251109 2010, Pertumbuhan Pelanggan Nirkabel akan Flat

JAKARTA—Pertumbuhan pelanggan telekomunikasi nirkabel pada tahun depan diperkirakan akan sama dengan tahun ini atau flat.

Pada tahun ini terdapat sekitar 30 juta pelanggan baru yang diperebutkan oleh 11 operator dengan berbagai lisensi, sehingga diakhir 2009 diperkirakan terdapat 170 juta nomor aktif. Sedangkan pertumbuhan pendapatan industri sekitar 7-9 persen.

Sementara pada tahun ini walau jumlah pelanggan baru sama yang akan diakuisisi, tetapi pendapatan industri mengalami pertumbuhan sebesar 10-11 persen.

”Pada tahun depan diperkirakan jumlah pelangggan sama dengan tahun ini. Sedangkan pendapatan lebih tumbuh karena operator mulai fokus kepada nilai produk, bukan lagi perang tarif,” ungkap GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana di Jakarta, Selasa (25/11).

Dijelaskannya, perang tarif yang dibungkus dalam permainan pemasaran selama dua tahun terakhir telah menjadikan masyarakat menjadi lebih dewasa dan matang mencari produk telekomunikasi.

”Ibaratnya masyarakat ikut dalam ”Kejar Paket A” sehingga makin melek dengan produk operator. Akhirnya mereka letih dengan permainan pemasaran yang meminta banyak syarat sehingga kembali mencari operator menawarkan nilai lebih pada produknya,” katanya.

Nirwan pun menyakini, pada tahun depan tarif yang dimiliki oleh operator tidak akna mengalami penurunan karena penawaran yang ada saat ini sudah terjangkau dan transparan. ”Inilah yang membuat Telkomsel menyakini tingkat pindah pelanggan (churn rate) kartu prabayanya stabil di angka 11 persen,” katanya.

VP Product Marketing Telkomsel Mark Chambers menambahkan, pada tahun depan mulai terjadi perubahan kompetisi dimana pelanggan mulai menikmati program retensi dari operator, khususnya jika berkaitan dengan akses data.

”Masyarakat mulai keranjingan situs jejaring sosial di internet. Inilah yang membuat Telkomsel merevitalisasi produk simPATI dengan nama SimPATI M@X. Hal ini karena kami ingin mempertahankan pertumbuhan pendapatan yang positif. Hingga sembilan bulan tahun ini pertumbuhan pendapatan saja sekitar 18 persen dibandingkan periode sama tahun lalu,” katanya.

Dijelaskannya, kartu prabayar simPATI M@X dibanderol seharga 10 ribu rupiah yang terdiri dari pulsa utama 5 ribu rupiah yang dapat digunakan untuk komunikasi suara, SMS, dan data ke semua operator serta bonus pulsa 5 ribu rupiah untuk komunikasi ke lebih dari 80 juta pelanggan Telkomsel.

Di samping itu, pelanggan juga mendapat gratis akses internet sebesar 5 MB yang bisa digunakan di ponsel maupun modem untuk akses email, chatting, browsing, social networking, dan sebagainya.

Secara terpisah, Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer mengaku belum berani memprediksi pertumbuhan pelanggan pada tahun depan karena kondisi keuangan belum stabil.

“Kalau bicara tiga tahun lalu semua bisa diprediksi. Pada pertengahan tahun lalu sudah dibuat kalkulasi tiba-tiba ada krisis global, semuanya jadi berubah,” katanya.

Menurut Erik, memprediksi pertumbuhan pelanggan harus dimulai dengan melihat kejujuran dari operator mengklaim jumlah pelanggan yang dimiliki. “Ukuran pelanggan itu apa? Jangan lepas kartu ke pasar terus diklaim dapat pelanggan,” katanya.

Pada kesempatan lain, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengungkapkan, industri seluler dalam tiga tahun terakhir mengalami krisis profittabilitas.

“Jika melihat kinerja dari tiga besar ( Telkomsel, Indosat, dan XL), rasanya da yang tidak benar dengan kondisi bisnis industri ini,” jelasnya.

Diungkapkannya, dalam tiga tahun terakhir sebenarnya hanya ada 50 juta pelanggan baru dengan pertumbuhan pendapatan tiga operator besar sekitar 200-300 miliar rupiah.

“Pendapatan itu tidak sebanding dengan belanja modal yang dikeluarkan tiga operator itu dalam kurun waktu tiga tahun sebesar 100 triliun rupiah. Karena itu tidak relevan lagi main klaim jumlah pelanggan. Paling penting itu bagaimana revenue perusahaan,” katanya.[dni]

251109 GMF akan Spin Off 7 Unit Usaha

Jakarta—Anak usaha Garuda Indonesia, PT Garuda Maintenance Facility
(GMF) AeroAsia, berencana akan memisahkan (spin off) tujuh unit usahanya
untuk menjadi perusahaan yang mandiri secara bertahap dalam waktu dua tahun ke depan.

“Pada tahun depan tiga hingga lima unit usaha akan dispin off, sisanya ditargetkan dilakukan pada 2011,” ungkap Wakil Direktur Utama GMF Agus Sudaryo di Jakarta, Selasa (24/11).

Diungkapkannya, tujuh unit bisnis GMF yang rencananya akan di-spin off pada 2010 adalah unit industri perlengkapan dan gas, unit pelayanan logistik, unit sekolah teknisi, unit pelayanan TI, kabin dan interior serta unit pengecatan pesawat.

Sedangkan sisanya yang akan dilepas pada 2011 adalah unit engine leasing dan unit penyediaan pekerja penerbangan.

“Spin off ini dilakukan untuk memberi keleluasaan agar usaha ini cepat berkembang untuk menjaga persaingan global,” jelasnya.

Dijelaskannya, nilai investasi ke tujuh unit usaha ini diperkirakan sebesar 130 juta dollar AS. Diharapkan aksi spin off membuat unit usaha tersebut mampu mengembangkan bisnis dengan pendapatan 700 juta dolar AS pada lima tahun.

”Perusahaan-perusahaan ini memiliki nilai jual. Saat ini sudah ada sejumlah perusahaan asing telah tertarik untuk menjadi patner setelah perusahaan berdiri sendiri. Beberapa perusahan itu antara lain ST Aero,
SwissAir Technic, KLM, dan Jazeera Airlines, ”jelasnya.[dni]

251109 Kapal Berbahan Fiber Glass Dilarang Berlayar

JAKARTA–Departemen Perhubungan mulai memberlakukan pelarangan kapal dengan bahan fiber glass untuk berlayar ke laut.

Kebijakan ini dipicu tenggelamnya KM Dumai Ekspres (Dumeks) 10 di Perairan Tokong Hiu, Karimun, Kepulauan Riau, Minggu lalu.

“Mulai sekarang saya umumkan seluruh kapal fiber dilarang untuk berlayar di laut lepas. Surat keputusannya akan saya tandatangani secepatnya,” kata Direktur Jenderal PerhubunganLaut Dephub, Sunaryo di Jakarta, Selasa (24/11).

Dijelaskannya, bahan fiber sangat rentan terhadap goncangan ombak. Selain itu, sifat fiber yang tidak lentur menyebabkan bahan tersebut mudah pecah bila berbenturan dengan benda yang lebih keras.

Menurutnya, kapal-kapal dengan bahan fiber hanya diperbolehkan berlayar di sungai dan danau saja yang ombak dan cuacanya tidak seekstrim di tengah laut.

Kapal yang boleh berlayar adalah yang berbahan baku besi atau alumunium.

Sebagai konsekuensi dari kebijakan regulator, kapal-kapal penyeberangan yang berlayar di laut di seluruh Indonesia akan digantikan dengan kapal perintis.

Kapal perintis yang ada nanti akan dikerahkan untukmembackup kekurangan kapal penyeberangan,” ujarnya.

Berdasarkan data, International Marine Organization (IMO) juga tidak membenarkan kapal berbahan fiber untuk berlayar di laut lepas.

KM Dumeks 10, tenggelam di perairan Tokong Hiu yang sudahmasuk pada laut lepas.

Berdasarkan informasi, sebenarnya KM Dumeks 10 juga tidak layak melaut karena tidak mendapatkan izin dari Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) Perhubungan Laut, Dephub. Tetapi kapal tetapdioperasikan melayani penumpang.

Mengenai hal ini, Sunaryo mengatakan, pihaknya akan mengecek kebenaran informasi tersebut. Bila benar maka akan ada sanksi bagiperusahaan pemilik kapal tersebut.

Ditegaskannya, dengan terjadinya peristiwa tersebut Dephub juga akan melakukan langkah uji petik ke seluruh kapal penyeberangan di Indonesia.

Bila tidak memenuhi syarat keselamatan maka akan dilarang berlayar.

Khusus untuk Dumeks yang masih beroperasi, kata Sunaryo, pihaknyaakan melakukan pemeriksaan secara ketat.

Seluruh KM Dumeks yang adadiperiksa, bila tidak memenuhi syarat keselamatan maka akan dibekukan izin layarnya.

“Berhubung sebentar lagi akan ada Natal dan Tahun Baru 2010, makayang masih layak layar boleh melayani penumpang. Tetapi harus memenuhi syarat lebih dahulu,” ujarnya.

Mengenai tindakan terhadap perusahaan pemilik kapal, Sunaryomenyatakan menunggu hasil pemeriksaan dari Komite NasionalKeselamatan Transportasi (KNKT) lebih dahulu. “Kalau terjadi pelanggaran, maka tidak akan ada ampun lagi. Perusahaan akan dibekukan,” tandasnya.

Sunaryo juga menyatakan ada indikasi pelanggaran seperti operator kapal masih memperjualbelikan tiket di atas kapal dan manifes yang tidak sesuai dengan jumlah penumpang.

Dijelaskannya, dalam manifes jumlah penumpangnya ada 213 orang, tetapi penumpang yang ditemukan selamat sebanyak 255 orang, sedangkan yang meninggal sebanyak 29 orang, sehingga totalnya 284 orang.

“Padahal kru kapal berjumlah 14, jadi ada puluhan penumpang yang tidak masuk dalam manifes,” tandasnya.[Dni]