311209 Catatan Akhir Tahun : Si Anak Panah Belum Berbuat Apa-apa

Di kalangan anggota Partai Keadilan Sejahtera (PKS), sosok Tifatul Sembiring disebut-sebut sebagai anak panah yang siap dilepaskan dari busurnya untuk ikut mensukseskan pembangunan di Indonesia.

Anak panah tersebut memang telah dilepaskan oleh partainya ke Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) sejak Oktober lalu untuk memimpin lembaga yang tahun ini memiliki anggaran sebesar 2,2 triliun rupiah sebagai Menkominfo.

Jika menilik kerja dari Depkominfo pada tahun ini lumayan mencorong. Lihat saja dari raihan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang hingga November 2009 sudah melebihi target sebesar 26,95 persen.

Tercatat, realisasi PNBP Depkominfo hingga November adalah 9,228 triliun rupiah atau diatas target awal 7,269 triliun rupiah. Dari sisi regulasi yang dikeluarkan, lembaga ini berhasil menelurkan satu Undang-undang yakni UU Pos, 2 Peraturan Pemerintah (PP), dan 7 Permenkominfo.

Sedangkan infrastruktur yang monumental berhasil dibangun adalah dimulainya mega proyek Palapa Ring untuk rute Mataram-Kupang dan beroperasinya 21 ribu desa berdering.

Lantas apakah semua keberhasilan ini hasil kerja keras atau setidaknya terdapat kontribusi dari pria kelahiran  Bukittinggi, 28 September 1961 tersebut? Jika dilihat secara fair, tentunya tidak. Bahkan bisa dibilang untuk peresmian proyek Palapa Ring atau desa berdering, sosok Tifatul hanya  sebagai pejabat yang  menikmati seremoni acara.

Untuk diketahui, proyek Palapa Ring sudah dirintis sejak Menkominfo dijabat oleh Sofyan Djalil. Setelah itu  Muhammad Nuh bisa dikatakan sebagai pendorong agar Telkom mau membangun rute yang diresmikan oleh Tifatul karena selama ini anggota konsorsium dari perusahaan swasta selalu maju-mundur.

Sedangkan untuk proyek desa berdering, tender telah dilaksanakan sejak era Muhammad Nuh. Bahkan, rasanya tidak adil jika Tifatul memasukkan program desa berdering dan pengadaan 100 komputer untuk desa pinter sebagai bagian dari program 100 harinya.

Pasalnya, program ini telah berjalan dan mencapai 24 ribu desa berdering. Untuk mengadakan 100 desa pinter juga tidak menjadi masalah karena pemenang tender memang diwajibkan mengadakan desa contoh berbasis internet di desa berdering itu. Jadi, ibarat mau makan pisang, kulitnya pun sudah dibukakan bagi sang menteri.

Tifatul ketika diminta komentarnya tentang kinerjanya selama ini mengakui belum berbuat apa-apa di Depkominfo. “Saya tidak pernah mengklaim keberhasilan tahun ini hasil seorang Tifatul Sembiring. Ini semua hasil kerja elemen yang ada di Depkominfo,” katanya.

Tifatul pun memutar kembali lagu lama kaset kusut kala dilantik pertama kali sebagai Menkominfo tentang rencana program 100 hari dimana masalah desa pinter kembali disebutkan, setelah itu  rencana satu tahun, dan lima tahun menjabat.

Bisa dikatakan tidak ada ide baru nan  segar dari pria dimana di setiap acara resmi  selalu dikelilingi oleh kader partainya itu. Misalnya, rencana mengurangi ketimpangan digital di nusantara, membangun e-learning, e-business, atau e-government hingga tingkat kecamatan. Tetapi bagaimana detailnya atau minimal, “Inilah Cara Tifatul” tidak pernah keluar dari mulut pria yang memiliki dua istri ini.

Praktisi Telematika Ventura Elisawati mengatakan, selama ini sosok Tifatul lebih banyak berkiprah sebagai Humas dari pemerintah ketimbang memikirkan hal teknis dari Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). “Jadinya terkesan lebih menjaga citra ketimbang bekerja bagi dunia TIK,” katanya.

Lebih menjaga citra. Mungkin itu benar adanya. Lihat saja kegamangan Tifatul untuk menetapkan pejabat Dirjen Postel dan perwakilan pemerintah di Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI). Padahal, sudah jelas Postel penyumbang terbesar untuk PNBP. Namun, karena khawatir program 100 hari tidak berjalan, Tifatul membiarkan Pelaksana Tugas (PLT) yang mengisi Dirjen Postel.

Begitu pun di BRTI. Lembaga ini seperti anak ayam  kehilangan induk karena untuk bertemu dengan sang menteri sulitnya bukan main. Padahal, tahun ini BRTI ditengah kekurangannya masih mampu berbuat sesuatu bagi industri seperti menyelenggarakan penambahan kanal 3G yang menghasilkan PNBP senilai 320 miliar rupiah atau menambah kanal untuk teknologi CDMA bagi Bakrie Telecom dan Telkom Flexi.

Pada Februari nanti, masa 100 hari telah dilewati oleh Tifatul. Sebagai pejabat publik, sudah sewajarnya Tifatul memanfaatkan waktu tersisa untuk lebih mengenali kekuatan internal departemennya  agar bisa berkarya lebih nyata bagi dunia TIK nasional ketimbang sibuk memoles citra untuk pesta demokrasi 2014. [dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s