241209 Menanti Perubahan Klasemen

Salah satu informasi yang ditunggu oleh pelaku usaha yang berkecimpung di industri telekomunikasi menjelang tutup tahun ini adalah tentang performa dua operator yakni XL dan Indosat.

XL yang telah resmi berganti nama menjadi PT XL Axiata Tbk pada Rabu (23/12) banyak diprediksi akan menggusur  posisi nomor dua di klasemen kompetisi jasa nirkabel Indonesia yang selama ini diduduki Indosat.

Berdasarkan kinerja kuartal ketiga tahun ini, posisi pertama masih diduduki oleh Telkomsel dengan 80 juta pelanggan, kedua Indosat (28,7 juta pelanggan), dan XL (26,6 juta pelanggan). Telkomsel tercatat menguasai 47 persen pangsa pasar, disusul Indosat 18 persen, dan XL 15 persen.

Sedangkan untuk infrastruktur jaringan, Telkomsel memimpin dengan 30 ribu BTS, disusul XL (18.790 BTS), dan Indosat (17.618 BTS).

Berdasarkan kinerja tiga operator pada kuartal ketiga  Telkomsel mencatat  pendapatan usaha sebesar  21,041 triliun rupiah, Indosat (Rp 10,01 triliun), dan XL  (Rp 9,8 triliun).

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi kala memaparkan kinerja perseroan pada kuartal tiga lalu mengungkapkan, target perseroan diakhir tahun ini adalah mampu menggusur posisi Indosat tidak hanya dari sisi pelanggan tetapi juga pendapatan jasa selulernya.

“Jumlah pelanggan mungkin bisa bubble. Tetapi pendapatan usaha tidak bohong. Dibandingkan secara apple to apple dengan kinerja seluler kompetitor, memang sudah beda tipis. Semoga akhir tahun nanti kita bisa membawa kabar gembira,” ungkapnya kala itu.

Sumber Koran Jakarta di sentra-sentra penjualan telepon seluler di kawasan Jabotabek mengungkapkan, untuk jumlah pelanggan XL pada posisi Desember ini telah berhasil menembus angka 30 juta pelanggan.

“Saya rasa untuk target jumlah pelanggan telah berhasil dilampaui oleh XL. Kalau begini bisa saja posisi di klasemen akhir berubah untuk pertama kalinya setelah sekian lama dua besar didominasi oleh Telkomsel dan Indosat,” katanya.

Masih menurut sumber tersebut, XL pun di kawasan Sumatera sudah menjadi nomor dua dengan mengungguli Indosat dari sisi akuisisi pelanggan. “Pusat pertempuran memang di Jawa. Tetapi XL mulai menggempur kawasan Sumatera. Di kawasan itu, Telkomsel saja mulai merasa terusik dengan sepak terjang XL,” katanya.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro ketika dikonfirmasi tentang ancaman dari XL itu merasa perseroan masih dalam posisi aman hingga akhir tahun ini. “Data-datanya harus diverifikasi. Misalnya untuk BTS, jika XL lebih banyak kenapa Indosat membayar Biaya Hak Penyeleenggaraan (BHP) frekuensi lebih besar,” katanya.

Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E. Marinto mengatakan, jika XL memang memiliki ambisi untuk mencapai nomor dua di industri sebagai hal yang lumrah. “Bagi kami itu hal yang biasa dalam kompetisi. Tetapi untuk menasbihkan secara jumlah pelanggan benar-benar mantap di posisi nomor dua harus dilihat enam bulan setalah posisi itu diraih. Soalnya tingkat pindah layanan pelanggan di Indonesia lumyan  tinggi,” katanya.

Pada kesempatan lain, Praktisi telematika Suryatin Setiawan menilai suatu hal yang lumrah posisi di klasemen berubah pada akhir tahun nanti karena kompetisi makin ketat. “Operator yang agresif tentu meraih hasil positif. Indosat di pertengahan tahun ini mengalami pergantian manajemen sehingga ada masa transisi. Mungkin saja manajemen baru menyiapkan sesuatu di tahun  depan,” katanya.

Persaingan Vendor

Selain persaingan di antara operator. Hal lain yang pantas disimak adalah persaingan antar penyedia perangkat, terutama bagi perusahaan dari kawasan Eropa dengan China.

Pada tahun ini  vendor dari China, Huawei, berhasil bersinar di industri telekomunikasi dengan banyak memenangkan tender dari Telkom grup untuk pengadaan perangkat. Huawei berhasil memenangkan tender Palapa Ring, High Speed Packet Access (HSPA+), bahkan rencananya Telkomsel akan mengganti perangkat di Pulau Jawa dari Nokia Siemens Network (NSN) ke Huawei.

“Kita memang akan melakukan island-nisasi perangkat agar lebih efektif. Rencananya jarigan 3G di Jakarta akan menggunakan Huawei. Sedangkan di Jawa Tengah 2G dan  3G juga memakai perusahaan asal China itu,” ungkap  Aulia.

Head, Customer Marketing & Communication Regional Marketing Asia Pacific Nokia Siemens Network (NSN) Harith Menon mengaku tidak khawatir dengan sepak terjang Huawei. “Itu hanya peperangan kecil yang mereka menangkan. Masih banyak pertempuran lainnya karena di industri ini yang penting inovasi dalam jangka panjang,” katanya.

Menurut Praktisi Telematika Raherman Rahanan  diliriknya Huawei oleh operator karena perusahaan itu mampu memberikan perangkat dengan harga terjangkau dan barang berkualitas.

“Huawei berani menawarkan harga yang menggiurkan karena tahu operator sedang melakukan pengetatan ditengah ambisi untuk ekspansi jarinagn. Apalagi secara inovasi tidak kalah dengan perangkat dari Eropa sehingga Total Cost Ownership (TCO) lebih mengungtungkan bagi para operator,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s