191109 Menghilangkan Bottle Neck


 

Pertumbuhan pelanggan broadband di Indonesia memang sangat menjanjikan. Sayangnya, fenomena ini tidak diikuti oleh ketersediaan jaringan yang mencukupi dan minimnya kecepatan broadband yang dinikmati pengguna.

 

Realita di lapangan adalah   walau akses kecepatan bisa mencapai satu hingga tiga Mbps, tetapi   tetapi pada jam sibuk atau malam hari akan turun menjadi 20-40 kbps. Padahal,  standar dari broadband seharusnya  melewati  250 kbps.

 

Pemicu dari hal ini adalah  jaringan nasional masih banyak memiliki  (bottle neck) yakni sambungan lokal sudah memenuhi, tetapi sambungan interlokal belum. Apalagi kalau sudah masuk jaringan tulang punggung dari Indonesia timur ke barat dan dari barat ke timur.

 

Faktor lainnya adalah minimnya sambungan internasional yang dimiliki oleh Indonesia. Umumnya jalur yang dipilih Indonesia adalah melewati Singapura.  Padahal pengguna di Indonesia banyak mengakses situs luar negeri sehingga membutuhkan kapasitas bandwitdh besar dan biaya sewa yang tinggi.

 

Berdasarkan catatan, total kapasitas gateway  internasional milik Telkom melalui berbagai koneksi saat ini adalah 30 Gbps dgn okupansi hampir 80 persen.   Sedangkan   XL  sekitar 1 Gbps.

 

Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan, untuk mengatasi masalah bottle neck di antar wilayah lokal diperlukan pembangunan serat optik yang menghubungkan antar wilayah. “Sedangkan di area rural bisa ditutup dengan radio melalui teknologi wimax,” katanya.

 

Nonot meminta, operator yang telah memiliki komitmen dalam lisensi modern untuk membangun serat optik dalam tataran akses agar tidak mengubahnya ke radio khususnya di kota-kota besar. “Indosat Mega Media (IM2) karena menang tender wimax ingin mengubah komitmen pembangunan serat optik di perkotaan. Ini kan tidak benar. Kita butuh koneksi dengan serat optik agar kecepatan lebih stabil. Kalau radio itu kan sharing bandwitdh,” jelasnya.

 

Berkaitan dengan sambungan internasional, Juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto mengungkapkan, posisi negosiasi Indonesia akan kuat dalam  bernegosiasi dengan pihak luar,  jika Palapa Ring berhasil dijalankan.

 

Palapa Ring merupakan megaproyek membangun tulang punggung (backbone)   serat optik internasional yang terdiri dari 7 cincin (ring) melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten di KTI.

Proyek yang awalnya membutuhkan biaya sekitar 225 juta dollar AS itu terdiri dari 35.280 kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer serat optik bawah tanah (inland cable).
Setiap cincin nantinya akan meneruskan akses frekuensi pita lebar dari satu titik ke titik lainnya di setiap kabupaten.  Akses tersebut akan mendukung jaringan serat optik pita  lebar berkecepatan tinggi dengan kapasitas 300 Gbps hingga 1.000 Gbps di daerah tersebut.
Telkom akan memulai pembangunan  tahap pertama Palapa Ring dengan nama Mataram-Kupang Cable System pada akhir November ini. Pembangunan yang menelan investasi sebesar 500 miliar rupiah ini mencakup rute   Mataram-Kupang, Manado-Sorong, dan Fakfak-Makassar  sepanjang 1.041 km dengan menunjuk penyedia jaringan Huawei Marine.

Apabila Indonesia berhasil membangun Ring Palapa dengan kapasitas tak terbatas  maka negara ini  bisa menjadi pengambil inisiatif dan dilirik untuk kabel Tier 1 ke tiga benua  melalui dua samudera. Ujung cincin dari proyek ini seperti  di Papua bisa  menjangkau Samudera Pasifik.

 

Apalagi China sudah menyodorkan  rencana China-ASEAN superhighway virtual. Konfigurasi dari  Ring Palapa bisa dicapai dari manapun, baik dari Jakarta, Sumatera, maupun Manado, dengan harga sama murahnya, sehingga bisa menjadi  komponen menentukan untuk China-ASEAN superhighway ini.

 

Menkominfo Tifatul Sembiring mengungkapkan, untuk pembangunan Palapa Ring tahap II akan disiapkan oleh pemerintah insentif kepada konsorsium yang mengerjakan. Anggota konsorsium yang tersisa adalah Telkom, Indosat, dan Bakrie Telecom. “Ada apresiasinya. Sedang dikaji bentuknya bagaimana,” katanya.

 

COO Telkom Ermady Dahlan meminta, pemerintah untuk berlaku adil seandainya ada insentif dalam pembangunan Palapa Ring. “Jika konsorsium dapat insentif. Kita yang berinisiatif pertama ini rasanya wajar juga mendapatkan apresiasi. Harus diperlakukan sama dong. Ini untuk tahap pertama Telkom pasang badan sendirian,” katanya.[dni]

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s