011209 Menanti Janji Partikelir

 

Proyek Palapa Ring  diawali melalui Penandatanganan Nota Kesepahaman Konsorsium Palapa Ring tanggal 25 Mei 2007 di Jakarta dan dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian Konsorsium pada tanggal 10 November 2007 di Surabaya.

Konsep konsorsium merupakan ide dari mantan Menkominfo Sofyan A. Djalil. Sedangkan penerusnya Mohammad Nuh terkenal sebagai pendorong Telkom untuk menjadi inisiator pembangunan  sektor selatan Indonesia Bagian Timur dari Palapa Ring.

Awalnya konsorsium terdiri dari tujuh perusahaan dimana umumnya adalah penyelenggara telekomunikasi. Namun karena adanya krisis ekonomi, anggotanya hanya tersisa tiga  penyelenggara telekomunikasi, yaitu   Telkom,  Indosat dan Bakrie Telecom dengan total investasi sekitar 150 juta dollar AS.

Satu lagi  penyelenggara telekomunikasi yang tergabung dalam konsorsium, namun untuk sementara mengundurkan diri  setelah konsolidasi internal perusahaan memungkinkan adalah  PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL Axiata).

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi menegaskan, perseroan tetap memiliki komitmen untuk membangun Kawasan Timur Indonesia (KTI). Hal itu dibuktikan  dengan terus  menambah site di daerah Maluku dan Maluku Utara dan menambah Base Transceiver Station (BTS) di Papua dan Nusa Tenggara Timur dalam waktu dekat.

Saat ini diketahui XL telah memiliki 14 BTS di kawasan Maluku. Sedangkan untuk Papua, XL  telah hadir di Jayapura Manokwari, Sorong, Timika, Biak, dan Merauke dengan dukungan 44 BTS.

Kepala Pusat Informasi dan Humas Depkominfo Gatot S Dewo Broto menegaskan, berkaitan dengan nasib pembangunan sektor utara Indonesia Bagian Timur dari proyek Palapa Ring, dimana di dalamnya terdiri dari perusahaan swasta atau partikelir,   akan dibangun  pada awal  2011 dari Manado, Ternate, Sorong, Ambon, Kendari hingga Makassar.

“Konsorsium sekarang posturnya lebih efisien dan ramping. Saya yakin anggota  selain Telkom akan memegang komitmen pada pemerintah,” tegasnya kepada Koran Jakarta, Senin (30/11).

Juru Bicara Konsorsium Palapa Ring Rakhmat Junaedi menjelaskan, anggota konsorsium lainnya masih memegang komitmen untuk meneruskan proyek tersebut. Apalagi, Telkom sudah memulai dengan rute Mataram-Kupang.

“Anggota konsorsium lainnya akan menyewa untuk rute yang dibangun Telkom. Jika sektor utara tidak dibangun, investasi besar akan terbuang percuma,” tegasnya.

Rakhmat pun menegaskan, anggota konsorsium tidak akan menyusut meskipun beredar isu, Indosat akan mengurangi kontribusi atau berhenti sebentar dari keanggotaan seperti XL.

Langkah ini diambil Indosat disinyalir karena anak usaha Qatar Telecom tersebut pada tahun depan diperkirakan akan mengeluarkan dana besar untuk membayar obligasi sebesar 234,7 juta dollar AS yang jatuh tempo dan lebih fokus mengomersialkan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Jakabare yang  menghubungkan Indonesia dengan Singapura. Indosat sendiri pada tahun depan diperkirakan hanya memiliki belanja modal sebesar 650 juta dollar AS pada tahun depan

Ketua Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Johnny Swandi Sjam menyarankan, agar Palapa Ring bisa terealisasi secara utuh pemerintah harus turun tangan baik dalam bentuk insentif keringanan pajak dan pendanaan. “Pemerintah kabarnya sedang membentuk ICT Fund. Saya rasa ini   bentuk nyata peran pemerintah dalam membangun jaringan Backbone. Untuk operasinya bisa saja diserahkan ke operator atau konsorsium para operator,” katanya.

Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan menambahkan,  aturan di Bappenas menyatakan secara tegas  infrastruktur dasar bisa dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Kalau jaringan backbone  kurang diminati swasta sebenarnya inisiatif bias diambil alih pemerintah.  Ini dilakukan di Australia dan Singapura  yang punya visi dan tekad untuk manfaatkan broadband untuk kemajuan ekonomi negaranya. Untuk operasinya bisa saja ada perusahaan yang dibentuk seperti NBN Co di Australia,” katanya.

Menkominfo Tifatul Sembiring mengungkapkan, untuk pembangunan Palapa Ring tahap   akan disiapkan oleh pemerintah insentif kepada yang mengerjakan.   “Ada apresiasinya. Sedang dikaji bentuknya bagaimana. Sepertinya untuk pendanaan tidak bisa dari ICT fund karena itu lebih fokus membangun desa tertinggal dalam program Universal Service Obligation (USO),” katanya.

 

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah  mengharapkan memang akan ada insentif dari pemerintah. “Bentuk insetif terserah pemerintah,” katanya.[dni]

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s