031209 Permen Konten Multimedia Upaya Menghadirkan Internet Sehat

Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) dalam waktu enam bulan ke depan akan mengeluarkan  Peraturan Menteri (Permen) tentang konten multimedia.

Menkominfo Tifatul Sembiring menjelaskan, tujuan dari diterbitkan regulasi tersebut  untuk mencegah munculnya  segala macam konten negatif yang timbul di dunia maya agar  internet dapat lebih sehat dan aman bagi anak-anak.

”Internet ini seperti dunia sendiri yang pertumbuhannya sangat luar biasa di Indonesia. Sekarang saja diperkirakan ada 35 juta pengguna internet. Dari ranah ini semua informasi bisa didapat. Jika tidak dikontrol informasinya dan banyak pornografi tentunya bisa merusak mental generasi penerus,” katanya di Jakarta belum lama ini.

Berdasarkan catatan, pada tiga tahun lalu saja sebanyak 3,075 juta dollar AS dihabiskan dana untuk berbelanja konten pornografi oleh pengguna internet.

Pada tiga tahun lalu, Indonesia berada di peringkat ketujuh dunia sebagai pengakses pornografi. Sedangkan  pada 2008,  Indonesia melesat  di peringkat ketiga.

Dirjen Aplikasi dan Telematika Depkominfo Ashwin Sasongko menmabhakan, regulasi yang akan dikeluarkan tersebut tidak hanya mengatur masalah pornografi, tetapi juga pencemaran nama baik dan hal-hal lainnya yang diatur dalam Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Satu hal yang pasti, regulasi ini  tidak akan mengatur hal  teknis bisnis. Harus diketahui, di seluruh dunia juga terbit aturan sejenis,” tegasnya.

Ashwin optimistis, rancangan peraturan menteri bisa diselesaikan pada Desember nanti. “Proses yang berat itu adalah implementasinya. Walau kita sudah berbicara dengan asosiasi, tetapi industri ini banyak pemain independen,” katanya.

Teknik Blokir

Ketua Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari) Irwin Day mengungkapkan,
terdapat beberapa teknik  penyaringan yang bisa dilakukan dalam mencegah masuknya konten negatif ke pengguna yakni penyaringan di PC, proxy atau cache server, dan di internet.

Saat ini Awari sedang mengembangkan   penyaringan di internet dengan menggunakan DNS Nawala bekerjasama dengan Telkom. Perangkat lunak ini trafiknya saat ini telah mencapai 36 ribu  queries per minutes. Awari sendiri memiliki 8 ribu anggota.
Dijelaskannya, Nawala baru menetapkan satu  jenis teknik yakni DNS filter yang memiliki  keunggulan tidak memberikan   beban atau efek pada jaringan. Sedangkan kelemahannya adalah  bisa overblocking, karena yang diblokir keseluruhan situs atau domain

“Pemblokiran paling ideal itu membutuhkan  backend yang lumayan dan biaya operasional tinggi. Pertanyaannya, siapa yang mau mengongkosi. Setahu saya Depkominfo tidak memiliki tools untuk blokir ini. Awari saja diberikan server oleh Telkom sebagai program tanggung jawab sosialnya,” jelasnya.

Pro Kontra

Terlepas dari adanya teknik pemblokiran yang tersedia saat ini, pro kontra mulai terjadi di kalangan pemerhati internet.

Ketua Masyarakat Industry Kreatif TIK Indonesia (Mikti) Indra Utoyo mengaku tidak khawatir dengan adanya regulasi tentang konten tersebut.

”Jika hanya mengatur terkait konten yang berisi pornografi dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia, rasanya wajar dikeluarkan. Asalkan jangan mengatur terlalu dalam hingga ke proses bisnis dari konten. Ini karena basis bisnis ini adalah kreatifitas,” katanya.

Namun, Indra mengingatkan, di internet itu sanksi regulasi dan teknis tidak ampuh dilakukan. Sanksi yang paling berat adalah moral dan sosial. “Jika sanksi itu yang dilakukan, lebih berat bagi pelaku,” tegasnya.

Wakil Ketua Komite Tetap Informatika Kadin Iqbal Farabi mengatakan, jika pun akan regulasi terkait konten di internet, harus ada pembatasan yang jelas. “Jika tidaka da pembatasan, bisa membahayakan konten tertentu. Misalnya games, itu kan sumir sekali,” katanya.

Praktisi Telematika Mochammad James Falahuddin menyarankan, untuk konten games yang perlu dilakukan adalah  pengkategorian rating dari konten  serta mendefinisikan  mekanismenya supaya rating itu bisa dipatuhi oleh pengakses konten tersebut.

“Kalau di beberapa situs luar negeri, untuk mengkonfirmasi umur pengakses, mereka mewajibkan kita memasukkan nomor kartu kredit. Di Indonesia perlu dicari mekanisme lain. Hal yang harus diperhatikan itu adalah sanksinya pidana agar ada efek jera,” tegasnya.

Tumpang Tindih

Pada kesempatan lain, Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Rudi Rusdiah menilai langkah yang dilakukan oleh Depkominfo menimbulkan tumpang tindih aturan di lapangan.

“Masalah pornografi sudah ada UU  yang lebih lex spesialis yakni UU Pornografi. Sedangkan pencemaran nama baik ada KUHP. Pasal 27 ayat 3 di UU ITE  mengenai pencemaran  tidak butuh Permen. Bagaimana  bisa dikaitkan permen ini dengan   UU ITE. Seharusnya pemerintah  fokus pada pasal  pembuktian  transaksi elektronik saja,”katanya.

Sementara Praktisi telematika Judith MS  menghimbau Depkominfo untuk berhati-hati mengeluarkan regulasi tersebut agar tidak menjadi bumerang kedua setelah  UU ITE.   UU ITE yang seharusnya menjadi garda pelindung transaksi ekonomi e-commerce berubah  menjadi UU represif bagi kebebasan berekspresi  para blogger.

“Masalah konten ini sangat sensitif. Di internet juga banyak digunakan untuk perjudian, transaksi narkoba, terorisme, dan lainnya. Tidak hanya sebatas pornografi saja,” tegasnya.

Menurut dia, jika pemerintah   tidak secara jelas dan transparan merinci konten  maka bukan hanya blogger tetapi para pengguna jejaring sosial  tertentu bisa kena tindakan pidana karena dianggap melanggar konten  yang dilarang pemerintah saat mereka berinteraksi satu dan lainnya.

Disarankannya, ketimbang pemerintah sibuk mengeluarkan regulasi, lebih bijak melakukan  edukasi positif tentang manfaat internet. “Jika itu tidak dilakukan, regulasi ini akan menjadi macan ompong. Pengguna internet itu kreatif semua. Semakin dilarang, makin tertantang,” katanya.

Hal ini karena di Indonesia banyak beroperasi penyedia jasa internet (PJI) asing karena letak geografi negeri ini yang strategis. “Para PJI asing ini tentu susah dideteksi dan diatur. Apa ini sudah dipikirkan oleh regulator,” ketusnya.[dni].

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s