241209 Menanti Perubahan Klasemen

Salah satu informasi yang ditunggu oleh pelaku usaha yang berkecimpung di industri telekomunikasi menjelang tutup tahun ini adalah tentang performa dua operator yakni XL dan Indosat.

XL yang telah resmi berganti nama menjadi PT XL Axiata Tbk pada Rabu (23/12) banyak diprediksi akan menggusur  posisi nomor dua di klasemen kompetisi jasa nirkabel Indonesia yang selama ini diduduki Indosat.

Berdasarkan kinerja kuartal ketiga tahun ini, posisi pertama masih diduduki oleh Telkomsel dengan 80 juta pelanggan, kedua Indosat (28,7 juta pelanggan), dan XL (26,6 juta pelanggan). Telkomsel tercatat menguasai 47 persen pangsa pasar, disusul Indosat 18 persen, dan XL 15 persen.

Sedangkan untuk infrastruktur jaringan, Telkomsel memimpin dengan 30 ribu BTS, disusul XL (18.790 BTS), dan Indosat (17.618 BTS).

Berdasarkan kinerja tiga operator pada kuartal ketiga  Telkomsel mencatat  pendapatan usaha sebesar  21,041 triliun rupiah, Indosat (Rp 10,01 triliun), dan XL  (Rp 9,8 triliun).

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi kala memaparkan kinerja perseroan pada kuartal tiga lalu mengungkapkan, target perseroan diakhir tahun ini adalah mampu menggusur posisi Indosat tidak hanya dari sisi pelanggan tetapi juga pendapatan jasa selulernya.

“Jumlah pelanggan mungkin bisa bubble. Tetapi pendapatan usaha tidak bohong. Dibandingkan secara apple to apple dengan kinerja seluler kompetitor, memang sudah beda tipis. Semoga akhir tahun nanti kita bisa membawa kabar gembira,” ungkapnya kala itu.

Sumber Koran Jakarta di sentra-sentra penjualan telepon seluler di kawasan Jabotabek mengungkapkan, untuk jumlah pelanggan XL pada posisi Desember ini telah berhasil menembus angka 30 juta pelanggan.

“Saya rasa untuk target jumlah pelanggan telah berhasil dilampaui oleh XL. Kalau begini bisa saja posisi di klasemen akhir berubah untuk pertama kalinya setelah sekian lama dua besar didominasi oleh Telkomsel dan Indosat,” katanya.

Masih menurut sumber tersebut, XL pun di kawasan Sumatera sudah menjadi nomor dua dengan mengungguli Indosat dari sisi akuisisi pelanggan. “Pusat pertempuran memang di Jawa. Tetapi XL mulai menggempur kawasan Sumatera. Di kawasan itu, Telkomsel saja mulai merasa terusik dengan sepak terjang XL,” katanya.

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro ketika dikonfirmasi tentang ancaman dari XL itu merasa perseroan masih dalam posisi aman hingga akhir tahun ini. “Data-datanya harus diverifikasi. Misalnya untuk BTS, jika XL lebih banyak kenapa Indosat membayar Biaya Hak Penyeleenggaraan (BHP) frekuensi lebih besar,” katanya.

Deputy VP Corporate Secretary Telkomsel Aulia E. Marinto mengatakan, jika XL memang memiliki ambisi untuk mencapai nomor dua di industri sebagai hal yang lumrah. “Bagi kami itu hal yang biasa dalam kompetisi. Tetapi untuk menasbihkan secara jumlah pelanggan benar-benar mantap di posisi nomor dua harus dilihat enam bulan setalah posisi itu diraih. Soalnya tingkat pindah layanan pelanggan di Indonesia lumyan  tinggi,” katanya.

Pada kesempatan lain, Praktisi telematika Suryatin Setiawan menilai suatu hal yang lumrah posisi di klasemen berubah pada akhir tahun nanti karena kompetisi makin ketat. “Operator yang agresif tentu meraih hasil positif. Indosat di pertengahan tahun ini mengalami pergantian manajemen sehingga ada masa transisi. Mungkin saja manajemen baru menyiapkan sesuatu di tahun  depan,” katanya.

Persaingan Vendor

Selain persaingan di antara operator. Hal lain yang pantas disimak adalah persaingan antar penyedia perangkat, terutama bagi perusahaan dari kawasan Eropa dengan China.

Pada tahun ini  vendor dari China, Huawei, berhasil bersinar di industri telekomunikasi dengan banyak memenangkan tender dari Telkom grup untuk pengadaan perangkat. Huawei berhasil memenangkan tender Palapa Ring, High Speed Packet Access (HSPA+), bahkan rencananya Telkomsel akan mengganti perangkat di Pulau Jawa dari Nokia Siemens Network (NSN) ke Huawei.

“Kita memang akan melakukan island-nisasi perangkat agar lebih efektif. Rencananya jarigan 3G di Jakarta akan menggunakan Huawei. Sedangkan di Jawa Tengah 2G dan  3G juga memakai perusahaan asal China itu,” ungkap  Aulia.

Head, Customer Marketing & Communication Regional Marketing Asia Pacific Nokia Siemens Network (NSN) Harith Menon mengaku tidak khawatir dengan sepak terjang Huawei. “Itu hanya peperangan kecil yang mereka menangkan. Masih banyak pertempuran lainnya karena di industri ini yang penting inovasi dalam jangka panjang,” katanya.

Menurut Praktisi Telematika Raherman Rahanan  diliriknya Huawei oleh operator karena perusahaan itu mampu memberikan perangkat dengan harga terjangkau dan barang berkualitas.

“Huawei berani menawarkan harga yang menggiurkan karena tahu operator sedang melakukan pengetatan ditengah ambisi untuk ekspansi jarinagn. Apalagi secara inovasi tidak kalah dengan perangkat dari Eropa sehingga Total Cost Ownership (TCO) lebih mengungtungkan bagi para operator,” katanya.[dni]

241209 Kesiapan Jaringan Natal dan Tahun Baru: Memanfaatkan Peluang Terakhir

Tak terasa sebentar lagi umat Kristiani akan menyambut datangnya hari Natal. Tidak hanya itu, keceriaan juga akan berlanjut dengan datangnya tahun baru 2010.

Layaknya perayaan hari suci umat beragama Kristiani  dan penyambutan tahun baru selama beberapa waktu ini, maka beberapa sektor industri yang menunjang kesiapan acara itu pun berbenah. Tak ketinggalan sektor telekomunikasi yang mengantisipasi lonjakan trafik komunikasi masyarakat untuk menghubungi kerabatnya.

Untuk diketahui, dua momen tersebut (Natal dan Tahun Baru) merupakan peluang terakhir bagi operator menangguk keuntungan dari pelanggan dalam periode satu tahun.  Biasanya,  momen natal dan tahun baru  bisa berkontribusi sekitar 15 persen bagi total pendapatan perseroan selama setahun.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno memperkirakan, trafik basic telephony (Suara dan SM) akan mengalami peningkatan dua kali lipat, khususnya untuk jasa SMS pada hari pertukaran tahun.

“Jika melihat trennya dari tahun lalu, peningkatan terjadi dua kali lipat. Biasanya pelanggan ingin mengucapkan selamat tahun baru ke kerabatnya,” ujarnya di Jakarta, Rabu (23/12).

Sarwoto menjelaskan, untuk mengantisipasi lonjakan trafik, perseroan meningkatkan kapasitas pengiriman SMS menjadi 80.000 SMS per detik. Biasanya  di hari normal SMS yang dikirim 80 juta pengguna Telkomsel   mencapai 380 juta SMS per hari.

Sarwoto menjamin, dengan dukungan 30 ribu Base Transceiver Station (BTS) dan kapasitas handling Intelligent Network (IN) untuk kartu prabayar sebesar 92 juta pelanggan akan mampu menghadirkan  Call Setup Success Rate (CSSR) hingga  95,41 persen dan  Call Completion Success Rate CCSR)  hingga 98,81 persen nantinya.

Sedangkan GM Corporate Communication XL Febriati Nadira mengungkapkan, untuk melayani 26,6 juta pelanggannya perseroan telah meningkatkan kapasitas 18.790 BTS sebesar 30 hingga 40 persen. Kemampuan SMS Center pun  ditingkatkan untuk melayani  30.000 SMS per detik. “Kami memperkirakan lonjakan trafik suara dan SMS sekitar 20 persen,” katanya.

Diungkapkannya, pada pergantian tahun baru 2008 ke 2009 jumlah SMS yang terkirim mencapai 133 juta SMS atau naik 64,2 persen dibandingkan pergantian tahun 2007 ke 2008. Saat ini di hari normal 2009 trafik suara mencapai 755 juta panggilan per hari. Sedangkan untuk SMS sekitar 320 juta SMS per hari.

Sementara Group Head Corporate Communication Indosat  Adita Irawati mengungkapkan, berdasarkan  pengalaman masa-masa Lebaran Idul Fitri tahun ini,  maka menyambut   Natal dan Tahun Baru 2010, kapasitas jaringan untuk trafik suara ditingkatkan hingga 2 kali lipat dibandingkan tahun lalu atau   mencapai 12,9 juta Erlang per hari (setara dengan 774 juta menit kanal suara) dan kapasitas SMS ditingkatkan hingga 2 kali lipat dibandingkan  tahun lalu atau mencapai  492 juta sms per hari.

Berdasarkan catatan, Indosat dengan 28,7 juta pelanggan mengoperasikan 17.618 BTS , 364 BSC dan 105 MSC/MSS (termasuk untuk jaringan CDMA).

CDMA Tak kalah

Tak mau kalah dengan pemimpin pasar nirkabel yang diwakili tiga besar (Telkomsel, Indosat, dan XL), Bakrie Telecom dan Telkom Flexi pun ikut mengoptimalkan peluang terakhir meraih keuntungan tahun  ini.

“Pada pergantian tahun lalu terjadi kenaikan trafik suara sekitar  7 persen dan SMS  15 persen. Untuk pergantian tahun ini diperperkirakan kenaikan  secara umum masih sama dengan tahun lalu. Hanya untuk SMS diperkirakan   jumlahnya akan lebih besar dari kecenderungan tahun lalu mengingat  adanya penawaran SMS satu rupiah per karakter,” ungkap Wakil Dirut Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer.

Diungkapkannya, untuk melayani 9,81 juta pelanggan esia, perseroan telah mempersiapkan  3.468 BTS dan virtual number bagi pelanggan yang ingin keluar kota untuk layanan Esia GOGO sebesar   1.7 juta nomor. ” Kami persiapkan secara khusus Esia GoGo tahun ini karena jumlah kota yang dilayanan Esia telah bertambah. Per akhir September 2009 Esia telah hadir di 76 kota,” katanya.

Executive General Manager Divisi Telkom Flexi, Triana Mulyatsa mengatakan, untuk   menyambut lonjakan komunikasi selama  Natal dan Tahun Baru nanti, Triana mengungkapkan,  Flexi mempermudah cara mengaktifkan layanan roming Combo. Pelanggan hanya cukup melakukan panggilan ke   *777 di tempat kota tujuan maka layanan Combo   langsung aktif

Antisipasi Data

Selain mengantispasi lonjakan layanan suara dan SMS, tiga operator besar pun mempersiapkan jaringan untuk menghadapi pemakaian layanan data.

”Beberapa bulan ini masyarakat sepertinya lapar dengan bandwitdh untuk komunikasi data. Bentuk ucapan selamat pun ada yang melalui BlackBerry Messenger atau situs jejaring sosial. Ini juga harus diantisipasi,” ujar Sarwoto.

Dikatakannya, kapasitas layanan BlackBerry Telkomsel  telah ditingkatkan menjadi 100 Mbps. Sedangkan untuk mobile broadband 3G  telah didukung 4.500 Node B yang tersebar dari Sumatera hingga wilayah Timur Indonesia dengan bandwith 6 Gbps.

Febriati pun mengungkapkan, Untuk mengantisipasi lonjakan layanan data   XL telah  meningkatkan kapasitas layanan BlackBerry  hingga   180 Mbps. Selain itu  penambahan kapasitas untuk data core sekitar  30 persen dan penambahan 3 MSC (Mobile Switching Center) di Sumatera dan Jawa Timur juga dilakukan.

“Saat ini trafik data di hari normal mencapai   3,8 T bytes per hari. Diperkirakan saat pergantian tahun ada kenaikan 20 persen,” katanya.

Sementara Adita mengatakan,  perseroan  meningkatkan kapasitas hingga hampir 4 kali lipat dibandingkan masa liburan Natal dan Tahun Baru tahun lalu atau sekitar 50 Terabytes per hari. Trafik komunikasi data di masa Natal dan Tahun baru tahun ini diperkirakan melonjak hampir 3 kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Awasi

Secara terpisah, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menegaskan, meskipun untuk menyambut natal dan tahun baru regulator tidak melakukan tes jaringan seperti saat Lebaran Idul Fitri, tetapi operator tetap akan diawasi dengan ketat.

“Kami akan tetap memberikan perhatian kepada kinerja jaringan operator. Terutama tiga besar yang menguasai 85 persen pangsa pasar,” katanya.

Menurut Heru, operator harus  tetap waspada dengan kinerja jaringannya terutama jika ada program pemasaran yang bonusnya jatuh tempo saat pergantian tahun. “Operator harus belajar dari kesalahan Telkomsel dua tahun lalu dimana jaringannya tumbang saat pergantian tahun karena tidak bisa mengukur kekuatan jaringan dengan berlebihan memberikan bonus bagi pelanggan,” katanya.

Heru meminta, operator memberikan perhatian khusus untuk penyelenggaraan layanan data karena selama libur panjang minggu lalu banyak keluhan pelanggan karena sulit mengakses internet. “Hari-hari ini layanan BlackBerry sulit diakses. Katanya sudah ditingkatkan kapasitas, ini apa yang ditingkatkan. Sepertinya lips service saja. Selain itu kita juga akan mengawasi Indosat Mega Media (IM2) yang banyak dikeluhkan pelanggannya sejak minggu lalu,” tegasnya.

Heru pun meminta, operator untuk konsisten memberikan laporan kualitas layanannya per kuartal ke pelanggan sebagai bahan mengevaluasi kinerja  selama tahun ini. “Tahun ini telah ditetapkan sebagai eranya kualitas layanan. Kinerja selama setahun ini akan dinilai untuk nantinya diberikan apresiasi. Operator jangan meremehkan soal pemberian laporan ini dengan mengulur-ulur waktu,” tegasnya.[dni]

241209 Axis Bantah Berikan SMS Gratis Lintas Operator

JAKARTA—PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) sebagai pemilik merek dagang Axis membantah menawarkan promosi SMS gratis lintas operator bagi pelanggannya dalam program Bonus Seribu Rupiah.

“Tidak benar kami memberikan bonus gratis SMS dalam program itu. Tidak ada dalam design program dinyatakan penawaran gratis SMS lintas operator,” tegas Juru Bicara NTS Anita Avianty kepada Koran Jakarta Rabu (23/12).

Dijelaskannya, dalam program promosi yang ditawarkan bagi pengguna kartu prabayar Axis itu adalah menawarkan airtime bagi pelanggan. “Kita hanya menawarkan bonus airtime ke pelanggan. Terserah mau dimanfaatkan untuk SMS atau jasa suara. Saya rasa tidak semua bonus akan dimanfaatkan untuk SMS oleh pelanggan,” kilahnya.

Secara terpisah, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mendesak Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) secepatnya berkonsolidasi untuk menyelesaikan kembali maraknya penawaran   SMS gratis lintas.

“Regulator sudah jelas menghimbau menghentikan layanan itu pada awal tahun lalu. Dalam perjalanan industri minta ini diatur secara self regulation. Sebaiknya cepat diselesaikan. Jangan nanti masyarakat pikir kami tidak konsisten dengan kebijakan yang diambil,” tukasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum ATSI Sarwoto Atmosutarno telah mengeluarkan himbauan bagi  para anggotanya  yang menawarkan program SMS gratis lintas operator   untuk menghentikan promosinya karena   bisa memicu persaingan tidak sehat dan membebani jaringan operator penerima SMS.
”Kami memang meminta masalah ini dibereskan secara self regulation. Sekarang ini sedang ada diskusi terus-menerus dengan sesama anggota. Sebaiknya promo itu dihentikan karena memicu operator besar melakukan hal yang sama dan membuat persaingan menjadi karut-marut,” katanya.

Sarwoto mengungkapkan,  dalam pembahasan di ATSI ada kemungkinan skema tarif SMS diubah dari Sender Keep All (SKA) menjadi berbasis interkoneksi. SKA adalah pola pentarifan dimana biaya SMS diambil semuanya oleh operator pengirim. Sedangkan berbasis interkoneksi, ada revenue sharing antara operator pengirim dan penerima SMS.

”Kalau sudah berbasis interkoneksi   akan lebih adil. Mau dibanting harganya, jaringan penerima SMS mendapat pemasukan,” katanya.

Berdasarkan catatan, operator yang mulai menawarkan SMS gratis lintas operator saat ini adalah Three dan Axis. Three menawarkan gratis 100 SMS per hari ke semua operator dan Axis menawarkan bonus seribu rupiah yang dapat dimanfaatkan untuk SMS atau menelpon lintas operator. [dni]

241209 CSL Kaji Buka Pabrik di Indonesia

JAKARTA—Penyedia ponsel merek lokal, CSL, mengaji rencana untuk membuka pabrik atau perakitan ponsel di Indonesia karena melihat tingginya peluang produknya laris di pasar.

“Kami memang punya rencana untuk bangun pabrik di Indonesia, minimal pusat perakitanlah. Selama ini kami masih memproduksi di China. Hal ini karena 20 persen dari total perkiraan 40 juta ponsel impor dikuasai ponsel China dengan merek lokal,” ungkap Marketing Manager CSL Indonesia Ronnie di Jakarta, Rabu (23/12).

Diungkapkannya, sejak berada di Indonesia tahun ini perseroan telah menggelontorkan dana sebesar 100 ribu dollar AS untuk  mendirikan kantor pusat di Jakarta dan membuka 30 service center di sejumlah daerah bersama distributor Astech.

“Kami juga telah mulai menggandeng pengembang lokal beserta komunitas untuk membuat fitur inovatif sesuai keinginan penyuka ponsel lokal. Kita akan main lewat komunitas. Karena cuma komunitas yang mengerti apa value yang diinginkan komunitas,” katanya.

Berkaitan dengan kinerja perseroan selama  setengah tahun hadir di Indonesia dengan empat seri produk ponsel tipe Qwerty keluarannya. Ronnie mengungkapkan, tiga produk ponsel Qwerty sebelumnya telah berhasil dipasarkan sebanyak 40 ribu unit.

Ponsel itu adalah Blueberry @500 yang dibundel bersama XL dan laku terjual lebih dari 20 ribu unit. Sisanya, dua ponsel lainnya, Blueberry @8250 dan i9000 yang dibundel dengan kartu Indosat.

“Penjualan tertinggi di luar Jakarta ada di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Utara, Sulawesi, Makassar dan Manado,” katanya.

“Untuk Blueberry @9250 terbaru kami yang dibundling dengan Axis, kami targetkan 50 ribu dalam tiga bulan pertama. Kalau bisa sampai 100 ribu,” jelasnya.

Sedangkan untuk rencana ke depan, perusahaan yang sebagian sahamnya dimiliki pengusaha lokal dan asing itu, akan memperluas diperluas merek ke negara Asia Tenggara lainnya seperti Vietnam, Myanmar, Laos, termasuk India. Saat ini CSL telah ada di   China, Malaysia, Singapura, dan Thailand.[dni]

231209 Bisnis Pemeliharaan Pesawat Tetap Menarik

JAKARTA–Bisnis pemeliharaan pesawat diyakini akan tetap menarik dan tumbuh nilai pasarnya dalam waktu lima tahun mendatang karena produksi penumpang dan pesawat tetap naik.

Di Indonesia, pada tahun ini nilai pemeliharaan pesawat (Maintenance, Repair and Overhaul/MRO) sebesar 757 juta dollar AS. Dalam waktu lima tahun mendatang akan menjadi dua miliar dollar AS.

Secara global nilai bisnis MRO tahun ini 49,3 miliar dollar AS dan lima tahun mendatang menjadi 576,6 miliar dollar AS. Pertumbuhan dari bisnis ini secara global 3,1 persen tiap tahunnya.

“Di Indonesia ada sekitar 59 bengkel pesawat. Tetapi baru menguasai sekitar 30 persen pangsa pasar,” ungkap Direktur Utama Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia Richard Budihadianto di Jakarta, Selasa (22/12).

Dikatakannya, saat ini ada 300 pesawat yang lalu lalang di langit Indonesia. Dalam lima tahun mendatang junlah tersebut menjadi 700 pesawat. “Tentunya ini menjadi peluang bagi bisnis pesawat. Karena itu dari sekarang harus digarap serius agar devisa tidak lari ke luar negeri dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” katanya.

Dijelaskannya, saat ini yang menjadi kelemahan dari bengkel lokal bersaing dengan negara lain adalah masalah kapasitas dan pembiayaan. “Selain itu kita juga sangat tergantung dengan komponen impor. Keunggulan kita pada tenaga kerja yang murah,” katanya.

Berkaitan dengan kinerja dari GMF pada tahun ini, Richard mengungkapkan, perseroan mendapatkan pendapatan 1,6 triliun rupiah dengan laba sekitar 40-50 miliar rupiah. “Angka itu meleset dari target awal tahun yang ingin mencapai laba 70 miliar rupiah,” katanya.

Menurut Richard, tidak tercapainya target perseroan pada tahun depan tak bisa dilepaskan dari kondisi makro ekonomi.

“Pelanggan kami banyak pesawat kargo. Krisis ekonomi membuat banyak pesawat diparkir sehingga waktu perawatan ditunda. Tetapi pada 2010 akan banyak jatuh tempo pesawat yang harus diperbaiki,” katanya.

Sedangkan untuk tahun depan perseroan menganggarkan belanja modal sebesar 400 miliar rupiah dengan raihan pendapatan dua triliun rupiah dan laba sekitar 90 miliar rupiah.

Selanjutnya Richard menjelaskan, untuk  rencana memisahkan (spin off) tujuh unit usahanya pada tahun depan akan tetap dijalankan.

Rencananya pada tahun depan tiga hingga lima unit usaha akan dispin off, sisanya ditargetkan dilakukan pada 2011.

Tujuh unit bisnis GMF yang rencananya akan di-spin off pada 2010 adalah unit industri perlengkapan dan gas, unit pelayanan logistik, unit sekolah teknisi, unit pelayanan TI, kabin dan interior serta unit pengecatan pesawat.

Sedangkan sisanya yang akan dilepas pada 2011 adalah unit engine leasing dan unit penyediaan pekerja penerbangan.

“Untuk pengembangan anak usaha itu kita akan menggandeng investor dengan pola kerjasama bisa strategic partner, joint operation, atau joint venture,” katanya.[Dni]

231209 Vendor Eropa Tidak Takut Hadapi Perangkat China

JAKARTA–Penyedia perangkat (vendor) telekomunikasi dari Eropa tidak takut berkompetisi dengan kompetitor dari China meskipun China-Asean Free Trade Agreement (CAFTA) diimplementasikan mulai tahun depan yang berujung produk dari negeri tirai bambu itu menjadi lebih murah di Indonesia.

“Kami tidak takut berkompetisi di pasar Indonesia dengan produk mereka (China). Harga bukan segalanya di industri telekomunikasi,” tegas Head, Customer Marketing & Communication Regional Marketing Asia Pacific Nokia Siemens Network (NSN) Harith Menon di Jakarta, Selasa (22/12).

Dijelaskannya, perseroan telah melakukan reorganisasi untuk menghadapi kompetisi yang makin ketat di masa depan. Reorganisasi adalah membentuk unit bisnis, jaringan, dan solusi global.

Head of Strategy and Business Development SubRegion Indonesia Salman Zafar menambahkan, di industri yang dilihat adalah Total Cost Owner Ship (TCO) dan Total Value Ownership (TVO). “NSN untuk TVO yang terbaik di industri,” katanya.

Untuk diketahui, pada tahun ini  vendor dari China, Huawei, berhasil bersinar di industri telekomunikasi dengan banyak memenangkan tender dari Telkom grup untuk pengadaan perangkat. Huawei berhasil memenangkan tender Palapa Ring, HSPA+, bahkan rencananya Telkomsel akan mengganti perangkat di Pulau Jawa dari NSN ke Huawei.

Menanggapi hal itu, Harith mengaku tidak khawatir karena itu dianggap hanya kekalahan di perang kecil. “Ini pertempuran jangka panjang. Masih banyak teknologi yang bisa dijadikan ajang pertempuran. Salah satunya Long Term Evolution (LTE),” katanya.

Untuk LTE, Harith mengaku, harga perangkat tidak akan memberikan pengaruh walaupun dibuat di Finlandia dan Munich. “Kami juga punya pabrik di China untuk item tertentu,” katanya.

Salah strategi
Pada kesempatan sama, Strategic Intelligence Yohanes Denny mengatakan, operator di Indonesia menerapkan salah strategi dalam memasarkan teknologi broadband internet dengan memperlakukan layaknya produk suara.

“Operator menjual bandwitdh secara time base, volume base, atau unlimited. Ini justru membuat terjadinya penyalahgunaan bandwitdh,” katanya.

Menurut dia, operator seharusnya mengembangkan aplikasi lokal berbasis e-living yang membuat bandwitdh tidak boros dan devisa beredar di dalam negeri.

“Sebenarnya masyarakat itu banyak mengonsumsi low application bandwitdh yang tidak membutuhkan investasi besar. Mereka itu butuh kenyamanan kala terkoneksi internet,” katanya.

Dikatakannya, jika fenomena konsumtif bandwitdh diteruskan akan merugikan operator dan membuat solusi broadband tidak berdampak positif bagi perekonomian. “Fenomena ini harus dihentikan. Kami memiliki beberapa solusi yang bisa mengatasi itu,” katanya.[Dni]