291209 Menkominfo Siapkan Rudi Lumanto untuk Anggota BRTI

JAKARTA—Menkominfo Tifatul Sembiring dikabarkan telah menyiapkan Dr Rudi Lumanto sebagai wakil  pemerintah di Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) untuk menggantikan Abdullah Alkaff yang menjadi staf khusus Mendiknas Mohammad Nuh.

Rudi saat ini menjadi  staf Khusus Menkominfo Bidang Sistem Informasi. Sebelumnya pria ini sempat menjadi  staf Khusus Mentan Anton Apriantono untuk  Bidang Peningkatan Daya Saing dan Inovasi saat era kabinet Indonesia Bersatu pertama.

Kedua menteri yang dibantu oleh Rudi berasal dari partai yang sama yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Rudi pun disebut-sebut memiliki hubungan ideologis dengan PKS.

“Pengganti Pak Alkaff sudah pasti Pak Rudi. Tinggal menyelesaikan masalah administrasi saja. Pak Rudi juga mulai diutus untuk mengetahui dunia telekomunikasi, kemarin baru pulang dari Beijing untuk ikut pembahasan International Telecommunication Union (ITU) tentang konvergensi,” ungkap Sumber Koran Jakarta, Senin (28/12).

Untuk diketahui, BRTI terdiri dari lima perwakilan masyarakat dan dua unsur pemerintah. Dikabarkan dalam susunan baru organisasi Depkominfo, lembaga  ini akan tidak eksis lagi mulai 2011.

Menanggapi hal itu, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S Dewo Broto mengaku tidak tahu tentang adanya penunjukkan Rudi oleh Menkominfo. “Saya belum dengar kabarnya,” katanya.

Berkaitan dengan nasib BRTI  sendiri setelah disetujuinya restrukturisasi organisasi Depkominfo oleh Kantor Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan), Gatot menegaskan, lembaga tersebut akan tetap eksis.

“Tidak benar itu BRTI dibubarkan. Prosesnya setelah mendapatkan persetujuan dari Menpan, harus menunggu surat keputusan presiden (Kepres) tentang organisasi baru. Terutama bagi pejabat eselon satu yang memang diatur Kepres,” katanya.

Setelah itu, Menkominfo akan mengeluarkan surat keputusan untuk pejabat diluar eselon I dimana BRTI masuk salah satu di dalamnya. Jika ini terjadi, berarti posisi BRTI masih sama dengan sekarang yakni di bawah Menkominfo alias belum independen sebagai regulator. [dni]

291209 Mobile-8 Tingkatkan Kemampuan Jaringan

JAKARTA—PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) meningkatkan kemampuan jaringan guna menghadapi lonjakan trafik saat menyambut tahun baru 2010 nanti.

“Kami meningkatkan kemampuan jaringan hingga dua kali lipat. Jasa yang diberikan perhatian khusus adalah kemampuan akses data karena di hari libur pelanggan banyak melakukan browsing internet. Apalagi promo modem murah Mobi berhasil membetot banyak pembeli seusai natal lalu,” ungkap Direktur Teknik Mobile-8 Lukas Heryanto di Jakarta, Senin (28/12).

Dijelaskannya, perseroan telah  menambah kapasitas bandwitdh menjadi 310 Mbps yang artinya bisa menampung tambahan hingga 15.000 pelanggan baru.  “Ini bisa menjamin kecepatan internet yang stabil bagi pelanggan. Selain itu, kami juga telah meningkatkan kapasitas layananan suara dan SMS hingga 2 kali lipat, sehingga pelanggan Fren dipastikan tetap dapat berkomunikasi dengan nyaman memasuki tahun baru 2010,” katanya.

Dikatakannya, berdasarkan pengalaman tahun lalu, pada saat menyambut pergantian tahun alan ada lonjakan trafik  hingga 2 kali lipat.   Khusus untuk trafik komunikasi data diperkirakan dapat melonjak hampir 3 kali lipat dibandingkan pemakaian biasanya tahun ini.

Berdasarkan catatan, saat pertukaran tahun lalu layanan SMS milik Mobile-8 naik

14  persen,  suara  turun 20 persen, dan data turun 9 persen.

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi berjanji akan mengawasi layanan data milik operator karena selama libur panjang di bulan Desember keluhan pelanggan ke regulator lumayan tinggi. “Salah satu operator yang akan kami panggil Indosat Mega Media (IM2). Kualitas layanannya banyak dikeluhkan pelanggan,” katanya.[dni]

291209 SMS Gratis Lintas Operator : Ibarat Pisau Bermata Dua

Setelah lama tak terdengar di jagat industri telekomunikasi, penawaran pengiriman SMS gratis lintas operator mulai bulan lalu muncul lagi ke permukaan.

Jika melihat dari munculnya kembali program yang dilarang oleh regulator pada akhir 2008 itu, nama Natrindo Telepon Seluler (NTS) dan Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT) pantas diapungkan.

NTS melalui merek dagang Axis secara gamblang  menawarkan bonus seribu rupiah yang dapat dimanfaatkan untuk SMS atau menelpon lintas operator. Sedangkan HCPT dengan merek Three menawarkan gratis 100 SMS per hari ke semua operator melalui kartu perdana barunya. Operator incumbent yang meniru Three adalah Indosat dengan menawarkan 50 SMS gratis jika memmbeli kartu perdana baru.

Serupa tapi  tak sama, Telkomsel dan XL membalut penawaran SMS gratis dengan  membanting harga per SMS hingga sekitar dua rupiahan.

Telkomsel untuk pelanggan kartuAS diberikan 500 SMS gratis ke semua operator dengan hanya membeli seribu rupiah. XL pun menawarkan 300 SMS gratis jika membayar 1.200 rupiah.

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno menghimbau para anggotanya untuk menghentikan penawaran SMS gratis lintas operator karena menimbulkan persaingan tidak sehat.
”Kami menghimbau para anggota yang menawarkan program pemasaran tersebut untuk menghentikan promosinya. Ini bisa memicu persaingan tidak sehat dan membebani jaringan operator penerima SMS. Ujung-ujungnya layanan ke pelanggan yang berkurang kualitasnya,” tegas Pria yang juga menjadi Direktur Utama Telkomsel itu di Jakarta, belum lama ini.
Menurut Sarwoto, memberikan SMS gratis tanpa ada entry barrier diibaratkan sebagai pisau bermata dua bagi industri. Di satu sisi bagi inisiator terjadi akuisisi pelanggan, tetapi operator penerima hanya terbebani jaringannya. Inilah yang dimaksud adanya persaingan tidak sehat terjadi.

Pasalnya, skema pentarifan SMS berbeda dengan jasa suara. Di SMS berlaku pola Sender Keep All (SKA) alias  pentarifan dimana biaya SMS diambil semuanya oleh operator pengirim. Sedangkan di suara berlaku pentarifan berbasis biaya interkoneksi yang memungkinkan revenue sharing antara operator pengirim dan penerima.

Jika dihitung berdasarkan biaya interkoneksi, produksi SMS sekitar 52 rupiah. Sedangkan saat ini tarif SMS lintas operator rata-rata 150 rupiah.

Sarwoto mengungkapkan, sesuai kesepakatan dengan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), masalah SMS gratis lintas operator akan diselesaikan oleh ATSI secara self regulation. “Sekarang ada diskusi intensif yang menimbang  kemungkinan skema tarif SMS diubah dari  SKA menjadi berbasis interkoneksi,” katanya.

Lebih Adil

Praktisi Telematika Herry Nugroho mengakui, pola pentarifan berbasis biaya interkoneksi akan lebih adil untuk jasa SMS. “Pola itu bisa menekan SMS sampah jika diberlakukan tarif yang mencolok. Tetapi alat untuk menyelenggarakan skema ini lumayan mahal, artinya ada investasi tambahan untuk beli software, membayar hak intelektual, dan kliring,” katanya.

Ketua Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Johnny Swandi Sjam mengatakan, pola berbasis interkoneksi lebih ideal dilakukan untuk melindungi operator dengan jumlah pelanggan besar.

“Saya rasa jika diterapkan tarif SMS berbasis interkoneksi tidak akan membuat tarifnya menjadi naik karena biaya interkoneksinya tidak tinggi. Selain itu, tidak benar alat untuk pentarifan itu mahal,” katanya.

Namun, Chief Marketing Indosat Guntur S Siboro mengingatkan, perubahan pola pentarifan akan berdampak kepada harga ritel dimana bisa lebih tinggi dari saat ini.

“Setahu saya tantangan soal pentarifan berbasis interkoneksi itu adalah perlunya  investasi untuk mencatat jumlah incoming sms di setiap operator sehingga rekonsiliasi interkoneksi sms bisa dilakukan oleh masing-masing operator pada akhir periode tertentu. Hal ini berbeda dengan    suara dimana  alat untuk mencatat trafiknya  sejak awal sudah dibuat karena model interkoneksi antar negara atau operator domestik dan internasional sudah ada sejak dahulu kala,” katanya.

Menurut Guntur, jika skema pentarifan diubah maka yang paling terpukul adalah operator dengan jumlah pelanggan kecil karena penentuan biaya interkoneksi melihat pola trafik. Jika trafiknya kecil maka  biaya per unitnya akan lebih besar.

Sementara Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menyarankan, masalah SMS gratis tidak perlu harus mengubah pola pentarifan. “Cukup dibuat rambu-rambu yang jelas tentang ‘gratis’ itu. Setelah kesepakatan dibuat, semua pemain harus memenuhinya, jangan nakal,” katanya.

Erik pun melihat, operator besar terpancing oleh aksi pemain kecil yang menggunakan SMS gratis untuk alat mengakuisisi pelanggan. “Seharusnya bisa menahan diri. Biarkan saja operator kecil yang “nakal” melakukan itu. Pelanggan akan memutuskan siapa yang menawarkan layanan berkualitas,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, Praktisi Telematika Bayu Samudiyo menjelaskan, masalah penawaran SMS gratis tersebut tak lebih dari akal-akalan operator untuk mengakuisisi pelanggan baru karena pelanggan lama jarang menikmati program itu.

“Berdasarkan survei, hampir 90 persen pelanggan menggunakan SMS ke sesama operator. Nah, kalau seperti itu berarti tidak semua bonus digunakan. Kalau sudah begini yang untung tentunya operator,” katanya.

Bayu pun meragukan kesungguhan operator menerapkan pola berbasis interkoneksi bagi SMS karena bisa menekan  margin operator. “Ini tak lebih gertak operator besar. Industri telekomunikasi tidak ‘semanis’ dulu lagi. Mana mungkin operator rela margin kian tergerus,” tegasnya.

Secara terpisah, Anggota Komite BRTI Heru Sutadi menegaskan, ATSi harus secepatnya menentukan sikapnya dalam membereskan SMS gratis lintas operator. “Kami sudah memberikan peluang bagi industri untuk membuat code of conduct-nya. Setahun tidak ada kabar, sekarang ribut-ribut lagi. Katanya industri bisa membereskan masalah bisnis secara mandiri. Mana bukitnya,” sesalnya.

Heru mengatakan, jika akhirnya ATSI memilih pola pentarifan SMS berbasis interkoneksi, regulator tidak keberatan karena skema itu memang bisa melindungi konsumen. “Pola pentarifan berbasis interkoneksi memang lebih adil dan transparan. Di belahan dunia lain juga banyak yang berbasis interkoneksi dan tarifnya tidak menjadi lebih mahal. Alasan alat untuk menghitung interkoneksi mahal rasanya tidak masuk akal dan tidak pro perubahan,” ketusnya.[dni]

291209 Jasa yang Belum Redup

Sepanjang tahun ini bisa dikatakan perbincangan tentang layanan SMS tidak marak di media massa. Topik yang diangkat umumnya adalah tentang meroketnya layanan instant messaging melalui  BlackBerry atau ponsel yang memiliki aplikasi tersebut.

Hal ini tak bisa dilepaskan dari fenomena penggunaan layanan BlackBerry yang melesat tajam. Saat ini BlackBerry   telah digunakan 700 ribu pelanggan alias  melonjak lebih dari 500 persen  dibandingkan  tahun sebelumnya.

Pemicunya tak lebih dari adanya aplikasi instant messaging berupa Yahoo Messenger, BlackBerry Messenger, atau Gtalk yang membuat pelanggan merasa lebih murah berkomunikasi dengan pola all you can eat ketimbang setiap pesan dikenakan biaya ala SMS.

Tetapi benarkah demikian adanya nasib SMS tahun ini? Jika menilik laporan keuangan dari operator, rasanya jasa yang bisa digunakan oleh semua kalangan ini masih menjadi primadona. Lihat saja, hampir di semua operator jasa ini memiliki kontribusi sebesar 30 sampai 40 persen bagi total pendapatan dalam satu tahun.

Berdasarkan catatan, saat ini dari rata-rata trafik SMS  per hari biasa operator bisa mendapatkan uang segar sekitar  100  hingga 500 juta rupiah. Bahkan ketika saat peak season seperti natal atau Lebaran, bisa mencapai  satu miliar hingga 1,5 miliar rupiah per hari.

Bandingkan dengan layanan BlackBery dimana walau terkesan tinggi dari sisi Average Revenue Per Users (ARPU) yakni sekitar 150 ribu rupiah tetapi harus dibagi dengan Research In motion (RIM) sebagai prinsipal jasa. Belum lagi investasi untuk meningkatkan kapasitas ke perusahaan asal Kanada tersebut.

Sinyal SMS belum meredup juga bisa dilihat dari trafik komunikasi saat natal lalu dimana   trafik SMS Indosat naik  30 persen   dan XL sebesar 11 persen. Belum lagi di saat lebaran dimana Telkomsel bisa mengirimkan 594 juta SMS dalam satu hari, diikuti Indosat (  360,7 juta SMS), dan XL (270 juta SMS)

Saat ini trafik SMS di Telkomsel dalam kondisi normal    mencapai 380 juta SMS per hari, XL (320 juta SMS per hari), dan Indosat  (492 juta sms per hari).

Lonjakan penggunaan itu tetap terjadi walau tiga tahun lalu, beberapa operator kesandung kasus kartel tarif SMS  saat mencoba mengatur tarif layanan tersebut sebesar  250- 300 rupiah per SMS.

Harga sebesar itu muncul  karena biaya produksi saat itu adalah sekitar 190 rupiah belum termasuk biaya promosi, dan lainnya. Sedangkan saat ini tarif SMS lintas operator sekitar 150 rupiah.

”Jasa SMS tetap akan menjadi primadona bagi operator. Soalnya layanan ini mudah digunakan dan kepastian penerimaannya real time,” kata praktisi telematika Bayu Samudiyo kepada Koran Jakarta, Senin (28/12).

Menurut Bayu, pengguna ponsel di Indonesia masih didominasi oleh pelanggan dengan kemampuan basic telephony alias suara dan SMS. ”Pengguna yang full fitur multimedia itu paling lima persen dari 180 juta pelanggan seluler. Jadi, SMS itu dimata pelangga tetap jasa yang murah meriah,” katanya.

Chief Marketing Officer Indosat  Guntur S. Siboro menyakini trafik SMS akan tetap bertumbuh dalam waktu lima tahun ke depan walaupun jumlahnya tidak akan besar. ”Prediksinya tak lebih dari single digit,” katanya.

Menurut Guntur, instant   messaging masih memiliki hambatan dalam penggunaan oleh early adopter dan secara  inter system memiliki  “pulau” tersendiri seperti Yahoo Messenger atau BlackBerry Messenger. ”SMS itu tinggal click and go. Jadi semua umur bisa,” katanya.

Pada kesempatan lain, Praktisi telematika Faizal Adiputra mengungkapkan, di masa depan tren dari operator menjual SMS lebih dalam bentuk gelondongan alias bulk order. ”Trennya sudah mulai keihatan dari sekarang. Pelanggan dipaksa bayar didepan untuk pemakaian dalam jumlah tertentu. Padahal belum tentu semua paket yang ditawarkan akan dihabiskan oleh pelanggan dalam periode yang ditawarkan,” katanya.

Menanggapi hal itu,   Guntur berkilah, maraknya paket berjualan gelondonngan tak lebih dari permainan pemasaran. ”Sebenarnya itu dilakukan juga di suara atau data.  Konsepnya adalah beli banyak dalam paket maka harga akan lebih murah per satuan,” katanya.

Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menambahkan, agar jasa SMS tetap menjadi primadona operator harus berani berinovasi dalam sistem pentarifan. ”Penawaran per karakter satu rupiah ala esia jelas inovasi yang bagus untuk merangsang pelanggan menggunakan SMS dengan tarif murah. Saat ini baru esia yang berani menawarkan pola seperti ini karena didukung alat billing system,” katanya.[dni]