231209 Bisnis Pemeliharaan Pesawat Tetap Menarik

JAKARTA–Bisnis pemeliharaan pesawat diyakini akan tetap menarik dan tumbuh nilai pasarnya dalam waktu lima tahun mendatang karena produksi penumpang dan pesawat tetap naik.

Di Indonesia, pada tahun ini nilai pemeliharaan pesawat (Maintenance, Repair and Overhaul/MRO) sebesar 757 juta dollar AS. Dalam waktu lima tahun mendatang akan menjadi dua miliar dollar AS.

Secara global nilai bisnis MRO tahun ini 49,3 miliar dollar AS dan lima tahun mendatang menjadi 576,6 miliar dollar AS. Pertumbuhan dari bisnis ini secara global 3,1 persen tiap tahunnya.

“Di Indonesia ada sekitar 59 bengkel pesawat. Tetapi baru menguasai sekitar 30 persen pangsa pasar,” ungkap Direktur Utama Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia Richard Budihadianto di Jakarta, Selasa (22/12).

Dikatakannya, saat ini ada 300 pesawat yang lalu lalang di langit Indonesia. Dalam lima tahun mendatang junlah tersebut menjadi 700 pesawat. “Tentunya ini menjadi peluang bagi bisnis pesawat. Karena itu dari sekarang harus digarap serius agar devisa tidak lari ke luar negeri dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” katanya.

Dijelaskannya, saat ini yang menjadi kelemahan dari bengkel lokal bersaing dengan negara lain adalah masalah kapasitas dan pembiayaan. “Selain itu kita juga sangat tergantung dengan komponen impor. Keunggulan kita pada tenaga kerja yang murah,” katanya.

Berkaitan dengan kinerja dari GMF pada tahun ini, Richard mengungkapkan, perseroan mendapatkan pendapatan 1,6 triliun rupiah dengan laba sekitar 40-50 miliar rupiah. “Angka itu meleset dari target awal tahun yang ingin mencapai laba 70 miliar rupiah,” katanya.

Menurut Richard, tidak tercapainya target perseroan pada tahun depan tak bisa dilepaskan dari kondisi makro ekonomi.

“Pelanggan kami banyak pesawat kargo. Krisis ekonomi membuat banyak pesawat diparkir sehingga waktu perawatan ditunda. Tetapi pada 2010 akan banyak jatuh tempo pesawat yang harus diperbaiki,” katanya.

Sedangkan untuk tahun depan perseroan menganggarkan belanja modal sebesar 400 miliar rupiah dengan raihan pendapatan dua triliun rupiah dan laba sekitar 90 miliar rupiah.

Selanjutnya Richard menjelaskan, untuk  rencana memisahkan (spin off) tujuh unit usahanya pada tahun depan akan tetap dijalankan.

Rencananya pada tahun depan tiga hingga lima unit usaha akan dispin off, sisanya ditargetkan dilakukan pada 2011.

Tujuh unit bisnis GMF yang rencananya akan di-spin off pada 2010 adalah unit industri perlengkapan dan gas, unit pelayanan logistik, unit sekolah teknisi, unit pelayanan TI, kabin dan interior serta unit pengecatan pesawat.

Sedangkan sisanya yang akan dilepas pada 2011 adalah unit engine leasing dan unit penyediaan pekerja penerbangan.

“Untuk pengembangan anak usaha itu kita akan menggandeng investor dengan pola kerjasama bisa strategic partner, joint operation, atau joint venture,” katanya.[Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s