111109 Investor untuk Prasarana Kereta Api Butuh Insentif

kereta-apiJAKARTA—Investor swasta yang ingin menanamkan modalnya untuk membangun infrastruktur atau prasarana kereta api membutuhkan insentif dan komitmen dari pemerintah agar investasi yang dikeluarkan bisa menguntungkan.

”Berinvestasi di prasarana kereta api berbeda dengan jalan raya. Kembali modalnya bisa tiga kali lebih lama ketimbang membangun jalan. Jika membangun jalan hanya butuh waktu 10 hingga 15 tahun untuk balik modal, di kereta api tiu bisa sampia 50 tahun,” ungkap Pengamat Perkeretaapian Moch Hendrowijono di Jakarta, Selasa (10/11).

Hendro meminta, pemerintah harus turun tangan langsung dalam membangun prasarana dan tidak bisa hanya mendorong pihak swasta. ”Harus ada hitam diatas putih tentang komitmen investasi. Kalau bisa untuk investasi awal seperti pembebasan lahan dilakukan pemerintah,” jelasnya.

Menurut Hendro, terdapat ketimpangan pola pembangunan infrastruktur transportasi di Indonesia dimana jalan raya lebih diutamakan ketimbang kereta api. ”Padahal kereta api lebih ramah lingkungan dan bisa mendorong produktifitas. Jika terus membangun jalan itu hanya untuk kepentingan industri otomotif,” katanya.

Anggota Komisi V DPRI Abdul Hakim menambahkan, untuk menunjukkan adanya komitmen pembanugan prasaran kereta api pemerintah harus mengimplementasikan dalam bentuk dukungan anggaran, lembaga, dan kebijakan.

”Anggaran untuk Bina Marga itu timpang sekali dengan kereta api. Anggaran untuk perawatan prasarana kereta api hanya empat triliun rupiah. Bandingkan dengan anggaran yang dikelola Bina Marga bisa mencapai puluhan triliun rupiah,” jelasnya.

EVP Strategic Planning dan Pengembangan PT Kereta Api Budi Noviantoro menjelaskan, kendala yang dihadapi oleh operator moda roda besi itu adalah masalah kapasitas. ”Potensi angkutan barang Jakarta-Surabaya dari Kalimas ke Jakarta bisa mencapai 1.000 Teus per hari. Hingga sekarang baru bisa diangkut 40 Teus dengan 4 kereta sehari,” jelasnya.

Dijelaskannya, untuk bisa menggarap semua potensi tersebut dibutuhkan 25 kereta api dan rel yang sudah dobel track. ”Nah, pengadaan kereta itu bisa diatasi karena tahun depan perseroan akan membeli 150 kereta api. Masalanya itu pada kapasitas rel yang belum memadai,” jelasnya.

Dikatakannya, investor biasanya akan serius menggarap prasarana kereta api jika melihat potensi dan masa depan yang jelas dari prasaran. Misalnya di Sumatera Selatan dimana komoditas batubara menjadi idola. ”Kalau di Sumsel PT KA investasi hingga enam triliun rupiah untuk membangun sarana dan prasarana. Ini karena ditargetkan pada 2013 bisa diangkut 20 juta ton batubara,” katanya.

Sesditjen Perkeretaapian, Nugroho Indrio mengungkapkan, penambahan kapasitas prasarana sudah menjadi prioritas dari program pemerintah. “Untuk daerah Jawa dobel track itu akan dibangun,” katanya.[dni]

111109 Indocomtech Bukukan Transaksi Rp 320 Miliar

JAKARTA—Pameran produk Teknologi Informasi (TI) yang diselenggarakan 4-8 November lalu berhasil membukukan transaksi senilai 320 miliar rupiah. Angka tersebut melonjak 77 persend dari target penyelenggara yang memperkirakan akan ada transaksi sebesar 180 miliar rupiah.

”Nilai transaksinya diperkirakan mencapai 320 hingga 350 miliar rupiah. Kami sendiri kaget angkanya bisa menembus sebesar itu,” ungkap Ketua Panitia Indocomtech 2009, Chris Irwan Japari, di Jakarta, Selasa (10/11).

Pameran yang digagas oleh Apkomindo Indonesia Foundation (Yayasan Apkomindo) itu  diselenggarakan di Jakarta Convention Center dan merupakan gelaran ke-17 kalinya  . Pameran itu menempati area seluas 25.000 meter persegi atau meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya 20.000 meter persegi.

Sebanyak 326 perusahaan TI meramaikan gelaran itu atau meningkat dibandingkan tahun lalu yang hanya 240 perusahaan. Penyelenggara  menargetkan pameran  dikunjungi oleh setidaknya 125 ribu orang dari kalangan pecinta TI.

Diungkapkan Chris,  produk TI yang menjadi ujung tombak penjualan adalah adalah netbook karena sudah  menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Apalagi perangkat ini harganya makin terjangkau.

Chris memperkirakan, transaksi bisa melonjak tajam di luar target karena waktu penyelenggaraan yang tepat dan kondisi dari mata uang rupiah yang sedang menguat.

”Momentumnya tepat sekali menjelang Desember. Apalagi rupiah sedang kuatnya terhadap dollar AS sehingga barang bisa menjadi murah,” katanya.

Benturan
Secara terpisah, Ketua Umum  Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Suhanda Wijaya meminta, Yayasan Apkomindo dalam menyelenggarakan kegiatan pameran tidak berbenturan dengan program asosiasi.

”Seharusnya sebagai yayasan  tidak  boleh memiliki program yang dapat menyebabkan benturan terhadap Apkomindo sebagai organisasi. Jika tidak bisa dilakukan, harus ditarik  garis jelas antara Apkomindo dan yayasan,” tegasnya.

Suhanda mengeluarkan pernyataan tersebut terkait diselenggarakannya Indocomtech oleh Yayasan Apkomindo sejak 2007 lalu. Padahal, sepanjang penyelenggaraannya sejak 1992—2007, ajang pameran tersebut selalu diselenggarakan oleh asosiasi, bukan yayasan.

Apkomindo sejak 2007 juga menyelenggarakan kegiatan pameran komputer tahunan bernama National IT eXpo (NIX) yang diadakan di beberapa kota besar termasuk Jakarta. Tahun ini NIX bahkan berlangsung di 13 kota dengan total penjualan 186,8 miliar rupiah dari 11 kota diantaranya.
Yayasan Apkomindo jsendiri   kabarnya akan segera menggelar pameran komputer dan TI di sejumlah kota seperti Surabaya dan Makassar.

Dijelaskan Suhanda, ide  awal pembentukan yayasan adalah untuk memiliki sekretariat Apkomindo secara permanen karena sebelumnya selama 10 tahun lebih selalu berpindah-pindah karena sewa. Selain itu yayasan dibentuk untuk melakukan aksi sosial.

“Sampai tahap ini saya setuju. Tapi bukan untuk memiliki program kerja yang sama, apalagi berbenturan. Jangan seperti terjadi di Jawa Timur dimana salah satu DPD   Apkomindo  Jatim dibenturkan oleh pameran yang diselenggarakan oleh yayasan,” tegasnya.

Masalah pameran Indocomtech tersebut ternyata hanya sebagian kecil dari berbagai persoalan yang mengimpit asosiasi tersebut, karena ada persoalan lainnya, diantaranya masalah aset, seperti  program kerja, kantor pusat, dan pameran lainnya yang sebelumnya dimiliki oleh asosiasi.

Menanggapi hal itu, Chris menilai pernyataan tersebut hanyalah bagian dari riak-riak organisasi. ”Saya justru mendukung NIX. Tidak ada rivalitas antara yayasan dengan asosiasi. Kami bikin pameran ini untuk mencari dana bagi kegiatan sosial. Kalau diam saja dana datang darimana,” ketusnya.[dni]

101109 Garuda Tambah Armada

garudaJAKARTA—Maskapai nasional,  Garuda Indonesia (Garuda), memperkuat armadanya dengan mendatangkan dua pesawat jenis  A330-200 dan Boeing 737-800NG generasi baru (New Generation/NG) pada Senin (9/11).

Dirut Garuda  Emirsyah Satar mejelaskan, dua pesawat baru tersebut  bagian dari program peningkatan dan peremajan armada dalam rangka perseroan melakukan  Quantum Leap hingga 2014 nanti.

“Kami sudah mencanangkan Garuda Quantum Leap hingga 2014 dan peningkatan
pelayanan baru Garuda Indonesia Experience yang memadukan keramahan dan
suasana khas Indonesia,” katanya di Jakarta, Senin (9/11).

Dikatakannya,  dari sisi armada hingga 2014  total pesawat Garuda akan menjadi 116 pesawat dari kondisi saat ini sebesar 67 pesawat. Khusus jenis  A330-200 dan 300 pada 2014 nanti akan menjadi 20 unit, B737-800NG  (90 unit) dan Boeing 777  (90 unit).

Peningkatan jumlah armada diiringi penambahan rute dan frkuensi penerbangan sehingga menjadi sekitar 3.000 penerbangan per minggu, dari saat ini sekitar 1.700 penerbangan per minggu. Garuda pada tahun lalu  mampu meraih keuntungan  sebesar 670 miliar rupiah. Sedangkan pada 2014  target keuntungan bersih Garuda  diharapkan mencapai 3,75 triliun rupiah.

Kepala Komunikasi Perusahaan Garuda Pujobroto menambahkan, pesawat jenis A330-200 itu akan fokus digunakan untuk memperkuat rute-rute regional, sedangkan B737-800NG untuk domestik. “Di 2010, Garuda akan buka lagi 10 rute baru baik domestik maupun regional,” katanya.

Sejumlah rute regional itu antara lain, Manila, Brisbane. Sedangkan untuk  rute domestik antara lain Palu dan Gorontalo.

Direktur Keuangan Garuda Eddy Purwanto mengungkapkan, harga pesawat jenis 737-800 NG saat ini berkisar 45-50 juta dolar AS. Sedangkan harga jenis Airbus 330-200 berkisar 90 juta dolar AS.

“Pada tahun depan sudah disiapkan belanja modal sekitar 100 juta dollar AS. Tetapi tidak semuanya dihabiskan untuk pengadaan pesawat. Sebagian ada yang dialokasikan  untuk meningkatkan kualitas infrastruktur, peremajaan pesawat, dan peningkatan kualitas layanan Garuda. Sedangkan sumber pendanaan berasal dari dana internal,” katanya.

Investor GMF
Pada kesempatan lain, Direktur Utama Garuda Maintenance Facility (GMF) Richard Budihadiyanto mengungkapkan, sebanyak 10 investor mengincar untuk membiayai pembangunan hangar  bagi pesawat khusus Airbus A319 dan A320 milik perseroan.

Investasi hangar dengan kapasitas sebanyak 12 pesawat tersebut menyerap dana 50 juta dollar AS.

Kesepuluh investor yang terdiri dari lembaga keuangan dari dalam dan luar negeri tersebut saat ini sedang diseleksi. Nantinya GMF hanya membutuhkan satu lembaga saja untuk membiayainya. Tercatat, tujuh lembaga pembayaran luar negeri antara lain dari Kanada, Singapura dan Eropa ikut serta. Sedangkan tiga investor dalam negeri adalah bank pelat merah.

“Desember nanti akan selesai beauty contest investornya. Setelah itu proyek langsung jalan,” katanya.

Dijelaskannya, GMF membutuhkan waktu selama 20 bulan untuk membangun hangar Airbus tersebut, bila pembangunan dimulai awal tahun 2010, maka bengkel tersebut bisa dioperasikan pada akhir 2011. “Butuh 12 bulan untuk membangun hangar wing (sayap) I dan delapan bulan untuk wing II,” ujarnya.

GMF bulan lalu telah mendapatkan sertifikat kelayakan dan keselamatan untuk memperbaiki pesawat Airbus tipe A319 dan A320 dari FAA (Federal Aviation Administration/Otoritas Penerbangan Amerika Serikat).

Sertifikat tersebut dijadikan modal bagi GMF untuk membangun fasilitas  (maintenance, repair & overhaul/ MRO) dan A Check hingga B Check.

Saat ini GMF mampu memperbaiki sebanyak 14 pesawat sekaligus baik pesawat berbadan lebar atau pesawat berbadan sempit, karena hangar GMF saat ini memiliki kapasitas 14 line. Adanya rencana membangun hanggar akan membuat kapasitas GMF menjadi  26 line.[dni]

101109 Jasa Dial Up dan VoiP akan Miliki Qos

JAKARTA—Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) sedang menggodok regulasi terkait standar kualitas layanan dari jasa internet dial up dan  internet untuk keperluan publik (Voice over internet protocol/Voip) guna melindungi konsumen yang menggunakan kedua jasa tersebut.

Jasa akses internet dial-up adalah suatu layanan aplikasi-aplikasi dimana seseorang dapat mengakses layanan dan aplikasi internet dengan menggunakan koneksi dial-up saja. Sedangkan VoiP biasanya banyak digunakan untuk panggilan Sambungan Langsung Internasional (SLI).

“Adanya regulasi ini membuat  keluhan pengguna layanan telekomunikasi, khususnya yang terkait dengan jasa akses internet dial-up yang sering up and down atau on namun kemudian off secara mendadak atau tidak stabil kualitas layanannya dapat berkurang,” ujar juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto kepada Koran Jakarta, Senin (9/11).

Dijelaskannya, regulasi tersebut akan berbentuk peraturan menteri  yang akan ditandatangani oleh Menkominfo Tifatul Sembiring. “Sekarang masih dalam konsultasi publik,” katanya.

Diungkapkannya, beberapa standar kualitas layaan yang diatur dalam regulasi itu diantaranya  persentase keluhan atas akurasi tagihan dalam satu bulan tagihan harus  sama dengan 5 persen  dari jumlah seluruh tagihan pada bulan berikutnya dan hal lainnya.

Hal serupa juga berlaku untuk    layanan  VoIP yang cenderung fluktuatif dalam arti teknologinya sesungguhnya relatif sederhana namun kadang pentarifannya ada yang disamakan dengan tarif non VoIP dan itu belum lagi dengan speed dan kualitas suara yang diperoleh oleh pengguna layanan tersebut.[dni]

101109 Dua Operator CDMA Pangkas Tarif

JAKARTA—Dua operator pengusung teknologi Code Division Multiple Access (CDMA), StarOne dan Mobile-8, memangkas tarif ritelnya guna memanjakan pelanngan.

Mobile-8 menurunkan tarif komunikasi 100  rupiah per  30 detik untuk panggilan   Interlokal ke telepon rumah (PSTN) di seluruh pelosok Nusantara.

Tarif ini berlaku sepanjang hari dan tarif murah ini dapat dinikmati setelah pemakaian menit  ke-3, berlaku hingga 31 Januari 2010. Tarif promo ini hanya berlaku pada nomor Fren Seluler (prefix 0888 & 0887) dan dapat dinikmati oleh semua pelanggan Fren.

Sedangkan  StarOne menawarkan  program  serba  25 rupiah khusus untuk pelanggan   di daerah Jabodetabek  dan Bandung. Melalui program tersebut pelanggan StarOne di Jabodetabek dan Bandung dapat menikmati menelpon murah  25 rupiah per menit  ke sesama StarOne dan  25 rupiah per 20 detik ke nomor GSM Indosat   Khusus untuk layanan SMS ke sesama StarOne hanya dikenakan tarif  25 rupiah per SMS.

Head of Product Marketing Mobile-8 Sukaca Purwokardjono   mengungkapkan, berdasarkan data  terdapat penurunan terhadap penggunaan layanan komunikasi untuk panggilan interlokal, hal tersebut disebabkan karena persepsi mahalnya tarif melakukan panggilan ke lintas operator apalagi panggilan interlokal ke nomor-nomor di luar kota.

“Kebutuhannya lumayan tinggi, karena itu kami membuat program pemasaran ini untuk memanjakan pelanggan,” jelasnya di Jakarta, Senin (9/11).

Selain bermain tarif, lanjutnya,  Mobile-8 sedang berfokus untuk memasarkan layanan datanya lewat Mobi. Hingga saat ini, Mobi telah terjual sekitar 80 ribu unit dan ditargetkan hingga akhir tahun akan terjual hingga 120 ribu unit.

“Kami baru saja menggandeng penyedia notebook merek  Advan dengan  harga terendah sekitar 3,2 juta rupiah. Target dari bundling ini bisa mencapai  penjualan sekitar 7000 unit   hingga akhir tahun ini,” katanya.

Sementara Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro menjelaskan, program pangkas tarif dilakukan untuk   mensinergikan layanan dan benefit kepada seluruh pelanggan Indosat baik yang menggunakan kartu CDMA maupun kartu GSM. “Program ini memperlihatkan Indosat tetap memiliki perhatian kepada StarOne,” katanya.

Berdasarkan catatan, Indosat baru saja menghapus   100 ribu pelanggan karena dianggap tidak produktif. Saat ini total pelanggan StarOne sekitar 600 ribu nomor.[dni]

 

101109 XL Gaet 200 ribu Pengguna BlackBerry

JAKARTA—Pemain ketiga terbesar nasional di jasa seluler, XL, berhasil menggaet 200 ribu pengguna layanan BlackBerry di jaringannya sebelum tutup tahun ini.

Angka itu menjadikan XL sebagai pemimpin di pasar untuk layanan besutan Research in Motion (RIM) tersebut karena dua pesaingnya, Telkomsel dan Indosat, masing-masing memiliki 180 ribu pengguna. Sedangkan dua pemain baru, Axis hanya memiliki 20 ribu pengguna dan Smart baru meluncurkan layanan seminggu yang lalu.

“Kami tidak menyangka target untuk tahun ini telah tercapai sebelum tutup tahun. Ini menunjukkan inovasi pemasaran XL untuk BlackBerry paling diminati oleh masyarakat,” tegas Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, Senin (9/11).

Dijelaskannya, seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan, perseroan telah  meningkatkan kapasitas layanan yang mencapai   bandwidth sebesar 180 Mbps. “ Kami adalah satu-satunya operator yang memiliki koneksi ke  RIM dengan dual carrier partner,” katanya.

Pada kesempatan lain, Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya mengungkapkan menjelang tutup tahun ini jasa Fixed Wireless Access (FWA) StarOne akan ikut meramaikan pasar layanan BlackBerry di Indonesia.

”Sekarang sedang dilakukan ujicoba. Tahap awal kami memesan dua ribu unit perangkat BlackBerry yang bisa mendukung teknologi  Code Division Multiple Access (CDMA)  ke RIM,” ungkapnya.

Tak mau kalah, Sales and Marketing Director Mobile-8 Beydra Yendi juga mengungkapkan  Mobile-8 yang  membesut  teknologi CDMA memiliki rencana sama dengan StarOne. ”Layanan Blackberry sudah kami proses ke RIM  tiga bulan lalu, kami inginnya tahun ini. Kita tunggu saja, paling tahun depan,” katanya.[dni]