081209 Tiga Operator Raih Penghargaan

JAKARTA—Tiga operator telekomunikasi yang menjadi pemimpin pasar nasional berhasil menyabet penghargaan perusahaan idaman versi salah satu majalah bisnis lokal belum lama ini.

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) berhasil   menjadi perusahaan yang paling didambakan oleh para pekerja profesional di lingkup Jabodetabek dengan kategori   “Best of the Best Perusahaan Idaman 2009”.

Tak hanya itu, Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah pun ikut masuk dalam katagori “CEO Idaman 2009”. Sedangkan Presiden Direktur PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) Hasnul Suhaimi berhasil meraih dua penghargaan CEO Idaman 2009.

Kedua jenis penghargaan yang diterima urang awak itu adalah  di kategori CEO Idaman 2009 untuk industri telekomunikasi serta salah satu dari sepuluh CEO Idaman 2009 untuk kategori lintas industri. Sementara PT Indosat TBk (Indosat) hanya dinobatkan sebagai  Perusahaan Idaman 2009.

“Kami bangga dan berterimakasih atas penghargaan yang merupakan wujud nyata pengakuan terhadap kerja keras dan dedikasi manajemen dan karyawan Telkom,” ujar

VP Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia, di Jakarta,  Senin (7/12).

Dijelaskannya,   Rinaldi yang didapuk menjadi salah satu CEO idaman memang pantas menyabet gelar tersebut karena  dianggap sukses menyinergikan anak-anak perusahaaan Telkom. “Beliau  juga dinilai berhasil membawa Telkom melakukan transformasi perusahaan,” katanya.

Berdasarkan catatan, selama dua tahun masa kerja Rinaldi, kinerja Telkom dinilai semakin membaik. Pada kuartal ketiga 2009, Telkom mencatat kenaikan laba bersih 4,2 persen menjadi 9,3 triliun rupiah.

Sementara Hasnul mengatakan, keberhasilan suatu perusahaan dalam memenangi suatu kompetisi dengan perusahaan lain di satu industri ataupun terhadap industri lainnya dipengaruhi oleh berbagai macam faktor. Salah satu faktor yang paling dominan tentunya adalah faktor kepemimpinan dari figur pimpinan tertinggi dalam perusahaan itu sendiri.

“CEO ibarat seorang nahkoda, yang akan menentukan kapal perusahaan dalam mengarungi dan memenangi lautan persaingan,” katanya.[dni]

081209 AP Diminta Berbenah

JAKARTA – Menteri Perhubungan Freddy Numberi meminta PT Angkasa Pura (AP) sebagai pengelola bandara untuk  berbenah diri seiring rencana Departemen Perhubungan (Dephub) mengajukan 20 maskapai penerbangan nasional keluar dari larangan terbang ke wilayah Uni Eropa.

”Syarat yang utama untuk terbang memang kelayakan pesawat, tetapi kelayakan bandara juga harus diperhatikan. Ada syarat-syarat juga yang harus diikuti oleh Bandara,” ujarnya  di Jakarta, Senin (7/12)..

Menhub mengatakan, pencabutan larangan terbang UE saat ini masih dalam proses. Dephub juga akan melihat kesiapan sejumlah maskapai yang akan diajukan untuk terbang ke Uni Eropa.

Sebelumnya,  Direktur Jenderal Perhubungan Udara Dephub Herry Bakti S Gumay mengatakan, 20 maskapai nasional diprioritaskan keluar dari daftar larangan terbang Uni Eropa (UE) pada Februari 2010, menyusul selesainya sertifikasi ulang air operator certificate (AOC) perusahaan penerbangan tersebut.

Saat ini, Dephub sedang menyusun kelengkapan dokumen ke-20 operator penerbangan itu sebagai syarat pendaftaran maskapai itu lepas dari larangan terbang ke Eropa.

Dephub memprogramkan semua maskapai dapat lepas dari daftar larangan terbang UE kendati baru 23 maskapai dari total 47 maskapai yang didaftarkan ke UE.

“Mengapa saya katakan harus berbenah diri, karena di Eropa saat ini sekarang makin ketat regulasinya. Tapi kita akan ikuti semua ketentuan dengan baik, dan semua aturan akan kita ikuti dengan baik sehingga diharapkan nanti tidak ada masalah,” jelasnya.

Rencana pembenahan bandara tersebut, lanjut Menhub, salah satunya karena tahun
depan sejumlah maskapai akan mendatangkan pesawat jenis Boeing seri 777 ke
Indonesia.

Menhub juga menargetkan akan bisa mengangkat seluruh
maskapai dari daftar hitam larangan terbang UE. Salah satu langkah konkrit
yaitu rencananya sebelum 22 Desember akan ada tim dari UE dan Amerika yang akan
datang untuk membahas mengenai penvcabutan larangan terbang.

“Kita akan bahas hal itu (larangan terbang) juga. Tapi pada prinsipnya sudah banyak maskapai kita yang melayani penerbangan dengan rute-rute Asia,” ungkapnya..

Menhub juga mengatakan, saat ini memang pemerintah belum melakukan open sky policy, padahal banyak yang menyarankan untuk membuka. “Artinya penerbangan asing boleh masuk, tapi kita kan juga ingin armada-armada kita bisa bersaing dengan baik. Maskapai juga harus berbenah diri dengan baik,” katanya.

Dihubungi terpisah, Humas PT AP II Trisno Heryadi mengatakan, secara khusus dalam pengoperasian terminal akan diaudit tiap  enam bulan. Proses
audit tersebut sesuai dengan standar regulasi  ICAO.. “Hasil terakhir audit tersebut positif,” jelasnya.

Dia juga mengatakan, jika ada sedikit yang tidak tertangani maka itu sebuah hal yang wajar saja. Sementara, seluruh peralatan  yang ada di Bandara Soetta sesuai dengan standar ICAO. “Kami juga melakukan pembenahan pada kategori pelayanan bandara,”
katanya.

Sementara, dari aspek SDM, PT Angkasa Pura juga akan memberikan kursus-kursus mengenai unsur-unsur keselamatan dan rencana pengenalan teknologi baru mengenai penerbangan dan bandara. “Tapi masih di bawah pengawasan Dijen Perhubungan Udara,” jelasnya.[dni]

081209 Telkomsel Targetkan RBT Hasilkan Rp 1 Triliun

JAKARTA—Layanan Ring Back Tone (RBT) yang digunakan oleh pelanggan Telkomsel diharapkan   menghasilkan uang segar satu triliun rupiah bagi pemimpin pasar seluler tersebut pada tahun depan..

RBT adalah layanan yang memungkinkan pelanggan berlangganan potongan lagu dari artis favoritnya untuk dipedengarkan bagi penelpon yang menelponnya.

“Kami harapkan RBT akan menghasilkan dana satu triliun rupiah tahun depan. Itu syaratnya ada 18 juta pelanggan yang menggunakan jasa tersebut,” ungkap juru bicara Telkomsel Aulia G. Marinto kepada Koran Jakarta, Senin (7/12).

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengungkapkan, perseroan dalam mengembangkan jasa ini memiliki konsep bersama dengan industri musik yakni dalam pembagian pendapatan.

“Kami mengembalikan sekitar  30 sampai 40 persenn kepada pihak kreatif, baik penyanyi, publisher maupun pencipta lagu,” ujarnya.

Dijelaskannya, salah satu bentuk nyata dukungan adalah menggandeng industri musik bekerja sama dengan situs video streaming dan video sharing Indonesia (Beoscope) dan Yamaha Musik Indonesia dalam Battle Of The Song 2009.

Kompetisi itu mempertandingkan videoklip musik online yang diciptakan pelanggan Telkomsel dengan memanfaatkan kamera ponsel atau pun kamera video.

“Kompetisi ini merupakan wadah bagi para remaja dan anak muda yang memiliki bakat bermusik untuk menyebarluaskan gaya dan kreasi bermusik mereka, tak hanya melalui demo lagu, tetapi sekaligus dengan videoklip musiknya. Dengan demikian, para penikmat musik dapat melihat tayangan visual dari para peserta Battle of The Song melalui video yang di-upload ke beoscope.com,” ungkap CEO Beoscope.com Anang S Sudihardjo.

Kompetisi Battle of The Song 2009 berlangsung pada 15 Juli hingga 2 November 2009 dan diikuti oleh 131 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Sebanyak 187 video telah berpartisipasi dalam kompetisi ini, di mana pemenangnya ditentukan berdasarkan penilaian dewan juri.[dni]

081209 BRTI Akan Periksa Perjanjian SLI BTEL

JAKARTA—Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) akan memeriksa dokumen perjanjian penyelenggaraan Sambungan Langsung Internasional (SLI) antara  Bakrie Telecom (BTEL) dengan mitranya diluar negeri untuk memastikan jasa yang diselenggarakan  kode akses 009 berbasis   teknologi clear channel.
“Isi perjanjian antara BTEL dengan mitranya adalah pintu masuk untuk mengetahui benarkah operator ini menyelenggarakan clear chanbel hingga terminasi, bukan hanya di originasi,” tegas   Anggota Komite BRTI Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Senin (7/12).

Terminasi adalah sambungan dari Sentra Gerbang Internasional (SGI) ke telepon pengguna di luar negeri. Sedangkan originasi adalah trafik dari nomor lokal hingga ke SGI.

BTEL sendiri dalam menyelenggarakan SLI 009 menggandeng dua rekanan internasional yakni Telstra dan Tata.
Sebelumnya, BRTI mendapatkan keluhan dari pengguna yang tergabung dari Indonesia Telecommunication Users Group (IDTUG) mengeluhkan kualitas SLI 009 yang terasa seperti Voice Over Internet Protocol (VOiP).

Menurut Heru, jika perjanjian dibuka akan ketahuan penetapan harga terminasi yang disepakati. “Jika terlalu murah tentu tidak wajar. Masalah menggunakan VoiP itu bisa ketahuan dari harga terminasi yang terlalu dibanting murah,” katanya.

Heru pun berjanji akan menggalang kerjasama dengan regulator asing untuk menyelidiki mitra dari BTEL. “Kita ada kerjasama internasional. Salah besar jika dibilang BRTI tidak memiliki akses internasional,” tegasnya.

Sementara VP Intercarrier Bakrie Telecom Herry Nugroho memastikan, trafik yang diangkut mulai dari pengguna hingga Sentra Gerbang Internasional (SGI) menggunakan clear channel. Tetapi untuk terminasi, dari SGI ke negara tujuan, BTEL tidak bisa mengkontrol kualitas karena disalurkan melalui jaringan rekanan.
“Kita tidak bisa kontrol secara end to end. Semua operator SLI mengalami hal yang sama. Anehnya kenapa tudingan hanya diarahkan ke BTEL,” ketusnya.[dni]

081209 Lanskap Jangan Diubah

Lembaga konsultan Frost & Sullivan belum lama ini mengeluarkan hasil riset tentang industri telekomunikasi Indonesia untuk lima tahun ke depan.

Dari hasil riset itu terlihat pada tahun depan pendapatan dari jasa telekomunikasi bergerak mencapai 11,776 miliar dollar AS. Sedangkan pada 2011 membukukan sebesar 11,918 miliar dollar AS atau naik 1,2 persen ketimbang tahun sebelumnya.

Namun, pada tahun 2012 pendapatan dari telekomunikasi bergerak mulai menunjukkan penurunan sebesar dua persen atau hanya 11,676 miliar dollar AS. Tren penurunan diperkirakan akan terjadi hingga 2014 dimana pada tahun tersebut diperkirakan terjadi negative growth hingga 4,6 persen dengan pendapatan 237,8 miliar dollar AS.

Senior Vice President ICT Practice Asia Pacific Frost & Sullivan,  Nitin Bhat mengungkapkan, kondisi di Indonesia dalam beberapa tahun ke depan akan terjadi peningkatan minute of usage (M0U) dengan revenue per minute (RPM) mencapai satu sen dollar AS.

Diperkirakan, dalam lima tahun ke depan biaya untuk mengakuisisi pelanggan akan naik, tetapi tidak ditopang oleh raihan  pendapatan yang memadai. Peluang bagi operator bergerak (mobile) ada pada broadband dimana infrastruktur yang mendukung inovasi itu  masuk ke perumahan baru 14 persen.

“Peluang bagi pemain seluler di masa depan adalah pada jasa data dan value adedd services (VAS). Ini bisa menopang pendapatan yang cenderung turun,” katanya.

Sekjen Depkominfo/PLT Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar mengungkapkan, regulator akan menyiapkan aturan yang komprehensif untuk mendukung industri di masa depan. “Kami sudah melakukan pentaan industri ini sejak lima tahun lalu. Para pemain diberikan ruang sesuai lisensi dan saling mendukung untuk membangun Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di masa depan,” tegasnya.

Berdasarkan catatan, pemerintah memang telah meletakkan pondasi untuk pemain telekomunikasi bergerak dengan memberikan lisensi seluler dan Fixed Wireless Access (FWA). Kedua pemegang lisensi ini memiliki  teknologi untuk bermain di mobile broadband dengan mengandalkan inovasi 3G, Long Term Evolution (LTE), CDMA EVDO, atau CDMA EVDO Rev A dan B.

Sedangkan untuk  fixed broadband  dikembangkan dua teknologi yakni berbasis serat optik dan radio ala Wimax. Pemerintah pun secara tidak langsung melakukan proteksi bagi pemain mobile dengan menetapkan standar d alias nomadic bagi wimax meskipun di dunia sedang hype standar e yang bisa digunakan untuk mobile.

Alasan yang digunakan oleh pemerintah cukup rasional dengan menjadikan Wimax sebagai salah satu alat untuk menutup kesenjangan pentrasi antara mobile broadband dengan fixed broadband.

Penyebab lainnya tentunya investasi besar yang telah dikeluarkan oleh operator telekomunikasi bergerak selama ini. Dalam waktu tiga tahun saja, Telkomsel, Indosat, dan XL sudah menghabiskan investasi 100 triliun rupiah untuk mengembangkan jaringan.

Sebenarnya, jika diamati perilaku pengguna dalam mengakses data kenyataannya lebih banyak dalam posisi fixed alias menetap di satu titik. Tentunya ini menjadi peluang yang besar bagi pemain Wimax yang baru mendapatkan izin prinsip. Cukup membuka akses hot spot dengan Wi-fi maka pelanggan bisa menikmati akses internet super cepat.

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno mengakui lanskap indsutri yang dibangun oleh pemerintah untuk mengembangkan broadband sudah tepat sehingga investasi yang dikeluarkan operator seluler untuk mobile broadband tidak sia-sia.

“Kebijakan pemerintah itu sudah tepat. Bagi kami di operator seluler, Wimax pun hanya dijadikan pelengkap. Fokusnya  mengembangkan LTE yang akan diujicoba pertengahan tahun depan,” tegasnya.

Sarwoto meminta, pemerintah tidak tergoda dengan desakan dari para pemain Wimax yang mendesak diberikan standar e atau mobile sehingga bisa mengubah lanskap industri. “Jika ada pemenang tender Wimax yang mendesak diubah standarnya, pemerintah harus berani memeriksa business plan mereka. Apa mau berbisnis atau mengincar lisensi saja,” katanya.

Secara terpisah, Pengamat Telematika dari Universitas Indonesia Gunawan Wibisono mengharapkan, pemerintah untuk pemenang tender Broadband Wireless Access (BWA)  secepatnya mengembangkan teknologi Wimax.

“Wimax bisa menjadi alternatif untuk mengakses data. Sekarang tinggal ketegasan pemerintah saja mendesak para pemenang yang masih suka mengulur waktu. Alasan ketersediaan perangkat lokal tidak masuk diakal. Jika pemenang sudah mengembangkan jaringan akan terbentuk ekosistem dan skala ekonomis akan tercapai,” katanya.[dni]

081209 Penjualan Smartphone: Alat untuk Mendongkrak Pelanggan

Belum lama ini iSuppli mengeluarkan hasil riset tentang pengapalan ponsel pintar (Smartphone) pada tahun ini. Ponsel yang  memiliki kemampuan  mengakses internet dan  multimedia tersebut diperkirakan pengapalannya akan mencapai 200 juta unit secara global. Sedangkan   pada 2013 jumlahnya   akan meningkat hingga 450 juta unit di seluruh dunia.

Pada kuartal ketiga tahun ini, penjualan smartphone  meningkat  12,8 persen di dunia. Sedangkan  secara keseluruhan total penjualan smartphone di dunia dalam kuartal ketiga mencapai 41 juta unit.

Diperkirakan   pada tahun depan secara global penjualan smartphone akan memiliki  pertumbuhan sekitar   lima hingga tujuh persen.
Di Indonesia sendiri penjualan ponsel untuk seluruh jenis diperkirakan hingga akhir tahun ini mencapai 21 juta unit. Sedangkan pada 2010  akan mengalami peningkatan   5 sampai 10 persen.
Bantu Akuisisi

”Jika secara global angka pertumbuhan smartphone satu digit, di Indonesia bisa saja terjadi mencapai dua digit. Pemicunya adalah layanan operator yang akan lebih fokus menggarap jasa data,” ungkap Project Head BlackBerry & Consumer Device Indosat Agung Wijanarko di Jakarta,  belum lama ini.

Agung mengatakan, saat ini operator dalam mengakuisisi pelanggan selalu memperhatikan tiga hal yakni mobility, internet, dan gadget. Tiga hal tersebut bisa dipenuhi oleh smartphone. “Di Indonesia peluangnya makin besar dengan adanya merek lokal yang menawarkan harga di bawah satu juta rupiah. Produk seperti ini sesuai dengan daya beli masyarakat,” jelasnya.

Direktur  IMO Sarwo Wargono menambahkan, penjualan smartphone  mengalami lonjakan pada tahun ini juga dipicu oleh keranjingannya masyarakat mengakses situs jejaring sosial dan berkomunikasi melalui instant messaging. “Dua hal itu yang membuat pasar menjadi terbuka lebar bagi pemain dengan merek lokal seperti IMO,” katanya.
Division Head Core Product & Branding Ruby Hermanto mengakui, hadirnya  smartphone mampu mendongkrak jumlah pelanggan operator yang mengandalkan jasa data untuk melakukan penetrasi pasar.
“Smart telah merasakan hebatnya ponsel yang memiliki kemampuan koneksi data. Sekarang saja sudah ada 330 ribu dari total 2,17 juta pelanggan yang menggunakan ponsel untuk koneksi data,” jelasnya.
Ruby mengungkapkan, sebagai operator yang konsisten mengembangkan teknologi Code Division Multiple Access (CDMA), Smart memiliki inovasi CDMA 1x, EVDO, dan EVDO Rev A. ”Ketiga teknologi tersebut menjadikan pelanggan Smart benar-benar bisa menikmati jasa internet dengan kecepatan tinggi ala broadband,” katanya.
”Kami juga mulai menggarap segmen menengah atas untuk jasa data ini. Hal itu ditandai dengan dirilisnya  dua seri ‘Hape Modem’ , Dual On GSM-EVDO 3.5G E329 dan Windows Phone 3.5G N75,” katanya.

Jaga Simbiosis

Agung mengatakan, operator ke depan dalam memasarkan kartu perdana akan dipaksa membundel dengan smartphone agar nomornya digunakan pelanggan. ”Jika lepas kartu perdana saja ke pasar susah dilirik. Apalagi pasarnya anak muda. Inilah alasan kita banyak menggandeng ponsel merek lokal,” katanya.

Untuk mengantisipasi munculnya hype smartphone, lanjutnya, Indosat mulai mengembangkan jaringan mendukung layanan data. “Nantinya kita akan berikan dedicated line bagi akses data smartphone mulai dari teknologi 2G, 3G, hingga High Speed Packet Access (HSPA+). Mulai sekarang para vendor ponsel sudah diwanti-wanti untuk memiliki akses data jika ingin bekerjasama dengan Indosat,” katanya.

VP Marketing Product Telkomsel Mark Chamber mengungkapkan, langkah memberikan kelonggaran bagi pengakses data juga sudah dilakukan oleh pihaknya dengan meluncurkan program HSPA+ hanya bagi pengguna kartuHalo. “Itu salah satu cara kami untuk mensegmentasi pelanggan,” jelasnya.

Sementara GM Direct Sales XL Handono Warih mengingatkan, para penyedia ponsel untuk menjaga simbiosis mutualisme dengan operator dalam menjual produknya, terutama yang telah diikat dalam komitmen bundling.

“Saya membaca gejala pada tahun depan para vendor ponsel  itu ingin membalikkan situasi dengan membuat operator membutuhkan mereka alias posisi tawar di pasar tidak seimbang. Padahal, jika tidak ada akses dari operator, ponsel yang dijual juga tidak menarik. Terutama untuk merek lokal,” katanya.

Sedangkan Ruby mengakui telah mencermati gejala smartphone hanya dijadikan dagangan sesaat oleh para vendor kala menggandeng satu operator. “Keuntungan Smart berada di frekuensi 1.900 MHz adalah hanya sendirian. Sehingga ponselnya percuma di unlock. Tetapi untuk dua ponsel modem terbaru kita sudah mengeluarkan “pengamanan” sendiri,” jelasnya.
Untuk diketahui, salah satu Hape Modem yang dikeluarkan oleh Smart,   E329, memiliki fitur  dual on GSM-EVDO 3.5G. Smart mensyaratkan nomor GSM tidak akan aktif jika kartu CDMA belum dihidupkan. Tidak hanya itu, akses data pun hanya diberikan bagi tenologi CDMA. Langkah ini tentu meminimalisir ponsel dibeli oleh pelanggan bukan untuk nomor Smart. Pasalanya, Smart telah menjual ponsel ini dengan harga lumayan murah yakni  1,36 juta rupiah.

Belum menguntungkan

Pada kesempatan lain, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Telkomsel Hefini Haryono mengungkapkan,  meskipun pengguna jasa data dari smartphone tinggi tetapi dari sisi  pendapatan tidak berimbang, malah cenderung merugi.

“Hal ini dipicu tingginya akses pengguna ke situs asing yang membuat konsumsi bandwitdh menjadi tinggi.  Sebetulnya keuntungan dari data itu flat. Banyak bandwith yang terbuang ke luar negeri, tapi tidak ada pemasukan buat kita. Itu yang membahayakan,” ungkapnya.

Dicontohkannya, paket BlackBerry unlimited Telkomsel hanya 180 ribu rupiah, yang membuat pengguna bisa mengunduh atau browsing sepuasnya. Bahkan, dalam keadaan tidak digunakan, bandwith bisa terbuang begitu saja, tanpa ada pemasukan tambahan bagi operator.
”Pada akhirnya, vendor ponsel seperti iPhone itu seperti kompetitornya Telkomsel. Sebab, mereka bisa mendapatkan fee dari application store kala pelanggan    mengunduh aplikasi. Sedangkan operator, tidak,” tambahnya.
Guna mengatasi hal ini, Telkomsel  akan menjalin kerja sama dengan raksasa internet, agar bisa menghasilkan win-win solution. ”Soalnya kita tahun depan menargetkan pelanggan mencapai 100 juta nomor dari 80 juta nomor. Jika tidak seimbang kontribusi pendapatan, bisa tidak sehat,” katanya.[dni]

071209 Proses IPO Mitratel Tetap Berjalan

Jakarta—Proses penawaran saham perdana (Initial Public Offering/IPO) PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel) akan tetap berjalan dan diharapkan selesai menjelang tutup 2011 walaupun anak usaha PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) itu batal mengakuisisi  PT Solusindo Kreasi Pratama (Indonesian Tower).

“Proses IPO untuk Mitratel tetap dilakukan walau Indonesian Tower batal dibeli. Aset yang dimiliki oleh Mitratel saja sudah membuat perseroan itu tetap seksi,” tegas Vice President Investor Relation Telkom Agus Murdiyatno kepada Koran Jakarta, Minggu (6/12).
Mitratel memiliki bisnis inti  pembangunan dan penyewaan menara telekomunikasi serta fasilitas telekomunikasi lainnya seperti repeater outdoor dan indoor (Inbuilding Cellular System/IBS). Di industri telekomunikasi, nilai sewa satu menara jika diisi oleh empat operator bisa mencapai 2,1 miliar rupiah per bulan.
Dijelaskannya, Mitratel nantinya  akan mengelola menara milik Telkomsel dan Telkom Flexi.. Pengelolaan menara milik Telkomsel harus dilakukan oleh Mitratel karena sesuai regulasi menara bersama tidak diperkenankan asing bermain di bisnis menara.
“Langkah spin off kepemilikan menara Telkomsel harus dilakukan menjelang 2011  karena ada saham Singtel di Telkomsel. Harus diingat Telkomsel saja sudah memiliki sekitar 10 ribu menara. Angka itu merupakan yang terbesar di industri,” katanya.
Berkaitan dengan gagalnya aksi akuisisi Indonesian Tower, Agus mengungkapkan, masalah hargalah yang memicu batalnya perjanjian. “Jika untuk membeli sesuatu merupakan hal yang wajar salah satu pihak menetapkan harga terlalu tinggi atau rendah. Nah, untuk akuisisi itu kita tidak menemukan harga yang pas,” katanya tanpa mengungkapkan rupiah yang ditawarkan oleh Telkom untuk Indonesian Tower.
Sebelumnya, Mitratel  sudah melakukan conditional agreement dengan para pemegang saham Indonesian Tower untuk mengakuisisi kepemilikan perseroan sebesar  80 persen. Perusahaan tersebut memiliki  1.816 menara.
Secara terpisah, Direktur Utama Indonesian Tower Sakti Wahyu Trenggono mengaku tidak kecewa dengan pembatalan pembelian perusahaannya oleh anak usaha Telkom itu. “Hal yang normal dalam bisnis. Langkah selanjutnya kita tentu akan kembali fokus pada bisnis yang telah lama digeluti,” jelasnya.. [dni]