181109 Dua Operator Investasi di Backbone

JAKARTA—Dua operator telekomunikasi yang menjadi pemain utama di penyedia jaringan, PT Indosat Tbk (Indosat) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom), berinvestasi di pembangunan backbone jaringan guna memperkuat posisinya di pasar.

Telkom berinvestasi di pembangunan tahap pertama Palapa Ring dengan nama Mataram-Kupang Cable System. Pembangunan mencakup rute  Mataram-Kupang, Manado-Sorong, dan Fakfak-Makassar  sepanjang 1.041 km.

Sedangkan Indosat secara resmi mengoperasikan Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Jakabare yang akan menghubungkan Indonesia dengan Singapura dan Satelit Palapa-D. Jakabare merupakan jaringan kabel laut sepanjang lebih dari 1.300 kilometer, meliputi pulau Jawa, Kalimantan, Batam, dan Singapura.

Sementara Satelit Palapa-D yang diluncurkan dari Xichang, China pada 31 Agustus lalu sudah diserahterimakan oleh kontraktor pada Indosat 28 Oktober lalu. Satelit Palapa-D  menelan investasi sebesar 220 juta dollar AS dan diperkirakan akan menemukan titik impas setelah tujuh tahun mengangkasa.

”Kami menginvestasikan dana sebesar 500 miliar rupiah untuk membangun backbone tersebut. Penyedia jaringan yang ditunjuk adalah Huawei Marine. Sedangkan pembangunan akan dimulai pada 30 November nanti,” ungkap COO Telkom Ermady Dahlan di Jakarta, Selasa (17/11).

Dijelaskannya, Telkom memperkuat  backbone  karena  didorong oleh perubahan mendasar pada layanan perseroan. Bila pada masa lalu layanan  Telkom lebih banyak berbasis suara, maka dewasa ini telah berubah menjadi  Telecommunication, Information, Media dan Edutainment (TIME) atau new wave.  ”Wilayah timur Indonesia  tentu ingin menikmati juga new wave ini ,” jelasnya.

New Wave adalah lini bisnis diluar telekomunikasi dasar berbasis seluler atau kabel. Bisnis ini identik dengan penggunaan internet dan solusi teknologi informasi.

Berdasarkan catatan, pada 2008  bisnis new wave Telkom tumbuh mencapai 51 persen.  Sedangkan sumbangan terhadap total revenue meningkat menjadi 8,9 persen  pada kuartal ketiga 2009 dibandingkan hanya 6,3 persen pada periode sama 2008.

Secara terpisah, Presiden Direktur/Ceo Indosat Harry Sasongko mengungkapkan, beroperasinya Jakabare menjadikan perseroan memiliki kapasitas bandwitdh pada tahap awal sebesar 80 Gbps yang akan digunakan baik untuk jasa berbasis internet protocol (IP) atau non IP. ”Investasi kami 100 juta dollar AS untuk pembangunan infrastruktur ini. Dananya bagian  dari belanja modal tahun lalu,” jelasnya.

Dijelaskannya, sistem kabel laut Jakabare dan satelit Palapa-D dalam penjualan ke pasar korporasi akan dibungkus dalam payung Indosat Corporate Solution (ICS). ICS sendiri dalam pembukuan perseroan dimasukkan dalam jasa data tetap yang berkontribusi sekitar 16 persen bagi pendapatan perseroan.

Pengurangan Karyawan
Berkaitan dengan isu pengurangan karyawan outsourcing di perseroan, Harry menjelaskan,  pegawai tersebut bukanlah bagian dari Indosat. ”Kami hanya berurusan dengan perusahaan outsourcing-nya,” katanya.

VP Public Relations Indosat Adita Irawati menegaskan, masalah  outsourcing sudah ada dalam kontrak karyawan outsourcing. ” Di UU Ketenagakerjaan sudah jelas disebut kontrak maksimal dua tahun, lalu setelah itu direview dan keputusannya ada di perusahaan,” katanya.

Berdasarkan catatan, karyawan outsourcing di Indosat berjumlah dua ribu orang yang menempati berbagai bidang seperti legal, marketing communication, teknis, customer service, dan lainnya.

Kabar beredar mengatakan biasanya untuk karyawan outsourcing dengan performa bagus akan diminta oleh perseroan untuk melanjutkan kontraknya. Setelah lewat kontrak di tahun kedua, karyawan akan diminta istirahat sebulan atau berpindah perusahaan outsourcing, dan setelah itu kembali diperkerjakan.

”Sayangnya,  peluang untuk diangkat menjadi karyawan tetap minim sekali. Biasanya diberikan janji surga terus,” ungkap sumber Koran Jakarta.[dni]

171109 XL Right Issue 1,418 juta Lembar. Saham

JAKARTA–PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) akan melakukan right issue (penerbitan saham baru)  senilai 2,836 triliun rupiah atau sebanyak 1,418 juta lembar saham guna membayar hutang perseroan.

“Eksekusi dari aksi korporasi ini akan dilakukan periode 1 sampai 7 Desember 2009. Semua sudah disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) hari ini,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, Senin (16/11).

Dijelaskannya,  Penawaran Umum Terbatas I dalam rangka penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu ini seharga 2.000 rupiah per lembar.

Dengan penerbitan saham baru  maka jumlah saham XL yang tercatat di Bura Efek Indonesia menjadi sebanyak 8,508 juta lembar.

Hasnul mengungkapkan,  dana hasil right issue tersebut akan digunakan untuk membayar utang sindikasi perseroan yaitu DBS Bank Ltd, Export Development Canada, The Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ Ltd, dan Chinatrust Commercial Bank.

Selain itu juga untuk melunasi utang kepada Bank Mandiri, PT Bank Mizuho Indonesia, DBS Bank Ltd, dan pinjaman ExportKreditnamden (EKN) Buyer Credit Facility yang didanai Swedish Export Credit Corporation.

“Kami memiliki sisa hutang 1,9 miliar dollar AS. Sebanyak 300 juta dollar AS akan dilunasi dari dana right issue. Sisanya akan mengikuti jatuh tempo sesuai periode masing-masing akan dilunasi melalui dana internal atau refinancing,” jelasnya.

Selanjutnya Hasnul mengatakan, right issue tahap pertama akan diprioritaskan bagi pemegang saham lama sesuai dengan porsi kepemilikan yakni Axiata ( 83,8%), Etisalat (16%), dan publik (0,2%).

Adapun mekanisme right issue adalah 5:1 yakni setiap lima lembar saham lama akan mendapat satu lembar saham baru.

“Memang ditahap awal ini ada kemungkinan porsi kepemilikan Axiata dan Etisalat meningkat. Tetapi kami berencana akan melakukan right issue tahap kedua pada tahun depan,” jelasnya.

Penjualan Menara Dibatalkan

Berkaitan dengan hasil lainnya dari RUPSLB, Hasnul mengungkapkan, telah disetujui untuk membatalkan aksi penjualan tujuh ribu menara milik perseroan.

“Prosesnya sudah berjalan satu tahun dan hingga sekarang tidak mendapatkan pembeli. Sesuai aturan ini dibatalkan dulu, nanti jika akan ada aksi serupa dilaporkan kembali ke pemegang saham untuk mendapatkan persetujuan,” jelasnya.

Diungkapkannya, hingga kuartal ketiga tahun ini dari bisnis penyewaan menara perseroan mendapatkan pendapatan sebesar 400 miliar rupiah. Hingga akhir tahun ini ditarget bisa berkontribusi pendapatan hingga 600 miliar rupiah.

Untuk agenda lain yang disetujui yaitu penambahan kegiatan usaha layanan pembayaran pengiriman uang (remittance) melalui jaringan telekomunikasi dan  perubahan nama perusahaan menjadi PT XL Axiata Tbk.

“Penggantian nama perusahaan agar perseroan melalui Axiata Group Berhard dapat menembus pasar regional dan memberikan layanan lebih luas dan terjangkau kepada pelanggan yang didukung sembilan operator di Asia,” jelasnya.[Dni]

171109 XL Tambah Lini Bisnis

JAKARTA–PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) berencana menambah lini bisnisnya dengan menggeluti jasa pembayaran pengiriman uang melalui jaringan telekomunikasi.

“Kebutuhan pelanggan atas jasa tersebut lumayan besar. Para pemegang saham sudah menyetujui untuk terjun di bisnis ini. Langkah selanjutnya adalah meminta lisensi ke Bank Indonesia,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, Senin (16/11).

Diungkapkannya, selama ini XL telah melakukan inkubasi layanan ini dengan Bank BNI untuk para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong. “Rencananya layanan ini juga akan membidik untuk TKI di Malaysia dan Arab Saudi,” katanya.

Direktur Pemasaran XL Nicanor V Santiago menjelaskan, revenue generating dari layanan ini datang dari SMS notifikasi, penjualan pulsa, dan fee pengiriman uang.

“Di Philipina masa inkubasi layanan ini empat hingga lima tahun,” katanya.

Direktur Commerce XL Joy Wahjudi menambahkan, guna menciptakan ekosistem dari jasa ini perseroan terus menggenjot jumlah pelanggan.

“Salah satunya kami mengincar pelanggan dengan menjual ponsel bundling,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Gvon Nusantara Harianto mengungkapkan, Gvon menggandeng XL untuk bundling ponsel seri Gvon 920 dengan harga 1,19 juta rupiah dan Gvon 950 dengan harga 999 ribu rupiah.

“Kedua ponsel ini target awalnya bisa laku sampai 100.000 unit. Tapi minimal jika bisa 50 persennya atau setara 50 ribu unit sampai akhir tahun saja sudah bagus,” katanya.[Dni]