221209 Aplikasi Lokal Mulai Menantang

Mengguritanya layanan konten milik Research in Motion (RIM) yang menawarkan model berlangganan all you can eat dalam satu perangkat bagi  pelanggan,  merangsang para kreator lokal untuk berkreasi.

Hal itu bisa dilihat dengan keluarnya aplikasi mobile community network (Mobinity.net) dan Esia Messenger pada awal Desember ini. Mobinity.net dikembangkan oleh InTouch yang selama ini dikenal sebagai pengembang aplikasi bagi Nokia. Sedangkan Esia Messenger hasil kolaborasi antara Bakrie Telecom dengan sejumlah kreator lokal.

Mobinity.net merupakan aplikasi bersifat  On Device Portal (ODP) yang khusus dibuat untuk menyediakan berbagai layanan bagi komunitas mobile yang mencakup mobiFriends (client untuk Facebook) mobiChat (client untuk Yahoo!Messenger dan MSN).

Berikutnya, mobiGroups (client untuk akses Facebook Groups) mobiNews (client untuk akses full news lengkap dengan foto dari Detik, Kompas, Republika, Seleb-TV; SonyMusic, The Jakarta Post) dan  mobiReporter yang diklaim sebagai  aplikasi warta warga  sehingga  memungkinkan pemakai menjadi wartawan dengan meng-upload foto (dari kamera ponsel), merekam suara dan mengetik berita yang dapat dilihat oleh pemakai mobinity lain.

Mobinity juga menggunakan Access Point Name (APN) khusus untuk mengakses mobile internet yang disediakan oleh operator selular sehingga pemakai bisa mengakses paket data unlimited khusus untuk mengakses layanan sepuasnya dengan harga mingguan atau bulanan yang tetap dan terjangkau. Saat ini layanan tersebut   berjalan di platform Symbian S60 dan Java MIDP 2.0.

Mobinity.net hanya mematok harga  500 rupiah flat per hari, berlaku untuk semua operator GSM. Angka itu berbeda jauh dengan   layanan Internet tak terbatas dari perangkat BlackBerry, biaya yang dibanderol oleh operator berkisar antara  3.900 sampai  8.000 rupiah per hari nya.

Saat ini InTouch sudah menggandeng Three , Axis, Indosat, Telkomsel, dan XL. Sedangkan   ponsel merk lokal yang digandeng adalah  G-Star, HT Mobile, i-Mobile, IVIO, Mito, Ti-Phone, dan Venera.

Sedangkan Esia Messenger merupakan aplikasi yang mirip dengan BlackBerry Messenger dimana memungkinkan antar sesama pelanggan Esia berkomunikasi melalui instant messaging. Personal Identification Number (PIN) dari Esia Messenger adalah nomor telepon Esia dari pelanggan.

CEO inTouch Kendro Hendra menegaskan,   Mobinity. Net miliknya siap menantang konten  RIM,  yang sama-sama menawarkan konten di atas koridor layanan unlimited. Target menggaet 100 juta pengguna seluler pun dipasang oleh perusahaan ini.
Menurut Kendro,  layanan besutan lokal ini  diharapkan mampu meningkatkan Average Revenue Per Users (ARPU) pelanggan dari operator. “Kami gunakan sistem revenue sharing dengan operator untuk aplikasi ini. besarannya fifty-fifty. Selain itu aplikasi ini juga embuat  devisa tidak lari keluar negeri alias berputar di kantong orang lokal,”  katanya.

Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengungkapkan, Esia Messenger yang sudah ditanam di Hape Esia Online milik Huawei akan dikembangkan ke ponsel bundling lainnya milik perseroan.

“Ponsel itu dirancang sepenuhnya oleh Bakrie Telecom. Sekarang banyak  operator CDMA luar negeri menayakan aplikasi ini. Sebentar lagi aplikasi ini  akan mendunia,” katanya.

Erik menegaskan, aplikasi yang dibesutnya melalui Hape Esia Online lebih murah ketimbang berlangganan jasa BlackBerry. “Langganan BlackBerry itu   sekitar  180 ribu rupiah  per bulan, atau  5 ribu rupiah per hari. Di Hape Esia Online untuk  email cuma  5 ribu rupiah   per minggu dan aplikasi lainnya  3 ribu rupiha  per minggu. Langganan ini sudah termasuk data charges,” katanya.

Secara terpisah, Praktisi Telematika Ventura Elisawati menyakini hadirnya dua aplikasi lokal ini belum akan mampu menggilas fenomena BlackBerry Messenger. “Tidak mudah menggilas BBM. Tetapi aplikasi buatan lokal itu  akan  membesarkan pasar pengguna aplikasi chit chat yang ujungnya akan berkembang ke arah data,” jelasnya.

Praktisi Telematika lainnya, Faizal Adiputra mengatakan,  aplikasi lokal akan berkembang jika tidak terikat pada satu jenis ponsel dan menggarap komunitas yang besar.

“Mobinity lebih open  terhadap platform dan operator. Secara kasat mata aplikasi ini mungkin bisa jadi lebih mudah berkembang. Tetapi  karena belum mempunyai dasar komunitas, nampak nya  akan berjalan sedikit lebih lamban dibandingkan  Esia Messenger,” katanya.

Berkaitan dengan nasib BlackBerry Messenger, Faizal menyakini, tetap akan memiliki segmen di pasar. “Sekarang tergantung Esia. Bisa tidak operator ini merangkul semua komunitas dan memposisikan aplikasi ini membantu mereka.  Kalau itu terjadi, baru namanya ancaman bagi BlackBerry Messenger,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s