221209 Sinyal Indosat Ganggu Layanan GSM Dua Negara

JAKARTA—Sinyal layanan Code Division Multiple Access (CDMA) StarOne milik PT Indosat Tbk (Indosat) menganggu layanan seluler berbasis GSM yang berada di Singapura dan Malaysia.

“Sudah ada surat resmi dari kedua negara berkaitan dengan sinyal milik Indosat dari Batam yang menganggu layanan GSM dari kedua negara tersebut. Sekarang sedang dicari jalan keluarnya untuk masalah bocornya sinyal di perbatasan tersebut,” ungkap Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi di Jakarta, Senin (21/12).

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengakui, secara teknologi CDMA sinyal yang dimilikinya lumayan kencang walaupun sudah dipasang guardband dan filter.

“Kita sudah usahakan pasang filter. Masalahnya di kedua negara tersebut tidak dipasangi filter, jadi mereka yang sengsara,” katanya.

Namun, Guntur mengaku mendapatkan, hikmah dari bocornya sinyal tersebut hingga ke negeri tetangga karena nomor StarOne Batam banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia yang berada di kedua negara tersebut.

”Saya malah dengar masyarakat Indonesia yang memiliki apartemen dengan ketinggian tertentu di kedua negara itu  malah menggunakan terminal telepon tetap StarOne untuk berkomunikasi dengan kerabat di Batam,” katanya.

Menanggapi hal itu, Direktur Kebijakan dan Perlindungan Konsumen Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala mendesak semua pihak harus menyelesaikan masalah sinyal bocor tersebut. ”Kasus ini sudah dikeluhkan oleh kedua negara sejak setahun lalu. Seharusnya ini tidak hanya diselesaikan oleh Indosat, tetapi negara pun proaktif,” katanya.

Kamilov mengingatkan, Indosat tidak boleh bangga  adanya indikasi layanan StarOne digunakan di negara tetangga karena jelas melanggar regulasi dan berpotensi merugikan negara karena pajak roaming menjadi hilang.

”Miris sekali mendengar petinggi Indosat justru bangga layanannya dipakai dengan cara seperti itu. Kalau begini terus citra Indonesia semakin negatif saja di luar negeri,” katanya.[dni]

221209 Flexi Garap Area Rural

JAKARTA—Jasa telepon tetap tanpa kabel milik Telkom, Flexi, mulai  memperluas jangkauan dan kualitas jaringan layanannya di area rural. Kali ini area yang menjadi perhatian adalah   kawasan industri Jabotabek dan enam area urban sekitarnya, seperti Karawang, Purwakarta, Serang, Cilegon, Pandeglang, dan Rangkas Bitung.

“Dia area tersebut kami memiliki 209  BTS yang masih dalam kondisi kapasitas rendah. Padahal, akses telekomunikasi terbukti bisa meningkatkan denyut perekonomian area rural. Untuk merangsang tingginya akses komunikasi kami program bebas bicara sesama Flexi dan telepon rumah dengan tarif murah di area tersebut,” ungkap  Executive General Manager Divisi Telkom Flexi, Triana Mulyatsa di Jakarta, Senin (21/12).

Dijelaskannya, pelanggan  di enam area itu yang telah mendaftar ke program ”Bebas Bicara”  selama enam bulan sejak Desember ini akan dikenakan tarif  5.500 rupiah per minggu   agar bisa melakukan panggilan tanpa batas ke seluruh pengguna Flexi dan maksimal ke tiga pengguna telepon rumah.

Sedangkan untuk   menyambut lonjakan komunikasi selama  Natal dan Tahun Baru nanti, Triana mengungkapkan,  Flexi mempermudah cara mengaktifkan layanan roming Combo. Pelanggan hanya cukup melakukan panggilan ke   *777 di tempat kota tujuan maka layanan Combo   langsung aktif.

Sementara itu, VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengungkapkan, perseroan kembali  melanjutkan  kegiatan retensi pelanggan telepon rumahnya melalui  program point reward Telepon Rumah Rejeki Tumpah (TRRT) awal tahun depan kepada pelanggan telepon rumah, Speedy, dan Yes TV.

Pada akhir program tahun ini, 31 Oktober 2009, jumlah pelanggan yang telah melakukan registrasi sebanyak 5,76 juta satuan sambungan telepon (SST) atau
sekitar 74 persen  dari total pelanggan telepon rumah sebanyak 7,74 juta SST.

“Besarnya jumlah pelanggan yang mengikutsertakan nomornya menunjukkan bahwa program TRRT cukup diminati pelanggan,” tutur Eddy.[dni]

221209 ATSI Himbau Operator Hentikan SMS Gratis

JAKARTA—Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) menghimbau para anggotanya untuk menghentikan penawaran SMS gratis lintas operator karena menimbulkan persaingan tidak sehat.

”Kami menghimbau para anggota yang menawarkan program pemasaran tersebut untuk menghentikan promosinya. Ini bisa memicu persaingan tidak sehat dan membebani jaringan operator penerima SMS. Ujung-unjungnya layanan ke pelanggan yang berkurang kualitasnya,” tegas Ketua Umum ATSI Sarwoto Atmosutarno kepada Koran Jakarta, Senin (21/12).

Dijelaskannya, sesuai kesepakatan dengan regulator pada awal tahun ini masalah SMS gratis lintas operator diserahkan kepada industri melalui ATSI untuk membereskannya setelah dikeluarkannya himbauan oleh pemerintah yang melarang promo tersebut.

”Kami memang meminta masalah ini dibereskan secara self regulation. Sekarang ini sedang ada diskusi terus-menerus dengan sesama anggota. Sebaiknya promo itu dihentikan karena memicu operator besar melakukan hal yang sama dan membuat persaingan menjadi karut-marut,” katanya.

Sarwoto mengungkapkan,  dalam pembahasan di ATSI ada kemungkinan skema tarif SMS diubah dari Sender Keep All (SKA) menjadi berbasis interkoneksi. SKA adalah pola pentarifan dimana biaya SMS diambil semuanya oleh operator pengirim. Sedangkan berbasis interkoneksi, ada revenue sharing antara operator pengirim dan penerima SMS.

”Kalau sudah berbasis interkoneksi   akan lebih adil. Mau dibanting harganya, jaringan penerima SMS mendapat pemasukan,” katanya.

Berdasarkan catatan, operator yang mulai menawarkan SMS gratis lintas operator saat ini adalah Three dan Axis. Three menawarkan gratis 100 SMS per hari ke semua operator dan Axis menawarkan bonus seribu rupiah yang dapat dimanfaatkan untuk SMS atau menelpon lintas operator. [dni]

221209 Aplikasi Lokal Mulai Menantang

Mengguritanya layanan konten milik Research in Motion (RIM) yang menawarkan model berlangganan all you can eat dalam satu perangkat bagi  pelanggan,  merangsang para kreator lokal untuk berkreasi.

Hal itu bisa dilihat dengan keluarnya aplikasi mobile community network (Mobinity.net) dan Esia Messenger pada awal Desember ini. Mobinity.net dikembangkan oleh InTouch yang selama ini dikenal sebagai pengembang aplikasi bagi Nokia. Sedangkan Esia Messenger hasil kolaborasi antara Bakrie Telecom dengan sejumlah kreator lokal.

Mobinity.net merupakan aplikasi bersifat  On Device Portal (ODP) yang khusus dibuat untuk menyediakan berbagai layanan bagi komunitas mobile yang mencakup mobiFriends (client untuk Facebook) mobiChat (client untuk Yahoo!Messenger dan MSN).

Berikutnya, mobiGroups (client untuk akses Facebook Groups) mobiNews (client untuk akses full news lengkap dengan foto dari Detik, Kompas, Republika, Seleb-TV; SonyMusic, The Jakarta Post) dan  mobiReporter yang diklaim sebagai  aplikasi warta warga  sehingga  memungkinkan pemakai menjadi wartawan dengan meng-upload foto (dari kamera ponsel), merekam suara dan mengetik berita yang dapat dilihat oleh pemakai mobinity lain.

Mobinity juga menggunakan Access Point Name (APN) khusus untuk mengakses mobile internet yang disediakan oleh operator selular sehingga pemakai bisa mengakses paket data unlimited khusus untuk mengakses layanan sepuasnya dengan harga mingguan atau bulanan yang tetap dan terjangkau. Saat ini layanan tersebut   berjalan di platform Symbian S60 dan Java MIDP 2.0.

Mobinity.net hanya mematok harga  500 rupiah flat per hari, berlaku untuk semua operator GSM. Angka itu berbeda jauh dengan   layanan Internet tak terbatas dari perangkat BlackBerry, biaya yang dibanderol oleh operator berkisar antara  3.900 sampai  8.000 rupiah per hari nya.

Saat ini InTouch sudah menggandeng Three , Axis, Indosat, Telkomsel, dan XL. Sedangkan   ponsel merk lokal yang digandeng adalah  G-Star, HT Mobile, i-Mobile, IVIO, Mito, Ti-Phone, dan Venera.

Sedangkan Esia Messenger merupakan aplikasi yang mirip dengan BlackBerry Messenger dimana memungkinkan antar sesama pelanggan Esia berkomunikasi melalui instant messaging. Personal Identification Number (PIN) dari Esia Messenger adalah nomor telepon Esia dari pelanggan.

CEO inTouch Kendro Hendra menegaskan,   Mobinity. Net miliknya siap menantang konten  RIM,  yang sama-sama menawarkan konten di atas koridor layanan unlimited. Target menggaet 100 juta pengguna seluler pun dipasang oleh perusahaan ini.
Menurut Kendro,  layanan besutan lokal ini  diharapkan mampu meningkatkan Average Revenue Per Users (ARPU) pelanggan dari operator. “Kami gunakan sistem revenue sharing dengan operator untuk aplikasi ini. besarannya fifty-fifty. Selain itu aplikasi ini juga embuat  devisa tidak lari keluar negeri alias berputar di kantong orang lokal,”  katanya.

Wakil Direktur Utama Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengungkapkan, Esia Messenger yang sudah ditanam di Hape Esia Online milik Huawei akan dikembangkan ke ponsel bundling lainnya milik perseroan.

“Ponsel itu dirancang sepenuhnya oleh Bakrie Telecom. Sekarang banyak  operator CDMA luar negeri menayakan aplikasi ini. Sebentar lagi aplikasi ini  akan mendunia,” katanya.

Erik menegaskan, aplikasi yang dibesutnya melalui Hape Esia Online lebih murah ketimbang berlangganan jasa BlackBerry. “Langganan BlackBerry itu   sekitar  180 ribu rupiah  per bulan, atau  5 ribu rupiah per hari. Di Hape Esia Online untuk  email cuma  5 ribu rupiah   per minggu dan aplikasi lainnya  3 ribu rupiha  per minggu. Langganan ini sudah termasuk data charges,” katanya.

Secara terpisah, Praktisi Telematika Ventura Elisawati menyakini hadirnya dua aplikasi lokal ini belum akan mampu menggilas fenomena BlackBerry Messenger. “Tidak mudah menggilas BBM. Tetapi aplikasi buatan lokal itu  akan  membesarkan pasar pengguna aplikasi chit chat yang ujungnya akan berkembang ke arah data,” jelasnya.

Praktisi Telematika lainnya, Faizal Adiputra mengatakan,  aplikasi lokal akan berkembang jika tidak terikat pada satu jenis ponsel dan menggarap komunitas yang besar.

“Mobinity lebih open  terhadap platform dan operator. Secara kasat mata aplikasi ini mungkin bisa jadi lebih mudah berkembang. Tetapi  karena belum mempunyai dasar komunitas, nampak nya  akan berjalan sedikit lebih lamban dibandingkan  Esia Messenger,” katanya.

Berkaitan dengan nasib BlackBerry Messenger, Faizal menyakini, tetap akan memiliki segmen di pasar. “Sekarang tergantung Esia. Bisa tidak operator ini merangkul semua komunitas dan memposisikan aplikasi ini membantu mereka.  Kalau itu terjadi, baru namanya ancaman bagi BlackBerry Messenger,” katanya.[dni]

221209 Regionalisasi Server RIM : Meretas Jalan Menuju Biaya Berlangganan Lebih Murah

Research In Motion (RIM) belum lama ini mengumumkan hingga  28 November lalu untuk kinerja  kuartal keempat selama tahun fiskal ini telah berhasil menjual 10 juta unit perangkat BlackBerry.

Angka tersebut mengalahkan kinerja  penjualan kuartal sebelumnya dimana penjualan mencapai 8,3 juta unit. Penjualan yang tinggi membuat perseroan pada periode ini memperoleh keuntungan 628,4 juta dollar AS atau meningkat 58 persen  dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun lalu  sebesar 396,3 juta dollar AS.
Hal yang menarik dari kinerja untuk kuartal ini adalah  80 persen dari pelanggan baru ternyata berasal dari sektor non korporat. Ini berarti mulai terjadi  terjadi pergeseran segmen dari pasar yang digarap oleh perusahaan asal Kanada tersebut karena  dua tahun lalu, setengah dari pelanggan baru RIM berasal dari kalangan pebisnis.

Sebenarnya, pergeseran segmen tersebut bisa dilihat secara nyata di Indonesia.  Ketika Telkomsel mulai meluncurkan layanan prabayar  dan  XL yang datang dengan inovasi berlangganan harian dari jasa RIM pada tahun ini, jumlah pelanggan BlackBerry di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat.

Saat ini diperkirakan pengguna layanan RIM di Indonesia berdasarkan mitra  adalah XL (225 ribu pelanggan), setelah itu diikuti Indosat (250 ribu pelanggan), Telkomsel (150 ribu pelanggan), Axis (20 ribu pelanggan), dan Smart Telecom (200 pelanggan).

Regionalisasi Server

Pada tahun depan, diperkirakan pertumbuhan pelanggan BlackBerry tetap akan melejit dan fenomena perang harga layanan terus berlangsung.

Berdasarkan catatan, pelanggan BlackBerry dikenakan tarif yang tidak jauh berbeda antara satu operator dan operator lainnya. Untuk tarif pascabayar paket termurah, Indosat mengenakan tarif Rp 140.000/bulan, Telkomsel Rp 180.000/bulan, XL Rp 160.000/bulan, dan Axis Rp 100.000/bulan.

Sementara  untuk tarif harian BlackBerry, Indosat menerapkan tarif 6 ribu rupiah  Telkomsel 8 ribu  rupiah, XL  5 ribu rupiah, dan Axis  3.900 rupiah.

“Melihat pertumbuhan yang akan tinggi dari jasa ini di Indonesia. Kami  mendukung perlunya regionalisasi server RIM untuk  menghemat resource bandwidth yang seharusnya ke Kanada bisa diarahkan ke dalam negeri,” ungkap Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro kepada Koran Jakarta, Senin (21/12).

Untuk diketahui, saat ini server RIM berada di Kanada dan Eropa. RIM sendiri membagi kawasan layanannya atas Amerika Serikat, Eropa, dan Asia.

GM Direct Sales XL Handono Warih mengungkapkan, beberapa mitra lokal RIM telah meminta perusahaan itu untuk mempertimbangkan  Singapura dijadikan  sebagai Hub sebelum trafik dibawa ke server.

“Kami sudah meminta secara resmi ke RIM. Kami tidak muluk-muluk meminta bangun server di Indonesia. Bangun Hub di Singapura saja itu sudah menghemat investasi karena perang harga layanan BlackBerry ini akan berlanjut,” katanya.

Sumber Koran Jakarta mengungkapkan,  selama ini dalam struktur biaya akusisi pelanggan BlackBery sebesar 25 sampai 30 persen pendapatan harus dikorbankan oleh operator hanya untuk sewa link ke server RIM. Angka ini diluar 40 persen untuk membayar lisensi ke RIM dan depresiasi perangkat . Sedangkan untuk sewa link biasanya menggunakan infrastruktur milik SingTel, Aicent, dan Tata.

Untuk diketahui, model bisnis penjualan BlackBerry yang ditawarkan vendor asal Kanada tersebut memaksa operator membayarnya di muka, sehingga yang terjadi adalah operator sibuk menjual dan melayani purnajual handset tersebut.

Hebatnya lagi, belakangan ini RIM getol mengeluarkan produk terbarunya dengan menjadikan Indonesia sebagai tempat pertama peluncuran. Akhirnya, operator yang menjadi mitra terkesan sebagai penjual perangkat ketimbang menjual layanan.

Tidak Dinikmati

“Pertumbuhan BlackBerry yang begitu pesat kurang dapat dinikmati operator lokal. Untuk itu, RIM perlu meningkatkan margin operator di Indonesia, di antaranya dengan menurunkan harga lisensi, membangun server di Tanah Air, dan melepas penjualan handset ke pasar bebas,” tegas  Guntur.

Guntur mengingatkan, pasar BlackBerry di Indonesia sangat unik, karena sampai ada layanan prabayar dengan tarif harian sehingga jumlah pelanggan untuk produk tersebut tidak bisa dipastikan secara fixed karena selalu berubah setiap hari.

Menurut dia, RIM sebaiknya tidak terlalu memfokuskan penjualan handset kepada operator dan menyerahkannya ke pasar bebas, agar operator bisa meningkatkan inovasi layanan BlackBerry dan tidak malah sibuk berjualan peranti genggam.

“Sebagai operator, kami seharusnya memberikan layanan, bukan jualan handset. Operator itu sebaiknya hanya mengurus penjualan perangkat bagi korporat saja.” ketusnya.

Guntur mengungkapkan, Indosat yangs sejak 5 tahun lalu menggarap segmen korporat hanya memiliki 12 ribu pelanggan. Untuk mengatasi itu Indosat mencoba menawarkan layanan hybrid dimana pelanggan bisa menikmati layanan korporat dengan harga ritel. Guna mendukung layanan baru ini Indosat meningkatkan kapasitas ke server RIM menjadi 120 Mbps.

Wajar

Praktisi telematika Ventura Elisawati menilai permintaan dari para mitra lokal RIM sebagai hal yang wajar karena pasar Indonesia diperhitungkan jika menilik   tingginya pertumbuhan penjualan dan  potensi  pasar yang besar.

“Kalau ada server di Asia (terlepas berada dimana pun)  biaya  bandwitdh   akan lebih murah  dan  menjadikan  biaya berlangganan bisa  diturunkan lagi,” katanya.

Namun, seandainya RIM   menempatkan server di Indonesia, Ventura meminta, regulator memastikan  azas kenyamanan dan keamanan bagi pengguna BB harus tetap terjaga seperti saat ini. “Jangan nanti server sudah di sini malah dijadikan obyek penyadapan,” katanya.

Penggagas milis Indonesia BlackBerry, Abul A’la Almaujudy mengharapkan, jika server ditempatkan di daerah yang dekat dengan Indonesia akan membuat koneksi lebih cepat dengan harga yang lebih murah.

“Ini juga bisa menguntungkan pengembang konten lokal yang ingin masuk ke Application World BlackBerry. Walaupun kenyataannya banyak pengembang lokal menempatkan server di luar negeri karena biaya sewanya lebih murah ketimbang di dalam negeri,” katanya.

Banyak Pembenahan

Pada kesempatan lain, Sekjen Depkominfo/PLT Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar mengakui banyak pembenahan yang harus dilakukan oleh regulator terkait layanan milik RIM tersebut.

“Kami sudah memulai dengan mendorong perusahaan itu membangun purna jual di Indonesia. Nanti kita akan dorong RIM membangun Hub di Indonesia karena infrastruktur backbone milik lokal tahun depan akan kuat dengan adanya Palapa Ring,” katanya.

Anggota  Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menambahkan,

regulator memerlukan   penanganan ekstra dalam mengatur layanan milik RIM karena tidak rela  Indonesia dijadikan sekadar pasar menjual perangkat dan layanan saja.

Heru mengungkapkan, saat ini  regulator sedang membidik proses pembayaran   pajak dari layanan BlackBerry Messenger (BBM) milik RIM yang berjalan di BlackBerry Internet Services (BIS) atau BlackBerry Enterprise Service (BES).

“Kami sudah meminta laporan keuangan para operator mitra RIM  terkait pola pembayaran mereka ke perusahaan tersebut. Khususnya masalah pemotongan yang dilakukan untuk RIM. Apakah dibayarkan operator atau dipotong dulu dari RIM,” jelasnya.

Menurut Heru, hingga sekarang operator belum mampu  menjawab permintaan dari regulator. “Walaupun berbasis Internet Protocol (IP) layanan itu tetap melewati originasi dari  Indonesia. Kalau begitu harusnya bayar Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP). Masak pajak buat negara dibawa lari perusahaan asing. Secara bertahap semua yang terkait layanan milik RIM itu akan dibenahi,” tegasnya.[dni]

221209 PT KA Desak PSO Dinaikkan

JAKARTA—PT Kereta Api (KA) mendesak dana Public Service Obligation (PSO) yang dianggarkan pemerintah untuk menyelenggarakan kereta api ekonomi pada tahun depan dinaikkan  agar pelayanan ke konsumen lebih berkualitas.

”Dana PSO yang dianggarkan untuk 2010 sama dengan tahun ini yaitu 535 miliar rupiah. Jika masih sebesar itu sulit menyelenggarakan layanan berkualitas untuk kereta api ekonomi,” ungkap Dirut PT Kereta Api  Ignatius Yonan di Jakarta, Senin (21/12).

Dijelaskannya, untuk meningkatkan kualitas layanan tentunya perseraon membutuhkan dana yang tidak sedikit. Solusi yang diambil oleh perseroan bisa saja menekan kualitas layanan atau mengurangi frekuensi kereta api ekonomi.

Diungkapkannya, PT KA juga sedang mengajukan kenaikan tarif kereta api sebesar 50 persen dari yang berlaku saat ini. ”Kenaikannya dibagi dalam empat tahap. Setiap tahap  kenaikannya sebesar 12,5 persen. Kita harapkan Januari atau Februari 2010 sudaha da keputusan  dan pada Juni 2010  sudah berlaku,” katanya.

Menanggapi hal itu, juru bicara Departemen Perhubungan Bambang S Ervan mengatakan masalah PSO PT KA sedang dalam pembahasan. ”Belum ada keputusan,” katanya.

Bambang pun mendesak, jika PT KA ingin dana  PSO ditingkatkan maka operator tersebut harus bisa memberikan laporan keuangan yang bertanggungjawab ke pemerintah. ”Pembukuan dana PSO jangan dicampur dong. Ini untuk transparansi,” tegasnya.

Berkaitan dengan rencana kenaikan tarif kereta api ekonomi,. Bambang mengingatkan, keputusan tidak diambil sepihak oleh pemerintah karena melibatkan semua pihak.  ”Kita selalu mempertimbangkan daya beli masyarakat. Tidak bisa main naik seperti itu saja,” katanya.[dni]