291209 Jasa yang Belum Redup

Sepanjang tahun ini bisa dikatakan perbincangan tentang layanan SMS tidak marak di media massa. Topik yang diangkat umumnya adalah tentang meroketnya layanan instant messaging melalui  BlackBerry atau ponsel yang memiliki aplikasi tersebut.

Hal ini tak bisa dilepaskan dari fenomena penggunaan layanan BlackBerry yang melesat tajam. Saat ini BlackBerry   telah digunakan 700 ribu pelanggan alias  melonjak lebih dari 500 persen  dibandingkan  tahun sebelumnya.

Pemicunya tak lebih dari adanya aplikasi instant messaging berupa Yahoo Messenger, BlackBerry Messenger, atau Gtalk yang membuat pelanggan merasa lebih murah berkomunikasi dengan pola all you can eat ketimbang setiap pesan dikenakan biaya ala SMS.

Tetapi benarkah demikian adanya nasib SMS tahun ini? Jika menilik laporan keuangan dari operator, rasanya jasa yang bisa digunakan oleh semua kalangan ini masih menjadi primadona. Lihat saja, hampir di semua operator jasa ini memiliki kontribusi sebesar 30 sampai 40 persen bagi total pendapatan dalam satu tahun.

Berdasarkan catatan, saat ini dari rata-rata trafik SMS  per hari biasa operator bisa mendapatkan uang segar sekitar  100  hingga 500 juta rupiah. Bahkan ketika saat peak season seperti natal atau Lebaran, bisa mencapai  satu miliar hingga 1,5 miliar rupiah per hari.

Bandingkan dengan layanan BlackBery dimana walau terkesan tinggi dari sisi Average Revenue Per Users (ARPU) yakni sekitar 150 ribu rupiah tetapi harus dibagi dengan Research In motion (RIM) sebagai prinsipal jasa. Belum lagi investasi untuk meningkatkan kapasitas ke perusahaan asal Kanada tersebut.

Sinyal SMS belum meredup juga bisa dilihat dari trafik komunikasi saat natal lalu dimana   trafik SMS Indosat naik  30 persen   dan XL sebesar 11 persen. Belum lagi di saat lebaran dimana Telkomsel bisa mengirimkan 594 juta SMS dalam satu hari, diikuti Indosat (  360,7 juta SMS), dan XL (270 juta SMS)

Saat ini trafik SMS di Telkomsel dalam kondisi normal    mencapai 380 juta SMS per hari, XL (320 juta SMS per hari), dan Indosat  (492 juta sms per hari).

Lonjakan penggunaan itu tetap terjadi walau tiga tahun lalu, beberapa operator kesandung kasus kartel tarif SMS  saat mencoba mengatur tarif layanan tersebut sebesar  250- 300 rupiah per SMS.

Harga sebesar itu muncul  karena biaya produksi saat itu adalah sekitar 190 rupiah belum termasuk biaya promosi, dan lainnya. Sedangkan saat ini tarif SMS lintas operator sekitar 150 rupiah.

”Jasa SMS tetap akan menjadi primadona bagi operator. Soalnya layanan ini mudah digunakan dan kepastian penerimaannya real time,” kata praktisi telematika Bayu Samudiyo kepada Koran Jakarta, Senin (28/12).

Menurut Bayu, pengguna ponsel di Indonesia masih didominasi oleh pelanggan dengan kemampuan basic telephony alias suara dan SMS. ”Pengguna yang full fitur multimedia itu paling lima persen dari 180 juta pelanggan seluler. Jadi, SMS itu dimata pelangga tetap jasa yang murah meriah,” katanya.

Chief Marketing Officer Indosat  Guntur S. Siboro menyakini trafik SMS akan tetap bertumbuh dalam waktu lima tahun ke depan walaupun jumlahnya tidak akan besar. ”Prediksinya tak lebih dari single digit,” katanya.

Menurut Guntur, instant   messaging masih memiliki hambatan dalam penggunaan oleh early adopter dan secara  inter system memiliki  “pulau” tersendiri seperti Yahoo Messenger atau BlackBerry Messenger. ”SMS itu tinggal click and go. Jadi semua umur bisa,” katanya.

Pada kesempatan lain, Praktisi telematika Faizal Adiputra mengungkapkan, di masa depan tren dari operator menjual SMS lebih dalam bentuk gelondongan alias bulk order. ”Trennya sudah mulai keihatan dari sekarang. Pelanggan dipaksa bayar didepan untuk pemakaian dalam jumlah tertentu. Padahal belum tentu semua paket yang ditawarkan akan dihabiskan oleh pelanggan dalam periode yang ditawarkan,” katanya.

Menanggapi hal itu,   Guntur berkilah, maraknya paket berjualan gelondonngan tak lebih dari permainan pemasaran. ”Sebenarnya itu dilakukan juga di suara atau data.  Konsepnya adalah beli banyak dalam paket maka harga akan lebih murah per satuan,” katanya.

Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menambahkan, agar jasa SMS tetap menjadi primadona operator harus berani berinovasi dalam sistem pentarifan. ”Penawaran per karakter satu rupiah ala esia jelas inovasi yang bagus untuk merangsang pelanggan menggunakan SMS dengan tarif murah. Saat ini baru esia yang berani menawarkan pola seperti ini karena didukung alat billing system,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s