121109 Teknologi HSPA+ : Aksesori yang Belum Menjanjikan

Belum lama ini dua operator GSM yang memiliki lisensi 3G mengumumkan telah meningkatkan jaringannya dari High Speed Downlink Packet Access (HSDPA) ke High Speed packet Access (HSPA+).

 

Kedua operator itu adalah Telkomsel dan Indosat yang belum lama ini telah menambah satu kanal data  HSPA+ adalah teknologi 3G/3.5G hasil evolusi dari Wide Code Division Multiple Access (WCDMA) yang dipercaya mampu  meningkatkan data through put hingga mencapai kecepatan 21 Mbps, 28 Mbs, 42 Mbps, dan seterusnya.

 

Implementasi HSPA+ umumnya dilakukan dengan mengaktifkan  perangkat lunak di BTS 3G (Node B) dan RNC, di radio network dengan konsekuensi operator harus merogoh kocek membayar  lisensi ke vendor.  Persiapan lain yang harus dilakukan juga design radio   dan menambah bandwidth (backhaul) dari Node B ke RNC, serta ke Core Network.

 

Telkomsel membenamkan uang 1,3 triliun rupiah untuk mengembangkan teknologi ini di 24 kota pada 2010 nanti.  Untuk tahap awal HSPA+ dapat dinikmati oleh pelanggan Telkomsel  di Jakarta, selanjutnya hingga akhir tahun nanti akan hadir di Yogyakarta, Semarang, Medan, dan Surabaya. Teknologi ini diprioritaskan bagi pengguna pascabayar Kartu Halo.
Tingginya investasi yang dikeluarkan Telkomsel untuk teknologi ini diakibatkan  vendor yang dipilih untuk mengusung HSPA+, berbeda dengan pemasok jaringan 3G sebelumnya di area tertentu. Telkomsel untuk HSPA+ menggunakan Huawei.  Pemasok jaringan 3G bagi Telkomsel selama ini adalah  Nokia Siemens Network (NSN), Ericsson, Huawei, dan ZTE.
Sedangkan Indosat baru akan mengomersialkan layanan ini pada akhir tahun nanti setelah 1.500 Node B (BTS 3G) di Jabodetabek ditingkatkan kemampuannya. Indosat tidak mengeluarkan investasi yang besar untuk teknologi ini karena tetap setia menggunakan Ericsson sebagai pemasok software HSPA+ dan 3G. Dampak dari penggunaan single vendor ini adalah biaya per pelanggan dapat ditekan karena tidak terjadi swap perangkat.

 

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menjelaskan, Telkomsel berani menginvestasikan uang besar dalam pengembangan teknologi karena melihat pasar   mobile broadband akan mencapai lima hingga enam juta pelanggan pada tahun depan.

 

“Saat ini   Telkomsel Flash digunakan 1,4 juta pelanggan. Tahun depan potensi pengguna mobile broadband itu lumayan besar. Kami mengincar pelanggan ini menikmati akses dari  Telkomsel,” tegasnya di Jakarta belum lama ini.
Sarwoto menjelaskan, penerapan HSPA+ adalah bagian dari evolusi jaringan perseroan untuk menyelenggarakan mobile broadband karena pada tahun depan teknologi Long Term Evolution (LTE) mulai diujicobakan. “Tambahan satu kanal untuk 3G itu semua didedikasikan untuk data. Ini harus dioptimalkan agar investasi menambah frekuensi dan membangun backbone itu menguntungkan,” katanya.

Mubazir
Secara terpisah, praktisi telematika Ventura Elisawati menjelaskan, operator tidak ada gunanya berinvestasi di teknologi yang sifatnya serba tanggung layaknya HSPA+.

 

”HSPA+ itu hanya fitur tambahan dari vendor jaringan. Dulu ketika digembar-gemborkan  HSDPA tidak ada dampaknya dirasakan bagi pelanggan. Sebaiknya operator lebih pintar berinvestasi,” tegasnya.

 

Menurut Ventura,  saat ini pengguna untuk pemakaian wajar tidak membutuhkan kecepatan seperti dijanjikan HSPA+, apalagi  di Indonesia kenyataannya pelanggan  tidak pernah mencapai kecepatan ideal yang dijanjikan operator.

 

“Bagi saya gembar-gembor publikasi teknologi ini   kemungkinan hanya untuk memoles citra perusahaan saja. Keduanya kan sempat bermasalah dengan pelanggan terkait kualitas layanan,” ketusnya.

 

Praktisi telematika lainnya,  Raherman Rahanan menjelaskan,    HSPA+ hanyalah gimmick pemasaran karena banyak keterbatasan dalam mengaksesnya. “Banyak kendala untuk menikmati kecepatan akses ini secara ideal,” jelasnya.

 

Dijelaskannya, berdasarkan through put maksimum yang  dijanjikan HSPA+, seorang pelanggan mungkin akan terkecoh, bahwa kecepatan yang didapat sesuai janji operator. “Jangan dipikir mendapatkan kecepatan maksimum itu (21 Mbps) oleh semua pelanggan. Itu ada kondisi tertentu yang harus dipenuhi,” katanya.

 

Kondisi itu adalah hanya ada satu pelanggan di cell,   menggunakan modem atau terminal yang mendukung   HSPA+,  kondisi sinyal sangat optimum, misalnya berada dalam radius 300 meter di sekitar menara,  tidak bergerak   ke luar dari cell,  dan operator mengoptimumkan penggunan HSPA+ di cell yang bersangkutan serta membawa trafik (backhaul) dari node B ke RNC menggunakan serat optik  transport atau IP seperti GE (Gigabit Ethernet).

 

Melihat persyaratan yang berat  sangat kecil peluangnya bagi pelanggan untuk mencapai through put makimum seperti yg diiklankan oleh operator. Hal ini karena kebanyakan radio planner akan mendesain  HSPA+ dengan target  lima persen untuk mencapai through put di area HSPA+ (dalam micro cell nya) dan sisanya 95 persen (di macro cell nya) di cover oleh HSDPA dan WCDMA.

 

Ketua Bidang Riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) Eka Indarto menyarankan, operator sebaiknya mendahulukan audit perangkat sebelum menjalankan teknologi baru.

 

“Telkomsel yang memutuskan mengganti vendor itu rasanya kok berani sekali. Resiko yang ditanggung akan berat. Lihat saja dari sisi investasi sudah membengkak. Belum lagi dari sisi kompatibilitas dan kesiapan teknisnya kerap terganggu,  ujung-ujungnya kualitas layanan bisa menurun,” jelasnya.

 

Head of Sales NSN Indonesia Henrik Brogaard menjelaskan, operator yang mengusung teknologi GSM memang harus berevolusi ke HSPA+ dengan hanya menambahkan perangkat lunak. “Tetapi dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan, LTE akan menjadi solusi untuk masalah layanan data. Masalah di LTE itu  nantinya adalah ketersediaan dari spektrum frekuensi,” jelasnya.

 

Sedangkan Presiden Direktur  Ericsson Indonesia Arun Bansal  menegaskan, HSPA+ adalah evolusi alami dari sistem GSM yang digunakan oleh mayoritas operator di dunia. “HSPA+ memberikan konektivitas telekomunikasi data yang lebih baik untuk pelanggan. Hal ini menjadi sangat penting bagi indonesia yang banyak mengandalkan sambungan suara maupun data melalui jaringan nirkabel,” katanya.

 

 

 

Sementara VP Marketing and Product Telkomsel Mark Chamber menjelaskan, sejak awal telah secara tegas dan transparan menyatakan teknologi tersebut hanya bisa dinikmati oleh pelanggan kartu Halo.

 

“Kami jujur saja bilang ini untuk pelanggan yang mendapatkan prioritas. Bahkan peta area yang telah menikmati teknologi ini juga dipaparkan dengan jelas. Tidak tepat itu jika dibilang kita mau bermain pemasaran. Kalau mau heboh, tentu waktu uji coba sudah dipublikasikan layaknya kompetitor,” tegasnya.[dni]

121109 2011, ARPU Industri Turun 50%

JAKARTA–Asosiasi GSM (GSM Asociation/GSMA) memperkirakan Average Revenue Per User (ARPU) dari industri telekomunikasi global akan mengalami penurunan hingga 50 persen pada 2011 nanti.

“Saat ini ARPU di industri  telekomunikasi secara global rata-rata 48 dollar AS. Dua tahun lagi akan turun menjadi 24 dollar AS,” ungkap Senior Director of Services GSM Association Jaikishan Rajaraman  di Jakarta, Rabu (11/11).

Dijelaskannya, kondisi tersebut terjadi karena semakin tingginya pengguna dan menurunnya harga perangkat untuk menggelar infrastruktur. “Biaya infrastruktur itu mengalami penurunan 3 hingga 5 persen tiap tahunnya,” jelasnya.

Pada kesempatan lain, VP Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia mengakui, fenomena turunnya ARPU memang telah terjadi.

“Pertumbuhan itu justru terjadi di New Wave Business karena dipacu oleh layanan broadband,” jelasnya.

New Wave adalah lini bisnis diluar telekomunikasi dasar berbasis seluler atau kabel. Bisnis ini identik dengan penggunaan internet dan solusi teknologi informasi.

Dijelaskannya,  kecenderungan New Wave menjadi kebutuhan yang luas sebenarnya sudah mulai terlihat

Pada 2008, ketika bisnis yang mengandalkan layanan legacy seperti telepon kabel (wireline) mengalami penurunan, sementara bisnis New Wave Telkom justru terus tumbuh.

Pertumbuhan New Wave bisnis mencapai 51 persen  sedangkan sumbangan terhadap total revenue meningkat menjadi 8,9 persen  pada kuartal ketiga 2009 dibandingkan hanya 6,3 persen pada periode sama 2008. [dni]