011209 Mataram -Kupang Cable System: Mercu Suar yang Mulai Direalisasikan

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akhirnya merealisasikan janjinya untuk memulai pembangunan  serat  optik yang akan menghubungkan Mataram-Kupang (Mataram-Kupang Cable System)  pada Senin (30/11).

Infrastrukur sepanjang 1.041 km yang menelan biaya 52 juta dollar AS tersebut merupakan bagian dari konfigurasi proyek mercu suar  Palapa Ring yang telah dirintis oleh pemerintah sejak lima tahun lalu.

Palapa Ring sendiri merupakan megaproyek pembangunan tulang punggung (backbone) yang terdiri dari 35.280 kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer serat optik bawah tanah (inland cable) pada 7 cincin (ring) melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten.

Di Kawasan Timur Indonesia (KTI) sendiri pembangunan Palapa Ring terdiri dari submarine cable dan inland cable sepanjang 10.812 km yang menghubungkan Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

Telkom memulainya dengan  membangun link yang menghubungkan Mataram – Kupang setelah menunjuk Huawei Marine sebagai penyedia jaringan. Pembangunan yang diperkirakan selesai pada akhir November 2010 tersebut dilakukan  melalui laut dengan kapasitas sampai dengan 300 Gbps dan 6 landing point di kota Mataram, Sumbawa Besar, Raba, Waingapu dan Kupang serta 810 km melalui darat dengan 15 node di kota Mataram, Pringgabaya, Newmont, Taliwang, Sumbawa Besar, Ampang, Dompu, Raba, Labuhan Bajo, Ruteng, Bajawa, Ende, Maumere, Waingapu dan Kupang.

Palapa Ring   merupakan salah satu dari 7 flagship program yang telah ditetapkan oleh Dewan Teknologi  Informasi dan Komunikasi Nasional (Detiknas) yang dibentuk dan diketuai oleh Presiden RI melalui Surat Keputusan Presiden RI No 20 Tahun 2006. Bagi Menkominfo Tifatul Sembiring, program ini juga dimasukkan dalam parameter 100 hari sukses kerjanya walaupun proyek ini telah dirintis sejak Menkominfo Sofian Djalil.

Karena itu, tak pelak dalam peresmian dimulainya proyek ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melakukan seremoni dengan sejumlah pejabat tinggi negara. Salah satu bentuknya adalah  dilakukannya video confrence oleh Presiden SBY yang berada di Jakarta dengan Menkominfo Tifatul Sembiring didampingi Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah  di Mataram.

Mendesak Rinaldi mengungkapkan,  pembangunan backbone serat optik yang terintegrasi di KTI  sangat mendesak dilakukan perseroan. “Infrastruktur ini diharapkan menjadi solusi yang komprehensif terhadap keterbatasan kapasitas dan keterisolasian KTI dari jangkauan telekomunikasi,“ ujarnya ketika dihubungi Koran Jakarta, Senin (30/11).

 

Dijelaskannya,  keberadaan backbone serat optik tersebut akan memperkuat dan memudahkan Telkom dalam mengembangkan dan mengintegrasikan  berbagai layanan   informasi dan komunikasi (Infokom) di wilayah KTI.

 

Terintegrasinya   backbone serat optik dari mulai Kawasan Barat, Tengah dan Timur Indonesia maka secara otomatis mewujudkan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) perseroan dengan nama  Telkom Super Highway. Melalui infrastruktur tersebut maka layanan yang diberikan akan mampu membawa data dan informasi dengan kecepatan tinggi guna mendukung next generation nationwide broadband network (NG-NBN).

 

Implementasi NG-NBN tersebut akan mendukung perubahan mendasar pada layanan Telkom. “Jika sebelumnya  layanan Telkom lebih banyak berbasis voice maka dewasa ini telah berubah menjadi layanan   Telecommunication, Information, Media dan Edutainment (Time),“ jelasnya.

 

Ketua Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Johnny Swandi Sjam mengatakan, sebagai perusahaan dimana  sahamnya  mayoritas dimiliki pemerintah merupakan hal yang wajar Telkom  mengambil inisiatif untuk memulai pembangunan Palapa Ring.

 

“Telkom telah memulai pembangunan proyek yang sarat dengan tarik ulur ini. Rasanya wajar diberikan penghargaan. Diharapkan   operator telekomunikasi lainnya  mau menindaklanjuti sehingga jaringan  Palapa Ring dapat cepat terealisasikan,“ jelasnya.

 

Penurunan Tarif Internet

Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan menjelaskan, bagi perusahahaan sekelas Telkom membangun serat optik di KTI sangat mendesak karena selama ini di wilayah tersebut  masih mengandalkan gelombang mikro digital dengan kapasitas kecil.

 

“Telkom sudah memiliki  jalur serat optik  dari Sumatera sampai Bali, dan sebagian Kalimantan.  Konsep Palapa Ring akan mendorong adanya backbone dengan kapasitas

sangat besar,“ katanya.

 

Taufik menyakini, hadirnya infrastruktur tersebut   akan mendorong   tarif internet lebih murah. Konsep itu bisa terwujud karena selama ini  backbone yang langka di KTI membuat komunikasi data harus melalui  Jakarta terlebih dulu  untuk akses Indonesia Internet Exchange (IIX) atau landing point para Network Acces  Provider (NAP).

 

“Hadirnya backbone di KTI dengan kapasitas besar akan mendorong penurunan tarif dan tidak lag harus melalui Jakarta,“ tegasnya.

 

Taufik pun menyakini, Palapa Ring bisa membuat daya tawar Indonesia ke negara-negara Tier-1 seperti Amerika, danEropa, menjadi kuat karena  memiliki jumlah  pengguna

yang potensial dan jalur transit dengan  kapasitas yang  memang memungkinkan.

 

Palapa Ring juga diyakini bisa menjadi pintu masuk jika  rencana China-ASEAN superhighway virtual direalisasikan. “Konfigurasi dari  Ring Palapa bisa dicapai dari manapun, baik dari Jakarta, Sumatera, maupun Manado, dengan harga sama murahnya, sehingga bisa menjadi  komponen menentukan untuk China-ASEAN superhighway ini,” katanya.

 

Menkominfo Tifatul Sembiring mengharapkan, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh Telkom adalah penguatan loop dalam negeri agar komunikasi data menjadi tambah lancar dan tarif internet menjadi turun secara bertahap.

 

“Selain itu kita harapkan juga akan ada rute alternatif lainnya untuk koneksi ke luar negeri yang dilakukan oleh operator lainnya. Rutenya bisa Surabaya-Hong Kong atau Jakarta-Hong Kong. Nah, setelah itu baru bicara China-Asean superhighway agar daya tawar Indonesia makin kuat,” katanya.

 

Sementara Rinaldi mengatakan, untuk kerjasama dengan China-Asean Super highway masih dikaji oleh Telkom. “Jika menguntungkan kenapa tidak dilakukan,” katanya.[dni]

Investasi Telkom untuk Pembangunan Infrastruktur 2007-2009

Sumber: Postel.go.id

 

No Nama Proyek Nilai Proyek Kapasitas Terpasang Panjang/Lokasi Jadwal Penyelesaian
1

 

 

2

 

 

 

3

 

4

 

 

 

5

 

 

 

6

Backbone Serat Optik Sulawesi Kalimantan

 

Backbone Serat Optik Sumatera ( Padang-Bengkulu)

Jaringan Transport IP

Backbone fiber optic BSCS (Batam Singapore Cable System

Kapasitas 40 Gbps milik PT Telkom di Konsorsium AAG (Asia-America Gateway)

 

Mataram-Kupang Cable System

US$ 34 Juta

 

 

 

US$ 4,3 juta

 

US$ 71,8 juta

 

US$  22 Juta

 

 

US$ 40 Juta

 

 

 

 

 

US$ 52 juta

20 Gbps

 

 

 

20 Gbps

 

 

 

 

40 Gbps

 

 

40 Gbps

 

 

 

 

300 Gbps

 

5.445 Km

 

 

914 Km

 

 

 

 

 

62 km

 

 

10.000 Km

 

 

 

 

1.041 km

19 Januari 2008 s/d 27 Agustus 2009

18 Januari 2008-4 April 2009

 

 

4 Januari-1 Desember 2009

3 Maret 2008 s/d. 1 Juni 2009

 

 

27 April 2007 s/d. 26 Oktober 2009

 

30 November 2009-30 November 2010

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s