101109 Berlomba Membangun Akses

Banyak   praktisi telematika   berkeyakinan di masa depan jasa telekomunikasi akan menjadi komoditas. Hal ini karena jumlah pengguna makin banyak dengan  layanan yang beragam.

Di Indonesia saja diperkirakan pada tahun depan akan ada 233 juta pengguna seluler dan 74 juta pelanggan internet. Pada tahun depan pengguna mobile internet diperkirakan bisa mencapai lima hingga enam juta pengguna.

Nah, jika produk telah menjadi komoditas, tentunya diferensiasi menajdi kata kunci dalam memenangkan persaingan. Bagi operator dengan kemampuan dana besar,  mulai dari sekarang dipersiapkanlah akses dengan dukungan teknologi terkini sebagai tempat berjalannya aplikasi yang bisa menjadi nilai jual bagi layanan.

Telkom sejak tahun lalu mulai meningkatkan kemampuan jaringan kabel tembaganya agar bisa menghantarkan akses broadband. Dari lima juta connected line yang diinventarisir, sekitar 60 persen diperkirakan sudah siap menghantarkan data dengan kecepatan 4 Mbps. Telkom sendiri diperkirakan memiliki total connected line sebanyak 9 juta.

Tak mau kalah dengan induk usaha, Telkomsel pun membenamkan uang sekitar 1,3 triliun rupiah guna mengembangkan   teknologi High Speed Packet Access (HSPA+) di 24 kota pada tahun 2010.

HSPA+ adalah teknologi wireless broadband dengan kecepatan akses data mencapai 21 Mbps. Untuk tahap awal HSPA+ tersedia di Jakarta, selanjutnya hingga akhir tahun nanti akan hadir di Yogyakarta, Semarang, Medan, dan Surabaya. Teknologi ini diprioritaskan bagi pengguna pascabayar Kartu Halo

“Saat ini layanan mobile broadband  Telkomsel Flash digunakan 1,4 juta pelanggan. Tahun depan potensi pengguna mobile broadband itu bisa mencapai 5-6 juta pelanggan. Kami mengincar pelanggan ini menikmati akses dari  Telkomsel,” tegas  Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta belum lama ini.

Telkomsel bisa dikatakan sebagai operator pertama yang mengimplementasikan HSPA+ secara komersial di negeri ini. Indosat yang sebelumnya menggembar-gemborkan telah berhasil mengujicoba teknologi tersebut ternyata baru dalam persiapan untuk komersial. Bahkan, mulai tahun depan Telkomsel akan melakukan uji coba teknologi Long Term Evolution (LTE).

“Bagi kami tambahan satu kanal (5 MHz) dari pemerintah harus dioptimalkan. Bukan hanya jadi aksesori untuk menaikkan nilai perusahaan,” tegas Sarwoto.

Sedangkan Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro berkilah, diperlukan ekosistem yang matang sebelum menggenjot habis pembangunan akses. ” Kita cukup pada akhir tahun ini meningkatkan  semua BTS 3G (Node B) siap untuk HSPA+. Prioritas utama sebanyak 1.500 Node B di seluruh Jabodetabek,” ujarnya.

CDMA Bergairah
Tak hanya operator berbasis teknologi GSM saja yang sedang kencang menggeber infrastruktur untuk akses internet. Pemain yang mengusung Code Division Multiple Access (CDMA) juga bergairah untuk menggelar “jalan tol” bagi pengembang dan pemakai aplikasi di dunia maya.

”Sebanyak  20 persen dari dua juta pelanggan Smart itu aktif berseluncur di dunia maya,” ungkap Division Head Core Product and Branding Smart Telecom Ruby Hermanto.

Diungkapkannya, untuk  meningkatkan kualitas layanan data bagi pelanggan Smart, perseroan sedang  menggelar ujicoba jaringan EV-DO Rev B di Bali pada 10 Desember mendatang.

Ujicoba tersebut memanfaatkan 48 base transceiver station (BTS) miliknya dengan bantuan dua vendor yakni  ZTE dan Qualcomm. Kabarnya, pada saat diluncurkan secara komersial tahun depan, akan ada satu vendor  lagi yang akan dirangkul Smart.

EV-DO Rev B adalah pengembangan teknologi Rev A yang mampu memberikan kecepatan lebih cepat, yakni hingga 9,3 Mbps untuk download dan 5,4 Mbps untuk upload. Dibandingkan EV-DO Rev A, kecepatannya baru mencapai hingga 3,1 Mbps untuk download dan 1,8 Mbps untuk upload.

Setelah ujicoba selama 2-3 bulan tadi, Smart Telecom berencana untuk meluncurkan sekaligus mengekspansi teknologi baru tersebut ke Jabodetabek, Surabaya, Yogyakarta, Bali, dan Padang. Sementara di wilayah lain, Smart akan tetap agresif mengupgrade jaringan 1x EV-DO menjadi jaringan EV-DO Rev A, meliputi 32 kota di Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi.

Secara terpisah, praktisi telematika Ventura Elisawati menjelaskan, operator tidak ada gunanya berinvestasi di teknologi yang sifatnya serba tanggung layaknya HSPA+.

”HSPA+ itu hanya fitur tambahan dari vendor jaringan. Dulu ketika digembar-gemborkan High Speed Data Packet Access (HSDPA) tidak ada dampaknya dirasakan bagi pelanggan. Sebaiknya operator lebih pintar berinvestasi,” tegasnya.

Praktisi telematika lainnya,  Raherman Rahanan menjelaskan,    HSPA+ hanyalah gimmick pemasaran karena banyak keterbatasan dalam mengaksesnya.

” Servicenya tidak bisa di generalisasi karena beberapa kendala, ” jelasnya.

Keterbatasan itu antara lain disisi terminal (modem), jangkauan Node B, traffic control di Packet Core Network, Extended QoS profile di HLR, dan bandwidth limitation RNC ke Node B.[dni]

 

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s