171209 Forum Konvertel : Upaya Menyambut Era Konvergensi

Belum lama ini Universitas Indonesia (UI) bersama beberapa operator berinisiatif membentuk Forum Konvergensi Telekomunikasi (Konvertel). Operator yang menjadi anggota Konvertel adalah   Telkom, Telkomsel, Indosat, IM2, dan XL.

Dibentuknya Konvertel tak bisa dilepaskan dari kesadaran para pelaku usaha dan akademisi bahwa era konvergensi tak bisa dielakkan  segera terjadi di industri telekomunikasi Indonesia.

”Forum ini untuk memberikan asupan dan kontribusi bagi usaha-usaha penghematan devisa untuk pengelolaan infrastruktur informasi yang lebih efisien dan berdaya guna,”  jelas Dosen Senior Departemen Teknik Elektro Universitas Indonesia (UI) Purnomo Sidi Priambodo di Jakarta, belum lama ini.

Pengamat telematika dari UI Muhamad Asvial menjelaskan, saat ini banyak isu yang berkaitan dengan konvergensi belum terselesaikan. “Masalah keterhubungan (interoperability) adalah hal krusial belum terselesaikan. Saya rasa jika ini belum diselesaikan, konvergensi dalam pengertian  ubiquitous service networks akan membutuhkan waktu yang lama,” katanya.

Namun, dia mengingatkan, konvergensi jaringan antara struktur Fixed dan mobile tak bisa dielakkan harus dilakukan  karena bisa menjadi solusi antara ekspansi bisnis dan menekan biaya operasional. “Sebenarnya dengan teknologi baru yang ada konvergensi telah terjadi walau sepotong-potong alias belum ubiquitous,” katanya.

Konvergensi adalah menyatukan berbagai  layanan telekomunikasi dan penyiaran ke dalam satu  media. Kondisi ini menjadikan   dengan hanya satu media pelanggan  dapat menikmati berbagai jenis layanan seperti triple play (teleponi, video dan text termasuk di dalamnya layanan streaming broadcast dan video on-demand) maupun Quad play dengan andalannya adalah teknologi akses tanpa kabel (wireless).

Salah satu contoh negara yang menerapkan konvergensi antara jaringan Fixed dan mobile adalah Hungaria dimana dua operator, T-Mobile dan T-Comm, menyatukan jaringannya dengan bantuan solusi dari Huawei.

Penyatuan dilakukan oleh kedua operator karena menyadari layanan telepon tetap (Fixed) mulai terancam oleh layanan Voice Over Internet Protocol (Voip), sedangkan jasa seluler (mobile) mengalami tren  penurunan Average Revenue Per Users (ARPU).

Tiga Tahun

COO Telkom Ermady Dahlan memperkirakan, kondisi konvergensi yang total alias ubiquitous baru bisa terjadi tiga tahun lagi

.
”Jika hanya konvergensi yang sepotong-potong seperti  triple play itu sudah akan terjadi pada tahun depan. Telkom saja akan menggelar triple play plus pada kuartal pertama 2010,” jelasnya.
Dijelaskannya, dalam era full konvergensi hal yang perlu dipertimbangkan adalah ketersediaan bandwitdh, fully mobility, perangkat yang seamlesss, dan konten lokal yang berlimpah.

”Di era ini jaringan bergerak dan tetap akan menyatu. Untuk ini dibutuhkan regulasi yang mendukung dari pemerintah dan konten lokal yang bisa menarik pelanggan,” katanya.

Ermady menjelaskan, selain mempersiapkan jaringan menuju Next Generation Network (NGN) yang berbasis Internet Protocol (IP),  para  pelaku usaha sedang membahas masalah penetapan harga jika konvergensi total dilaksanakan. Terdapat beberapa skenario yakni berbasiskan volume, waktu, bulk, atau kombinasi dari ketiganya.
Sekjen Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Dian Siswarini mengakui konvergensi adalah tren industri telekomunikasi  masa depan.  “Idealnya sebelum operator melangkah ke era konvergensi, regulasi sudah siap. Regulasi yang diperlukan secepatnya yang mengatur tentang arah infrastruktur, lisensi, dan interkoneksi,” tegasnya.

Sementara Sekjen Depkominfo Basuki Yusuf Iskandar mengatakan, konvergensi di sisi jaringan memang dibutuhkan oleh industri telekomunikasi untuk menghemat belanja modal dan biaya operasional di masa depan.

Menurut dia, operator di Indonesia selama ini  banyak menerapkan karakteristik model investasi berdasarkan tingkat pencapaian pasar karena ingin  menguasai seluruh segmen baik dari sisi  pelanggan, jaringan maupun layanan dengan kecenderungan pada suatu prinsip bahwa untuk terus bertahan dalam pasar   harus mendominasinya   sendiri.

“Dampaknya   bagi pemain baru  sangat berat untuk melakukan kesemuanya sehingga perlu melakukan positioning dari strategi layanannya. Karena itu regulator sekarang sedang mengaji kemungkinan penerapan   open access   perlu diregulasi atau tidak. Terutama masalah model pembangunan backbone dan backhaul di masa depan yang  mendukung infrastruktur sharing,” katanya.

Dampak

Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan mengungkapkan, jika konvergensi terjadi maka pelanggan akan mendapatkan beragam jenis layanan, yang dapat dipilih sesuai kegiatan dan gaya hidupnya. Selain tentu memperoleh layanan melalui jaringan yang lebih efisien dari segi eknomis maupun teknologi.

Sedangkan Praktisi Telematika Suryatin Setiawan mengatakan, kepentingan dari  pelanggan   adalah value for money. “Kalau konvergensi itu betul membawa layanan seamless antara fixed, selular dan media , termasuk customer care dan billing, yang didukung  kecepatan akses data dan internet lebih cepat dengan  harga tetap kompetitif maka barulah pelanggan merasakan manfaatnya,” katanya.

Untuk masalah penetapan tarif, menurut Taufik, akan lebih adil jika dibuat berdasarkan  volume karena pelanggan akan membayar  sesuai yang digunakan. “Tetapi jangan ditutup juga peluang bagi operator yang menawarkan skema  unlimited,” katanya.

Namun, Dian lebih memiliih pola  penagihan ke pelanggan berdasarkan layanan yang diberikan tidak hanya melihat volume.

Sementara untuk nasib operator kecil yang memiliki keterbatasan infrastruktur, Taufik menyarankan, pemerintah harus menciptakan aturan  yang mendorong terjadi resource sharing (network and support).

Hal ini karena kecenderungan untuk regulasi di era konvergensi adalah pemisahan operator dari sifat layanan, penyedia jaringanv(network based provider),  penyedia jasa (service/application based), penyedia fasilitas (facility based, seperti tower),  dan konten.

“Di era konvergensi akan sangat tidak kompetitif kalau memaksa punya semuanya. Ingat konvergensi juga terutama berarti siap menyediakan berbagai layanan artinya jaringan harus canggih,” katanya.

Sedangkan menurut Suryatin, secara alamiah, di Indonesia operator kecil akan sulit hidup di Indonesia dengan kontur geografis yang luas.   “Dengan atau tanpa konvergensi, hukum dasarnya, kalau sudah menetapkan investasi sebagai operator telekomunikasi di Indonesia  tidak boleh kecil. Jika  modal dan semua sumber daya tidak kuat, tentu akan tergilas,” katanya.[dni]

171209 Menanti Datangnya Triple Play Plus

Berbicara tentang persiapan menuju era konvergensi, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) bisa dikatakan sebagai yang paling serius menggarapnya.

Tak kurang dana sebesar 224,1 juta dollar AS digelontorkan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut hanya untuk membangun tulang punggung jaringan (Backbone) selama dua tahun terakhir ini.

Backbone yang akan terbentang dari ujung Aceh hingga Papua itu dinamakan Telkom Super Highway yang   berbasis Optical Network Platform guna  menyediakan layanan pita lebar berkecepatan tinggi dengan coverage, kualitas, layanan, dan harga   yang kompetitif.

Telkom Super Highway nantinya akan membangun  solusi lingkungan digital di rumah pelanggan (Home Digital Environment), melayani kebutuhan enterprise, pemerintah, operator, dan penyiaran.

Infrastruktur tersebut akan meningkatkan efisiensi   penggunaan sumberdaya  Information, Communication, Technologies (ICT) nasional dan mendorong  tumbuhnya industri kreatif yang memerlukan bandwidth dan kecepatan tinggi. “Ini sejalan dengan transformasi portfolio bisnis Telkom menuju  Telecommunication, Information, Media & Edutainment (TIME),” ungkap COO Telkom Ermady Dahlan di Jakarta, belum lama ini.

Ermady  mengatakan, guna mengedukasi pelanggan akan layanan yang menuju konvergensi, perseroan segera menggelar triple play plus home security pada kuartal pertama tahun depan di lima kota. Kelima kota itu adalah Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya.

“Triple play itu dapat dilihat wujudnya dari IP-TV yang terus kita uji coba. Kuartal pertama tahun depan layanan ini segera dikomersialkan karena regualsinya sudah ada,” jelasnya.

IP-TVadalah layanan televisi layaknya penyiaran biasa, namun jaringannya berbasis kepada internet protocol (IP). Di Asia, operator yang saat ini mampu menjadikan IP-TV sebagai primadona penyumbang pendapatan adalah PCCW (Hong Kong), Telekom Malaysia, dan SingTel (Singapura). Layanan ini disebut bagian dari triple play karena tersedia jasa suara, data, dan media dalam satu perangkat.

Kepala Divisi Akses Telkom M. Awaluddin menjelaskan, IPTV diibaratkan adalah akhir dari evolusi bisnis telepon kabel pada masa ini. “Telkom tidak main-main menggelar IPTV. Jika standar regulasi hanya memiliki kapasitas 2 Mbps, kami maju dengan 4 Mbps agar pelanggan mendapatkan pengalaman berbeda dalam menggunakan jasa ini,” katanya.

Dijelaskannya, dari 9 juta sambungan kabel yang dimiliki Telkom telah diukur 5 juta untuk kesiapan IPTV. “Sebanyak 60 persen dari yang diukur itu siap dengan kemampuan menghantar data untuk 4 Mbps,” jelasnya.
Menurut Awal, IPTV tidak hanya masalah menghadirkan layanan menonton TV dengan jaringan internet, tetapi ada dampak ekonominya karena jasa ini menghadirkan home shopping dan menggerakkan industri konten. “Ini jika berjalan bisa membuat terwujud ekonomi berbasis broadband. Untuk tahap awal kami akan masuk ke gedung-gedung tinggi,” katanya.

Konten lokal

Pada kesempatan lain, Praktisi Telematika Suryatin Setiawan mengatakan, Telkom harus yakin  layanan IPTV mampu memenuhi kebutuhan pelanggan karena segmen yang dituju sudah aware dengan manfaat internet.

“Telkom harus mampu menghadirkan layanan yang menarik, bermanfaat , kompetitif dan ada value for money. Jika itu tidak bisa diberikan IPTV, pasti gagal,” katanya.

Suryatin menyarankan, Telkom dan pelaku usaha lainnya di industri telekomunikasi mulai mendorong banyaknya kehadiran konten lokal   guna mendukung IPTV dan antisipasi sebelum ubiquoitus konvergensi datang.

“Sekarang ini penghalang maraknya konten lokal terutama adalah operator telekomunikasi masih kurang friendly terhadap industri konten dalam hal hubungan bisnis yang kondusif,” katanya.

Belum lagi masalah  regulasi yang tidak  bersahabat kepada industri konten lokal.” Sekarang ada gejala  konten lokal baru berdiri sudah  diberikan beban. Padahal yang dibutuhkan adalah  pemilik modal  memasukkan konten sebagai portofolio investasinya di ICT,” jelasnya.

Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan menegaskan, tanpa konten lokal konvergensi tidak memiliki arti karena inti dari evolusi itu adalah  berbagai layanan dapat ditawarkan kepada pengguna.  “Tanpa konten lokal
operator hanya menyediakan pipa. Akhirnya  kontennya kembali pada suara lagi,” katanya.[dni]

171209 BTEL Belum Manfaatkan Tambahan Kanal

JAKARTA—PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) belum memanfaatkan tambahan kanal sebesar 1,25 MHz di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten (JBJB) yang diberikan pemerintah kepada pemilik merek dagang Esia itu pada September lalu.

“Kami belum memanfaatkan tambahan kanal tersebut. Proses administrasinya baru diselesaikan belum lama ini. Sekarang untuk akses data masih menggunakan kanal yang tersedia dan itu mencukupi untuk kebutuhan pelanggan. Apalagi kapasitas jaringan  dinaikkan untuk melayani 20 juta pelanggan, sedangkan sekarang esia baru memiliki 9,8 juta pelanggan,” ungkap Wakil Direktur Utama Bakrie Telecom Bidang Pemasaran Erik Meijer di Jakarta, Rabu (16/12).

Erik menegaskan, langkah esia yang mulai menawarkan ponsel dengan kemampuan data tidak akan mempengaruhi jaringan karena yang banyak digunakan adalah aplikasi instant messaging. “Perilaku pelanggan itu mengakses data baru di malam hari. Kalau sudah malam jaringan lumayan longgar. Ini beda dengan produk modem wimode yang menuntut koneksi tanpa putus,” katanya.

Berangkat dari  kepercayaan akan kemampuan jaringan itu, BTEL meluncurkan Hape Esia Online bekerjasama dengan Huawei. Ponsel yang dilepas adalah  seri C6100 yang  memiliki aplikasi  Email, Facebook, Yahoo messenger, Windows live messenger, Google Talk dan Opera Mini Microbrowser.

“Aplikasi yang berjalan di ponsel ini merupakan aplikasi resmi dari perusahaan penyedia layanannya dan bukan hanya sekedar web link. Dengan aplikasi resmi ini maka pelanggan Esia bisa langsung menggunakan semua aplikasi sebagaimana layaknya aplikasi di ponsel smartphone,” jelas Erik.

Hal lain yang menarik dari ponsel ini, tambahnya,   memungkinkan pelanggan Esia untuk saling berkomunikasi pesan cepat dengan menggunakan nomor telepon Esianya sebagai PIN. “Ini berkat  aplikasi yang dinamakan Esia Messenger. Dengan aplikasi ini pelanggan Hape Esia Online bisa melakukan chatting real time dan saling berkirim foto. Untuk tahap awal kami sediakan 100 ribu ponsel yang dibanderol 699 ribu rupiah ini,” katanya.[dni]

171209 52% Sambungan Telepon di Pusat Bisnis Jakarta Terganggu

JAKARTA—Sebanyak 2.500 sambungan telepon atau 52 persen dari total 4.800 sambungan telepon di kawasan pusat bisnis Jakarta, pada Kamis (16/12) mengalami gangguan karena adanya pencurian kabel milik PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) oleh pihak tidak bertanggungjawab.

“Fasilitas telekomunikasi milik Telkom di  kawasan bisnis Jalan Jend. Sudirman  dan Gatot Subroto mengalami ganggguan hari ini karena adanya pencurian kabel telepon. Sekarang sedang diusahakan  sambungan telekomunikasinya bisa kembali  normal. Selain mengalihkan traffic, Telkom juga tengah melakukan penyambungan kembali kabel yang diputus oleh pencuri tersebut,” ungkap Vice President Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia, di Jakarta, Rabu (16/12).

Dijelaskannya,  pencurian kabel diduga terjadi pada Rabu dini hari (16/12) sekitar pukul 02.00 di main hole yang terletak di Jalan Gatot Subroto. Sesaat setelah menerima sinyal adanya gangguan sekitar pukul 02.45, unit Security Telkom langsung meluncur ke tempat kejadian dan memergoki empat orang yang diduga pencuri sedang mengangkut gulungan kabel.

“Saat  itu juga kami melakukan penindakan, sehingga dua orang yang diduga pelaku pencurian berhasil ditangkap, sedangkan dua orang pelaku melarikan diri,” jelasnya.

Diungkapkannya, akibat pencurian yang terjadi kabel tersebut, sekitar 2.500 satuan sambungan telepon dari 4.800 kapasita terpasang yang melayani pelanggan di kawasan Gatot Subroto, Sudirman Central Business District dan Jl. Jend Sudirman mengalami gangguan. Berdasarkan pendataan, lokasi yang sebagian teleponnya terganggu adalah Polda, Bursa Efek Jakarta, Bapindo City,  Bapindo Tower, Niaga Tower, Sumitmas, Kantor Wasbang dan Ditjen Pajak.

Eddy meminta, karena  yang dirugikan akibat tindakan pencurian tersebut tidak hanya Telkom, melainkan juga masyarakat sebagai pengguna fasilitas telekomunikasi, maka baik pelaku pencurian di lapangan, penadah dan aktor intelektual di balik tindakan kriminal tersebut harus ditindak tegas. “Beebrapa pelaku di daerah  telah dihadapkan ke pengadilan,” katanya.[dni]

171209 Natal dan Tahun Baru: Moda Transportasi Tambah Kapasitas

JAKARTA—Moda transportasi mulai menambah kapasitas daya angkutnya menjelang datangnya libur panjang Natal dan Tahun Baru 2010.

Beberapa maskapai penerbangan nasional yaitu Mandala Airlines, Sriwijaya Air, Lion Air, Batavia dan Garuda telah menunjukkan peningkatan penumpang secara signifikan. Untuk tanggal 17 Desember hingga 4 Januari 2010 mendatang.

Sriwijaya Air saja  yang baru membuka rute Jakarta-Makassar-Ternate langsung dipenuhi
penumpang.

Head of Corporate Communication Mandala, Trisia Megawati KD mengatakan  periode long weekend yang terjadi berturut-turut di akhir tahun menjadi penyebab meningkatnya load factor.

“Kami mencatat tren kenaikan pembukuan tiket yang terjadi mulai tanggal 15 Desember kemarin hingga 4 Januari mendatang,” jelasnya di Jakarta, Rabu (17/12).

Dijelaskannya, untuk mengakomodir tingginya permintaan perjalanan udara selama akhir tahun, Mandala menawarkan tambahan 4,320 kursi dengan 24 extra flights selama 7 (tujuh) hari dalam periode tanggal 24 Desember 2009 -1 Januari 2010 untuk rute-rute penerbangan tujuan Jakarta, Surabaya dan Denpasar.

“Kami meyakini bahwa penambahan kursi ini masih bisa mencukupi kebutuhan masyarakat dari alokasi 275,000 kursi yang sudah kami sediakan selama periode tanggal 21 Desember 2009 sampai 4 Januari 2010”, tambahnya.

Pada periode 15-17 Desember, tambanhya, Mandala  mencatat rata-rata tingkat isian sebesar 89 persen, bahkan rute-rute tertentu seperti Surabaya, Kupang, Denpasar, Pontianak, Pekanbaru, Balikpapan dan Tarakan mencatat load factor lebih dari 97 persen.

Lebih lanjut, Trisia mengatakan bahwa pembukuan tiket pada periode Natal hingga Tahun baru masih berada pada posisi rata-rata tingkat isian 81 persen, diperkirakan  dalam beberapa hari ke depan pembukuan akan menembus rata-rata lebih dari 90 persen. “Saat ini, kami mencatat rute terpadat terjadi untuk tujuan Denpasar, Kupang, Banjarmasin, Balikpapan, Semarang, Jogjakarta dan Surabaya”, lanjutnya.

Juru bicara Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang mengungkapkan, load factor Sriwijaya mencapai hingga lebih dari 90 persen. pada pembukaan dua rute yaitu Jakarta-Jogja –Balikpapan-Tarakan dan Jakarta-Makassar-Ternate sukses hingga hampir 100 persen load
factor.

“Secara umum semuanya mengalami kenaikan dan mencapai 90 persen,” tandasnya.

Sementara Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait mengatakan pihaknya segera mengajukan penambahan penerbangan.

“Kami harus  mengantisipasi kenaikan jumlah penumpang dengan penambahan kursi,” katanya.

Dijelaskannya,  datangnya empat Boeing 737-900 ER bulan ini  memungkinkan Lion menambah penerbangan dengan kapasitas yang lebih banyak lagi.

Secara terpisah, juru bicara Pelni Edi Heryadi mengungkapkan, dalam rangka mempersiapkan angkutan Natal dan Tahun Baru 2009. KM Tidar, Kapal berkapasitas 2000 penumpang digerakkan untuk  melayari rute Tg. Priok – Surabaya – Makassar – Bau-bau – Ambon – Ternate – Bitung, akan diberangkatkan Sabtu, 19 Desember 2009 jam 13.00 WIB dari Pelabuhan Tg. Priok.

Kebijakan ini diambil sehubungan KM Lambelu yang melayari rute tersebut sedang melakukan docking.
“Diperkirakan pada Natal dan Tahun baru ini ada peningkatan penumpang 10 Persen dibandingkan tahun laluyang mencapai  872 ribu  penumpang,” katanya.

Sementara untuk KM Kelud mengalami perubahan jadwal yang biasanya berangkat dari Tg. Priok hari Jumat, maka untuk memenuhi kebutuhan angkutan Natal 2009 maka KM Kelud akan diberangkatkan dari Tg. Priok, senin 21 Desember 2009  jam 10.00 WIB dan direncanakan tiba di Belawan, 23 Desember 2009 jam 18.00 WIB. Disamping itu KM Kelud juga megalami perubahan trayek dengan menyinggahi Pelabuhan Dumai (Trayek KM Kelud ; Tg. Priok – Batam – Tg. Balai – Dumai – Belawan).

Selain KM Tidar disiapkan juga  KM Ciremai untuk mendampingi KM Kelud melayari rute Tg. Priok – Kijang – Batam, Belawan – berangkat dari Tg. Priok, 20 Desember 2009 dan diperkirakan tiba di Belawan, 22 Desember 2009.
KM Labobar disiapkan untuk antisipasi arus balik ditetapkan menyinggahi Batam dan Belawan, yang direncanakan berangkat dari Belawan, 3 Januari 2010 jam 11.00 dengan tujuan Batam – Kijang – Tg. Priok.

Sedangkan dua puluh lima calon penumpang KM Sinabung yang akan berangkat dari Jakarta 21 Desember 2009 akan dialihkan  keberangkatannya dengan KM  Tidar yang berangkat hari Sabtu 19 Desember 2009.

Hal itu dikarenakan Km Sinabung tidak singgah di Pelabuhan TG Priok , pelayarannya dari Timur haya sampai Semarang. Kebijakan itu diambil menagemen PT Pelni terkait dengan penyesuain jadwal KM Sinabung. Namun bagi calon penumpang akan mengembalikan tiketnya  PT Pelni akan layani  dan akan dikembalikan tiketnya 100 persen.[dni]