281209 Trafik Komunikasi Natal Hanya Naik Tipis

JAKARTA—Kenaikan trafik komunikasi selama hari natal lalu di dua operator telekomunikasi hanya naik tipis. Kenaikan menembus dua digit dimiliki oleh jasa data dan SMS.

Kedua operator yang dipantau adalah PT XL Axiata Tbk (XL) dan PT Indosat Tbk (Indosat). XL memiliki 26,7 juta pelanggan, sedangkan Indosat 28,7 juta pelanggan.

“Kondisi jaringan Indosat aman terkendali selama perayaan natal lalu.  Tingkat keberhasilan pengiriman sms, suara maupun data rata-rata mencapai  99 persen,” ungkap Juru bicara Indosat Adita Irawati di Jakarta, Minggu (27/12).

Untuk lonjakan trafik pada saat Natal, Adita mengungkapkan,  berkisar 30 persen untuk  SMS, dan 15 persen untuk suara  dan  data jika dibandingkan dengan trafik di  hari biasa pada awal Desember 2009.

Untuk menyambut natal, Indosat telah menyiapkan mencapai kapasitas jaringan dengan dukungan 17.618 BTS sebesar 12,9 juta Erlang per hari (setara dengan 774 juta menit kanal suara) dan kapasitas SMS ditingkatkan hingga 2 kali lipat dibandingkan  tahun lalu atau mencapai  492 juta sms per hari. Sedangkan untuk data disiapkan kapasitas sebesar   50 Terabytes per hari.

Secara terpisah GM Corporate Communication XL Febriati Nadira mengungkapkan, trafik tertinggi terjadi di Sumatera Bagian Utara yakni sebesar 19 persen, Jawa Barat dan Jawa Tengah 10 persen.

“Kenaikan trafik dimulai pada H-1 (24/12). Lonjakan trafik tertinggi terjadi pada hari H (25/12) dengan trafik percakapan 810 juta panggilan, SMS (370 juta SMS) dan  data 4,71 terabytes,” ungkapnya.

Diungkapkannya, jika dibandingkan dengan trafik di hari biasa, pada H-1 untuk suara terjadi  780 juta call (naik 3,3% ) dengan total durasi 600 juta menit (naik 5,3%). Sedangkan pada hari H, terjadi  810 juta call (naik 7,3%) dengan durasi 630 juta menit (naik 10,5%).

Sementara untuk SMS  pada H-1 terdapat  355 juta SMS (naik 11%)
dan hari H terjadi  370 juta SMS (naik 15,6%). Untuk data, pada H-1 ada akses mencapai   4,43 terabytes (naik 16,6%) dan hari H sebesar 4,71 terabytes (naik 24%)

Pada hari biasa trafik di XL untuk percakapan mencapai  755 juta call, dengan durasi   570 juta menit. Sementara trafik SMS sebesar  320 juta SMS dan data 3,8 terabytes.

Untuk melayani trafik selama natal XL  telah meningkatkan kapasitas 18.790 BTS sebesar 30 hingga 40 persen. Kemampuan SMS Center pun  ditingkatkan untuk melayani  30.000 SMS per detik. “Kami memperkirakan lonjakan trafik suara dan SMS sekitar 20 persen,” katanya.[dni]

281209 Izin Prinsip Internux Terancam Dicabut

JAKARTA–Izin prinsip penyelenggara Broadband Wireless Accsess (BWA) yang dimiliki  PT Internux terancam dicabut oleh Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) karena belum membayar kewajiban up front fee dan Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) frekuensi pada negara.

Untuk diketahui, hingga tanggal jatuh tempo  17 November 2009 dan kemudian memasuki tahap perpanjangan pertama yaitu 20 November 2009 negara telah menerima kewajiban pembayaran BHP frekuensi radio dari para pemenang tender BWA non konsorsium yaitu  PT Telkom, PT Indosat Mega Media dan PT First Media.

Kemudian setelah tanggal 20 November 2009, PT. Berca Hardayaperkasa dan PT. Jasnita Telekomindo menyusul memenuhi kewajiban.  Khusus untuk PT. Jasnita Telekomindo telah memenuhi pembayaran BHP
frekuensi radio beserta denda, sedangkan PT. Berca Hardayaperkasa baru memenuhi kewajiban pembayaran BHP frekuensi radio.

Hutang Internux kepada negara yang memenangkan zona Jabotabek di tender BWA tersebut hanya dari upfront fee sebesar 110,033 miliar rupiah.

“Saat ini hanya Internux yang belum melakukan pembayaran sama sekali. Sedangkan untuk Berca kami masih mengejar pembayaran denda 2 persen dari total kewajibannya karena telat melakukan pembayaran,” ungkap Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S Dewo Broto di Jakarta, Minggu (27/12).

Diungkapkannya, pemerintah memberikan batas waktu hingga 20 Januari 2010 bagi Internux untuk menyelesaikan kewajibannya kepada negara. Jika tidak dipenuhi, maka izin prinsip yang dikantongi perusahaan itu akan dicabut.

“Langkah ini dilakukan untuk memberikan kepastian hukum dan perlakuan yang sama bagi penyelenggara jaringan tetap lokal berbasis packet switched yang menggunakan pita frekuensi 2.3 GHz untuk keperluan layanan pita lebar nirkabel,” tegasnya.

Internux dikenal sebagai Penyedia Jasa Internet (PJI) di Makassar. Ketika tenggat waktu pertama pembayaran jatuh tempo, perusahaan ini mengulur waktu dengan menanyakan kesiapan perangkat dalam negeri untuk teknologi BWA.

Kabar beredar kepemilikan saham di perusahaan ini sekarang didominasi oleh perusahaan asal Korea Selatan.

Sedangkan pembayaran lainnya yang ditunggu oleh pemerintah dari pemenang berbentuk konsorsium pada  26 Januari 2010.

Kedua pemenang itu adalah Konsorsium Wimax Indonesia (akan menjadi Wireless Telecom Universal) serta Konsorsium Comtronics Systems dan Adiwarta Perdania.[Dni]

261209 Maskapai Belum Siap Bayar Pajak Penyewaan

JAKARTA—Maskapai di Indonesia mengaku belum siap dengan pungutan pajak bagi penyewaan pesawat terbang (Lease) sebesar 20 persen pada Januari 2010 karena dinilai memberatkan biaya operasional.

“Jika pungutan itu dilakukan, tarif penerbangan bakal melonjak. Inilah alasan kami menolak pemberlakuan pajak tersebut. Kami telah meminta Departemen Perhubungan untuk menolak pemberlakuan pajak,   Selain itu, asosiasi  juga segera menemui Departemen Keuangan untuk meminta  dalam memberikan pajak lebih rasional,” ungkap Sekjen Indonesia National Air Carriers Association (Inaca), Tengku Burhanuddin di Jakarta, Kamis (24/12).

Menurut Tengku, saat ini kondisi industri penerbangan Indonesia masih dalam tahap sedang  berkembang, sehingga belum waktunya untuk dikenakan pajak sebesar itu. “Jika dikenakan pajak sebesar itu, darimana maskapai mendapatkan keuntungan,” katanya.

Dikatakannya,  jika menilik kondisi saat ini maskapai baru akan siap dengan kebijakan pemerintah itu dalam waktu empat hingga lima tahun ke depan. “Saat ini maskapai sedang melakukan persiapan untuk menghadapi liberalisasi penerbangan yang akan diterapkan pada 2013,” tuturnya.

Diungkapkannya,  saat ini seluruh operator penerbangan di Indonesia memiliki total pesawat sebanyak sekitar 750 unit pesawat. Dari jumlah pesawat tersebut, sebanyak 90 persennya adalah pesawat yang disewa. Kebijakan menyewa pesawat dilakukan arena harga armada jika dibeli  sangat mahal.

Apabila setiap membayar sewa pesawat maskapai diwajibkan juga membayar pajaknya sebesar 20 persen, maka pendapatan maskapai bakal semakin menipis. Padahal, bisnis penerbangan memiliki biaya besar untuk keselamatan.

“Sebenarnya rencana pajak barang sewaan  tidak hanya diberlakukan kepada pesawat terbang saja. Tetapi diperuntukkan bagi barang sewaan dari luar negeri, termasuk kapal
dan pesawat. Namun hingga kini, baru maskapai saja yang merasa keberatan,” katanya.

Sebelumnya,  Dirjen Perhubungan Udara Herry Bakti S Gumai menjanjikan, masalah pembebanan pajak berganda akan dibicarakan dengan  dengan Departemen Keuangan  agar maskapai bisa meremajakan armada secara cepat.

Naikkan Load Factor
Pada kesempatan lain, maskapai lokal berharap dapat meningkatkan rata-rata tingkat isian (Load Factor) pada tahun depan seiring membaiknya kondisi perekonomian dan naiknya daya beli masyarakat.

“Pada tahun lalu rata-rata load factor kami 75 persen. Pada tahun ini naik sedikit menjadi 76 persen. Tahun depan diperkirakan juga naik tapi tidak banyak. Sementara dari jumlah penumpang, sampai akhir tahun ini sudah mencapai target kami sebanyak 3,5 juta orang,” ungkap  Presiden Direktur PT Indonesia AirAsia Dharmadi.

Head of Corporate Communication Mandala Trisia Megawati KD memperkirakan tahun depan rata-rata load factor perseroan akan  mencapai 86 persen.Pada 2008 lalu setidaknya 3,7 juta penumpang dilayani penerbangannya ke 17 kota tujuan oleh 11 pesawat Mandala.

“Pertumbuhan organik penumpang biasanya 10 persen per tahun. Tapi tergantung pasarnya. Tahun ini dengan sempat terjadinya krisis maka jumlah penumpang turun makanya pertumbuhan penumpang belum bisa diperkirakan,” katanya.

Dikatakannya, pada 2010  Mandala akan mendatangkan 4 sampai 6 pesawat Airbus A320 dengan kapasitas 180 penumpang.  Pesawat baru itu rencananya akan digunakan untuk melayani rute-rute regional baru yang akan dibuka Mandala.

Sedangkan Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menargetkan rata-rata load factor sepanjang 2010 menjadi 88 persen. Angka ini naik sedikit dibandingkan perkiraan rata-rata load factor tahun ini sebesar 85 persen.
“Pertumbuhan penumpang terjadi karena daya beli masyarakat membaik seiring dengan membaiknya keadaan ekonomi,” kata Edward.

Sepanjang 2009 setidaknya Lion melayani 82 kota tujuan penerbangan dengan jumlah pesawat sebanyak 53 unit. Sementara, tahun lalu Lion hanya melayani penerbangan dengan 46 pesawat.

“Meskipun jumlah pesawat bertambah, penambahan kapasitas kursi hanya naik 10% dibanding 2008. Karena pesawat lama ada yang dialihkan ke Wings Air, lalu yang baru digunakan oleh Lion,” ujarnya.[dni]