281109 Laba Bersih BTEL Anjlok 19,83

JAKARTA—Laba bersih PT Bakrie Telecom (BTEL) pada kuartal ketiga tahun ini hanya sebesar   97 miliar rupiah atau anjlok 19,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar  121 miliar rupiah.

Anjloknya laba bersih pemilik merek dagang Esia ini tidak sebesar pada kuartal pertama tahun ini sebesar 79 persen atau  sebesar 5,7 miliar rupiah   dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan raihan  27,4 miliar rupiah.

Berdasarkan catatan, anjloknya laba perseroan pada kuartal pertama tahun ini  akibat  rugi kurs sebesar 14,2 miliar rupiah   dibanding laba kurs sebesar  25,9 miliar rupiah di kuartal pertama tahun lalu.

Sedangkan jika dilihat per semester, maka pada semester I 2009, laba bersih BTEL justru mengalami  kenaikan  16,7 persen  menjadi 72,8 miliar rupiah dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 62,4 miliar rupiah.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi, mengungkapkan, penurunan laba bersih untuk periode kuartal ketiga tahun ini   dipicu oleh kenaikan beban bunga dan dan biaya depresiasi sejalan dengan penambahan aset akibat perluasan jangkauan wilayah layanan secara nasional serta untuk meningkatkan kualitas jaringan.

“Kami berhasil menambah  21 kota baru antara September 2008 hingga September 2009. Saat ini  hingga akhir bulan September Esia  telah hadir di 76 kota. Semua ini untuk mencapai target akhir tahun mendapatkan 10,5 juta pelanggan,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (27/11).

Dijelaskannya, agresifnya penambahan area baru tersebut menjadikan jumlah pelanggan perseroan pada kuartal ketiga tahun ini mencapai 9,81 juta pelanggan atau naik   49,7 persen  dibanding pencapaian pada periode yang sama di tahun 2008.

Pertumbuhan jumlah pelanggan tersebut mengakibatkan pendapatan bersih perusahaan  meningkat 29,8 persen. Pendapatan bersih BTEL kuartal ketiga 2009 menunjukkan angka  2.013 miliar rupiah atau meningkat dibanding periode sebelumnya yang mencapai  1.551 miliar rupiah.

Sedangkan pendapatan usaha pada  kuartal ketiga 2009  tercatat sebesar Rp 2.545 miliar rupiah. Dibanding periode yang sama tahun lalu terdapat peningkatan 27,4 persen mengingat pendapatan Bakrie Telecom saat itu sebesar 1.997  miliar rupiah.

Lonjakan  juga terlihat pada  Earnings Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization (Ebitda) dimana BTEL  membukukan pertumbuhan sebesar 59,8 persen year on year. Pada kuartal ketiga 2009, EBITDA BTEL tercatat senilai    930 miliar rupiah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar  582 miliar rupiah.

Pada kesempatan lain, Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengatakan, bagi operator seperti Esia belum saatnya untuk berpindah orientasi dari akuisisi pelanggan menjadi fokus pada retensi ala incumbent di seluler.

“Bagi operator besar mungkin itu harus dilakukan untuk mencari pendapatan tambahan agar profitabilitas kembali naik. Soalnya ketika operator besar ingin ikut-ikutan main tarif murah ala esia ternyata berbalik menyerang kinerja mereka,” jelasnya.

Erik menegaskan,  esia tetap akan pada jalurnya dengan memastikan memberikan tarif  termurah dan  layanan baik dengan harga terjangkau kepada pelanggannya. “Kami tidak mau menaikkan  tarif   hanya untuk meningkatkan revenue. Kami tetap akan fokus menambahkan jumlah pelanggan  dan memberikan jasa baru yang relevan,” katanya.[dni]

281109 Dephub Pertimbangkan Saran KPPU

 

JAKARTA—Departemen Perhubungan akan mempertimbangkan saran dan pertimbangan yang dikeluarkan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terkait implementasi kebijakan kegiatan pencatatan dan penghitungan keluar masuk barang ataupun peti kemas (Tally).

 

“Kami akan pelajari saran dan pertimbangan yang dikeluarkan oleh lemabaga tersebut. Nantinya akan dikoordinasikan dengan pihak KPPU jika benar kuat adanya dugaan kartel dalam implementasi Tally tersebut,” ujar Juru bicara Dephub Bambang S Ervan kepada Koran Jakarta, Jumat (27/11).

 

Sebelumnya, Direktur Komunikasi KPPU A. Junaidi mengungkapkan, lembaganya  melihat telah terjadi praktek kartel yang dilakukan melalui penetapan pembagian wilayah operasi pelaku usaha tally dan penetapan tarif yang dilakukan melalui kesepakatan pelaku usaha penyedia dan pengguna jasa tally.

 

Kesepakatan yang berkaitan dengan penetapan tarif apabila dilihat dari perspektif persaingan usaha, merupakan bentuk nyata dari kartel yang sangat dilarang (hardcore cartel). Dalam UU No. 5/1999, larangan terkait hal tersebut tercantum di pasal 5.

 

Praktek kartel tersebut difasilitasi oleh hadirnya Keputusan Menteri Perhubungan No 15 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan dan Pengusahaan Tally di Pelabuhan, Bab VI Pasal 11.

 

Sementara itu, penetapan wilayah operasi tally yang hanya memperuntukkan wilayah tertentu untuk pelaku usaha tally tertentu, merupakan wujud nyata dari kegiatan pembagian wilayah yang merupakan kegiatan yang dilarang oleh UU No 5 Tahun 1999 Pasal 19.

 

Pembagian wilayah tersebut juga ternyata difasilitasi Surat Keputusan Administratur Pelabuhan Tanjung Priok No AT.575/3/6/AD.TPK-09 untuk kartel pembagian wilayah.

 

Junaidi menyarankan,   untuk mendorong terciptanya iklim persaingan usaha yang sehat dalam industri tally, maka perlu direvisi substansi pengaturan dalam Keputusan Menteri Perhubungan No 15 Tahun 2007, khususnya Bab VI Pasal 11 dengan menghilangkan kata Asosiasi sehingga proses penetapan tarif sepenuhnya diserahkan kepada transaksi antara pelaku usaha penyedia dan pengguna jasa. Dengan menghilangkan kata asosiasi, maka praktek kartel penetapan tarif (price fixing) dalam industri tally bisa dihindarkan.

 

Berikutnya, mencabut surat keputusan Administratur Pelabuhan Tanjung Priok No AT.575/3/6/AD.TPK-09 tentang penetapan pembagian wilayah operasi kegiatan tally. Pelaku usaha tally harus diberikan kebebasan untuk menawarkan jasanya kepada pengguna jasa di wilayah manapun di pelabuhan Tanjung Priok sehingga akan tercipta persaingan yang sehat dan dinamis.

 

Terakhir, menetapkan batas atas tarif dan stander minimal kualitas pelayanan, untuk menghindari eksploitasi konsumen melalui tarif yang eksesif dan kualitas pelayanan yang rendah, mengingat struktur industri jasa tally adalah oligopoli dan struktur industri kepelabuhanan secara keseluruhan adalah natural monopoly sehingga posisi penyedia jasa jauh lebih kuat dibandingkan pengguna jasa. Penetapan kebijakan tersebut harus disertai dengan sanksi dan penegakan hukum yang tegas dan jelas, sehingga hanya pelaku usaha tally yang memiliki kompetensi dan profesional yang dapat beroperasi di industri kepelabuhanan Indonesia.

 

Tender MRT

Sementara itu, berkaitan dengan saran KPPU dalam tender Consulting Services for Jakarta Mass Rapid Transit (MRT) System Project, Bambang menjelaskan, dalam melaksanakan tender tersebut Dephub mempertimbangkan juga saran dari pemberi pinjaman yakni pihak Jepang.

 

“Itu sudah ada dalam bagian perjanjian ketika pinjaman diberikan,” tegasnya.

 

Bambang menegaskan,proses tender sudah melewati regulasi yang berlaku dan meminta polemik tender tidak diperpanjang. “Kalau saya lihat ini hanya masalah ada yang kalah tender. Jika dalam tender desain ini saja sudah ribut terus, kapan MRT akan digelar,” tegasnya.

 

Sementara Juniadi menegaskan, terdapat   dugaan persekongkolan vertikal yang dilakukan oleh peserta tender dengan panitia.

 

Fakta-fakta yang terungkap antara lain, dalam dokumen technical proposal dari Konsorsium Nippon Koei pada chapter Firms Experience, ditemukan fakta bahwa Nippon Koei merupakan konsultan yang sejak tahun 2005 sudah menangani perencanaan proyek MRT Jakarta.  .

 

Terdapat dugaan Nippon Koei memang dipersiapkan untuk mengerjakan proyek MRT mulai dari perencanaan hingga pekerjaan desain, bahkan untuk setiap pekerjaan lanjutannya sekaligus penyusunan metode pengadaannya.

 

Diketahui bahwa Konsorsium Nippon Koei mengirimkan surat kepada Direktur Jenderal Perkeretaapian tanggal 14 Oktober 2008 dan kepada Menteri Perhubungan pada tanggal 24 Oktober 2008;

 

Menurut Junaidi, berdasarkan klarifikasi KPPU dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), diketahui bahwa tindakan Konsorsium Nippon Koei tersebut dapat dianggap sebagai perbuatan yang melanggar etika pengadaan, dan dapat dikenakan sanksi.

 

Hal lain yang terungkap dari klarifikasi adalah dugaan persekongkolan horizontal yang dilakukan di antara peserta tender, yaitu Konsorsium Nippon Koei Co., Ltd. (Jakarta Metro Engineering Consultans) dengan Konsorsium Pacific Consultans International. Terhadap dugaan persekongkolan tersebut, saat ini KPPU tengah memprosesnya melalui proses penanganan perkara.

 

“Dalam konteks penanganan perkara, laporan ini telah melalui proses pemberkasan mulai tanggal 30 Oktober 2009 hingga 11 Desember 2009, dan akan diajukan GelarLaporan pada tanggal 14 Desember 2009 hingga 6 Januari 2010,” jelasnya.[dni]

 

281109 Dephub Dinilai Berlebihan

JAKARTA—Departemen Perhubungan (Dephub) dinilai mengambil sikap yang berlebihan dalam melakukan pelarangan terhadap kapal  berbahan Fibre Glass (FG) untuk   mengarungi laut lepas karena menganggap konstruksinya tidak sekuat alumunium atau baja.

Padahal,   kapal-kapal berbahan  FG dapat memenuhi kebutuhan transportasi dengan kecepatan yang lebih baik dengan ongkos yang murah. Pelarangan diperkirakan  akan menimbulkan persoalan baru yang berdimensi ekonomi  menyangkut aspek kelancaran lalu lintas barang dan penumpang lewat laut.

“Saya rasa kecurigaan pemerintah dalam hal ini Direktorat Keselamatan Pelayaran (Ditkapel) Hubungan Laut (Hubla) terlalu berlebihan. Kapal-kapal berbahan  FG   masih mampu melalui jalur laut walaupun dengan ketinggian ombak atau resistansi ombak tertentu jika persyaratan konstruksi dan kekuatan  memanjang konstruksi fibre-glass- nya telah memenuhi syaratbadan klasifikasi internastional,” ujar pengamat maritim Saut Gurning di Jakarta, belum lama ini.

Saut diminta pendapatnya terkait pernyataan dari Dirjen Perhubungan Laut Sunaryo yang melarangkapal berbahan FG untuk berlayar ke laut lepas belum lama ini. Larangan ini dilakukan seiring karamnya KM Dumai Ekspres (Dumeks) 10 di Perairan Tokong Hiu, Karimun, Kepulauan Riau, Minggu lalu.

Menurut Sunaryo, bahan fibre  sangat rentan terhadap goncangan ombak. Selain itu, sifat fibre yang tidak lentur menyebabkan bahan tersebut mudah pecah bila berbenturan dengan benda yang lebih keras. Hal inilah yang memicu kapal-kapal dengan bahan fibre hanya diperbolehkan berlayar di sungai dan danau saja yang ombak dan cuacanya tidak seekstrim di tengah

Sedangkan menurut Saut, persoalan di Indonesia terkait bahan baku kapal adalah lemahnya pengawasan  atau pengendalian kapal-kapal FG   menyangkut pengecekan kekuatan konstruksi FG khususnya pengecekan di bawah air.

“Perawatan konstruksi FG biasanya dalam bentuk perbaikan atau penambalan konstruksi laminasi  seharusnya dilakukan setahun sekali, apalagi untuk kapal penumpang dimana
wajib naik dok setahun sekali untuk pengecekan tipe ini,” jelasnya.

Selain itu, pengecekan insulasi mesin dari kapal-kapal berbahan  FG perlu dilakukan  karena insulasi yang tidak baik dapat mempengaruhi daya tahan FG akibat kelebihan panas atau dingin yang berlebihan dari engine dan sistem perpipaannya terhadap bahan konstruksi FG.

Dijelaskannya,  kekuatan konstruksi kapal termasuk kapal-kapal FG memang rentan terhadap overloaded weight akibat kelebihan penumpang ditambah barang yang
dimuat dan  pukulan gelombang. Hal ini biasa disebut dengan  hammering terhadap konstruksi FG.

Pengujian kekuatan dan kestabilan (strength and stability assessement )  seharusnya  dilakukan pada saat kapal naik dok pertahunnya itu.

Saut meragukan,  pengujian konstruksi kapal-kapal FG di Indonesia sudah dilakukan dengan baik.  “Terus terang saya meragukan hal itu mengingat kebanyakan dari kapal-kapal tipe FG ini  tidak mengikuti atau masuk dalam standar pengawasan biro klasifikasi  Indonesia. Padahal, populasi kapal-kapal seperti ini paling banyak melayani rute-rute jarak pendek (kurang dari 100 mile) di Indonesia,” jelasnya.

Disarankannya,  hal sederhana yang bisa dilakukan   pemerintah dalam jangka waktu pendek adalah   menertibkan besaran muatan bawaan penumpang seperti halnya di angkutan udara guna menghindari kekuatan berlebih yang dapat mengakibatkan kerusakan konstruksi  kapal baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.

Dukung RI
Secara terpisah, Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan
Departemen Perhubungan, Bambang Supriyadi Ervan mengungkapkan,  pemerintah RI mulai melakukan penggalangan dukungan dengan sejumlah negara-negara anggota International Maritime Organization (IMO) agar terpilih lagi menjadi anggota Dewan IMO 2009-2011.

Diperkirakan Indonesia bakal kembali lagi menduduki jabatan sebagai anggota Dewan IMO. Hingga saat ini, sebanyak 110 negara menyatakan dukungan agar Indonesia kembali masuk dalam keanggotaan dewan yang berlaku selama dua tahun itu. Sidang majelis IMO sendiri dilakukan pada 24 November hingga 4 Desember mendatang.

“Sudah ada 110 negara yang telah menyatakan dukungannya agar
Indonesia menjadi anggota Dewan IMO. Mudah-mudahan kita terpilih
lagi,” katanya.

Pemilihan anggota Dewan IMO sendiri akan dilakukan pada Jumat (27/11) ini. Berdasarkan ketentuan, agar terpilih sebagai anggota Dewan IMO harus dipilih minimal oleh 85 anggota, atau 50 persen plus 1, yaitu dari 169 negara anggota IMO.

Bambang menegaskan,  Indonesia memiliki kepentingan duduk di dewan IMO agar bisa memberikan warna lebih dalam kebijakan-kebijakan kemaritiman dunia, terutama yang berkaitan dengan dunia pelayaran Indonesia.

“Sebagai negara maritim, tentu Indonesia sangat mempunyai kepentingan agar kebijakan IMO mampu memajukan dunia pelayaran di Indonesia,” ujarnya.

Selama ini Indonesia menjadi anggota Dewan IMO kategori C bersama 19 negara lainnya. Kategori ini memiliki kepentingan khusus dalam angkutan laut atau navigasi dan mencerminkan perwakilan yang adil secara geografis.[dni]

Laba Bersih BTEL Anjlok 19,83  %

JAKARTA—Laba bersih PT Bakrie Telecom (BTEL) pada kuartal ketiga tahun ini hanya sebesar   97 miliar rupiah atau anjlok 19,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar  121 miliar rupiah.

Anjloknya laba bersih pemilik merek dagang Esia ini tidak sebesar pada kuartal pertama tahun ini sebesar 79 persen atau  sebesar 5,7 miliar rupiah   dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan raihan  27,4 miliar rupiah.

Berdasarkan catatan, anjloknya laba perseroan pada kuartal pertama tahun ini  akibat  rugi kurs sebesar 14,2 miliar rupiah   dibanding laba kurs sebesar  25,9 miliar rupiah di kuartal pertama tahun lalu.

Sedangkan jika dilihat per semester, maka pada semester I 2009, laba bersih BTEL justru mengalami  kenaikan  16,7 persen  menjadi 72,8 miliar rupiah dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 62,4 miliar rupiah.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi, mengungkapkan, penurunan laba bersih untuk periode kuartal ketiga tahun ini   dipicu oleh kenaikan beban bunga dan dan biaya depresiasi sejalan dengan penambahan aset akibat perluasan jangkauan wilayah layanan secara nasional serta untuk meningkatkan kualitas jaringan.

“Kami berhasil menambah  21 kota baru antara September 2008 hingga September 2009. Saat ini  hingga akhir bulan September Esia  telah hadir di 76 kota. Semua ini untuk mencapai target akhir tahun mendapatkan 10,5 juta pelanggan,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (27/11).

Dijelaskannya, agresifnya penambahan area baru tersebut menjadikan jumlah pelanggan perseroan pada kuartal ketiga tahun ini mencapai 9,81 juta pelanggan atau naik   49,7 persen  dibanding pencapaian pada periode yang sama di tahun 2008.

Pertumbuhan jumlah pelanggan tersebut mengakibatkan pendapatan bersih perusahaan  meningkat 29,8 persen. Pendapatan bersih BTEL kuartal ketiga 2009 menunjukkan angka  2.013 miliar rupiah atau meningkat dibanding periode sebelumnya yang mencapai  1.551 miliar rupiah.

Sedangkan pendapatan usaha pada  kuartal ketiga 2009  tercatat sebesar Rp 2.545 miliar rupiah. Dibanding periode yang sama tahun lalu terdapat peningkatan 27,4 persen mengingat pendapatan Bakrie Telecom saat itu sebesar 1.997  miliar rupiah.

Lonjakan  juga terlihat pada  Earnings Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization (Ebitda) dimana BTEL  membukukan pertumbuhan sebesar 59,8 persen year on year. Pada kuartal ketiga 2009, EBITDA BTEL tercatat senilai    930 miliar rupiah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar  582 miliar rupiah.

Pada kesempatan lain, Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengatakan, bagi operator seperti Esia belum saatnya untuk berpindah orientasi dari akuisisi pelanggan menjadi fokus pada retensi ala incumbent di seluler.

“Bagi operator besar mungkin itu harus dilakukan untuk mencari pendapatan tambahan agar profitabilitas kembali naik. Soalnya ketika operator besar ingin ikut-ikutan main tarif murah ala esia ternyata berbalik menyerang kinerja mereka,” jelasnya.

Erik menegaskan,  esia tetap akan pada jalurnya dengan memastikan memberikan tarif  termurah dan  layanan baik dengan harga terjangkau kepada pelanggannya. “Kami tidak mau menaikkan  tarif   hanya untuk meningkatkan revenue. Kami tetap akan fokus menambahkan jumlah pelanggan  dan memberikan jasa baru yang relevan,” katanya.[dni]

261109 Profitabilitas yang Makin Menurun

 

Tiga tahun belakangan ini industri telekomunikasi Indonesia bisa dikatakan mendapatkan cobaan yang berat. Lihat saja fakta di lapangan yang mengungkapkan ternyata dalam tiga tahun terakhir ini hanya ada 50 juta pelanggan baru yang berhasil diraih oleh para pemain besar seperti Telkomsel, Indosat, dan XL.

 

Padahal, dalam kurun waktu tersebut dana yang digelontorkan oleh ketiganya untuk belanja modal mencapai 100 triliun rupiah. Namun, pertumbuhan pendapatan tiga operator besar hanya sekitar 200-300 miliar rupiah.

 

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengungkapkan, fenomena tersebut tak bisa dilepaskan dari nafsu mengejar pelanggan sehingga berujung pada tingginya penggunaan ala calling card di industri.

 

“Kenyataan di lapangan berbicara setiap menjual tujuh kartu perdana, hanya satu yang menjadi pelanggan. Karena itu kita realistis jika bisa pendapatan tumbuh dua sampai tiga persen setiap bulan sudah bagus,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

 

Menurut Guntur, jika kondisi tersebut   dibiarkan  terus, pihak yang untung adalah   produsen sim card. Misalnya, tahun lalu Indosat menjual 60 juta kartu, XL (70 juta), Telkomsel (110 juta) dengan harga kartu 20 sen dollar AS, maka ada uang tersedot 20 juta dollar AS.

 

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi menjelaskan dalam menekan calling card harus melihat  dari  sisi pelanggan yaitu  apakah lebih murah membeli pulsa isi ulang  dibanding membeli kartu perdana .

 

“Jika kartu perdana 5000 dibeli 8 ribu rupiah,  (tingkat pindah layanan)  akan kecil karena beli isi ulang untuk 5 ribu rupiah  perlu bayar 6000 ribu rupiah. Tetapi   kalau bisa dibeli dengan harga 3000 rupiah churn akan  terjadi,” jelasnya.

 

Sementara GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana mengatakan, kondisi industri pada tahun depan akan mulai membaik seiring meredanya perang tarif ala permainan pemasaran oleh operator.

 

“Perang tarif yang dibungkus dalam permainan pemasaran selama dua tahun terakhir telah menjadikan masyarakat menjadi lebih dewasa dan matang mencari produk telekomunikasi,” katanya.

Nirwan pun menyakini, pada tahun depan tarif yang dimiliki oleh operator tidak akan mengalami penurunan karena penawaran yang ada saat ini sudah terjangkau dan transparan.

 

Diprediksinya, pertumbuhan pelanggan telekomunikasi nirkabel pada tahun depan diperkirakan akan sama dengan tahun ini atau flat.
Pada tahun ini terdapat sekitar 30 juta pelanggan baru yang diperebutkan oleh 11 operator dengan berbagai lisensi, sehingga diakhir 2009 diperkirakan terdapat 170 juta nomor aktif. Sedangkan pertumbuhan pendapatan industri  sekitar 7-9 persen.

Sementara pada tahun ini walau jumlah pelanggan baru sama yang akan diakuisisi, tetapi pendapatan industri mengalami pertumbuhan sebesar 10-11 persen.

”Pada tahun depan diperkirakan jumlah pelangggan sama dengan tahun ini. Sedangkan pendapatan lebih tumbuh karena operator mulai fokus kepada nilai produk, bukan lagi perang tarif,” jelasnya.

 

Secara terpisah, Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengatakan, bagi operator seperti Esia belum saatnya untuk berpindah orientasi dari akuisisi pelanggan menjadi fokus pada retensi ala Telkomsel.

 

“Bagi operator besar mungkin itu harus dilakukan untuk mencari pendapatan tambahan agar profitabilitas kembali naik. Soalnya ketika operator besar ingin ikut-ikutan main tarif murah ala esia ternyata berbalik menyerang kinerja mereka,” jelasnya.

 

Erik menegaskan,  esia tetap akan pada jalurnya dengan memastikan memberikan tarif  termurah dan  layanan baik dengan harga terjangkau kepada pelanggannya. “Kami tidak mau menaikkan  tarif   hanya untuk meningkatkan revenue. Kami tetap akan fokus menambahkan jumlah pelanggan  dan memberikan jasa baru yang relevan,” katanya.

 

Pada kesempatan lain, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengakui, pertumbuhan pelanggan pada tahun depan  makin flat dan bisa jadi turun karena pengguna nyaris menyentuh angka 100 persen.

 

“Semuanya tergantung operator untuk keluar dari tantangan ini. di beberapa negara ada penetrasi mencapai 130 persen. Sedangkan di Indonesia yang terjadi baru penterasi sim card belum pengguna. Sudah saatnya operator berfikir untuk tidak Jawa sentris agar ada pasar baru yang tergarap disamping memberikan layanan nilai tambah yang bisa menaikkan pendapatan ,” jelasnya.[dni]

 

 

261109 Program Akhir Tahun: Pertarungan di Babak Akhir

Tak terasa tahun 2009 akan berakhir sebentar lagi. Bagi eksekutif operator, menjelang tutup tahun masih tersedia kesempatan   untuk mengejar target yang ingin dicapai selama 2009.

 

Kesempatan itu adalah memanfaatkan momentum datangnya hari Raya Haji, Natal, dan Tahun Baru. Guna mengkonversi momentum tersebut menjadi kontributor bagi pendapatan, maka dibuatlah program-program pemasaran yang memikat pelanggan. Biasanya, tiga momentum tersebut bisa berkontribusi sekitar 15 persen bagi total pendapatan perseroan selama setahun.

 

Lihat saja aksi Telkomsel   merevitalisasi kartu prabayar Simpati dengan nama Simpati M@X awal minggu ini.  Kartu tersebut dibanderol seharga   10 ribu rupiah  yang terdiri dari pulsa utama 5 ribu rupiah   yang dapat digunakan untuk komunikasi suara, SMS, dan data ke semua operator serta bonus pulsa  5 ribu rupiah untuk komunikasi ke lebih dari 80 juta pelanggan Telkomsel.
Di samping itu, pelanggan juga mendapat gratis akses internet sebesar 5 MB yang bisa digunakan di ponsel maupun modem untuk akses email, chatting, browsing, social networking, dan sebagainya.
Aksi Telkomsel menghadirkan produk baru juga diikuti oleh Bakrie Telecom dengan menawarkan ponsel musik. Pemilik merek dagang Esia ini menawarkan  Esia Musicbox dan Esia Idolaku. Keduanya dibanderol dengan harga sekitar  500 ribu rupiah.

 

Untuk tahap pertama Esia mengeluarkan 85.000 unit Esia Musicbox dan 100.000 unit Esia Idolaku. Kedua ponsel ini memungkinkan pengguna mengunduh lagu dengan paket berlangganan seribu rupiah per hari untuk 30 lagu. Selain itu juga tersedia  akses ke Facebook, Twitter, dan layanan Instant Messaging.

 

Berbeda dengan dua pemain di atas. Indosat dan Axis lebih mengedepankan program pemasaran ketimbang bermain dengan produk baru. Indosat menawarkan program yang mirip dengan milik XL yakni Mentari Obral Obrol yang memungkinkan  pelanggan menelpon berkali-kali dengan biaya seribu rupiah.

 

Bahkan untuk di kota-kota tertentu, Indosat seperti setia mengikuti langkah XL dengan ikut memberikan bonus 50 SMS. Sementara  Axis  lebih inovatif ketimbang Indosat dengan memberikan Bonus Mutlak pulsa  seribu rupiah setiap hari ke semua operator. Bahkan Axis berani menjanjikan bonus pulsa hingga satu juta rupiah bagi aktivasi kartu baru.

 

Perbaiki Nilai

GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana mengungkapkan, langkah merevitalisasi Simpati sebenarnya merupakan program tahunan dari perseroan. “Produk Simpati Pede kami luncurkan dalam periode yang sama tahun lalu. Jadi ini bukan untuk mengejar target pelanggan, karena itu sudah dicapai pertengahan tahun ini,” ujarnya.

 

Diungkapkannya, saat ini simpati telah digunakan oleh 55 juta pelanggan. “Kita ini lebih pada meningkatkan nilai produk sehingga bisa memberikan kontribusi pendapatan bagi perseroan,” jelasnya.

 

VP Product Marketing Telkomsel Mark Chambers menambahkan, hingga sembilan bulan pertama 2009, produk-produk yang dimilikiTelkomsel mampu menunjukkan pertumbuhan pendapatan sebesar 18 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

“Meningkatkan nilai itu bisa dengan program retensi atau mendiversifikasi produk. Inilah yang kami lakukan. Lihat saja dari banderol harga kartu perdana yang diatas kompetitor serta bonus yang diberikan. Itu jelas sekali kami lebih mengutamakan nilai ketimbang main tarif,” tegasnya.

 

Nirwan menjelaskan, perang tarif yang dibungkus dalam permainan pemasaran selama dua tahun terakhir telah menjadikan masyarakat menjadi lebih dewasa dan matang mencari produk telekomunikasi.
”Ibaratnya masyarakat ikut dalam ”Kejar Paket A” sehingga makin melek dengan produk operator. Akhirnya mereka letih dengan permainan pemasaran yang meminta banyak syarat sehingga kembali mencari operator menawarkan nilai lebih pada produknya,” katanya.

Namun, Nirwan pun tidak menampik jika dari hasil revitalisasi ini ada pelanggan baru yang didapat. “Biasanya akan ada tambahan pelanggan baru sejuta setiap bulannya,” katanya.

 

Sementara Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengakui peluncuran produk barunya untuk mengejar target 2009. “Setiap bulan esia selalu mengeluarkan produk baru. Dua ponsel itu sebagai bagian dari aksi mencapai 10,5 juta pelanggan di akhir tahun ini,” katanya.

 

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengakui, momentum akhir tahun bisa dimanfaatkan untuk menaikkan pendapatan, jika program yang diatawarkan sesuai dengan kondisi pasar.

 

“Tergantung program  yang diluncurkan  dan pasar   yang dibidik. Kalau sesuai  dengan kondisi pasar menjelang libur panjang akhir tahun bisa saja sukses,” katanya.

 

Hasnul sendiri menyakini, performa XL pada kuartal keempat kembali cerah walau tak berani mengeluarkan prediksi. “Lihat saja laporan kuartal keempat nanti. Kejutan bagi industri,” jelasnya.

 

Kabar beredar di sentra-sentra penjualan ponsel dan voucher pulsa mengatakan, posisi Xl di pasar saat ini telah berada di nomor dua dari sisi pelanggan. Indosat dikabarkan telah tersalip oleh XL. Pada kuartal ketiga lalu Indosat memiliki 28,7 juta pelanggan sedangakan XL 26,6 juta pelanggan.

 

Tak Efektif

Sedangkan Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengatakan, momentum akhir tahun  tidak efektif untuk meningkatkan pendapatan karena kondisi industri sudah berbeda dengan dua tahun lalu.

 

“Momentum paling besar itu adalah Idul Fitri. Sekarang lebaran itu adanya di kuartal ketiga. Karena itu kami lebih konsentrasi menaikkan nilai produk walau resikonya pelanggan semakin mengerut,” jelasnya.

 

Guntur pun mengakui, kartu perdana yang dimiliki Indosat tidak menarik minat pasar karena dibanderol dengan harga lima ribu rupiah. Sementara pesaing seperti XL membanderol dua ribu rupiah dan Telkomsel 10 ribu rupiah.

 

“Secara psikologis harga memang kalah. Tetapi kami ingin menyasar segmen yang tidak digarap XL atau Telkomsel,” jelasnya.

 

Secara terpisah, Praktisi telematika Ventura Elisawati mengatakan,  sebanarnya perang program yang ditawarkan oleh operator satu tahun belakangan ini sudah tidak lagi mengenal momentum seperti beberapa tahun lalu.

 

“Saat ini   kondisi pertumbuhan industri  sudah memasuki tahapan  mature, rasanya fokus program akusisi mulai bergeser ke retensi pelanggan,” katanya.

 

Menurut Ventura,  program momentum khusus seperti beberapa tahun itu sudah bergeser tujuan utamanya dari menambah pelanggan menjadi   meningkatkan produktifitas pengguna. Akusisi murni terjadi jika yang ditawarkan dalam bentuk bundling dengan penyedia ponsel.

 

“Aksi yang efektif untuk mewujudkan itu sebenarnya melalui aktifitas below the line dan menggarap komunitas. Tetapi operator harus waspada dengan perilaku setelah terjadinya akuisisi. Harus diperhatikan berpaa lama pelanggan itu bisa tinggal di jaringan. Soalnya tingkat pindah layanan (Churn Rate) masih tinggi di industri yakni sekitar 14 persen,” katanya.[dni]

 

 

261109 Telkom Batasi Pengembangan Jaringan Tembaga

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mulai membatasi pembangunan jaringan telepon tetapnya berbasis tembaga guna meningkatkan kualitas layanan broadband ke pelanggan.

“Kami sekarang lebih fokus mengembangkan jaringan telepon kabel menggunakan serat optik. Hal ini karena jika mengandalkan tembaga kurang solid dalam menghantarkan data,” ungkap Direktur Konsumer Telkom I Nyoman G Wiryanata di Jakarta, Rabu (25/11).

Dijelaskannya, kabel tembaga memiliki keterbatasan pada kemampuan menghantarkan data. Jika kabel berjarak satu kilometer dari rumah pelanggan, maka data yang dihantarkan tidak bisa mencapai satu hingga dua Mbps. ”Padahal untuk mempertahankan pelanggan telepon kabel, Telkom harus menyinergikan layanan suara dengan broadband dari Speedy,” jelasnya.

Nyoman pun menegaskan, layanan telepon  tetap kabel akan digunakan ditengah kerasnya persaingan dengan wireless. Hal ini karena  telepon tetap kabel memiliki keunggulan pada kualitas suara, kemampuan pengiriman data, dan bagian dari persyaratan collateral dalam mengajukan kredit.

”Bukti nyata jasa ini masih diminati ketika diluncurkan program Paket Tagihan Tetap (PTT) tahun lalu, terdapat satu juta pelanggan dari 8,7 juta pengguna yang mengikuti layanan ini. Saat ini PTT dimodifikasi dengan menawarkan penurunan tarif sebesar 30 hingga 40 persen dalam bentuk bonus,” jelasnya.

Dijelaskannya, PTT hasil modifikasi  terdiri dari paket  On-Net (Anytime Calling) dan mobile calling. Paket ini diklaim lebih ramah kantong. Misalanya,  PTT New On-Net  pelanggan bisa memperoleh  bonus panggilan SLJJ kapan saja . Pada PTT sebelumnya bonus SLJJ hanya berlaku pada off peak. Sementara pada PTT New Mobile Calling pelanggan memperoleh bonus  mobile calling lebih lama dibandingkan paket yang sudah ada.

”Program baru ini diharapkan untuk tahap awal diikuti 300 hingga 400 ribu total pengguna telepon tetap kabel. Bagi kami yang penting legacy business ini bisa tetap dalam posisi landai pembukuannya pada tahun depan,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, pendapatan telepon tetap kabel  yang diselenggarakan Telkom diproyeksi akan terus turun. Sejauh ini penurunan yang tercatat sejak tahun lalu dari  2,25 triliun  menjadi  1,8 triliun rupiah dengan Average Revenue Per Users (ARPU) sekitar 112 ribu rupiah. .

Saat ini  jumlah pengguna telepon kabel tetap sekitar  8,7 juta pelanggan  dan hanya tumbuh 200 ribu pelanggan selama setahun terakhir.[dni]

261109 BlackBerry Onyx Hadir di Indonesia

JAKARTA—Penyedia ponsel pintar dari Kanada, Research in Motion (RIM), memilih Indonesia menjadi negara pertama di Asia sebagai tempat  peluncuran ponsel BlackBerry Bold 9700 atau lebih dikenal dengan nama  Onyx.

”Indonesia dipilih  karena pertumbuhan penggunanya yang sangat tinggi. Pertumbuhannya  lebih dari 500 persen  sejak tahun lalu,” ungkap Managing Director RIM South East Asia, Gregory Wade,  di Jakarta, Rabu (25/11).

Gregory mengungkapkan, Onyx akan dipasarkan secara komersial melalui para mitra distributor dan operator seperti  Telkomsel, Indosat, XL, dan Natrindo Telepon Seluler (Axis).

Seri terbaru BlackBerry ini dijejali sistem operasi versi 5.0 untuk komunikasi high-end, Wifi, dan koneksi seluler GSM berbasis 3G seperti yang ada pada BlackBerry Bold terdahulu.

Perangkat yang dibanderol dengan harga 6.45 juta rupiah itu  memiliki  fitur, spesifikasi, desain, dan performa lebih baik dibanding generasi sebelumnya yakni BlackBerry Bold.

Onyx yang dibungkus chrome berwarna gelap dan sisi belakang dibungkus semacam bahan kulit sintetis, juga menggunakan navigasi trackpad layaknya varian  Gemini.

Ponsel berdimensi 4,29 x 2,36 x 0,56 inci ini mendukung jaringan 3G dan HSDPA. Onyx menggunakan prosesor 624 MHz, yang dilengkapi dengan memori flash 256 MB, GPS built-in, Wi-Fi, kamera 3,2 megapixel, dan layar yang lebih tajam berukuran 2,4 inci dan resolusi 480 x 360.

Secara terpisah, GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana mengungkapkan, perseroan akan menjual Onyx secara komersial pada Januari nanti.

Sedangkan GM Direct Sales XL Handono Warih mengatakan, pihaknya akan melepas Onyx ke pasar pada Desember 2009. ”Kita tidak mau kehilangan momentum,” katanya.

Senada dengan XL, Indosat rencananya juga akan melepas Onyx pada Desember nanti. Semantara Axis kabarnya akan menjual pada Januari nanti.[dni]