171109 Roaming Nasional: Babak Baru Konsolidasi Sudah Dimulai



PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) dan PT Natrindo Telepon Seluler (NTS) pada pekan lalu telah menandatangani kesepakatan  kerjasama roaming nasional yang akan diimplementasikan pada kuartal pertama tahun depan.

 

Kesepakatan yang dilakukan oleh kedua operator dimana secara  kebetulan sahamnya dikuasai oleh investor dari Malaysia dan Timur Tengah itu bisa dikatakan sebagai dimulainya babak baru konsolidasi di industri telekomunikasi.

 

Roaming nasional antaroperator adalah satu kondisi dimana pelanggan dari operator tertentu bisa menggunakan jasanya di area dimana belum dijangkau oleh operator tersebut karena adanya kerjasama dengan penyedia jaringan lainnya.
Adanya kerjasama yang dijalin oleh keduanya membuat  pelanggan NTS yang menggunakan merek Axis  akan mendapat akses penuh ke jaringan XL di Sumatera. Setelah itu secara bertahap wilayah kerjasama akan  dilanjutkan ke  Kalimantan dan Sulawesi.
Presiden Direktur dan Ceo NTS Eric Aas  mengungkapkan, kesepakatan ini merupakan terobosan baru di Indonesia yang akan menghadirkan pilihan dan keterjangkauan bagi lebih banyak orang di Indonesia dibandingkan sebelumnya serta membantu mempercepat pertumbuhan pasar telekomunikasi.

 

“Tetapi ini  tidak akan mengubah komitmen dari perseroan untuk membangun jaringan sesuai lisensi modern yang diberikan kepada regulator,” tegasnya di Jakarta, belum lama ini.

 

Untuk diketahui, saat ini Axis memiliki 3.700 BTS dengan 6 juta pelanggan. Sedangkan XL memiliki 26,6 juta pelanggan dengan dukungan 18.790 BTS. Di Sumatera sendiri XL memiliki 4 ribu BTS dengan 3 juta pelanggan.
Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi menambahkan, meskipun saat ini para operator berkompetisi di pasar, namun jika peluang berkolaborasi menguntungkan, tentunya hal yang wajar dilakukan.
“Hitungannya menguntungkan kedua belah pihak. XL juga terbuka melakukan roaming nasional dengan operator lainnya jika hitungan bisnis dan teknis bisa dilakukan,” katanya.

Hasnul menegaskan, kapasitas jaringan XL dimana adanya roaming nasional dinilmati pelanggan Axis masih mampu mengatasi lonjakan trafik. “Wilayahnya dipilih yang masih longgar,” katanya.

Direktur Jaringan XL Dian Siswarini menegaskan, XL tidak akan membedakan perlakuan dalam   kualitas layanan kala pelanggan  Axis berada di jaringannya. “Saat ini sedang disusun Service Level Agreement (SLA). Okupansi akan dijaga sesuai kualitas layanan agar memenuhi regulasi. Karena itu roaming dilakukan untuk area dengan kapasitas yang memungkinkan,” jelasnya.
Selanjutnya Hasnul pun menegaskan, meskipun sudah menjalin kerjasama,  XL tidak berniat untuk melakukan akusisi atau merger terhadap Axis. “Tidak ada itu merger. Hitungan bisnisnya tidak mengena kalau aksi itu dilakukan,” tegasnya.

 

Paling Realistis

Praktisi telematika Suryatin Setiawan menilai, langkah yang dilakukan oleh kedua operator merupakan bentuk kerjasama yang paling realistis dapat dilakukan untuk saat ini.

 

“Setelah sebelumnya  operator berbagi  komponen pasif jaringan yaitu menara, maka sekarang mereka berbagi  komponen  aktif yaitu network infrastructure,” katanya.

 

Menurut Suryatin, adanya kerjasama ini memberikan keuntungan bagi pelanggan dari operator dengan jangkauan lebih sempit. Sedangkan masalah persaingan, tetap akan terjadi karena keduabelah pihak pasti menawarkan harga yang kompetitif ke masing-masing pelanggan.

 

“Semua akan ditentukan dengan off-set roaming charge yang diterapkan dalam perjanjian kedua operator itu sehingga tidak ada  gimmick yang lebih kecil pendapatannya dibanding roaming charge-nya,” jelasnya.

 

Ketua Bidang Teknologi Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Taufik Hasan menambahkan, dampak dari kerjasama ini akan memunculkan  efisiensi penggunaan sumber daya frekuensi.

 

“Diperkirakan investasi kedua belah pihak juga tidak akan mengendur karena   Axis tidak bisa terus mengandalkan XL.  Sementara XL  sendiri tidak bisa membiarkan kualitas layanan  turun karena Axis tumbuh di tempat perjanjian roaming nasional dilakukan,” katanya.

 

Sedangkan Ketua Tetap Bidang Telekomunikasi Kadin Johnny Swandi Sjam menilai, kesepakatan yang dilakukan XL dan Axis sebagai babak baru konsolidasi di industri telekomunikasi.

“Bagi pemain baru seperti Axis tentunya ini solusi untuk ekspansi jaringan. Sedangkan untuk XL ini adalah sumber pendapatan baru ketimbang kapasitasnya tidak terpakai,” katanya.

 

Berdasarkan catatan, XL dari bisnis penyewaan menara saja mendapatkan dana sebesar 450 miliar rupiah. Tentunya perjanjian GSM service roaming akan menambah pendapatan dari non bisnis inti perseroan.

Regulasi
Selanjutnya Johnny mendesak, regulator mengeluarkan  aturan untuk mengantisipasi keluarnya kerjasama sejenis di industri karena selama ini belum ada regulasi yang detail terkait hal tersebut. “Regulator jangan menunggu dan biarkan heboh dulu,” katanya.

Praktisi telematika Herry Nugroho mengatakan, terdapat sumber daya publik yang turut “diperjual-belikan” dalam kesepakatan roaming nasional  yaitu spektrum frekuensi radio. Kesepakatan yang dilakukan para operator semacam ini tentu juga berimplikasi bagi pundi-pundi kas negara. Selama rezim BHP frekuensi masih berdasarkan kebijakan eksisting, maka pemanfaatan kanal baru harusnya juga menambah pemasukan bagi kas negara.

 

“Keterlibatan regulator dalam fenomena ini mutlak diperlukan, jika dibiarkan di area abu-abu bisa terjadi kriminalisasi. Terlebih lagi yang menjadi sasaran akhir dari kesepakatan ini adalah kepentingan konsumen. Harus ada regulasi yang akomodatif, bukan restriktif karena regulator kaget ada pola bisnis seperti ini,” tegasnya.

 

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi menegaskan, kerjasama yang dilakukan XL dan NTS tidak melanggar regulasi yang ada.

“Regulasinya jelas yakni KM No 20/2001 dan Fundamental Technical Plan (FTP). Kedua belah pihak sudah melaporkan kepada regulator,” jelasnya.

Heru menegaskan, bagi regulator yang menjadi perhatian adalah komitmen pembangunan jaringan dan kualitas layanan ke pelanggan. “Tetapi untuk mengantisipasi ini menjadi tren akan keluar regulasi yang lebih detail. Jika regulasi baru keluar, kedua belah pihak harus mengikuti aturan yang baru,” jelasnya.

Sementara Suryatin menilai keberadaan dari  Pasal 51 KM 20/2001 sudah cukup sebagai payung hukum  roaming nasional. “Kemungkinan yang akan perlu disesuaikan adalah pemenuhan target pembangunan fisik seperti diwajibkan dalam  lisensi modern  operator. Satu hal yang pasti,  pasal 6 KM 20/2001 mengijinkan hal ini,” tegasnya.

 

Tidak Terganggu

Pada kesempatan lain, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro merasa tidak terganggu dengan langkah yang dilakukan oleh XL dan NTS. “Itu adalah salah satu strategi yang dilakukan pemain baru agar bisa mengejar ketertinggalan. NTS sendiri pernah menawarkan kerjasama serupa ke Indosat, tetapi business case-nya tidak cocok,” katanya.

 

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah pun mengaku tidak khawatir dengan adanya kerjasama yang dilakukan oleh kedua operator tersebut. “Itu hal yang biasa. Sekarang kami sedang mempelajari dulu regulasinya,” katanya.[dni]

171109 Menanti Geliat Mobile-8


 

Entah kebetulan atau tidak, pada Rabu (11/11) lalu terjadi dua kegiatan yang menandakan masa konsolidasi telah dimulai di industri telekomunikasi.

 

Kejadian pertama adalah disepakatinya kerjasama roaming nasional oleh XL dan Axis. Sedangkan yang kedua yakni resminya Grup Sinarmas, melalui anak usahanya, PT Gerbangmas Tunggal Sejahtera, masuk ke PT Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8).

 

Masuknya Grup Sinarmas ke Mobile-8 menjadikan perusahaan ini secara tidak langsung memiliki dua operator yakni Smart Telecom dan Mobile-8.

 

Saat ini Grup Sinar Mas memang baru memiliki 19 persen saham Mobile-8 dari transaksi senilai  211,464 miliar rupiah yang terjadi pada Rabu itu. Sedangkan di Smart Telecom kepemilikan Sinar Mas adalah mayoritas.

 

Namun, Direktur Pelaksana Grup Sinarmas Gandhi Sulistyanto mengatakan pihaknya menjajaki kemungkinan untuk meningkatkan saham di Mobile-8 dari posisi saat ini yang masih minoritas.

 

Menurutnya, kepemilikan minoritas Gerbangmas di Mobile-8 saat ini baru tahap awal guna mempelajari dan menilai potensi sinergi usaha antara Smart Telecom yang meluncurkan produk Smart dan Fren yang dimiliki oleh Mobile-8.

 

Direktur Utama Mobile-8 Telecom Merza Fachys mengharapkan  dengan masuknya investor baru ini, prospek perseroan bisa berkembang semakin baik. Perseroan menargetkan jumlah pelanggan tahun ini bisa mencapai  3,5 juta  dari saat ini sebanyak 3,1 juta nomor.

 

Dari sisi kinerja, kata Merza, pendapatan 2010 diharapkan tumbuh minimal 5 persen sesuai prediksi pertumbuhan industri telekominikasi nasional. Sampai September 2009, pendapatan bersih tercatat 278,64 miliar rupiah atau turun 54 persen dari periode sama tahun lalu. Perseroan masih menderita rugi bersih 440 miliar rupiah.

 

Merza pun membantah isu di luar yang mengatakan Mobile-8 akan difokuskan menggarap pasar Fixed Wireless Access (FWA), sementara Smart Telecom bermain di seluler. “Tidak benar itu. Fren akan tetap seperti dulu. Kita mengalokasikan dua kanal untuk Fren, satu kanal (FWA), dan satu kanal untuk teknologi Evolution Data Optimized (EVDO),” jelasnya.

 

Merza megungkapkan, pada tahap awal ini sinergi yang akan dikembangkan dengan Smart Telecom   lebih pada pemanfaatan resources dan fasilitas yang bisa digunakan bersama-sama  terutama guna membantu Mobile-8 menambah kekuatannya untuk menekan kerugian.

 

“Kita mulai bersama-sama melakukan intensifikasi dan ekstensifikasi pasar guna meningkatkan competition advantage melawan pesaing. Sempat ada pemikiran melakukan kerjasama ala XL dan Axis, tetapi masih sedang dipelajari hambatan teknisnya karena keduanya berada di frekuensi berbeda,” katanya.

 

Pada kesempatan lain, Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro mengaku tidak khawatir sinergi Smart Telecom dan Mobile-8 akan menggerus jasa StarOne yang juga mengusung teknologi Code Division Multiple Access (CDMA).

 

“StarOne lebih fokus bermain di pasar data untuk kecepatan lebih rendah. Sedangkan untuk menghadapi Smart dan Mobile-8 yang bermain di kecepatan tinggi akan berhadapan dengan 3,5G milik Indosat,” katanya.

 

Sementara Praktisi telematika Suryatin Setiawan menduga jika   Smart nanti berhasil untung dan tumbuh dengan strategi fokus pada layanan data, maka Mobile-8 akan mengikuti jejak saudara tuanya tersebut.

 

Pada kesempatan lain,  Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengungkapkan, tak lama lagi akan keluar aturan tentang merger dan akuisisi untuk memberikan kepastian usaha di sektor telekomunikasi. “Regulasi ini akan berkoordinasi dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU),” katanya.

 

Anggota Komite lainnya, Nonot Harsono menegaskan, faktor yang diperhatikan dalam merger atau akuisisi adalah masalah frekuensi yang notabene milik negara. “Seharusnya frekuensi dikembalikan dulu pada negara. kalau tidak yang terjadi jual beli frekuensi. Belum lagi masalah tunggakan pembayaran, itu siapa nanti yang bayar,” katanya.

 

Untuk diketahui, Smart Telecom dulunya adalah dua perusahaan yang dilebur menjadi satu yakni Primacell dan WIN. Kabar beredar mengatakan kedua perusahaan ini secara total memiliki hutang pembayaran Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi kepada negara mencapai 600 miliar rupiah.

 

Hingga sekarang belum ada kejelasan pembayaran meskipun sudah ada perhitungan ulang sehingga pelunasan hanya menjadi 200 miliar rupiah.Sementara Mobile-8 sendiri memiliki hutang BHP kepada negara sekitar 60 miliar rupiah.[dni]

 

 

 

171109 Negara Asia Pasific Sepakat Perluas Konektifitas Broadband


 

JAKARTA—Negara-negara di Asia Pasific sepakat untuk memperluas konektivitas broadband guna mengembangkan ekonomi berbasis teknologi tersebut. Kesepakatan tersebut dituangkan dalam Bali Statement yang merupakan hasil dari pertemuan Asia Pacific Telecommunity (APT) 2009.

 

“Para menteri telekomunikasi dan informasi dari seluruh negara Asia Pasific yang bertemu di Bali juga sepakat untuk  memfasilitasi layanan konvergensi yang efektif, memberi dukungan terhadap pengembangan konten dan aplikasi, serta pembangunan kapasitas sumber daya manusia di industri telematika. Selain itu disepakati juga menurunkan biaya roaming internasional,” ungkap Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Senin (16/11).

 

Heru menjelaskan, Indonesia harus segera juga menjalankan rencana aksi sesuai kesepakatan dengan   menghadirkan regulasi dan kerangka kerja regulator yang mendorong infrastruktur broadband  agar kian kompetitif dan dapat menjangkau seluruh negeri

 

“Salah satu contoh perubahan regulasi adalah bagaimana merevitalisasi  Balai Telekomunikasi dan Informatika Pedesaan (BTIP). Huruf “P” itu membuat gerak lembaga itu hanya terbatas di pedesaan,” ujarnya.

 

Juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto mengatakan, Indonesia   dalam   pengembangan konektivitas broadband berencana  fokus pada Palapa Ring dan meningkatkan proyek universal service obligation (USO) menjadi broadband service obligation (BSO).
”Dana USO nanti akan dikembangkan untuk memperluas penggunaan broadband. Proyek USO nanti bukan hanya teleponi dasar (Desa Berdering) tapi sudah data (Desa Pinter/ Internet kecamatan) dan dengan pita lebar (broadband),” katanya.

 

Secara terpisah, VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengungkapkan, Telkom telah aktif mengembangkan broadband di Indoensia melalui jasa Speedy. “Bahkan kami membuka Broadband Learning Cente agar  dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh apa itu internet cepat ala Speedy,” katanya.[dni]

 

171109 Telkomsel Luncurkan Layanan Jejaring Sosial

 

 

JAKARTA—Tergoda oleh suksesnya situs jejaring sosial ala Facebook, Telkomsel akhirnya merevitalisasi situs  My Pulau miliknya dan menyulap menjadi  layanan jejaring sosial untuk komunitas lokal.

 

Hasil sulapan tersebut menjadikan MyPulau yang sebelumnya hanya menjadi alat komunikasi pengguna Telkomsel Flash memiliki  berbagai fitur unik yang menarik, seperti Social Status Integrator, My Interests, dan My Buys.

 

My Pulau sendir telah dirintis sejak dua tahun lalu dan berhasil menggaet satu juta  1 juta pengguna.

 

“Saat ini kebutuhan untuk mengakses situs jejaring sosial sudah menjadi kebutuhan pokok dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup masa kini. Hal ini terlihat dari pertumbuhan jumlah pengguna situs jejaring sosial yang semakin pesat,” ungkap VP Product Marketing Telkomsel Mark Chambers di Jakarta, Senin (16/11).

 

Menurut Mark, salah satu buktinya adalah pengguna situs jejaring sosial paling populer saat ini Facebook yang kini telah mencapai lebih dari 11 juta pengguna di Indonesia atau meningkat sekitar 13 kali lipat dari akhir tahun 2008 yang hanya 800.000 pengguna.

 

“Seiring dengan tingginya kebutuhan akan layanan jejaring sosial, Telkomsel  menghadirkan inovasi layanan dengan merevitalisasi   My Pulau. Situs ini   dapat mengakomodasi kebutuhan tersebut, sehingga pelanggan dapat semakin nyaman menikmati komunikasi serta berinteraksi dengan komunitasnya melalui one stop social networking online portal ini,” jelas Mark.

 

Dijelaskannya,   layanan jejaring sosial milik My Pulau  memungkinkan pelanggan   mengintegrasikan seluruh fitur favoritnya secara online. Untuk mengakses My Pulau, pelanggan cukup tekan *697# di ponselnya dan langsung dapat memilih menu untuk melakukan registrasi, meng-upload blog, meng-update status, memperoleh informasi terkini, dan sebagainya.

 

Pelanggan juga dapat melakukan registrasi My Pulau dengan mengirim SMS, ketik REG dan kirim ke 7700, selanjutnya hanya perlu mengikuti petunjuk SMS. Di samping itu, pengguna My Pulau juga dapat mengakses situs http://www.mypulau.com langsung dari ponselnya.

 

“My Pulau merupakan inovasi layanan jejaring sosial hasil karya anak bangsa sendiri dan diciptakan khusus untuk orang Indonesia sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Upaya kami dalam menghadirkan layanan ini tentunya sejalan dengan imbauan pemerintah untuk mengoptimalkan konten lokal dalam menghasilkan suatu layanan yang bermanfaat bagi masyarakat,” pungkasnya.[dni]