241109 Fungsi Adpel Harus Diberdayakan

JAKARTA—Pemerintah harus memberdayakan fungsi Administratur Pelayaran (Adpel) untuk menjamin keselamatan pelayaran nasional.

“Fungsi dari Adpel masih dibutuhkan sebagai mata rantai keselamatan pelayaran nasional. Masalahnya sekarang, Adpel itu bagian dari masalah karena tidak independen dan menginduk ke Direktorat Jenderal hubungan laut sebagai penyelenggara,” ungkap Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit kepada Koran Jakarta, Senin (23/11).

Menurut Danang, Adpel akan menjadi solusi bagi keselamatan pelayaran nasional jika fungsinya dijalankan. Untuk mencapai hal tersebut ada dua opsi yakni dijadikannya Adpel sebagai satu unit kepatuhan terhadap standar keselamatan pelayaran atau memperkuat fungsi pengawasan terhadap kinerja para Adpel.

”Tidak bisa Adpel berada di bawah Ditjen Hubla. Rasanya tidak akan obyektif yang menjalankan aturan diawasi oleh satu direktorat,” katanya.

Pada kesempatan lain, Direktur The National Maritime Institute (Namarin) Rusdi Siswanto menyarankan,  untuk menghapus keberadaan  Adpel di seluruh Indonesia karena kontribusinya tidak jelas dalam peningkatan keselamatan pelayaran.

“Fungsi  Adpel sudah tidak jelas. Sebaiknya dihapuskan saja.  Bahkan, cenderung menjadi sumber masalah dalam keselamatan pelayaran,” katanya.

Menurut Rusdi, pada setiap kali kecelakaan kapal terjadi di Indonesia, problem ketidakberesan jumlah penumpang antara manifes dan jumlah yang diangkut sebenarnya, selalu muncul. “Itu tandanya, tugas Adpel yang memastikan data guna keselamatan kapal, tidak jalan,” katanya.

Dikatakannya,  jika Adpel tetap dipertahankan, hendaknya seluruh Adpel dan Syahbandar diuji kepantasan dan kepatutannya serta kompetensinya oleh pihak independen. Setelah itu,  seluruh pemeriksaan kelaikan  kapal diserahkan kepada badan klas.

Korban Dumeks
Secara terpisah,  Juru bicara  Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata mengungkapkan, hingga Senin (23/11) sore, ditemukan korban selamat  dari KM Dumai Ekspress (Dumeks) sebanyak  255 orang. Sedangkam korban meninggal sebanyak 27 jiwa.

Untuk diketahui, pada Minggu (22/11), pukul 09.30 WIB, KM Dumai Express 10  rute Batam-Dumai  karam di perairan Selat Durian, Provinsi Kepulauan Riau.  Kapal ini dioperasikan oleh  PT Lestari Indomal Bahari.

”KNKT telah memulai langkah investigasi untuk mencari penyebab tragedi tenggelamnya KM Dumai Ekspress 10 tujuan Batam-Dumai, di perairan Selat Durian, Provinsi Kepulauan Riau, Minggu (22/11), pukul 09:30 WIB. Tim  sudah berangkat sejak kemarin (22/11),” jelasnya.

Dijelaskannya, tim terdiri atas  Kunto Prayogo (ketua) dan dua anggota, Wahyu Prihanto dan Aleik Nurwahyudi.

Dikatakannya, alam satu atau dua hari ini, mereka akan menerapkan prosedur operasi standar (SOP) yang mengedepankan monitoring terhadap upaya evakuasi dan penyelamatan penumpang, kemudian mencari tahu kronologi kecelakaan.

Setelah itu, mereka juga akan mengamati sumber-sumber di lapangan yang bisa diwawancarai terkait peristiwa, termasuk kepada para korban selamat.

Barata    menambahkan, laporan awal hasil penelitian KNKT terhadap musibah itu, tidak bisa ditentukan dalam dua atau tiga bulan ke depan. “SOP-nya paling lambat satu tahun,” katanya.

Namun, bisa saja, katanya, hal itu lebih cepat karena tingkat kesulitan dan metode yang digunakan tim investigator bisa berbeda dari satu kasus kecelakaan dengan kecelakaan lainnya.

Sebelumnya, Dirjen Perhubungan Laut, Dephub, Sunaryo mengemukakan bahwa pihaknya menemukan dua indikasi dugaan pelanggaran terkait karamnya KM Dumai Ekspress di perairan Selat Durian, Provinsi Kepulauan Riau, Minggu (22/11), pukul 09:30 WIB.

Pertama, dugaan pelanggaran terhadap kapasitas angkut penumpang dan dugaan pelanggaran terhadap peringatan cuaca.

Sunaryo menyebutkan, berdasarkan data spesifikasi KM Dumai Ekspress 10 yang dimilikinya, kapasitas angkut penumpang maksimal kapal itu 273 orang.

Sementara, berdasarkan hasil pencarian dan penyelamatan yang dilakukan tim SAR di lapangan, jumlah penumpang yang ditemukan telah melebihi kapasitas tersebut.

“Namun, data pasti penumpang kapal masih simpang siur, karena manifesnya belum ditemukan. Saya sendiri punya dua data yang diperoleh dari dua sumber berbeda,” kata Sunaryo..[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s