281109 Dephub Dinilai Berlebihan

JAKARTA—Departemen Perhubungan (Dephub) dinilai mengambil sikap yang berlebihan dalam melakukan pelarangan terhadap kapal  berbahan Fibre Glass (FG) untuk   mengarungi laut lepas karena menganggap konstruksinya tidak sekuat alumunium atau baja.

Padahal,   kapal-kapal berbahan  FG dapat memenuhi kebutuhan transportasi dengan kecepatan yang lebih baik dengan ongkos yang murah. Pelarangan diperkirakan  akan menimbulkan persoalan baru yang berdimensi ekonomi  menyangkut aspek kelancaran lalu lintas barang dan penumpang lewat laut.

“Saya rasa kecurigaan pemerintah dalam hal ini Direktorat Keselamatan Pelayaran (Ditkapel) Hubungan Laut (Hubla) terlalu berlebihan. Kapal-kapal berbahan  FG   masih mampu melalui jalur laut walaupun dengan ketinggian ombak atau resistansi ombak tertentu jika persyaratan konstruksi dan kekuatan  memanjang konstruksi fibre-glass- nya telah memenuhi syaratbadan klasifikasi internastional,” ujar pengamat maritim Saut Gurning di Jakarta, belum lama ini.

Saut diminta pendapatnya terkait pernyataan dari Dirjen Perhubungan Laut Sunaryo yang melarangkapal berbahan FG untuk berlayar ke laut lepas belum lama ini. Larangan ini dilakukan seiring karamnya KM Dumai Ekspres (Dumeks) 10 di Perairan Tokong Hiu, Karimun, Kepulauan Riau, Minggu lalu.

Menurut Sunaryo, bahan fibre  sangat rentan terhadap goncangan ombak. Selain itu, sifat fibre yang tidak lentur menyebabkan bahan tersebut mudah pecah bila berbenturan dengan benda yang lebih keras. Hal inilah yang memicu kapal-kapal dengan bahan fibre hanya diperbolehkan berlayar di sungai dan danau saja yang ombak dan cuacanya tidak seekstrim di tengah

Sedangkan menurut Saut, persoalan di Indonesia terkait bahan baku kapal adalah lemahnya pengawasan  atau pengendalian kapal-kapal FG   menyangkut pengecekan kekuatan konstruksi FG khususnya pengecekan di bawah air.

“Perawatan konstruksi FG biasanya dalam bentuk perbaikan atau penambalan konstruksi laminasi  seharusnya dilakukan setahun sekali, apalagi untuk kapal penumpang dimana
wajib naik dok setahun sekali untuk pengecekan tipe ini,” jelasnya.

Selain itu, pengecekan insulasi mesin dari kapal-kapal berbahan  FG perlu dilakukan  karena insulasi yang tidak baik dapat mempengaruhi daya tahan FG akibat kelebihan panas atau dingin yang berlebihan dari engine dan sistem perpipaannya terhadap bahan konstruksi FG.

Dijelaskannya,  kekuatan konstruksi kapal termasuk kapal-kapal FG memang rentan terhadap overloaded weight akibat kelebihan penumpang ditambah barang yang
dimuat dan  pukulan gelombang. Hal ini biasa disebut dengan  hammering terhadap konstruksi FG.

Pengujian kekuatan dan kestabilan (strength and stability assessement )  seharusnya  dilakukan pada saat kapal naik dok pertahunnya itu.

Saut meragukan,  pengujian konstruksi kapal-kapal FG di Indonesia sudah dilakukan dengan baik.  “Terus terang saya meragukan hal itu mengingat kebanyakan dari kapal-kapal tipe FG ini  tidak mengikuti atau masuk dalam standar pengawasan biro klasifikasi  Indonesia. Padahal, populasi kapal-kapal seperti ini paling banyak melayani rute-rute jarak pendek (kurang dari 100 mile) di Indonesia,” jelasnya.

Disarankannya,  hal sederhana yang bisa dilakukan   pemerintah dalam jangka waktu pendek adalah   menertibkan besaran muatan bawaan penumpang seperti halnya di angkutan udara guna menghindari kekuatan berlebih yang dapat mengakibatkan kerusakan konstruksi  kapal baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.

Dukung RI
Secara terpisah, Kepala Pusat Komunikasi Publik Departemen Perhubungan
Departemen Perhubungan, Bambang Supriyadi Ervan mengungkapkan,  pemerintah RI mulai melakukan penggalangan dukungan dengan sejumlah negara-negara anggota International Maritime Organization (IMO) agar terpilih lagi menjadi anggota Dewan IMO 2009-2011.

Diperkirakan Indonesia bakal kembali lagi menduduki jabatan sebagai anggota Dewan IMO. Hingga saat ini, sebanyak 110 negara menyatakan dukungan agar Indonesia kembali masuk dalam keanggotaan dewan yang berlaku selama dua tahun itu. Sidang majelis IMO sendiri dilakukan pada 24 November hingga 4 Desember mendatang.

“Sudah ada 110 negara yang telah menyatakan dukungannya agar
Indonesia menjadi anggota Dewan IMO. Mudah-mudahan kita terpilih
lagi,” katanya.

Pemilihan anggota Dewan IMO sendiri akan dilakukan pada Jumat (27/11) ini. Berdasarkan ketentuan, agar terpilih sebagai anggota Dewan IMO harus dipilih minimal oleh 85 anggota, atau 50 persen plus 1, yaitu dari 169 negara anggota IMO.

Bambang menegaskan,  Indonesia memiliki kepentingan duduk di dewan IMO agar bisa memberikan warna lebih dalam kebijakan-kebijakan kemaritiman dunia, terutama yang berkaitan dengan dunia pelayaran Indonesia.

“Sebagai negara maritim, tentu Indonesia sangat mempunyai kepentingan agar kebijakan IMO mampu memajukan dunia pelayaran di Indonesia,” ujarnya.

Selama ini Indonesia menjadi anggota Dewan IMO kategori C bersama 19 negara lainnya. Kategori ini memiliki kepentingan khusus dalam angkutan laut atau navigasi dan mencerminkan perwakilan yang adil secara geografis.[dni]

Laba Bersih BTEL Anjlok 19,83  %

JAKARTA—Laba bersih PT Bakrie Telecom (BTEL) pada kuartal ketiga tahun ini hanya sebesar   97 miliar rupiah atau anjlok 19,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar  121 miliar rupiah.

Anjloknya laba bersih pemilik merek dagang Esia ini tidak sebesar pada kuartal pertama tahun ini sebesar 79 persen atau  sebesar 5,7 miliar rupiah   dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan raihan  27,4 miliar rupiah.

Berdasarkan catatan, anjloknya laba perseroan pada kuartal pertama tahun ini  akibat  rugi kurs sebesar 14,2 miliar rupiah   dibanding laba kurs sebesar  25,9 miliar rupiah di kuartal pertama tahun lalu.

Sedangkan jika dilihat per semester, maka pada semester I 2009, laba bersih BTEL justru mengalami  kenaikan  16,7 persen  menjadi 72,8 miliar rupiah dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 62,4 miliar rupiah.

Direktur Keuangan Bakrie Telecom Jastiro Abi, mengungkapkan, penurunan laba bersih untuk periode kuartal ketiga tahun ini   dipicu oleh kenaikan beban bunga dan dan biaya depresiasi sejalan dengan penambahan aset akibat perluasan jangkauan wilayah layanan secara nasional serta untuk meningkatkan kualitas jaringan.

“Kami berhasil menambah  21 kota baru antara September 2008 hingga September 2009. Saat ini  hingga akhir bulan September Esia  telah hadir di 76 kota. Semua ini untuk mencapai target akhir tahun mendapatkan 10,5 juta pelanggan,” ungkapnya di Jakarta, Jumat (27/11).

Dijelaskannya, agresifnya penambahan area baru tersebut menjadikan jumlah pelanggan perseroan pada kuartal ketiga tahun ini mencapai 9,81 juta pelanggan atau naik   49,7 persen  dibanding pencapaian pada periode yang sama di tahun 2008.

Pertumbuhan jumlah pelanggan tersebut mengakibatkan pendapatan bersih perusahaan  meningkat 29,8 persen. Pendapatan bersih BTEL kuartal ketiga 2009 menunjukkan angka  2.013 miliar rupiah atau meningkat dibanding periode sebelumnya yang mencapai  1.551 miliar rupiah.

Sedangkan pendapatan usaha pada  kuartal ketiga 2009  tercatat sebesar Rp 2.545 miliar rupiah. Dibanding periode yang sama tahun lalu terdapat peningkatan 27,4 persen mengingat pendapatan Bakrie Telecom saat itu sebesar 1.997  miliar rupiah.

Lonjakan  juga terlihat pada  Earnings Before Interest, Tax, Depreciation & Amortization (Ebitda) dimana BTEL  membukukan pertumbuhan sebesar 59,8 persen year on year. Pada kuartal ketiga 2009, EBITDA BTEL tercatat senilai    930 miliar rupiah dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar  582 miliar rupiah.

Pada kesempatan lain, Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengatakan, bagi operator seperti Esia belum saatnya untuk berpindah orientasi dari akuisisi pelanggan menjadi fokus pada retensi ala incumbent di seluler.

“Bagi operator besar mungkin itu harus dilakukan untuk mencari pendapatan tambahan agar profitabilitas kembali naik. Soalnya ketika operator besar ingin ikut-ikutan main tarif murah ala esia ternyata berbalik menyerang kinerja mereka,” jelasnya.

Erik menegaskan,  esia tetap akan pada jalurnya dengan memastikan memberikan tarif  termurah dan  layanan baik dengan harga terjangkau kepada pelanggannya. “Kami tidak mau menaikkan  tarif   hanya untuk meningkatkan revenue. Kami tetap akan fokus menambahkan jumlah pelanggan  dan memberikan jasa baru yang relevan,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s