261109 Profitabilitas yang Makin Menurun

 

Tiga tahun belakangan ini industri telekomunikasi Indonesia bisa dikatakan mendapatkan cobaan yang berat. Lihat saja fakta di lapangan yang mengungkapkan ternyata dalam tiga tahun terakhir ini hanya ada 50 juta pelanggan baru yang berhasil diraih oleh para pemain besar seperti Telkomsel, Indosat, dan XL.

 

Padahal, dalam kurun waktu tersebut dana yang digelontorkan oleh ketiganya untuk belanja modal mencapai 100 triliun rupiah. Namun, pertumbuhan pendapatan tiga operator besar hanya sekitar 200-300 miliar rupiah.

 

Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengungkapkan, fenomena tersebut tak bisa dilepaskan dari nafsu mengejar pelanggan sehingga berujung pada tingginya penggunaan ala calling card di industri.

 

“Kenyataan di lapangan berbicara setiap menjual tujuh kartu perdana, hanya satu yang menjadi pelanggan. Karena itu kita realistis jika bisa pendapatan tumbuh dua sampai tiga persen setiap bulan sudah bagus,” katanya di Jakarta, belum lama ini.

 

Menurut Guntur, jika kondisi tersebut   dibiarkan  terus, pihak yang untung adalah   produsen sim card. Misalnya, tahun lalu Indosat menjual 60 juta kartu, XL (70 juta), Telkomsel (110 juta) dengan harga kartu 20 sen dollar AS, maka ada uang tersedot 20 juta dollar AS.

 

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi menjelaskan dalam menekan calling card harus melihat  dari  sisi pelanggan yaitu  apakah lebih murah membeli pulsa isi ulang  dibanding membeli kartu perdana .

 

“Jika kartu perdana 5000 dibeli 8 ribu rupiah,  (tingkat pindah layanan)  akan kecil karena beli isi ulang untuk 5 ribu rupiah  perlu bayar 6000 ribu rupiah. Tetapi   kalau bisa dibeli dengan harga 3000 rupiah churn akan  terjadi,” jelasnya.

 

Sementara GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana mengatakan, kondisi industri pada tahun depan akan mulai membaik seiring meredanya perang tarif ala permainan pemasaran oleh operator.

 

“Perang tarif yang dibungkus dalam permainan pemasaran selama dua tahun terakhir telah menjadikan masyarakat menjadi lebih dewasa dan matang mencari produk telekomunikasi,” katanya.

Nirwan pun menyakini, pada tahun depan tarif yang dimiliki oleh operator tidak akan mengalami penurunan karena penawaran yang ada saat ini sudah terjangkau dan transparan.

 

Diprediksinya, pertumbuhan pelanggan telekomunikasi nirkabel pada tahun depan diperkirakan akan sama dengan tahun ini atau flat.
Pada tahun ini terdapat sekitar 30 juta pelanggan baru yang diperebutkan oleh 11 operator dengan berbagai lisensi, sehingga diakhir 2009 diperkirakan terdapat 170 juta nomor aktif. Sedangkan pertumbuhan pendapatan industri  sekitar 7-9 persen.

Sementara pada tahun ini walau jumlah pelanggan baru sama yang akan diakuisisi, tetapi pendapatan industri mengalami pertumbuhan sebesar 10-11 persen.

”Pada tahun depan diperkirakan jumlah pelangggan sama dengan tahun ini. Sedangkan pendapatan lebih tumbuh karena operator mulai fokus kepada nilai produk, bukan lagi perang tarif,” jelasnya.

 

Secara terpisah, Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengatakan, bagi operator seperti Esia belum saatnya untuk berpindah orientasi dari akuisisi pelanggan menjadi fokus pada retensi ala Telkomsel.

 

“Bagi operator besar mungkin itu harus dilakukan untuk mencari pendapatan tambahan agar profitabilitas kembali naik. Soalnya ketika operator besar ingin ikut-ikutan main tarif murah ala esia ternyata berbalik menyerang kinerja mereka,” jelasnya.

 

Erik menegaskan,  esia tetap akan pada jalurnya dengan memastikan memberikan tarif  termurah dan  layanan baik dengan harga terjangkau kepada pelanggannya. “Kami tidak mau menaikkan  tarif   hanya untuk meningkatkan revenue. Kami tetap akan fokus menambahkan jumlah pelanggan  dan memberikan jasa baru yang relevan,” katanya.

 

Pada kesempatan lain, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengakui, pertumbuhan pelanggan pada tahun depan  makin flat dan bisa jadi turun karena pengguna nyaris menyentuh angka 100 persen.

 

“Semuanya tergantung operator untuk keluar dari tantangan ini. di beberapa negara ada penetrasi mencapai 130 persen. Sedangkan di Indonesia yang terjadi baru penterasi sim card belum pengguna. Sudah saatnya operator berfikir untuk tidak Jawa sentris agar ada pasar baru yang tergarap disamping memberikan layanan nilai tambah yang bisa menaikkan pendapatan ,” jelasnya.[dni]

 

 

261109 Program Akhir Tahun: Pertarungan di Babak Akhir

Tak terasa tahun 2009 akan berakhir sebentar lagi. Bagi eksekutif operator, menjelang tutup tahun masih tersedia kesempatan   untuk mengejar target yang ingin dicapai selama 2009.

 

Kesempatan itu adalah memanfaatkan momentum datangnya hari Raya Haji, Natal, dan Tahun Baru. Guna mengkonversi momentum tersebut menjadi kontributor bagi pendapatan, maka dibuatlah program-program pemasaran yang memikat pelanggan. Biasanya, tiga momentum tersebut bisa berkontribusi sekitar 15 persen bagi total pendapatan perseroan selama setahun.

 

Lihat saja aksi Telkomsel   merevitalisasi kartu prabayar Simpati dengan nama Simpati M@X awal minggu ini.  Kartu tersebut dibanderol seharga   10 ribu rupiah  yang terdiri dari pulsa utama 5 ribu rupiah   yang dapat digunakan untuk komunikasi suara, SMS, dan data ke semua operator serta bonus pulsa  5 ribu rupiah untuk komunikasi ke lebih dari 80 juta pelanggan Telkomsel.
Di samping itu, pelanggan juga mendapat gratis akses internet sebesar 5 MB yang bisa digunakan di ponsel maupun modem untuk akses email, chatting, browsing, social networking, dan sebagainya.
Aksi Telkomsel menghadirkan produk baru juga diikuti oleh Bakrie Telecom dengan menawarkan ponsel musik. Pemilik merek dagang Esia ini menawarkan  Esia Musicbox dan Esia Idolaku. Keduanya dibanderol dengan harga sekitar  500 ribu rupiah.

 

Untuk tahap pertama Esia mengeluarkan 85.000 unit Esia Musicbox dan 100.000 unit Esia Idolaku. Kedua ponsel ini memungkinkan pengguna mengunduh lagu dengan paket berlangganan seribu rupiah per hari untuk 30 lagu. Selain itu juga tersedia  akses ke Facebook, Twitter, dan layanan Instant Messaging.

 

Berbeda dengan dua pemain di atas. Indosat dan Axis lebih mengedepankan program pemasaran ketimbang bermain dengan produk baru. Indosat menawarkan program yang mirip dengan milik XL yakni Mentari Obral Obrol yang memungkinkan  pelanggan menelpon berkali-kali dengan biaya seribu rupiah.

 

Bahkan untuk di kota-kota tertentu, Indosat seperti setia mengikuti langkah XL dengan ikut memberikan bonus 50 SMS. Sementara  Axis  lebih inovatif ketimbang Indosat dengan memberikan Bonus Mutlak pulsa  seribu rupiah setiap hari ke semua operator. Bahkan Axis berani menjanjikan bonus pulsa hingga satu juta rupiah bagi aktivasi kartu baru.

 

Perbaiki Nilai

GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana mengungkapkan, langkah merevitalisasi Simpati sebenarnya merupakan program tahunan dari perseroan. “Produk Simpati Pede kami luncurkan dalam periode yang sama tahun lalu. Jadi ini bukan untuk mengejar target pelanggan, karena itu sudah dicapai pertengahan tahun ini,” ujarnya.

 

Diungkapkannya, saat ini simpati telah digunakan oleh 55 juta pelanggan. “Kita ini lebih pada meningkatkan nilai produk sehingga bisa memberikan kontribusi pendapatan bagi perseroan,” jelasnya.

 

VP Product Marketing Telkomsel Mark Chambers menambahkan, hingga sembilan bulan pertama 2009, produk-produk yang dimilikiTelkomsel mampu menunjukkan pertumbuhan pendapatan sebesar 18 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

 

“Meningkatkan nilai itu bisa dengan program retensi atau mendiversifikasi produk. Inilah yang kami lakukan. Lihat saja dari banderol harga kartu perdana yang diatas kompetitor serta bonus yang diberikan. Itu jelas sekali kami lebih mengutamakan nilai ketimbang main tarif,” tegasnya.

 

Nirwan menjelaskan, perang tarif yang dibungkus dalam permainan pemasaran selama dua tahun terakhir telah menjadikan masyarakat menjadi lebih dewasa dan matang mencari produk telekomunikasi.
”Ibaratnya masyarakat ikut dalam ”Kejar Paket A” sehingga makin melek dengan produk operator. Akhirnya mereka letih dengan permainan pemasaran yang meminta banyak syarat sehingga kembali mencari operator menawarkan nilai lebih pada produknya,” katanya.

Namun, Nirwan pun tidak menampik jika dari hasil revitalisasi ini ada pelanggan baru yang didapat. “Biasanya akan ada tambahan pelanggan baru sejuta setiap bulannya,” katanya.

 

Sementara Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengakui peluncuran produk barunya untuk mengejar target 2009. “Setiap bulan esia selalu mengeluarkan produk baru. Dua ponsel itu sebagai bagian dari aksi mencapai 10,5 juta pelanggan di akhir tahun ini,” katanya.

 

Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi mengakui, momentum akhir tahun bisa dimanfaatkan untuk menaikkan pendapatan, jika program yang diatawarkan sesuai dengan kondisi pasar.

 

“Tergantung program  yang diluncurkan  dan pasar   yang dibidik. Kalau sesuai  dengan kondisi pasar menjelang libur panjang akhir tahun bisa saja sukses,” katanya.

 

Hasnul sendiri menyakini, performa XL pada kuartal keempat kembali cerah walau tak berani mengeluarkan prediksi. “Lihat saja laporan kuartal keempat nanti. Kejutan bagi industri,” jelasnya.

 

Kabar beredar di sentra-sentra penjualan ponsel dan voucher pulsa mengatakan, posisi Xl di pasar saat ini telah berada di nomor dua dari sisi pelanggan. Indosat dikabarkan telah tersalip oleh XL. Pada kuartal ketiga lalu Indosat memiliki 28,7 juta pelanggan sedangakan XL 26,6 juta pelanggan.

 

Tak Efektif

Sedangkan Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengatakan, momentum akhir tahun  tidak efektif untuk meningkatkan pendapatan karena kondisi industri sudah berbeda dengan dua tahun lalu.

 

“Momentum paling besar itu adalah Idul Fitri. Sekarang lebaran itu adanya di kuartal ketiga. Karena itu kami lebih konsentrasi menaikkan nilai produk walau resikonya pelanggan semakin mengerut,” jelasnya.

 

Guntur pun mengakui, kartu perdana yang dimiliki Indosat tidak menarik minat pasar karena dibanderol dengan harga lima ribu rupiah. Sementara pesaing seperti XL membanderol dua ribu rupiah dan Telkomsel 10 ribu rupiah.

 

“Secara psikologis harga memang kalah. Tetapi kami ingin menyasar segmen yang tidak digarap XL atau Telkomsel,” jelasnya.

 

Secara terpisah, Praktisi telematika Ventura Elisawati mengatakan,  sebanarnya perang program yang ditawarkan oleh operator satu tahun belakangan ini sudah tidak lagi mengenal momentum seperti beberapa tahun lalu.

 

“Saat ini   kondisi pertumbuhan industri  sudah memasuki tahapan  mature, rasanya fokus program akusisi mulai bergeser ke retensi pelanggan,” katanya.

 

Menurut Ventura,  program momentum khusus seperti beberapa tahun itu sudah bergeser tujuan utamanya dari menambah pelanggan menjadi   meningkatkan produktifitas pengguna. Akusisi murni terjadi jika yang ditawarkan dalam bentuk bundling dengan penyedia ponsel.

 

“Aksi yang efektif untuk mewujudkan itu sebenarnya melalui aktifitas below the line dan menggarap komunitas. Tetapi operator harus waspada dengan perilaku setelah terjadinya akuisisi. Harus diperhatikan berpaa lama pelanggan itu bisa tinggal di jaringan. Soalnya tingkat pindah layanan (Churn Rate) masih tinggi di industri yakni sekitar 14 persen,” katanya.[dni]

 

 

261109 Telkom Batasi Pengembangan Jaringan Tembaga

JAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) mulai membatasi pembangunan jaringan telepon tetapnya berbasis tembaga guna meningkatkan kualitas layanan broadband ke pelanggan.

“Kami sekarang lebih fokus mengembangkan jaringan telepon kabel menggunakan serat optik. Hal ini karena jika mengandalkan tembaga kurang solid dalam menghantarkan data,” ungkap Direktur Konsumer Telkom I Nyoman G Wiryanata di Jakarta, Rabu (25/11).

Dijelaskannya, kabel tembaga memiliki keterbatasan pada kemampuan menghantarkan data. Jika kabel berjarak satu kilometer dari rumah pelanggan, maka data yang dihantarkan tidak bisa mencapai satu hingga dua Mbps. ”Padahal untuk mempertahankan pelanggan telepon kabel, Telkom harus menyinergikan layanan suara dengan broadband dari Speedy,” jelasnya.

Nyoman pun menegaskan, layanan telepon  tetap kabel akan digunakan ditengah kerasnya persaingan dengan wireless. Hal ini karena  telepon tetap kabel memiliki keunggulan pada kualitas suara, kemampuan pengiriman data, dan bagian dari persyaratan collateral dalam mengajukan kredit.

”Bukti nyata jasa ini masih diminati ketika diluncurkan program Paket Tagihan Tetap (PTT) tahun lalu, terdapat satu juta pelanggan dari 8,7 juta pengguna yang mengikuti layanan ini. Saat ini PTT dimodifikasi dengan menawarkan penurunan tarif sebesar 30 hingga 40 persen dalam bentuk bonus,” jelasnya.

Dijelaskannya, PTT hasil modifikasi  terdiri dari paket  On-Net (Anytime Calling) dan mobile calling. Paket ini diklaim lebih ramah kantong. Misalanya,  PTT New On-Net  pelanggan bisa memperoleh  bonus panggilan SLJJ kapan saja . Pada PTT sebelumnya bonus SLJJ hanya berlaku pada off peak. Sementara pada PTT New Mobile Calling pelanggan memperoleh bonus  mobile calling lebih lama dibandingkan paket yang sudah ada.

”Program baru ini diharapkan untuk tahap awal diikuti 300 hingga 400 ribu total pengguna telepon tetap kabel. Bagi kami yang penting legacy business ini bisa tetap dalam posisi landai pembukuannya pada tahun depan,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, pendapatan telepon tetap kabel  yang diselenggarakan Telkom diproyeksi akan terus turun. Sejauh ini penurunan yang tercatat sejak tahun lalu dari  2,25 triliun  menjadi  1,8 triliun rupiah dengan Average Revenue Per Users (ARPU) sekitar 112 ribu rupiah. .

Saat ini  jumlah pengguna telepon kabel tetap sekitar  8,7 juta pelanggan  dan hanya tumbuh 200 ribu pelanggan selama setahun terakhir.[dni]

261109 BlackBerry Onyx Hadir di Indonesia

JAKARTA—Penyedia ponsel pintar dari Kanada, Research in Motion (RIM), memilih Indonesia menjadi negara pertama di Asia sebagai tempat  peluncuran ponsel BlackBerry Bold 9700 atau lebih dikenal dengan nama  Onyx.

”Indonesia dipilih  karena pertumbuhan penggunanya yang sangat tinggi. Pertumbuhannya  lebih dari 500 persen  sejak tahun lalu,” ungkap Managing Director RIM South East Asia, Gregory Wade,  di Jakarta, Rabu (25/11).

Gregory mengungkapkan, Onyx akan dipasarkan secara komersial melalui para mitra distributor dan operator seperti  Telkomsel, Indosat, XL, dan Natrindo Telepon Seluler (Axis).

Seri terbaru BlackBerry ini dijejali sistem operasi versi 5.0 untuk komunikasi high-end, Wifi, dan koneksi seluler GSM berbasis 3G seperti yang ada pada BlackBerry Bold terdahulu.

Perangkat yang dibanderol dengan harga 6.45 juta rupiah itu  memiliki  fitur, spesifikasi, desain, dan performa lebih baik dibanding generasi sebelumnya yakni BlackBerry Bold.

Onyx yang dibungkus chrome berwarna gelap dan sisi belakang dibungkus semacam bahan kulit sintetis, juga menggunakan navigasi trackpad layaknya varian  Gemini.

Ponsel berdimensi 4,29 x 2,36 x 0,56 inci ini mendukung jaringan 3G dan HSDPA. Onyx menggunakan prosesor 624 MHz, yang dilengkapi dengan memori flash 256 MB, GPS built-in, Wi-Fi, kamera 3,2 megapixel, dan layar yang lebih tajam berukuran 2,4 inci dan resolusi 480 x 360.

Secara terpisah, GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana mengungkapkan, perseroan akan menjual Onyx secara komersial pada Januari nanti.

Sedangkan GM Direct Sales XL Handono Warih mengatakan, pihaknya akan melepas Onyx ke pasar pada Desember 2009. ”Kita tidak mau kehilangan momentum,” katanya.

Senada dengan XL, Indosat rencananya juga akan melepas Onyx pada Desember nanti. Semantara Axis kabarnya akan menjual pada Januari nanti.[dni]