231209 Vendor Eropa Tidak Takut Hadapi Perangkat China

JAKARTA–Penyedia perangkat (vendor) telekomunikasi dari Eropa tidak takut berkompetisi dengan kompetitor dari China meskipun China-Asean Free Trade Agreement (CAFTA) diimplementasikan mulai tahun depan yang berujung produk dari negeri tirai bambu itu menjadi lebih murah di Indonesia.

“Kami tidak takut berkompetisi di pasar Indonesia dengan produk mereka (China). Harga bukan segalanya di industri telekomunikasi,” tegas Head, Customer Marketing & Communication Regional Marketing Asia Pacific Nokia Siemens Network (NSN) Harith Menon di Jakarta, Selasa (22/12).

Dijelaskannya, perseroan telah melakukan reorganisasi untuk menghadapi kompetisi yang makin ketat di masa depan. Reorganisasi adalah membentuk unit bisnis, jaringan, dan solusi global.

Head of Strategy and Business Development SubRegion Indonesia Salman Zafar menambahkan, di industri yang dilihat adalah Total Cost Owner Ship (TCO) dan Total Value Ownership (TVO). “NSN untuk TVO yang terbaik di industri,” katanya.

Untuk diketahui, pada tahun ini  vendor dari China, Huawei, berhasil bersinar di industri telekomunikasi dengan banyak memenangkan tender dari Telkom grup untuk pengadaan perangkat. Huawei berhasil memenangkan tender Palapa Ring, HSPA+, bahkan rencananya Telkomsel akan mengganti perangkat di Pulau Jawa dari NSN ke Huawei.

Menanggapi hal itu, Harith mengaku tidak khawatir karena itu dianggap hanya kekalahan di perang kecil. “Ini pertempuran jangka panjang. Masih banyak teknologi yang bisa dijadikan ajang pertempuran. Salah satunya Long Term Evolution (LTE),” katanya.

Untuk LTE, Harith mengaku, harga perangkat tidak akan memberikan pengaruh walaupun dibuat di Finlandia dan Munich. “Kami juga punya pabrik di China untuk item tertentu,” katanya.

Salah strategi
Pada kesempatan sama, Strategic Intelligence Yohanes Denny mengatakan, operator di Indonesia menerapkan salah strategi dalam memasarkan teknologi broadband internet dengan memperlakukan layaknya produk suara.

“Operator menjual bandwitdh secara time base, volume base, atau unlimited. Ini justru membuat terjadinya penyalahgunaan bandwitdh,” katanya.

Menurut dia, operator seharusnya mengembangkan aplikasi lokal berbasis e-living yang membuat bandwitdh tidak boros dan devisa beredar di dalam negeri.

“Sebenarnya masyarakat itu banyak mengonsumsi low application bandwitdh yang tidak membutuhkan investasi besar. Mereka itu butuh kenyamanan kala terkoneksi internet,” katanya.

Dikatakannya, jika fenomena konsumtif bandwitdh diteruskan akan merugikan operator dan membuat solusi broadband tidak berdampak positif bagi perekonomian. “Fenomena ini harus dihentikan. Kami memiliki beberapa solusi yang bisa mengatasi itu,” katanya.[Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s