungkapkannya, pemerintah memberikan batas waktu hingga 20 Januari 2010 bagi Internux untuk menyelesaikan kewajibannya kepada negara. Jika tidak dipenuhi, maka izin prinsip yang dikantongi perusahaan itu akan dicabut.

“Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepastian hukum dan perlakuan yang sama bagi penyelenggara jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita frekuensi 2.3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel,” tegasnya.

Internux dikenal sebagai Penyedia Jasa Internet (PJI) di Makassar. Ketika tenggat waktu pertama pembayaran jatuh tempo, perusahaan ini mengulur waktu dengan menanyakan kesiapan perangkat dalam negeri untuk teknologi BWA.

Kabar beredar kepemilikan saham di perusahaan ini sekarang didominasi oleh perusahaan asal Korea Selatan.

Sedangkan pembayaran lainnya yang ditunggu oleh pemerintah dari pemenang berbentuk konsorsium pada  26 Januari 2010.

Kedua pemenang itu adalah Konsorsium Wimax Indonesia (akan menjadi Wireless Telecom Universal) serta Konsorsium Comtronics Systems dan Adiwarta Perdania.[Dni]

261209 Maskapai Belum Siap Bayar Pajak Penyewaan

JAKARTA—Maskapai di Indonesia mengaku belum siap dengan pungutan pajak bagi penyewaan pesawat terbang (Lease) sebesar 20 persen pada Januari 2010 karena dinilai memberatkan biaya operasional.

“Jika pungutan itu dilakukan, tarif penerbangan bakal melonjak. Inilah alasan kami menolak pemberlakuan pajak tersebut. Kami telah meminta Departemen Perhubungan untuk menolak pemberlakuan pajak,   Selain itu, asosiasi  juga segera menemui Departemen Keuangan untuk meminta  dalam memberikan pajak lebih rasional,” ungkap Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (Inaca), Tengku Burhanuddin di Jakarta, Kamis (24/12).

Menurut Tengku, saat ini kondisi industri penerbangan Indonesia masih dalam tahap sedang  berkembang, sehingga belum waktunya untuk dikenakan pajak sebesar itu. “Jika dikenakan pajak sebesar itu, darimana maskapai mendapatkan keuntungan,” katanya.

Dikatakannya,  jika menilik kondisi saat ini maskapai baru akan siap dengan kebijakan pemerintah itu dalam waktu empat hingga lima tahun ke depan. “Saat ini maskapai sedang melakukan persiapan untuk menghadapi liberalisasi penerbangan yang akan diterapkan pada 2013,” tuturnya.

Diungkapkannya,  saat ini seluruh operator penerbangan di Indonesia memiliki total pesawat sebanyak sekitar 750 unit pesawat. Dari jumlah pesawat tersebut, sebanyak 90 persennya adalah pesawat yang disewa. Kebijakan menyewa pesawat dilakukan arena harga armada jika dibeli  sangat mahal.

Apabila setiap membayar sewa pesawat maskapai diwajibkan juga membayar pajaknya sebesar 20 persen, maka pendapatan maskapai bakal semakin menipis. Padahal, bisnis penerbangan memiliki biaya besar untuk keselamatan.

“Sebenarnya rencana pajak barang sewaan  tidak hanya diberlakukan kepada pesawat terbang saja. Tetapi diperuntukkan bagi barang sewaan dari luar negeri, termasuk kapal
dan pesawat. Namun hingga kini, baru maskapai saja yang merasa keberatan,” katanya.

Sebelumnya,  Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumai menjanjikan, masalah pembebanan pajak berganda akan dibicarakan dengan  dengan Departemen Keuangan  agar maskapai bisa meremajakan armada secara cepat.

Naikkan Load Factor
Pada kesempatan lain, maskapai lokal berharap dapat meningkatkan rata-rata tingkat isian (Load Factor) pada tahun depan seiring membaiknya kondisi perekonomian dan naiknya daya beli masyarakat.

“Pada tahun lalu rata-rata load factor kami 75 persen. Pada tahun ini naik sedikit menjadi 76 persen. Tahun depan diperkirakan juga naik tapi tidak banyak. Sementara dari jumlah penumpang, sampai akhir tahun ini sudah mencapai target kami sebanyak 3,5 juta orang,” ungkap  Presiden Direktur PT Indonesia AirAsia Dharmadi.

Head of Corporate Communication Mandala Trisia Megawati KD memperkirakan tahun depan rata-rata load factor perseroan akan  mencapai 86 persen.Pada 2008 lalu setidaknya 3,7 juta penumpang dilayani penerbangannya ke 17 kota tujuan oleh 11 pesawat Mandala.

“Pertumbuhan organik penumpang biasanya 10 persen per tahun. Tapi tergantung pasarnya. Tahun ini dengan sempat terjadinya krisis maka jumlah penumpang turun makanya pertumbuhan penumpang belum bisa diperkirakan,” katanya.

Dikatakannya, pada 2010  Mandala akan mendatangkan 4 sampai 6 pesawat Airbus A320 dengan kapasitas 180 penumpang.  Pesawat baru itu rencananya akan digunakan untuk melayani rute-rute regional baru yang akan dibuka Mandala.

Sedangkan Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menargetkan rata-rata load factor sepanjang 2010 menjadi 88 persen. Angka ini naik sedikit dibandingkan perkiraan rata-rata load factor tahun ini sebesar 85 persen.
“Pertumbuhan penumpang terjadi karena daya beli masyarakat membaik seiring dengan membaiknya keadaan ekonomi,” kata Edward.

Sepanjang 2009 setidaknya Lion melayani 82 kota tujuan penerbangan dengan jumlah pesawat sebanyak 53 unit. Sementara, tahun lalu Lion hanya melayani penerbangan dengan 46 pesawat.

“Meskipun jumlah pesawat bertambah, penambahan kapasitas kursi hanya naik 10% dibanding 2008. Karena pesawat lama ada yang dialihkan ke Wings Air, lalu yang baru digunakan oleh Lion,” ujarnya.[dni]

261209 Pemerintah Harus Berikan Toleransi Bagi BUMN Telekomunikasi

JAKARTA—Pemerintah harus memberikan toleransi bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang telekomunikasi untuk mengembangkan konektifitas di area yang non ekonomis walaupun aksi tersebut berpengaruh pada turunnya keuntungan bagi perseroan dalam jangka pendek.

“Pemerintah dalam hal ini Kementrian BUMN harus bisa melihat masyarakat di area yang tergolong belum komersial secara ekonomi membutuhkan konektivitas. Jadi, seandainya ada BUMN telekomunikasi yang berekspansi ke wilayah tersebut harus diberikan toleransi, karena ada kemungkinan tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan dalam jangka pendek,” kata Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Nonot mengatakan, jika merujuk pada negara maju,  inisiatif ekspansi tulang punggung jaringan (backbone) biasanya dilakukan oleh pemerintah. Tetapi jika di Indonesia  pemerintah ingin mengimplementasikan bentuk dukungan itu dengan menyuruh BUMN, maka untuk  penetrasi akses sebaiknya dilakukan dengan pola open access bersama swasta.

“Saya rasa inisiatif membangun jalur Palapa Ring Mataram-Kupang yang dilakukan oleh Telkom itu sudah baik. Tinggal nanti di tingkat akses saja dibuka kesempatan bagi swasta dengan pola keuntungan yang baik bagi Telkom,” katanya.

Polanya bisa dengan Telkom  menggandeng Penyedia Jasa Internet (PJI) di daerah untuk mengembangkan  akses. “Telkom melakukan pembinaan model bisnis. Kalau begini jadinya tumbuh bersama,” katanya.

Untuk diketahui, akhir November lalu  Telkom  memulai pembangunan  serat  optik yang akan menghubungkan Mataram-Kupang (Mataram-Kupang Cable System). Infrastrukur sepanjang 1.041 km yang menelan biaya 52 juta dollar AS tersebut merupakan bagian dari konfigurasi proyek mercu suar  Palapa Ring yang telah dirintis oleh pemerintah sejak lima tahun lalu.

Selanjutnya Nonot meminta, jika backbone tersebut telah selesai dibangun pemerintah harus memiliki program yang lebih jelas dalam  memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk pelayanan masyarakat di daerah lingkar luar. Misalnya,  untuk jaringan Puskesmas agar kelangkaan dokter ahli di pelosok bisa di atasi via video-conference atau untuk pemerataan kualitas pendidikan. “Jangan nanti sudah dibangun backbone malah digunakan oleh masyarakat untuk mengakses Facebook atau membaca koran. Itu namanya pemborosan bandwitdh,” katanya.

Secara terpisah, praktisi telematika Bambang Sumaryo Hadi mengatakan, pembangunan untuk area non ekonomis sebaiknya diserahkan kepada pemerintah karena sudah ada dana Universal Service Obligation (USO) dan tarikan Biaya Hak Penyelenggara (BHP). “Dana-dana itu dikumpulkan untuk membangun konektivitas. Bukan untuk disimpan,” katanya.

Sumaryo mengingatkan, jika Indonesia memiliki backbone yang kuat maka bisa menurunkan tarif internet. “Saya hitung jika menggunakan serat optik biaya transport data sekitar satu hingga 10 sen dollar AS per Gbyte data  di titik tertingginya. Bandingkan jika mengandalkan satelit yang mencapai  20 dollar AS per Gbyte data di titik tertingginya,” katanya.

Selanjutnya dikatakannya, pemerintah juga harus mendorong hadirnya konten lokal yang menarik agar daya tawar ke Tier-1 internasional meningkat. “Daya tawar muncul  kalau trafik balance terjadi alias ada juga  pihak asing mengakses ke situs lokal, bukan yang terjadi seperti sekarang ini,” katanya. [dni]

241209 Menanti Perubahan Klasemen

Salah satu informasi yang ditunggu oleh pelaku usaha yang berkecimpung di industri telekomunikasi menjelang tutup tahun ini adalah tentang performa dua operator yakni XL dan Indosat.

XL yang telah resmi berganti nama menjadi PT XL Axiata Tbk pada Rabu (23/12) banyak diprediksi akan menggusur  posisi nomor dua di klasemen kompetisi jasa nirkabel Indonesia yang selama ini diduduki Indosat.

Berdasarkan kinerja kuartal ketiga tahun ini, posisi pertama masih diduduki oleh Telkomsel dengan 80 juta pelanggan, kedua Indosat (28,7 juta pelanggan), dan XL (26,6 juta pelanggan). Telkomsel tercatat menguasai 47 persen pangsa pasar, disusul Indosat 18 persen, dan XL 15 persen.

Sedangkan untuk infrastruktur jaringan, Telkomsel memimpin dengan 30 ribu BTS, disusul XL (18.790 BTS), dan Indosat (17.618 BTS).

Berdasarkan kinerja tiga operator pada kuartal ketiga  Telkomsel mencatat  pendapatan usaha sebesar  21,041 triliun rupiah, Indosat (Rp 10,01 triliun), dan XL  (Rp 9,8 triliun).

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi kala memaparkan kinerja perseroan pada kuartal tiga lalu mengungkapkan, target perseroan diakhir tahun ini adalah mampu menggusur posisi Indosat tidak hanya dari sisi pelanggan tetapi juga pendapatan jasa selulernya.

“Jumlah pelanggan mungkin bisa bubble. Tetapi pendapatan usaha tidak bohong. Dibandingkan secara apple to apple dengan kinerja seluler kompetitor, memang sudah beda tipis. Semoga akhir tahun nanti kita bisa membawa kabar gembira,” ungkapnya kala itu.

Sumber Koran Jakarta di sentra-sentra penjualan telepon seluler di kawasan Jabotabek mengungkapkan, untuk jumlah pelanggan XL pada posisi Desember ini telah berhasil menembus angka 30 juta pelanggan.

“Saya rasa untuk target jumlah pelanggan telah berhasil dilampaui oleh XL. Kalau begini bisa saja posisi di klasemen akhir berubah untuk pertama kalinya setelah sekian lama dua besar didominasi oleh Telkomsel dan Indosat,” katanya.

Masih menurut sumber tersebut, XL pun di kawasan Sumatera sudah menjadi nomor dua dengan mengungguli Indosat dari sisi akuisisi pelanggan. “Pusat pertempuran memang di Jawa. Tetapi XL mulai menggempur kawasan Sumatera. Di kawasan itu, Telkomsel saja mulai merasa terusik dengan sepak terjang XL,” katanya.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro ketika dikonfirmasi tentang ancaman dari XL itu merasa perseroan masih dalam posisi aman hingga akhir tahun ini. “Data-datanya harus diverifikasi. Misalnya untuk BTS, jika XL lebih banyak kenapa Indosat membayar Biaya Hak Penyeleenggaraan (BHP) frekuensi lebih besar,” katanya.

Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E. Marinto mengatakan, jika XL memang memiliki ambisi untuk mencapai nomor dua di industri sebagai hal yang lumrah. “Bagi kami itu hal yang biasa dalam kompetisi. Tetapi untuk menasbihkan secara jumlah pelanggan benar-benar mantap di posisi nomor dua harus dilihat enam bulan setalah posisi itu diraih. Soalnya tingkat pindah layanan pelanggan di Indonesia lumyan  tinggi,” katanya.

Pada kesempatan lain, Praktisi telematika Suryatin Setiawan menilai suatu hal yang lumrah posisi di klasemen berubah pada akhir tahun nanti karena kompetisi makin ketat. “Operator yang agresif tentu meraih hasil positif. Indosat di pertengahan tahun ini mengalami pergantian manajemen sehingga ada masa transisi. Mungkin saja manajemen baru menyiapkan sesuatu di tahun  depan,” katanya.

Persaingan Vendor

Selain persaingan di antara operator. Hal lain yang pantas disimak adalah persaingan antar penyedia perangkat, terutama bagi perusahaan dari kawasan Eropa dengan China.

Pada tahun ini  vendor dari China, Huawei, berhasil bersinar di industri telekomunikasi dengan banyak memenangkan tender dari Telkom grup untuk pengadaan perangkat. Huawei berhasil memenangkan tender Palapa Ring, High Speed Packet Access (HSPA+), bahkan rencananya Telkomsel akan mengganti perangkat di Pulau Jawa dari Nokia Siemens Network (NSN) ke Huawei.

“Kita memang akan melakukan island-nisasi perangkat agar lebih efektif. Rencananya jarigan 3G di Jakarta akan menggunakan Huawei. Sedangkan di Jawa Tengah 2G dan  3G juga memakai perusahaan asal China itu,” ungkap  Aulia.

Head, Customer Marketing & Communication Regional Marketing Asia Pacific Nokia Siemens Network (NSN) Harith Menon mengaku tidak khawatir dengan sepak terjang Huawei. “Itu hanya peperangan kecil yang mereka menangkan. Masih banyak pertempuran lainnya karena di industri ini yang penting inovasi dalam jangka panjang,” katanya.

Menurut Praktisi Telematika Raherman Rahanan  diliriknya Huawei oleh operator karena perusahaan itu mampu memberikan perangkat dengan harga terjangkau dan barang berkualitas.

“Huawei berani menawarkan harga yang menggiurkan karena tahu operator sedang melakukan pengetatan ditengah ambisi untuk ekspansi jarinagn. Apalagi secara inovasi tidak kalah dengan perangkat dari Eropa sehingga Total Cost Ownership (TCO) lebih mengungtungkan bagi para operator,” katanya.[dni]

241209 Kesiapan Jaringan Natal dan Tahun Baru: Memanfaatkan Peluang Terakhir

Tak terasa sebentar lagi umat Kristiani akan menyambut datangnya hari Natal. Tidak hanya itu, keceriaan juga akan berlanjut dengan datangnya tahun baru 2010.

Layaknya perayaan hari suci umat beragama Kristiani  dan penyambutan tahun baru selama beberapa waktu ini, maka beberapa sektor industri yang menunjang kesiapan acara itu pun berbenah. Tak ketinggalan sektor telekomunikasi yang mengantisipasi lonjakan trafik komunikasi masyarakat untuk menghubungi kerabatnya.

Untuk diketahui, dua momen tersebut (Natal dan Tahun Baru) merupakan peluang terakhir bagi operator menangguk keuntungan dari pelanggan dalam periode satu tahun.  Biasanya,  momen natal dan tahun baru  bisa berkontribusi sekitar 15 persen bagi total pendapatan perseroan selama setahun.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno memperkirakan, trafik basic telephony (Suara dan SM) akan mengalami peningkatan dua kali lipat, khususnya untuk jasa SMS pada hari pertukaran tahun.

“Jika melihat trennya dari tahun lalu, peningkatan terjadi dua kali lipat. Biasanya pelanggan ingin mengucapkan selamat tahun baru ke kerabatnya,” ujarnya di Jakarta, Rabu (23/12).

Sarwoto menjelaskan, untuk mengantisipasi lonjakan trafik, perseroan meningkatkan kapasitas pengiriman SMS menjadi 80.000 SMS per detik. Biasanya  di hari normal SMS yang dikirim 80 juta pengguna Telkomsel   mencapai 380 juta SMS per hari.

Sarwoto menjamin, dengan dukungan 30 ribu Base Transceiver Station (BTS) dan kapasitas handling Intelligent Network (IN) untuk kartu prabayar sebesar 92 juta pelanggan akan mampu menghadirkan  Call Setup Success Rate (CSSR) hingga  95,41 persen dan  Call Completion Success Rate CCSR)  hingga 98,81 persen nantinya.

Sedangkan GM Corporate Communication XL Febriati Nadira mengungkapkan, untuk melayani 26,6 juta pelanggannya perseroan telah meningkatkan kapasitas 18.790 BTS sebesar 30 hingga 40 persen. Kemampuan SMS Center pun  ditingkatkan untuk melayani  30.000 SMS per detik. “Kami memperkirakan lonjakan trafik suara dan SMS sekitar 20 persen,” katanya.

Diungkapkannya, pada pergantian tahun baru 2008 ke 2009 jumlah SMS yang terkirim mencapai 133 juta SMS atau naik 64,2 persen dibandingkan pergantian tahun 2007 ke 2008. Saat ini di hari normal 2009 trafik suara mencapai 755 juta panggilan per hari. Sedangkan untuk SMS sekitar 320 juta SMS per hari.

Sementara Group Head Corporate Communication Indosat  Adita Irawati mengungkapkan, berdasarkan  pengalaman masa-masa Lebaran Idul Fitri tahun ini,  maka menyambut   Natal dan Tahun Baru 2010, kapasitas jaringan untuk trafik suara ditingkatkan hingga 2 kali lipat dibandingkan tahun lalu atau   mencapai 12,9 juta Erlang per hari (setara dengan 774 juta menit kanal suara) dan kapasitas SMS ditingkatkan hingga 2 kali lipat dibandingkan  tahun lalu atau mencapai  492 juta sms per hari.

Berdasarkan catatan, Indosat dengan 28,7 juta pelanggan mengoperasikan 17.618 BTS , 364 BSC dan 105 MSC/MSS (termasuk untuk jaringan CDMA).

CDMA Tak kalah

Tak mau kalah dengan pemimpin pasar nirkabel yang diwakili tiga besar (Telkomsel, Indosat, dan XL), Bakrie Telecom dan Telkom Flexi pun ikut mengoptimalkan peluang terakhir meraih keuntungan tahun  ini.

“Pada pergantian tahun lalu terjadi kenaikan trafik suara sekitar  7 persen dan SMS  15 persen. Untuk pergantian tahun ini diperperkirakan kenaikan  secara umum masih sama dengan tahun lalu. Hanya untuk SMS diperkirakan   jumlahnya akan lebih besar dari kecenderungan tahun lalu mengingat  adanya penawaran SMS satu rupiah per karakter,” ungkap Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer.

Diungkapkannya, untuk melayani 9,81 juta pelanggan esia, perseroan telah mempersiapkan  3.468 BTS dan virtual number bagi pelanggan yang ingin keluar kota untuk layanan Esia GOGO sebesar   1.7 juta nomor. ” Kami persiapkan secara khusus Esia GoGo tahun ini karena jumlah kota yang dilayanan Esia telah bertambah. Per akhir September 2009 Esia telah hadir di 76 kota,” katanya.

Executive General Manager Divisi Telkom Flexi, Triana Mulyatsa mengatakan, untuk   menyambut lonjakan komunikasi selama  Natal dan Tahun Baru nanti, Triana mengungkapkan,  Flexi mempermudah cara mengaktifkan layanan roming Combo. Pelanggan hanya cukup melakukan panggilan ke   *777 di tempat kota tujuan maka layanan Combo   langsung aktif

Antisipasi Data

Selain mengantispasi lonjakan layanan suara dan SMS, tiga operator besar pun mempersiapkan jaringan untuk menghadapi pemakaian layanan data.

”Beberapa bulan ini masyarakat sepertinya lapar dengan bandwitdh untuk komunikasi data. Bentuk ucapan selamat pun ada yang melalui BlackBerry Messenger atau situs jejaring sosial. Ini juga harus diantisipasi,” ujar Sarwoto.

Dikatakannya, kapasitas layanan BlackBerry Telkomsel  telah ditingkatkan menjadi 100 Mbps. Sedangkan untuk mobile broadband 3G  telah didukung 4.500 Node B yang tersebar dari Sumatera hingga wilayah Timur Indonesia dengan bandwith 6 Gbps.

Febriati pun mengungkapkan, Untuk mengantisipasi lonjakan layanan data   XL telah  meningkatkan kapasitas layanan BlackBerry  hingga   180 Mbps. Selain itu  penambahan kapasitas untuk data core sekitar  30 persen dan penambahan 3 MSC (Mobile Switching Center) di Sumatera dan Jawa Timur juga dilakukan.

“Saat ini trafik data di hari normal mencapai   3,8 T bytes per hari. Diperkirakan saat pergantian tahun ada kenaikan 20 persen,” katanya.

Sementara Adita mengatakan,  perseroan  meningkatkan kapasitas hingga hampir 4 kali lipat dibandingkan masa liburan Natal dan Tahun Baru tahun lalu atau sekitar 50 Terabytes per hari. Trafik komunikasi data di masa Natal dan Tahun baru tahun ini diperkirakan melonjak hampir 3 kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Awasi

Secara terpisah, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menegaskan, meskipun untuk menyambut natal dan tahun baru regulator tidak melakukan tes jaringan seperti saat Lebaran Idul Fitri, tetapi operator tetap akan diawasi dengan ketat.

“Kami akan tetap memberikan perhatian kepada kinerja jaringan operator. Terutama tiga besar yang menguasai 85 persen pangsa pasar,” katanya.

Menurut Heru, operator harus  tetap waspada dengan kinerja jaringannya terutama jika ada program pemasaran yang bonusnya jatuh tempo saat pergantian tahun. “Operator harus belajar dari kesalahan Telkomsel dua tahun lalu dimana jaringannya tumbang saat pergantian tahun karena tidak bisa mengukur kekuatan jaringan dengan berlebihan memberikan bonus bagi pelanggan,” katanya.

Heru meminta, operator memberikan perhatian khusus untuk penyelenggaraan layanan data karena selama libur panjang minggu lalu banyak keluhan pelanggan karena sulit mengakses internet. “Hari-hari ini layanan BlackBerry sulit diakses. Katanya sudah ditingkatkan kapasitas, ini apa yang ditingkatkan. Sepertinya lips service saja. Selain itu kita juga akan mengawasi Indosat Mega Media (IM2) yang banyak dikeluhkan pelanggannya sejak minggu lalu,” tegasnya.

Heru pun meminta, operator untuk konsisten memberikan laporan kualitas layanannya per kuartal ke pelanggan sebagai bahan mengevaluasi kinerja  selama tahun ini. “Tahun ini telah ditetapkan sebagai eranya kualitas layanan. Kinerja selama setahun ini akan dinilai untuk nantinya diberikan apresiasi. Operator jangan meremehkan soal pemberian laporan ini dengan mengulur-ulur waktu,” tegasnya.[dni]

241209 Axis Bantah Berikan SMS Gratis Lintas Operator

JAKARTA—PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) sebagai pemilik merek dagang Axis membantah menawarkan promosi SMS gratis lintas operator bagi pelanggannya dalam program Bonus Seribu Rupiah.

“Tidak benar kami memberikan bonus gratis SMS dalam program itu. Tidak ada dalam design program dinyatakan penawaran gratis SMS lintas operator,” tegas Juru Bicara NTS Anita Avianty kepada Koran Jakarta Rabu (23/12).

Dijelaskannya, dalam program promosi yang ditawarkan bagi pengguna kartu prabayar Axis itu adalah menawarkan airtime bagi pelanggan. “Kita hanya menawarkan bonus airtime ke pelanggan. Terserah mau dimanfaatkan untuk SMS atau jasa suara. Saya rasa tidak semua bonus akan dimanfaatkan untuk SMS oleh pelanggan,” kilahnya.

Secara terpisah, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mendesak Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) secepatnya berkonsolidasi untuk menyelesaikan kembali maraknya penawaran   SMS gratis lintas.

“Regulator sudah jelas menghimbau menghentikan layanan itu pada awal tahun lalu. Dalam perjalanan industri minta ini diatur secara self regulation. Sebaiknya cepat diselesaikan. Jangan nanti masyarakat pikir kami tidak konsisten dengan kebijakan yang diambil,” tukasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum ATSI Sarwoto Atmosutarno telah mengeluarkan himbauan bagi  para anggotanya  yang menawarkan program SMS gratis lintas operator   untuk menghentikan promosinya karena   bisa memicu persaingan tidak sehat dan membebani jaringan operator penerima SMS.
”Kami memang meminta masalah ini dibereskan secara self regulation. Sekarang ini sedang ada diskusi terus-menerus dengan sesama anggota. Sebaiknya promo itu dihentikan karena memicu operator besar melakukan hal yang sama dan membuat persaingan menjadi karut-marut,” katanya.

Sarwoto mengungkapkan,  dalam pembahasan di ATSI ada kemungkinan skema tarif SMS diubah dari Sender Keep All (SKA) menjadi berbasis interkoneksi. SKA adalah pola pentarifan dimana biaya SMS diambil semuanya oleh operator pengirim. Sedangkan berbasis interkoneksi, ada revenue sharing antara operator pengirim dan penerima SMS.

”Kalau sudah berbasis interkoneksi   akan lebih adil. Mau dibanting harganya, jaringan penerima SMS mendapat pemasukan,” katanya.

Berdasarkan catatan, operator yang mulai menawarkan SMS gratis lintas operator saat ini adalah Three dan Axis. Three menawarkan gratis 100 SMS per hari ke semua operator dan Axis menawarkan bonus seribu rupiah yang dapat dimanfaatkan untuk SMS atau menelpon lintas operator. [dni]

241209 CSL Kaji Buka Pabrik di Indonesia

JAKARTA—Penyedia ponsel merek lokal, CSL, mengaji rencana untuk membuka pabrik atau perakitan ponsel di Indonesia karena melihat tingginya peluang produknya laris di pasar.

“Kami memang punya rencana untuk bangun pabrik di Indonesia, minimal pusat perakitanlah. Selama ini kami masih memproduksi di China. Hal ini karena 20 persen dari total perkiraan 40 juta ponsel impor dikuasai ponsel China dengan merek lokal,” ungkap Marketing Manager CSL Indonesia Ronnie di Jakarta, Rabu (23/12).

Diungkapkannya, sejak berada di Indonesia tahun ini perseroan telah menggelontorkan dana sebesar 100 ribu dollar AS untuk  mendirikan kantor pusat di Jakarta dan membuka 30 service center di sejumlah daerah bersama distributor Astech.

“Kami juga telah mulai menggandeng pengembang lokal beserta komunitas untuk membuat fitur inovatif sesuai keinginan penyuka ponsel lokal. Kita akan main lewat komunitas. Karena cuma komunitas yang mengerti apa value yang diinginkan komunitas,” katanya.

Berkaitan dengan kinerja perseroan selama  setengah tahun hadir di Indonesia dengan empat seri produk ponsel tipe Qwerty keluarannya. Ronnie mengungkapkan, tiga produk ponsel Qwerty sebelumnya telah berhasil dipasarkan sebanyak 40 ribu unit.

Ponsel itu adalah Blueberry @500 yang dibundel bersama XL dan laku terjual lebih dari 20 ribu unit. Sisanya, dua ponsel lainnya, Blueberry @8250 dan i9000 yang dibundel dengan kartu Indosat.

“Penjualan tertinggi di luar Jakarta ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Sulawesi, Makassar dan Manado,” katanya.

“Untuk Blueberry @9250 terbaru kami yang dibundling dengan Axis, kami targetkan 50 ribu dalam tiga bulan pertama. Kalau bisa sampai 100 ribu,” jelasnya.

Sedangkan untuk rencana ke depan, perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki pengusaha lokal dan asing itu, akan memperluas diperluas merek ke negara Asia Tenggara lainnya seperti Vietnam, Myanmar, Laos, termasuk India. Saat ini CSL telah ada di   China, Malaysia, Singapura, dan Thailand.[dni]