211209 Bergeser Ke Telematika 2.0

Tingginya penterasi jasa telekomunikasi di Indonesia menjadikan negeri ini akan segera bergeser ke era Telematika 2.0 mulai tahun depan.

“Indonesia bisa dikatakan sudah meninggalkan era Telematika 1.0 atau masa membangun konektivitas bagi suara dan data. Ini bisa dilihat dari tingginya angka penetrasi. Tahun depan adalah eranya Telematika 2.0,” ungkap  Wakil Ketua Kadin bidang Telematika Anindya N. Bakrie di Jakarta, belum lama ini.

Era Telematika 2.0 adalah mengisi konektivitas dengan aplikasi dan konten sehingga investasi infrastruktur bisa dioptimalkan. “Kita sudah kebobolan di era 1.0 dimana kandungan lokalnya minim sekali. Indonesia masih berpeluang di 2.0 dimana yang diandalkan adalah kreatifitas untuk membuat aplikasi,” katanya.

Anindya wajar saja memberikan sinyal di atas bagi pelaku industri lokal untuk secepatnya menggarap  aplikasi karena invasi asing sudah mulai terlihat. Facebook misalnya, situs jejaring milik Mark Zuckeberg tersebut   sudah berhasil menggaet  11 juta anggota dari Indonesia.

Fenomena lainnya adalah aplikasi yang disediakan Research in Motion untuk pengguna BlackBerry  yang membuat layanan dari perusahaan asal Kanada   digunakan sekitar 550 ribu pengguna saat ini.

Senior Director of Services GSMA, Jaikishan Rajaraman mengungkapkan  jasa data  akan berkembang dengan pesat di Indonesia jika ekosistem untuk mengembangkan teknologi ini berhasil didorong eksistensinya oleh pemerintah. Ekosistem itu mencakup ketersediaan perangkat, inovasi, serta kesiapan operator dan pelanggan.

Rajaraman menyakini,   tumbuhnya penetrasi data  akan mampu merangsang pertumbuhan pendapatan bruto atau GDP  di sebuah negara. “Setiap 10 persen penetrasi data akan meningkatkan satu persen pertumbuhan GDP. Itu adalah kontribusi secara langsung dari investasi jaringan. Belum lagi multiplier effects dari tumbuhnya kontribusi dari penyedia konten, perangkat, dan lainnya ,” katanya.

Konten Lokal

Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel Hefini Haryono mengungkapkan,  meskipun pengguna jasa data tinggi,   tetapi dari sisi  pendapatan tidak berimbang, malah cenderung merugi.

“Hal ini dipicu tingginya akses pengguna ke situs asing yang membuat konsumsi bandwitdh menjadi tinggi.  Sebetulnya keuntungan dari data itu flat. Banyak bandwith yang terbuang ke luar negeri, tapi tidak ada pemasukan buat kita. Itu yang membahayakan,” ungkapnya.

Dicontohkannya, paket BlackBerry unlimited Telkomsel hanya 180 ribu rupiah, yang membuat pengguna bisa mengunduh atau browsing sepuasnya. Bahkan, dalam keadaan tidak digunakan, bandwith bisa terbuang begitu saja, tanpa ada pemasukan tambahan bagi operator.
”Pada akhirnya, vendor ponsel seperti iPhone itu seperti kompetitornya Telkomsel. Sebab, mereka bisa mendapatkan fee dari application store kala pelanggan    mengunduh aplikasi. Sedangkan operator, tidak,” tambahnya.

Sudah Dimulai

Guna mengatasi hal ini, Telkomsel mulai menggenjot hadirnya konten lokal. Hal itu bisa dilihat   dari dibangunnya situs jejaring sosial bagi pengguna ala Facebook dengan merek MyPulau dan yang  terbaru, operator ini bekerjasama dengan Nokia meluncurkan aplikasi Nokia Life Tools (NLT) bagi pengguna kartu AS.

NLT adalah sebuah aplikasi yang ditanamkan di ponsel   pengguna Kartu AS yang menggunakan merek Nokia dari seri tertentu. Pelanggan dalam periode tertentu akan mendapatkan seputar informasi pertanian yang diberikan melalui SMS.   Untuk tahap awal Telkomsel dan Nokia membundel 280 ribu kartu dengan target aktivasi 200 ribu kartu di area Jawa.

“NLT ini sebagai upaya untuk mendorong perekonomian rakyat melalui telekomunikasi. Di pedesaan itu informasi tentang harga komoditas sangat terbatas. Sekarang Telkomsel jaringannya sudah masuk ke desa-desa. Hadirnya layanan berbasis SMS ini akan bisa mendorong petani mendapatkan harga yang fair,” kata Manager Brand Management KartuAs Telkomsel, T. Ferdi Febrian

Manager Brand Corporate Communication dan Kartu Halo Telkomsel Deasy Andriani mengungkapkan, aplikasi ini sudah dijalankan oleh Nokia di India.  “Kami lihat ini cocok diaplikasikan di Indonesia karena kontur negeri hampir sama,” katanya.

Konten lokal lainnya yang mulai diperkenalkan pada awal Desember ini adalah Mobinity.net. Aplikasi ini merupakan  On Device Portal (ODP)  dari  jejaring sosial yang dilengkapi dengan access point name (APN) khusus, yang memungkinkan operator menyediakan paket data tak terbatas (unlimited). Hal itu membuat pengguna ponsel jenis apapun yang berjalan di platform Symbian S60 dan Java MIDP 2.0 mampu menikmati beragam konten tanpa perlu mengkhawatirkan kocek yang harus dibayar. 

Adapun konten yang disuguhkan inTouch pada portal ini cukup variatif. Mulai dari mobiFriends (client untuk Facebook), mobiChat (Yahoo Messenger dan MSN Messenger), mobiGroups (Facebook Groups), mobiNews (akses berita dan foto lengkap), mobiReporter (aplikasi warta warga atau citizen journalism), sampai mobiMarket (aplikasi serupa iklan baris di berbagai portal populer, seperti SMS Iklan Kompas dan Kaskus FJB).
Angka itu berbeda jauh dengan   layanan Internet tak terbatas dari perangkat BlackBerry, biaya yang dibanderol oleh operator berkisar antara  3.900 sampai  8.000 rupiah per hari nya. Sedangkan, Mobinity.net hanya mematok harga  500 rupiah flat per hari, berlaku untuk semua operator GSM.
Saat ini InTouch sudah menggandeng Three , Axis, Indosat, Telkomsel, dan XL. Sedangkan   ponsel merk lokal yang digandeng adalah  G-Star, HT Mobile, i-Mobile, IVIO, Mito, Ti-Phone, dan Venera.

CEO inTouch Kendro Hendra mengatakan, aplikasi Mobinity. Net miliknya siap menantang konten  RIM,  yang sama-sama menawarkan konten di atas koridor layanan unlimited.

Menurut Kendro,  layanan besutan lokal ini  diharapkan mampu meningkatkan Average Revenue Per Users (ARPU) pelanggannya masing-masing. Apalagi devisa tidak lari keluar negeri alias berputar di kantong orang lokal.  “Kami gunakan sistem revenue sharing dengan operator untuk aplikasi ini. besarannya fifty-fifty,” kata kendro.

Konten lokal lainnya yang lumayan menjanjikan adalah Massive Multiplayer Online Role Playing Game (MMORPG) hasil buatan anak negeri yakni Nusantara Online.

Nama permainan yang paling terkenal di telinga gamers untuk jenis ini adalah Ragnarok Online dan World of Warcraft (WoW). Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat dari 31 juta pengguna internet, sebanyak 6 juta aktif menggunakan game online. Potensi bisnis dari game online sendiri setiap bulannya mencapai 30 miliar rupiah.

Saat ini Nusantara Online sedang dalam tahap uji coba dan mulai dikomersialkan secara terbatas untuk wilayah Bandung. Pada 2010, layanan ini akan bisa dimainkan secara nasional.

Pada kesempatan lain, Praktisi Telematika Suryatin Setiawan mengatakan, pemerintah harus mendorong hadirnya konten lokal  agar devisa tidak lari keluar negeri.

“Sekarang ini penghalang maraknya konten lokal terutama adalah operator telekomunikasi masih kurang friendly terhadap industri konten dalam hal hubungan bisnis yang kondusif,” katanya.

Belum lagi masalah  regulasi yang tidak  bersahabat kepada industri konten lokal.” Sekarang ada gejala  konten lokal baru berdiri sudah  diberikan beban. Padahal yang dibutuhkan adalah  pemilik modal  memasukkan konten sebagai portofolio investasinya di ICT,” jelasnya.[dni]

211209 Outlook Telekomunikasi 2009 : Baru Sebatas Penahan ARPU

Perjalanan industri telekomunikasi Indonesia pada tahun ini bisa dikatakan sebagai titik balik dari tahun lalu.

Jika pada April tahun lalu regulator mengeluarkan  beleid penurunan biaya interkoneksi sebesar 20 hingga 40 persen yang berujung dipangkasnya tarif ritel hingga 70 persen, maka pada tahun ini bisa dikatakan sebagai  tercapainya titik ekulibrium baru bagi operator.

Hasil dari riset  Lembaga konsultan Frost & Sullivan menunjukkan  menjelang tutup tahun ini Indonesia   diperkirakan akan memiliki 183,27 juta pelanggan dengan tingkat penetrasi mencapai 76,3 persen. Dan pada  2010 diperkirakan akana ada 204,8 juta pelanggan dengan tingkat penetrasi sebesar  84,3 persen.

Senior Vice President Frost & Sullivan Asia Pacific, Nitin Bhat mengungkapkan, secara pertumbuhan pendapatan industri, pada tahun ini diperkirakan   menjadi puncak kejayaan dari industri seluler di Indonesia dengan total pendapatan sebesar  10,364 juta dollar AS atau tumbuh 26,3 persen dibandingkan 2008.

Sedangkan pada   tahun depan, diperkirakan  terjadi pertumbuhan sebesar  13,6 persen atau senilai  11,776 juta dollar AS. “Namun selanjutnya akan  terjadi penurunan secara konstan dimana pada 2012 pertumbuhan negatif dua persen dan pada 2014 pertumbuhan negatif mencapai 4,6 persen,” ujarnya di Jakarta, belum lama ini.

Diperkirakannya, dalam waktu lima tahun ke depan akibat perang   harga dan ekspansi pasar Revenue Per Minute (RPM) bisa mencapai  3.6 dollar AS.  Hal ini akan berujung pada  Earning Before Interest Debt Tax Amortization (EBITDA) dari tiga operator yang menjadi pemimpin pasar (Telkom, Indosat, dan XL) akan terus mengalami penurunan. “EBITDA tinggi itu bisa dinikmati hingga 2011, setelah itu secara industri akan terus mengalami penurunan,” katanya.

Disarankannya, untuk mengantisipasi gejala penurunan operator mulai memperhatikan jasa data dengan melakukan pengembangan jaringan yang menunjang layanan tersebut. “Kontribusi data bagi total pendapatan satu operator  di Indonesia baru sekitar 5  persen.  Angka itu kecil sekali. Di Asia rata-rata kontribusi data sudah mencapai  27 persen dan akan menjadi 37 persen dalam lima tahun ke depan,” katanya.

Kinerja

Jika melihat  laporan keuangan dari incumbent, seperti Telkom dan XL, terlihat jasa data memang   menunjukkan fenomena yang luar biasa.

Layanan broadband internet milik Telkom yang dikenal dengan nama Speedy pada kuartal ketiga lalu  menghasilkan pendapatan sekitar  1,850 miliar rupiah atau meningkat signifikan   91.7 persen dibandingkan periode  yang sama tahun lalu.

Sedangkan di XL, kontribusi dari jasa data mengalami kenaikan dari 26 persen menjadi 27,8 persen pada semester pertama tahun ini. Bahkan, dari sisi pendapatan, jasa data mengalami kenaikan sebesar 12 persen.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah mengakui, data adalah primadona baru bagi peseroan untuk mengeruk keuntungan di masa depan setelah era basic telephony (suara dan SMS) terpukul akibat kebijakan penurunan biaya interkoneksi.

“Internet akan menjadi masa depan dari bisnis Telkom, selain tentunya seluler. Di internet Telkom memiliki Speedy, Flash, dan wimax. Ini tinggal dicari momentum yang tepat untuk membesarkanya,” katanya.

Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi  menjelaskan,   saat ini penggunaan telepon selular telah bergeser dari basic telephony (Suara dan SMS) menjadi sebuah media untuk berselancar di dunia maya baik untuk akses informasi maupun bersosialisasi dengan komunitas mereka melalui media-media jejaring sosial.

“Kami menjawab kebutuhan tersebut dengan program pemasaran yang tepat. Akibatnya terjadi peningkatan pelanggan Revenue Generating Base (RGB) 17 persen dari 21,5 juta pada September 2008 menjadi 25,2 juta pelanggan pada September 2009,” jelasnya sambil menambahkan  RGB adalah pelanggan aktif yang menggunakan layanan XL.

Pemicu

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Heru Sutadi menduga, naiknya pamor jasa data pada  tahun ini karena dipicu penggunaan datacard, smartphone seperti BlackBerry, iPhone dan ponsel canggih lainnya yang digunakan untuk mengakses  instant messaging BlackBerry Messenger, Yahoo Messenger maupun Facebook.

”Seiring meningkatnya trafik data, mulai tahun depan regulator akan lebih memperhatikan kualitas layanan yang diberikan operator untuk jasa tersebut,” katanya.

Praktisi telematika Ventura Elisawati mengatakan, di beberapa operator memang terjadi pergeseran pola trafik dari basic telephony ke Value Added Servicess (VAS) yang membutuhkan akses data.

Masih Bayi

Ventura  menilai kinerja dari jasa data yang mulai memberikan kontribusi bagi pendapatan operator masih belum berarti secara keseluruhan.

“ibarat siklus pertumbuhan manusia, jasa data itu seperti bayi yang baru lahir. Operator baru berbicara data sejak tahun lalu. Ini masih prematur,” katanya.

Menurut dia, sebagai bayi yang baru lahir ke dunia, ada kesalahan yang dilakukan oleh operator dalam memberikan gizi bagi pertumbuhannya.

Operator dinilai salah menerapkan strategi makro dengan membanting harga jasa data sehingga terjebak dalam perang harga. “Lihat saja dari sisi pendapatan, pertumbuhannya kecil, padahal secara jumlah pelanggan terjadi peningkatan yang eksponensial,” katanya.

Padahal, sebagai masa depan dari bisnis, operator harus menjaga kesehatan dari sang ‘bayi’ agar tidak layu sebelum berkembang.

Menurut Ventura, harga yang ditawarkan oleh operator saat ini tidak rasional sehingga mengecilkan kesempatan mendapatkan margin atau reinvestasi.

“Kondisi ini jika dipaksakan membuat semua pihak menderita. Hal ini karena makin banyak pelanggan, subsidi makin besar. Dan kualitas layanan akan terus menurun,” ketusnya.

Dia menyarankan,  ada kreatifitas dalam menjual jasa ketimbang bertingkah seperti sekarang ini dimana operator melakukan aksi ‘sale’ layaknya pusat perbelanjaan.

Salah satunya adalah dengan menangkap perubahan pola pemasaran dari perusahaan yang mulai bermain di mobile advertising dan marketing. “layanan ini jelas sekali bisa meningkatkan revenue dari data. Baiknya ini yang digarap ketimbang bermain di perang harga,” jelasnya.

Selain itu, lanjutnya,  stakeholder jasa data harus sering berdiskusi dengan regulator untuk membahas pengembangan sang ‘bayi’ agar tercapai saling pengertian di kedua belah pihak.

“Regulator mendesak tarif internet diturunkan, padahal di data tersebut masalah frekuensi memegang peranan sangat penting. Jika regulator masih berparadigma frekuensi sebagai alat mencari setoran, maka bayi ini  tidak akan  tumbuh-tumbuh,” ketusnya.

Senada dengan Ventura,  Praktisi telematika Bayu Samudiyo mengakui jasa data baru memasuki tahap awal. ”Inilah yang menjadikan ARPU-nya masih kecil. Hal ini karena untuk aplikasi yang menjadi fenomena sekarang ini tidak membutuhkan pemakaian yang besar. Akhirnya, pelanggan tumbuh, tetapi dari sisi pendapatan masih kecil,” jelasnya.

Sementara Pengamat telematika  Bambang Sumaryo Hadi  menilai operator operator berlomba menggaet pelanggan data dengan tujuan sekadar mempertahankan ARPU  secara keseluruhan.

“Data masih dijadikan sebagai penopang saja. Soalnya pendapatan dari suara dan SMS cenderung turun sejak pemotongan biaya interkoneksi,” katanya.

Dia menilai, operator telah melakukan kesalahan dengan dengan terpaksa  menjual jaringan suara sebagai layanan data. Padahal, seharusnya  layanan data dipenuhi dengan teknologi broadband yang alamiah seperti ADSL, cable modem,

Fiber to the home (FTTH), ataupun  Wimax mobile yang harga teknologinya jauh lebih murah ketimbang  GPRS, 3G atau 3.5G.

Disarankannya, agar jasa data lebih cepat lagi pertumbuhannya pemerintah memberikan stimulus berupa mempercepat  penerapan open access policy, unbundling layanan, facility sharing,  colocation, dan  mobile virtual network operator (MVNO).

Namun bagi Bayu, operator tidak salah menerapkan startegi dalam mengembangkan layanan data karena bertujuan mengedukasi pasar. “Masih ada ketakutan di pelanggan menggunakan GPRS itu mahal. Karena itu ditawarkan paket langganan internet hingga puluhan Mbps, padahal itu tidak akan habis dikonsumsi hingga tenggat waktu karena perilaku pemakaiaan tidak menuntut sebesar itu,” katanya.

Bayu memperkirakan, jasa data baru akan booming pada tahun depan seiring semakin masifnya produksi perangkat untuk konsumen dengan harga murah.

“Kendala selama ini adalah harga perangkat yang mahal. Saya cuma wanti-wanti operator menahan diri agar tidak terjebak di perang harga di jasa data. Jika itu terjadi, bayi ini bisa mati karena prematur,” katanya.

Pada kesempatan lain, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengatakan, sangat susah bagi operator untuk berkreasi di jasa data karena sistem penagihannya sangat terbatas. “Di jasa data hanya dikenal per kilo byte atau unlimited. Beda dengan di suara yang bisa menawarkan banyak bonus,” katanya.[dni]

211209 Regulasi QoS Internet Dial Up Buka Segmen Baru

JAKARTA—Rencana Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) untuk mengeluarkan regulasi terkait kualitas layanan (Quality of Service/QoS) diperkirakan akan memunculkan segmen baru di layanan tersebut.
Jasa akses internet dial-up adalah suatu layanan aplikasi-aplikasi dimana seseorang dapat mengakses layanan dan aplikasi internet dengan menggunakan koneksi dial-up saja. Salah satu operator yang menawarkan jasa seperti ini adalah Telkom.

“Jika regulasi itu dikeluarkan tentunya akan membuat adanya segmen baru karena selama ini Telkom sudah bermain mulai dari kecepatan akses untuk 384 Kbps dan 256 Kbps,” ungkap VP Marketing and Customer Care Telkom Teni Agustini di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dijelaskannya, jika regulasi tersebut keluar maka akan ada segmen untuk akses dengan kecepatan minimal 64 Kbps yang akan dilayani Telkomnet Instant. Sedangkan untuk 384 Kbps akan dilayani broadband Speedy dan 256 akan menggunakan teknologi Wimax.

Head Of Digital Business Telkom Widi Nugroho mengakui, saat ini masyarakat menuntut kualitas layanan internet yang terjamin untuk mengakses dunia maya. “Kebutuhan akan internet berkualitas tidak bisa dihindari lagi. Telkom sendiri terus meningkatkan kapasitas bandwitdh untuk melayani 1,2 juta pengguna Speedy,” katanya.

Direktur Konsumer Telkom I Nyoman G Wiryanata menambahkan, di masyarakat juga sedang terjadi perubahan perilaku mengakses internet dimana walau teknologi yang digunakan Fixed Broadband tetapi ingin dipakai dimana saja. Selain itu masyarakat mulai banyak mengakses situs yang haus bandwitdh sehingga operator mulai mengembangkan infrastruktur berbasis terabytes.
“Salah satu contohnya adalah kaum gamers yang ingin bermain dimana saja. Tidak hanya pada satu PC atau station,” katanya.

Dikatakannya, untuk mengantisipasi perilaku para gamers tersebut Telkom menawarkan paket berlangganan Speedy Games yang dibanderol tarif 75 ribu rupiah per bulan dengan jumlah permainan 130 games online. “Tahap awal kami menargetkan ada 20 ribu pelanggan tergaet. Speedy sendiri diharapkan pada tahun depan digunakan 2,2 juta pelanggan,” katanya.

Selanjutnya Widi mengatakan, untuk mengantisipasi perilaku “lapar bandwitdh”, Telkom mulai mengedukasi pelanggan lebih banyak mengakses konten lokal.”Para pengembang games lokal pun kita dorong untuk mengembangkan permainan lokal agar devisa tidak lari keluar negeri. Salah satu pengembang yang kita bantu adalah Nusantara Online yang disewakan 8 server untuk permainannya,” katanya.

Menekan Keluhan
Secara terpisah, Kepala Humas dan Pusat Informasi Depkominfo Gatot S Dewo Broto menjelaskan, dibuatnya regulasi yang mengatur kualitas layanan internet dial up salah satunya bertujuan untuk  menekan  keluhan pengguna layanan telekomunikasi, khususnya terkait dengan jasa akses internet dial-up yang sering up and down atau on namun kemudian off secara mendadak alias  tidak stabil koneksinya.

“Regulasi tersebut nantinya akan  berbentuk peraturan menteri  yang akan ditandatangani oleh Menkominfo Tifatul Sembiring. Sekarang masih dalam konsultasi publik,” katanya.

Standar lainnya yang diatur dalam regulasi itu adalah  diantaranya tentang persentase keluhan atas akurasi tagihan dalam satu bulan tagihan harus  sama dengan 5 persen  dari jumlah seluruh tagihan pada bulan berikutnya dan hal lainnya.

Gatot mengungkapkan, masalah kualitas layanan koneksi internet juga dibebankan oleh pemerintah untuk program desa pinter yang sekarang dalam tahap tender. “Kesembilan belas perusahaan yang lolos prakualifikasi tahu akan hal ini. kami menetapkan kecepatan akses internet mulai 256 Kbps untuk program ini,” katanya.

Tender Desa Pinter sendiri minggu depan masuk dalam tahap pengambilan dokumen tender untuk para peserta guna menentukan paket pengerjaan yang akan dipilih. Total ada sekitar 4.700 kecamatan yang akan disediakan akses internet mulai tahun depan dimana paket pengerjaan terbagi atas 11 paket pengerjaan.[dni]

211209 Bisnis Penyeberangan Makin Berat

Jakarta–Bisnis penyeberangan sungai dan laut dalam beberapa tahun ke depan diperkirakan semakin berat seiring dibangunnya infrastruktur jembatan penyeberangan yang menghubungkan dua pulau oleh pemerintah.

“”Beroperasinya  jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) salah satu pemicu hilangnya potensi pendapatan perseroan. Untuk rute yang melayani Surabaya-Madura saja terjadi penurunan omzet lumayan besar,” ungkap
Dirut PT Indonesia Ferry  Bambang Soerjanto di Jakarta, Minggu (20/12).

Tercatat, PT Indonesia Ferry (IF) pada tahun menargetkan pendapatan sebesar satu triliun rupiah. Perseroan memperkirakan pada tahun ini hanya mampu meraup pendapatan sebesar 800 miliar rupiah atau masih kurang 20 persen dari target.

Laba bersih perseroan pun akan meleset dari target tahun ini sebesar  100 miliar rupiah. Diperkirakan laba bersih tahun ini hanya 80 miliar rupiah atau sama dengan tahun lalu.

Walaupun tantangan ke depan makin berat seiring sedang dikajinya pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Sumatera dan Jawa, Bambang menegaskan,  tetap akan mengembangkan usahanya dengan mengadakan tujuh unit kapal penyeberangan.

Diproyeksikan kapal tersebut untuk dioperasikan di Indonesia.
“Saat ini kita kesulitan mengadakan kapal bekas dengan usia dibawah 15 tahun karena di Jepang sedang jarang ada kapal penyeberangan. Kalau mau beli, butuh waktu lama karena harus pesan dulu dan pabriknya harus membuatnya dalam waktu yang lama,” ujarnya.

Pada kesempatan sama,  Menteri Perhubungan Freddy Numberi menginstruksikan agar Kapal Motor (KM) yang berusia diatas 30 tahun dan masih beroperasi di sejumlah pelabuhan penyeberangan diberikan  “perhatian khusus.”

“Semakin tua semakin tidak layak, biaya yang dihabiskan untuk perawatan kapal yang tua pun biasanya lebih mahal,” ujarnya.

Menhub meminta, semua pihak harus selalu waspada soal peralatan dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menunjang keselamatan orang banyak. “Zero accident harus bisa diciptakan, hal ini tentunya menyangkut keselamatan, apalagi jika kapal-kapal tersebut ada yang berusia mendekati 40 tahun, perlu ada evaluasi,” katanya.

Untuk diketahui jumlah KM yang ada di Pelabuhan Merak sebanyak 33 kapal dan merupakan jumlah terbanyak di seluruh pelabuhan penyeberangan, sedangkan yang berusia lebih dari 30 tahun yaitu sekitar 5-6 kapal yang berasal dari beberapa operator penyeberangan.

Diantaranya, PT Atosim Lampung Pelayaran (BSP II, BSP III dan Bahuga Jaya), PT JL Ferry (Mufidah), PT Putera Master SP (Nusa Dharma), PT SMS Kartanegara (SMS Kartanegara).

Sedangkan jumlah KM dari semua pelabuhan penyeberangan di Indonesia sebanyak 250 dari seluruh operator lebih dari 30 tahun sekitar 10 persen. Sisanya berusia 15-20 tahun.[Dni]