101109 Mojopia.com Pertaruhan Telkom di Dunia Maya

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) akhirnya melakukan soft launching situs Mojopia.com pada Kamis (5/11) lalu. Situs yang menelan investasi sekitar dua juta dollar AS tersebut digadang-gadang oleh Telkom dalam waktu tiga hingga lima tahun ke depan akan bisa menjadi salah satu pemain besar di dunia maya.
“Kita belum mengharapkan investasi kembali dalam waktu dua hingga tiga tahun. Tetapi ini adalah langkah untuk memulai suatu transformasi bisnis menuju perusahaan berbasis Telecomunication, Information, Media, dan Edutainment (Time),” ungkap Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, belum lama ini.
CEO Mojopia.com Shinta Dhanuwardoyo mengungkapkan, situs yang merupakan reinkarnasi dari Plasa.com tersebut  memiliki tiga lini bisnis yaitu e-commerce, komunikasi, dan pusat konten (Content Agregator).
“Kami ingin menjadikan Mojopia sebagai pendorong e-commerce di Indonesia. Saat ini baru tiga persen dari total 31 juta pengguna internet yang menggunakan e-commerce,” katanya.
Sebagai content agregator, Mojopia menjanjikan  pelanggan menikmati konten hiburan setiap saat dan dimana saja. Sedangkan dalam layanan komunikasi disediakan berbagai aplikasi menarik seputar komunikasi online serta beragam fasilitas layanan iklan sebagai media komunikasi bagi para pebisnis dengan pelanggannya.
Chief Innovation Officer Andi S.Boediman menambahkan, untuk e-commerce Mojopia menargetkan bisa menyediakan satu juta barang dagangan dengan seribu merchant. “Guna merangsang “toko” terisi kami memberikan layanan gratis pendaftaran dan transaksi dikenakan fee di bawah lima persen jika mencapai lima atau 10 juta rupiah,” jelasnya.
Untuk alat pembayaran disiapkan aplikasi berbasis single purpose minded yang bekerjasama dengan anak usaha Telkom lainnya, Finnet. “Inilah bedanya Mojopia dengan situs e-commerce lainnya. Kami memiliki dukungan dari holding yang terpercaya. Jadi, salah satu kendala dari e-commerce yaitu sistem pembayaran dan  telah teratasi. Sementara untuk logistik pengiriman, tak lama lagi akan ditanda tangani kerjasama dengan salah satu perusahaan logistik untuk menjamin barang sampai ke pembeli,” jelasnya.
Sedangkan untuk content agregator, lanjutnya, Mojopia akan membidik kreator games, content premium, dan musik. Mojopia mengharapkan,  para penyedia konten yang selama ini  memiliki kendala mendistribusikan produknya ke operator dapat dijembataninya.
“Telkom grup itu memiliki 100 juta pelanggan. Ini adalah kekuatan Mojopia, Pasar konten lebih terukur karena bisnisnya antarperusahaan. Bisnis games saja nilainya bisa mencapai 300 miliar rupiah. Sedangkan e-commerce itu lebih bersifat perusahaan ke consumer,” jelasnya.
Untuk diketahui, di kalangan Netprenuer (wirausaha berbasis internet) dikenal empat model bisnis internet. Pertama, menjadikan internet sebagai etalase barang dagangan. Pelopor model ini adalah Amazon.com.
Kedua, membuat situs dengan target mendapatkan banyak anggota atau hit ke situs agar ada pemasang iklan yang datang.  Ini model yang paling umum dilakukan di internet. Nama besar seperti  google, yahoo , youtube, dan  facebook pantas diapungkan.
Ketiga,  fee based transaction seperti yang dilakukan oleh bay.com dan paypal.com. keempat,  model bisnis broker (middleman) seperti   yang  oleh alibaba.com. Mojopia sendiri jika ditelaah sepertinya mengambil model bisnis nomor  tiga dan empat.
Diragukan
Mojopia boleh digadang-gadang sebagai mainan baru oleh Telkom, tetapi jika ditelisik lebih jauh ternyata perusahaan ini sudah lama mencoba membesarkan bisnis internet. Sayangnya, tidak menghasilkan buah yang manis.
Tak percaya? Telkom pada awal 2000-an pernah membuat proyek business to business (B2B) dengan kepala proyek Indra Utoyo (Sekarang salah satu direksi). Proyek ini gagal total karena dianggap mendahului zaman dan pada 2004 ditutup.
Tak menyerah, pada tahun lalu Telkom  mendorong situs plasa.com untuk menjadi Yahoo-nya Indonesia dengan harapan bisa mendapatkan pendapatan dari iklan.  Tetapi percobaan ini kembali gagal  karena  tidak jelasnya  mau fokus di layanan yang mana dari sekian banyak kanal di plasa.com itu.
Wakil Ketua Komite Tetap Informatika Kadin, Iqbal Farabi mengatakan, sebagai satu visi ke depan dari perusahaan yang memimpin industri telekomunikasi langkah yang diambil oleh Telkom sudah bagus.
“Masalahnya tantangan yang dihadapi sangat berat. Untuk e-commerce itu ada budaya tawar-menawar yang akan menjadi rintangan terberat. Lihat saja situs Glodokshop atau Bhineka.com, tetap saja banyak penjualan offline. Masyarakat itu hanya menjadikan situs sebagai pembanding atau melihat barang,” jelasnya.
Sedangkan sebagai content agregator kendalanya adalah mental dari penyedia konten yang ingin menjadi mandiri. “Ibarat menitipkan dagangan ke warung, jika sudah dapat nama tentu mau dikelola sendiri. Sekarang ini banyak yang berlomba ingin menjadi content agregator karena  tak bisa dilepaskan dari model bisnisnya yang berbasis revenue sharing bukan belanja modal dari operator,” jelasnya.
Menurut  praktisi telematika Mochammad James Falahuddin peluang untuk Telkom tidak mengalami kegagalan layaknya beberapa tahun lalu memang lebih besar. Tetapi untuk booming menjadi super portal seperti yang digembar-gemborkan membutuhkan   usaha dan dana yang tidak sedikit.
“Tantangannya  lebih ke faktor eksternal. Kalau soal membuat portal seperti alibaba.com dan
‘mengumpulkan’ konten atau product owner untuk listing di Mojopia mungkin tidak terlalu sulit. Tetapi   mengumpulkan prospective buyer, itulah tantangan terberatnya,” katanya.
James menduga, inilah alasan Telkom menyiapkan dana hingga dua juta dollar AS untuk investasi karena sebagian akan dialokasikan untuk program pemasaran dan komunikasi yang massif guna menarik   prospective buyer melirik Mojopia.
Soal adanya  dukungan infrastruktur pembayaran dari Finnet pun dinilai belum cukup selama belum ada regulasi dari pemerintah terkait internet payment gateway yang resmi dan melibatkan semua bank.
“Jika ini belum terealisasi  maka yang dimiliki Finnet hanya akan menjadi add on dari sistem pembayaran manual dalam sistem perbankan sekarang. Hal ini karena sampai sekarang, belum ada bank yang menjadi penjamin transaksi via internet atau yang bertindak seperti Artha Jasa dalam sistem ATM Bersama,” jelasnya.
Menanggapi hal itu, Direktur Enterprise & Whole Sale Telkom Arief Yahya menjelaskan,  di masa depan   di industri jika dilihat secara valuasi bisnis maka sebuah portal memiliki nilai pendapatan sebesar 7,8 kali, media (1,5 kali), sedangkan telekomunikasi (0,9 kali).

“Walaupun secara uang yang didapat dari  telekomunikasi itu besar, tetapi dimasa depan   portal dan konten yang akan menjadi primadona. Karena itu kami harus memulainya,” jelasnya.

 

Sementara Rinaldi menjelaskan, persiapan untuk membuat Mojopia memakan waktu hampir 1,5 tahun. “Di Jepang langkah ini dimulai oleh pemain besarnya ketika jumlah pengguna internet berjumlah 500 ribu dan seluler 25 juta. Bandingkan dengan Indonesia dimana   seluler telah digunakan 128 juta pengguna. Jika tidak sekarang kapan lagi. Apalagi Telkom harus menyelamatkan kinerja telepon kabel yang terus menurun. Transformasi ini adalah salah satu jalan keluarnya,” tegasnya.

 

Pada kesempatan lain, Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya mengungkapkan, aksi membuat situs juga telah dirintis oleh Indosat dengan nama kongkoow.com. “Situs ini lebih membidik konten musik dan video. Sejak diluncurkan tahun lalu sudah menghasilkan uang ratusan juta rupiah bagi perseroan,” ungkapnya.

 

Diungkapkannya, pengembangan selanjutnya yang dilakukan adalah membuat situs tersebut dapat diakses oleh pengguna mobile setelah sebelumnya hanya bermain di large screen. “Pengguna internet dengan large screen itu hanya sekitar tiga juta. Jika ingin mengembangkan usaha harus membidik pelanggan mobile,” jelasnya.[dni]

101109 Berlomba Membangun Akses

Banyak   praktisi telematika   berkeyakinan di masa depan jasa telekomunikasi akan menjadi komoditas. Hal ini karena jumlah pengguna makin banyak dengan  layanan yang beragam.

Di Indonesia saja diperkirakan pada tahun depan akan ada 233 juta pengguna seluler dan 74 juta pelanggan internet. Pada tahun depan pengguna mobile internet diperkirakan bisa mencapai lima hingga enam juta pengguna.

Nah, jika produk telah menjadi komoditas, tentunya diferensiasi menajdi kata kunci dalam memenangkan persaingan. Bagi operator dengan kemampuan dana besar,  mulai dari sekarang dipersiapkanlah akses dengan dukungan teknologi terkini sebagai tempat berjalannya aplikasi yang bisa menjadi nilai jual bagi layanan.

Telkom sejak tahun lalu mulai meningkatkan kemampuan jaringan kabel tembaganya agar bisa menghantarkan akses broadband. Dari lima juta connected line yang diinventarisir, sekitar 60 persen diperkirakan sudah siap menghantarkan data dengan kecepatan 4 Mbps. Telkom sendiri diperkirakan memiliki total connected line sebanyak 9 juta.

Tak mau kalah dengan induk usaha, Telkomsel pun membenamkan uang sekitar 1,3 triliun rupiah guna mengembangkan   teknologi High Speed Packet Access (HSPA+) di 24 kota pada tahun 2010.

HSPA+ adalah teknologi wireless broadband dengan kecepatan akses data mencapai 21 Mbps. Untuk tahap awal HSPA+ tersedia di Jakarta, selanjutnya hingga akhir tahun nanti akan hadir di Yogyakarta, Semarang, Medan, dan Surabaya. Teknologi ini diprioritaskan bagi pengguna pascabayar Kartu Halo

“Saat ini layanan mobile broadband  Telkomsel Flash digunakan 1,4 juta pelanggan. Tahun depan potensi pengguna mobile broadband itu bisa mencapai 5-6 juta pelanggan. Kami mengincar pelanggan ini menikmati akses dari  Telkomsel,” tegas  Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno di Jakarta belum lama ini.

Telkomsel bisa dikatakan sebagai operator pertama yang mengimplementasikan HSPA+ secara komersial di negeri ini. Indosat yang sebelumnya menggembar-gemborkan telah berhasil mengujicoba teknologi tersebut ternyata baru dalam persiapan untuk komersial. Bahkan, mulai tahun depan Telkomsel akan melakukan uji coba teknologi Long Term Evolution (LTE).

“Bagi kami tambahan satu kanal (5 MHz) dari pemerintah harus dioptimalkan. Bukan hanya jadi aksesori untuk menaikkan nilai perusahaan,” tegas Sarwoto.

Sedangkan Chief Marketing Officer Indosat Guntur S Siboro berkilah, diperlukan ekosistem yang matang sebelum menggenjot habis pembangunan akses. ” Kita cukup pada akhir tahun ini meningkatkan  semua BTS 3G (Node B) siap untuk HSPA+. Prioritas utama sebanyak 1.500 Node B di seluruh Jabodetabek,” ujarnya.

CDMA Bergairah
Tak hanya operator berbasis teknologi GSM saja yang sedang kencang menggeber infrastruktur untuk akses internet. Pemain yang mengusung Code Division Multiple Access (CDMA) juga bergairah untuk menggelar “jalan tol” bagi pengembang dan pemakai aplikasi di dunia maya.

”Sebanyak  20 persen dari dua juta pelanggan Smart itu aktif berseluncur di dunia maya,” ungkap Division Head Core Product and Branding Smart Telecom Ruby Hermanto.

Diungkapkannya, untuk  meningkatkan kualitas layanan data bagi pelanggan Smart, perseroan sedang  menggelar ujicoba jaringan EV-DO Rev B di Bali pada 10 Desember mendatang.

Ujicoba tersebut memanfaatkan 48 base transceiver station (BTS) miliknya dengan bantuan dua vendor yakni  ZTE dan Qualcomm. Kabarnya, pada saat diluncurkan secara komersial tahun depan, akan ada satu vendor  lagi yang akan dirangkul Smart.

EV-DO Rev B adalah pengembangan teknologi Rev A yang mampu memberikan kecepatan lebih cepat, yakni hingga 9,3 Mbps untuk download dan 5,4 Mbps untuk upload. Dibandingkan EV-DO Rev A, kecepatannya baru mencapai hingga 3,1 Mbps untuk download dan 1,8 Mbps untuk upload.

Setelah ujicoba selama 2-3 bulan tadi, Smart Telecom berencana untuk meluncurkan sekaligus mengekspansi teknologi baru tersebut ke Jabodetabek, Surabaya, Yogyakarta, Bali, dan Padang. Sementara di wilayah lain, Smart akan tetap agresif mengupgrade jaringan 1x EV-DO menjadi jaringan EV-DO Rev A, meliputi 32 kota di Jawa, Bali, Sumatera, dan Sulawesi.

Secara terpisah, praktisi telematika Ventura Elisawati menjelaskan, operator tidak ada gunanya berinvestasi di teknologi yang sifatnya serba tanggung layaknya HSPA+.

”HSPA+ itu hanya fitur tambahan dari vendor jaringan. Dulu ketika digembar-gemborkan High Speed Data Packet Access (HSDPA) tidak ada dampaknya dirasakan bagi pelanggan. Sebaiknya operator lebih pintar berinvestasi,” tegasnya.

Praktisi telematika lainnya,  Raherman Rahanan menjelaskan,    HSPA+ hanyalah gimmick pemasaran karena banyak keterbatasan dalam mengaksesnya.

” Servicenya tidak bisa di generalisasi karena beberapa kendala, ” jelasnya.

Keterbatasan itu antara lain disisi terminal (modem), jangkauan Node B, traffic control di Packet Core Network, Extended QoS profile di HLR, dan bandwidth limitation RNC ke Node B.[dni]